Head Over Heels from the Scarf I Lent Her episode 15

Chapter 15

Tooru entah bagaimana bisa mendapat libur di hari Sabtu setelah berbicara dengan manajernya. Bersama dengan Jun dan Akane, mereka bertiga sedang menunggu di patung anjing di depan stasiun kereta.

Seperti biasa, Tooru datang sedikit lebih awal karena kegelisahannya, tapi yang mengejutkan adalah Jun datang setelah Tooru. Untuk beberapa alasan, Akane juga bersamanya.

Akane tidak puas dengan sikap Tooru yang mengabaikannya di sekolah, tapi bahkan kemudian, dia keluar bersama. Melihat bagaimana dia akan membuat perjalanan ini jauh lebih hidup, Tooru tidak bisa menyuruhnya pergi juga.

Mereka membuat rencana untuk bertemu pada pukul 10:00, tapi mereka tiba sedikit lebih cepat dari jadwal.

“Aku tahu karena aku punya alasannya, tapi kenapa kau di sini sepagi ini, Jun? Dan mengapa Nishino ada di sini juga ?! Mengapa tukang gosip ini nimbrung ke kita?!”

“Jangan seperti ini, bung. Nishino blang dia ingin ikut serta dan bukannya Satsuki bilang sendiri lebih banyak orang, lebih meriah, ‘kan?”

“Aku di sini untuk mengumpulkan informasi dari Miyamoto Satsuki! Terima kasih, Aniki!”

“Memangnya siapa kau, anggota yakuza?!”

Keduanya hampir seperti kombi duo pelawak.

Tidak disangka Jun mengundang Akane, Tooru senang Ia melakukan itu. Tentunya, seorang gadis akan melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam memilih pakaian untuk Satsuki.

Sementara Ia tenggelam dalam pikiran memikirkan Satsuki, gadis itu sendiri muncul.

“Oh, halo. Ada lebih banyak orang daripada yang aku harapkan.”

“Kamu pasti Miyamoto Satsuki! Eeh, kamu sangat imut! Sangat imut seperti yang rumor katakan! Aku yakin kamu punya banyak informasi menarik untukku! Yum! ”

“Umm… huh? ”

Bertemu Akane pasti tidak nyaman untuk Satsuki.

Heck, pasti itu tidak nyaman bagi siapa pun juga. Bahkan Tooru merasa malu mengenal Akane, yang bertingkah seperti simpanse.

“Namaku Nishino Akane. Panggil aku Akanetchi!”

“A-Akanetchi …”

“Wooow! Suaranya bahkan terdengar merdu!”

Setelah melihat Akane bertingkah seperti orang bodoh, Tooru hanya tersenyum tegang dan Jun hanya mengangguk.

Satsuki mengenakan kardigan krem ​​di atas kemejanya, liontin di lehernya, dan rok yang panjangnya sebetis.

Karena kakinya agak panjang, rasanya jadi tidak masuk akal untuk berpikir bahwa rok itu seharusnya tergantung di pergelangan kakinya.

Para cowok tidak bisa memalingkan tatapan mereka terhadap kecantikannya yang bersinar.

Akane akan menjadi imut juga jika dia tutup mulut. Kedua gadis itu terlihat begitu sempurna bila mereka bersama.

Tooru merasa seolah-olah dia bisa menatap selamanya, meski itu tidak seolah-olah Ia memiliki hobi yang begitu.

“Ugh … apa kita bisa melanjutkan tujuan kita hari ini?”

“Ah, aku tidak percaya aku melamun seperti itu! Maaf!”

“Jangan khawatir, aku tidak keberatan. “

Satsuki menjawab dengan ekspresi yang sedikit terganggu, tapi sepertinya dia tidak membencinya. Meski Akane seperti itu, dia tidak bermaksud buruk.

Tooru berdeham keras untuk mendapatkan perhatian mereka.
Akane melihat dengan wajah santai dan Satsuki melakukannya dengan senyum canggung.

“Umm, kita di sini hari ini untuk membantu Satsuki mencari pakaian. Aku senang kalian berdua bisa menjadi akrab, tapi tetap kendalikan dirimu, oke?”

“Oke …”

Akane menjawab dengan sedikit kecewa. Kau terlalu memberi banyak perhatian , itulah yang dipikirkan Tooru.

“Baiklah, jadi, kemana kita akan pergi? Nishino, kau …… gayamu berbeda. ”

Akane memakai t-shirt dan jaket di bagian atas dan sepasang celana pendek ketat untuk bagian bawahnya. Jelas-jelas itu bukan gaya yang sama dengan gaya feminin Satsuki.

Mendengar hal itu, dia melompat dan menempel pada Tooru.

“Hei, lepaskan aku!”

“Kamu pasti berpikir gaya kita tidak cocok, ‘kan! Padahal kami berdua sama-sama perempuan! Aku tahu apa yang dia sukai!”

“Akane, neng, gayamu lebih mirip seperti “binatang buas”.”

“Kenapa kamu tidak diam saja, Oyodo?”

Dia membentak Jun saat dia bersedih dan bercanda merosot ke bawah dan pura-pura menangis.

Berharap untuk menghilangkan ekspresi cemas di wajahnya, Tooru menepak bahu Satsuki dan menggelengkan kepalanya. Jun dan Akane terlalu bersemangat.

“Kalau begitu, Nishino, Kau tahu toko mana saja yang bagus, ‘kan?”

“Tentu saja! Apa kamu pikir aku tidak tahu? Seseorang seperti diriku yang mengumpulkan dan menyebarkan intel? Tentu saja, aku tahu di mana Satsuki dapat menemukan pakaian yang disukainya! “

“ … apa aku bisa benar-benar mempercayaimu tentang itu?”

“Apa ada orang lain yang bisa kamu percayai?”

Tooru memandang Jun yang mengeluarakn tanda peace di tangannya. Tidak, dia benar. Tidak ada orang lain.

Saat Tooru memalingkan muka, Jun merosot sekali lagi.

“Okie dokie, ikuti aku, semuanya! Aku tahu persis ke mana kita akan pergi!”

Akane dengan lantang menunjuk dirinya sebagai pemimpin dalam perjalanan berbelanja. Jun masih memegangi wajahnya, pura-pura menangis. Tapi sebaliknya, Tooru menoleh ke Satsuki yang kebingungan dan dengan lembut mengelus punggungnya, berharap untuk menenangkannya.

Dia tersenyum sebagai balasan. Momen mereka disela oleh Akane yang berteriak pada mereka berdua. Mereka tahu tidak bisa mengabaikannya lebih lama lagi, Tooru dan Satsuki mengikuti di belakang dia.

****

Tujuan mereka adalah jenis toko yang akan memiliki sesuatu untuk Satsuki. Yah, Satsuki terlihat bagus dalam memakai apapun.

Sejak bulan Mei, beberapa pakaian di toko lebih mirip gaya awal musim panas.

Para gadis memang memiliki banyak pilihan dalam hal pakaian, meski toko ini terlihat sangat trendi.
Gaya para Cowok biasnya cuma dengan kaos, hoodie, dan celana jins. Ada begitu banyak untuk dipilih bukanlah selera Tooru.

Sepertinya kedua gadis itu sudah memilih pakaian. Atau lebih tepatnya, Akane lah yang memilih pakaian untuk Satsuki seperti seakan-akan dia itu boneka manekin.

“Nishino, memilih pakaian untuknya sih baik-baik saja, tapi hargai juga pendapatnya.”

“Hmm? Oh kamu benar. Apa ada yang menarik perhatianmu sejauh ini, Satsuki? ”

Anehnya, Akane tidak membuat keributan atau sejenisnya, tetapi dengan jujur ​​meminta pendapat Satsuki. Setelah melihat-lihat sebentar, Satsuki melihat ke bawah ke keranjang belanja di dekat kaki mereka.

“Umm … gaun ini agak imut, kurasa.”

Satsuki mengambil gaun biru muda dari tumpukan baju yang ada di keranjang belanja. Mm, ya, pakaian itu seharusnya terlihat bagus pada Satsuki.

Merasakan ada sesuatu yang terjadi, Jun kembali ke yang lain. Ia melihat gaun itu dan menghela nafas panjang.

“Whoo. Gadis cantik memang beda …”

“Aku tidak bisa tidak berpikir bahwa perkataanmu terdengar seperti penjahat.”

“Aku, seorang penjahat? Tidak mungkin, bung.”

Mengabaikan si bodoh yang tertawa terkekeh-kekeh, Tooru tanpa sadar mulai membayangkan bagaimana penampilannya dengan gaun itu. Dia terlihat baik-baik saja.

Tiba-tiba, Akane dengan sopan mengambil gaun itu dari Satsuki dan membawanya ke ruang ganti lalu dengan bersemangat melompat ke depannya.

“Apa gunanya belanja pakaian jika kamu tidak mencobanya? Ayo, Satsuki!”

“Nishino, suaramu terlalu berisik. “

Pembeli lain di toko melihat ke Akane. Tooru hendak meletakkan tangannya di mulut Akane, tapi sebaliknya malah berbalik ke Satsuki.

“Yah, kau ingin melihat apa itu cocok atau tidak, ‘kan? Kenapa tidak mencobanya dulu?”

Satsuki tampak sedikit tersipu setelah mendengar sarannya.
Dengan pipi yang masih memerah, dia berlari ringan dan mengambil gaun itu dari Akane sebelum memasuki ruang ganti dan menutup tirai.

Mereka bertiga berdiri di luar menunggu untuk melihat hasilnya.

Butuh sekitar sepuluh menit sebelum dia berkata sudah siap. Akane tidak sabar membuka tirai segera setelah Satsuki memberi kata OK.

Dan di sana, di ruang ganti berdiri seorang dewi yang turun dari khayangan.

Gaun itu sangat cocok untuk gadis tinggi dan ramping. Gaun tersebut tidak terlalu ketat atau terlalu longgar untuknya. Gaya modisnya menyesuaikan diri dengan kecantikan alami Satsuki. Singkatnya, dia terlihat sempurna.

Seolah-olah dia tidak bisa menahan diri lagi, Akane langsung memeluk Satsuki.

“Imutnya! Maksudku, meski aku memilihnya, itu benar-benar terlihat sangat imut padamu, Satsuki!”

“Te-terima kasih.”

“Akane, Satsuki terlihat sedikit kewalahan, jadi apa kau bisa melepasnya?”

Jarang-jarang Jun mengatakan sesuatu dengan berkepala dingin. Mungkin Ia merasa Akane terlalu terbawa suasana.

Akane menghela nafas kecewa sebelum dengan enggan melepaskannya. Sebagai seniornya, Kau harus menahan sedikit.

Tooru terpikat oleh pemandangan Satsuki dalam balutan gaun itu. Tapi hanya melongo terus malah membuat Satsuki sadar diri ketika dia menutup tirai dan mengintip keluar.

“Umm, ini sedikit memalukan … tolong jangan menatap terus.”

Jika kau perhatikan dengan seksama, kau mungkin bisa melihat panah Cupid mencuat dari ketiganya. Jun menyeringai lebar di wajahnya dan Akane menerjang Satsuki lagi. Yah, dia akan melakukannya jika tengkuknya tidak ditahan oleh Tooru.

Mereka benar-benar akan melakukannya dengan baik sebagai duo komedi.

“Apanya yang salah dengan dua gadis yang saling berpelukan ?!”

“Kau terlalu melakukan kontak fisik dengannya, ya ampun! Satsuki, apa ada hal lain yang menarik perhatianmu? Aku akan membawakannya untukmu.”

“Umm, kalau begitu …”

Satsuki terlihat sangat bersemangat untuk mencoba lebih banyak pakaian saat dia menunjuk ke keranjang.

Akane juga, dalam semangat tinggi, bergegas untuk mengambilnya untuknya. Tooru dan jun hanya terdiam, saling mengangkat bahu dengan tak berdaya.


cerbung.net

Head Over Heels from the Scarf I Lent Her

Mafura o Kashitara Sachiusukei Bishojo ni Kore demo ka to suka reta kudan
Score 5
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2019 Native Language: Indonesia
Usai menyelesaikan UTS-nya di hari bersalju, Yamanaka Tooru bertemu Miyamoto Satsuki — seorang gadis yang dikatakan paling imut sekota — di gerbang depan sekolahnya.
Satsuki berdiri di sana sendirian tanpa mengenakan syal maupun mantel.
Tooru ingin mengabaikannya begitu saja, tetapi karena tak tega, Ia melilitkan syal di sekeliling leher Satsuki.
Waktu pun terus berlalu setelah kejadian itu.
Sampai ketika Satsuki memasuki SMA Tooru dan mengunjungi rumahnya tanpa diundang.
“Aku harus membalas budi atas apa yang sudah kamu lakukan padaku.”
“Aku sama sekali tidak berbuat banyak ...”Ini adalah kisah antara Tooru yang canggung dan Satsuki yang malang serta suka ikut campur.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset