Hana episode 10b

Chapter 10b

Bu Dewi terlihat sedang bercengkrama dengan tim ochazama lainnya, aku mendekati lalu dengan sopan meminta Bu Dewi sekiranya untuk meluangkan waktunya mengobrol denganku. Bu Dewi mengiyakan lalu aku memilih meja yang kosong dari kerumunan orang. Kami langsung memulai percakapan.

“Ada apa ya mas Fadli? Mau ngomongin apa?”

“Bu..acara kita kan dimulai jam 2 sama kaya kemaren, um..anu Bu saya boleh minta izin ga buat pergi ke suatu tempat sebentar?”

“Kemana?” dengan sikap lemah lembut.

“Gini Bu..duh jadi malu ngomongnya,” aku diam sebentar sedangkan muka Bu Dewi semakin penasaran. “Gini Bu, kebetulan saya ngefans sama salah satu grup lokal sini, Dearest namanya. Kebetulan mereka mau ngadaian event gitu di Coex Mall, deket kok Bu dari sini. Berhubung kata Bu Dewi acara jalan-jalan dimulai jam 2 siang jadi saya mau inta izin Bu buat ke Coex Mall buat dateng ke event Dearest. Ini juga kalau Bu Dewi izinin sih,” perasaanku mulai tak karuan, Bu Dewi memperhatikanku dengan serius.

“Gimana yah mas Fadli, masalahnya kan kita di negara orang sekarang belum tau seluk beluk negaranya. Lagian mas Fadli sama temannya satu lagi itu masih masuk dalam tanggung jawab saya selaku penanggung jawab jalan-jalan ini, kalau ada apa-apa nanti gimana? Saya juga ga berani ngambil resiko. Masalahnya event itu kan di luar agenda kita, jadi sulit buat mantaunya.”

Mendengar Bu Dewi mengatakan itu seperti disambar petir di siang terik, aku kecewa pastinya. Memang sih aku tidak menjanjikan kepada Reza dan teman di DeaerstIND untuk bisa datang ke event. Namun melihat mereka semua mengantarku di bandara membuat motivasiku naik untuk bisa datang ke acara Dearest. Aku hanya diam tidak banyak berkomentar, apapun alasannya pasti tidak akan diizinkan.

Aku bahkan sudah menyerah dengan diam tanpa mengeluarkan argumen apapun atau setidaknya memohon untuk bisa diizinkan datang ke sana. Di situasi demikian, ada seseorang duduk disampingku. Aku menoleh ternyata itu sang BA alias Brand Ambassador teh ochazama.

“Bu Dewi..maaf tadi saya ga sengaja denger dari jauh..,” tertawa kecil untuk menghangatkan suasana. “Gini Bu, kalau kata saya sih diizinin aja mas Fadli buat kesana, perginya bareng sama saya.”

“Lho bapak mau ke Coex Mall juga?” aku bertanya penasaran.

“Ya enggalah, ini sebentar lagi mau ke bandara buat ke Jepang. Buat liputan pemenang hadiah ke Jepang, nanti taksinya di suruh ke Coex Mall dulu. Tenang aja Bu, saya yang tanggung jawab kalau ada apa-apa sama mas Fadli. Gimana?”

Kami bertiga sekarang diam sama-sama, Bu Dewi nampaknya sedang memikirkan ini matang-matang. Sedangkan BA membisik halus ketelingaku, “Tenang aja pasti diizinin, orang yang minta artis tenar,” begitu katanya. Selang lima menit berpikir akhirnya Bu Dewi dengan agak berat mengizinkan aku pergi kesana, dengan catatan melepas semua tanggung jawab ke BA jika terjadi apa-apa. Perasaanku sangat senang sambil deg-degan, memikirkan bertemu mereka nanti membuatnya tubuhku kaku.

Tepat sembilan lewat lima belas aku dan BA pergi dengan taksi. Dia menyuruh taksi untuk berjalan dulu ke Coex Mall. Kami terlibat diskusi ringan di dalam taksi.

“Pak, makasih yah udah bantu saya,” kataku dengan penuh rasa terima kasih.

“Ah santai aja sih, lagian saya juga heran kemarin kamu tuh kayak yang ngelamun melulu. Apalagi pas di tower, senyum-senyum sendiri terus ngelamun lagi. Saya kira kamu ga suka ke Korea lebih suka ke Jepang eh taunya mau ke event girlband yah?”

“Hehe…iya pak, makasih yah Pak sekali lagi,” sang BA mengacungkan jempolnya.

Taksi terhenti tepat di depan Coex Mall, sebelum mereka pergi BA berkata kepadaku jaga diri baik-baik dan jangan sampai telat kembali ke hotel kalau tidak akan ditinggal. Aku menggangguk dan mereka meninggalkanku sendirian di sini. Aku sendiri bingung harus kemana, karena Reza juga tidak memberikan info detilnya. Lalu aku berjalan sedikit demi sedikit, melihat kerumunan orang. Aku tidak yakin jika itu fans Dearest tapi aku beranikan diri untuk menghampiri mereka.

Lumayan banyak orang yang berkumpul di sini, aku perhatikan lagi dengan seksama. Aku melihat ada yang membawa pernak-pernik Dearest. Dengan itu aku semakin yakin bahwa orang-orang ini adalah fans yang ingin ke event fansigning Dearest. Aku memberanikan diri bertanya kepada salah seorang dari mereka, dengan bekal bahasa Korea pas-pasan dari Rida aku menyapa mereka.

“Permisi, maaf… saya Fadli, mau ke event Dearest yah?”

Seseorang dengan badan gempal itu membalikan badan, “Um..iya, ada apa?” dari sini aku masih bisa mengerti orang ini berbicara apa.

“Bisa beritahu saya untuk…,” aku lupa harus ngomong apa. Aku membuka catatanku di dalam ponsel. “pembelian tiket,” begitu kataku.

Nah dari sini aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia katakan, karena dia berbicara terlalu cepat. Aku melihat catatan juga tidak tertera balasan seperti ini, akhirnya aku hanya mengucapkan terima kasih saja lalu mulai berjalan lagi. Baru beberapa langkah berjalan ada seseorang yang menepuk pundakku.

“Hei, orang Indonesia yah?” orang ini berbicara bahasa Indonesia. Memakai kacamata dan badannya lebih tinggi daripada aku.

“Um..iya,” jawabku singkat.

“Wih ternyata ada juga fans dari Indonesia, kenalin saya Jery. Mahasiswa di sini.”

“Saya Fadli, ke sini lagi ada tur,” kami pun berkenalan.

Hadirnya Jery menumbuhkan harapanku, kalau dia tidak melihatku pastinya aku masih kebingungan sekarang. Lalu aku menanyakan perihal event fans signing ini, menurutnya orang-orang yang sudah ada di sini itu sudah membeli tiketnya kemarin dan mereka ingin menukarkan dengan nomor duduk. Kalau ingin membeli tiket ots masih bisa hanya saja biayanya lebih besar dibanding dengan tiket pre sale.

Kami berdua berjalan menuju tempat pembelian tiket, lokasinya di dalam mall. Jery ini sangat mahir berbicara bahasa Korea. Aku memberikan uangku kepadanya dan dua buah tiket fans signing diberikan oleh pegawai tiket yang berjaga. Wajahnya manis, aku sampai diam tidak berpaling melihatnya. Bagaimana jika bertemu Dearest nanti, aku berharap tidak pingsan.

Tiketnya ini berbentuk amplop, kemasannya sungguh lucu. Jery memberitahuku untuk membuka amplopnya nanti di sana akan ada nomor. Aku kebagian nomor 46 sedangkan Jery 47, dia bilang jika event seperti ini jumlah orang yang hadir tidak sampai ratusan. Bahkan yang fan signing pertama saja dibatas 50 orang. Waktu tepat pukul sepuluh, aku, Jery, dan fans lainnya sudah berkumpul di depan convention hall yang ada di mall ini.

Setelah melihatkan tiket dan nomor yang tertera kami berjalan menuju bangku yang dimaksud. Di depan kami terpampang panggung, dengan meja panjang dan bangku yang berjejer tepat di depan meja itu. Sebuah spanduk besar bertuliskan “Dearest Fan Signing Coex Mall 13” dengan tampang semua member ada di spanduk besar itu. Semua fans telah duduk, lalu ada seorang mc datang. Aku diberitahu Jery si mc sedang melakukan intro sambil menunggu Dearest siap-siap.

“Mereka dateng tuh bro,” Jery memberikan aba-aba.

Benar saja satu persatu member Dearest mulai berdatangan, fans mulai teriak kegirangan. Aku hanya bisa diam tidak percaya, aku lalu memfokuskan diri melihat Hana, seketika jantungku berhenti berdetak.


cerbung.net

Hana

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Fadli adalah seorang mahasiswa biasa yang hidupnya sangat normal. suatu hari temannya Reza memperlihatkan sesuatu hal yang baru baginya yaitu Girlband Kpop dan dari situlah awal masalah di mulai.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset