Head Over Heels from the Scarf I Lent Her episode 21

Chapter 21

Liburan musim panas telah berakhir, membuat perubahan untuk semester baru dan musim baru.

Sudah satu bulan sejak semester baru dimulai tapi pembullyan malah semakin memburuk. Meja dan barang-barang milik Tooru dirusak dan dicoret-coret. Ia pernah melihat itu terjadi di manga atau drama sebelumnya, tapi Ia tidak berpikir hal seperti ini benar-benar terjadi di kehidupan nyata.

Teman-teman sekelasnya menertawakannya ketika Ia harus membersihkan sendiri, tapi setelah melihat itu, Jun ikut membantunya. Amane muncul di pintu kelas mereka, tetapi mereka mengabaikannya.

Guru, tentu saja, memperhatikannya, tapi begitu pula seluruh kelas. Semua orang bergosip tentang hal itu sesudahnya.

Cowok yang meninju dan menendang Tooru pada semester pertama dikeluarkan dan dipaksa pindah sekolah. Tooru tidak terlalu peduli tentang itu kecuali bahwa Ia pikir itu jelas akan terjadi. Seluruh sekolah menyalakan bocah itu juga.

Tooru merasa itu disayangkan tetapi tidak merasa bersalah untuk cowok itu. Ia berharap cowok itu akan menemukan kedamaian di sekolah barunya, karena sekarang Ia bebas dari genggaman Amane.

Perekam suara sekarang secara fisik melekat pada Jun. Ia selalu membawanya kecuali saat pelajaran olahraga. Ia sangat ingin menggunakannya, tapi Amane belum memanggil Tooru.

“Sudah lebih dari sebulan. Amane mungkin tidak tertarik padamu lagi. ”

Jun berbisik ke Tooru. Mungkin Jun ingin itu menjadi sedikit lebih menarik.

“Mereka tidak akan membullyku jika memang begitu. Tapi itu kehidupan yang mudah bagimu, ya?”

“Aku tidak sabar menunggu untuk bertubrukan langsung dengannya.”

“Tunggu sebentar.”

“Hah”

Akane muncul saat mereka berdua saling berbisik. Dia bertingkah seperti biasa ketika di sekolah, tetapi menurut Jun, dia juga penuh selalu menunjukkan kasih sayang saat mereka berduaan.

“Apa kalian bekerja keras atau hampir tidak bekerja? Mereka sepertinya lebih sering melecehkanmu, Tooru.”

“Masa? Itu mungkin karena Tooru tidak pernah membalas, kurasa.”

“Itu benar. Amane menjadi sombong karena Tooru tidak pernah marah padanya.”

“Itu akan menjadi the end bagiku jika aku membalasnya. Mungkin itu sebabnya …”

Mereka bertiga setuju. Mereka punya cukup bukti tentang bagaimana teman-teman sekelasnya membully Tooru, tapi mereka hanya perlu mengalahkan Amane untuk menyelesaikan masalah ini.

Mereka hanya punya satu kesempatan. Dan itu tidak boleh disia-siakan.

Lalu, istirahat makan siang tiba.

Amane, dengan seringai biasa di wajahnya, mengampiri ke kelas mereka lagi. Tooru melirik ke  Jun, diam-diam memberinya sinyal.
Dia berdiri dan berjalan mengikuti di belakang Amane.

****

Kali ini, mereka tidak pergi ke lorong dekat ruangan penjaga. Sebaliknya, mereka pergi ke bagian yang remang-remang belakang sekolah. Mereka sedikit khawatir tentang bagaimana perekam suara mungkin tidak berfungsi dengan baik karena mereka berada di tempat terbuka, tapi mereka juga tidak ingin berbicara dengan aneh dan mengulangi kata-kata jika dia mencurigai mereka.

“Oh, tak kusangka. Kau punya pengawal kali ini.”

“Ya, kau tahu … aku bukan lagi orang yang sama dengan kejadian yang sebelumnya.”

Itu hanya gertakan. Tooru hanya membutuhkan Jun di sini untuk menyembunyikan perekam suaranya yang berbentuk pena. Jun tahu betul bahwa siapa pun yang menyerang lebih dulu kalah.

Amane tertawa sendiri. Menilai dari bagaimana aktingnya, sepertinya dia belum menyadari keberadaan perekam suara. Ini adalah kesempatan terakhir mereka.

“… bisakah kau berhenti menargetiku?”

“Oh, kamu sudah menyerah? Aku pikir mainan Satsuki akan memiliki lebih banyak nyali daripada ini. Sayang sekali.”

Dia berbicara seperti biasa — seolah-olah semua orang kotor. Ia ingin menepuk punggungnya, tapi Ia menggigit lidahnya.

“Tapi, aku tidak pernah membully siapa pun yang bisa bertahan selama dirimu. Kamu adalah mainan favoritku, jadi mengapa kamu tidak membuktikan kepadaku kalau kamu bisa terbang dengan melompat dari atap? Aku yakin itu akan menjadi hiburan yang luar biasa. “

“Kau bercanda. Tidak ada yang akan melakukan itu.”

“Berani-beraninya bajingan sepertimu bilang tidak padaku ?! Tidak ada hal lain yang baik untukmu! Sama persis seperti dia!”

Amane mengerutkan alisnya saat dia berteriak. Tapi Jun hanya tertawa kecil.

“Sudah, sudah. Tenanglah, Miyamoto, atau kau akan merusak wajah cantikmu. Maksudku, meski Satsuki lebih imut sih! ”

Tentu saja, Jun mengatakan itu dengan sengaja untuk memancing amarah Amane.
Tampaknya hal itu bekerja dengan sangat ampuh. Amane tampak seperti iblis ketika dia memukul wajah Jun, tetapi wajah itu tiba-tiba berubah menjadi penyesalan.
Itu karena sekarang Jun tengah tersenyum. Ia memegang pipinya kesakitan saat Ia merengek keras.

“Aduh! Itu sangat menyakitkan! Aku pikir kau menanggalkan salah satu gigiku. Ya, Kau benar-benar melakukannya. Ahh, aku berdarah sangat banyak!”

“A-Apa ?! Aku tidak memukulmu dengan keras. Hentikan itu! Kamu akan menyesal telah mengolok-olok— ”

Amane tiba-tiba berhenti berbicara.

Sudah terlambat ketika dia akhirnya menyadari perekam suara di kantong Jun. Meski mereka berada di tempat terbuka, perekam suara tidak akan kesulitan mengambil suaranya di hari yang tenang dan tidak berangin seperti hari ini.

Dia cepat-cepat mengulurkan lengannya, tapi Jun dengan cekatan menghindar. Kemudian, Ia mengeluarkan alat perekam dari kantongnya dan memprovokasi lebih jauh lagi.

“Ooh, dikantongku ini apa ya?”

“Argh, dasar bajingan!”

Apa itu penyesalan? Rasa benci? Marah? Amane langsung menerjang ke arah Jun, tapi Ia memegang perekam tinggi-tinggi dan berusaha menjauh darinya.
Seorang guru akhirnya datang setelah mendengarnya berteriak. Beliau tersentak begitu melihat Amane, tapi masih berjalan ke arah mereka bertiga.

“Apa yang terjadi di sini?!”

Amane mengeluarkan air mata buayanya lagi ketika dia bergegas ke guru.

“Tolong aku!”

“Ada apa, Miyamoto?”

“Me-Mereka membully-ku.”

“Apa itu benar?”

Guru memandangi Jun dan Tooru dengan pandangan penuh keraguan. Tooru tetap diam, tapi Jun menjawab.

“Yo, pak, Miyamoto baru saja meninju wajahku. Lihat ini.”

Jun menunjukkan pipinya yang merah dan bengkak ke guru. Tiba-tiba guru itu tampak sangat serius dan menatap Amane.

“Apa itu benar?”

“Tidak, Ia melakukannya sendiri …!”

“Oh, izinkan aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

Sebuah suara terdengar dari bayangan. Amane terdiam membisu setelah melihat siapa orang itu.

Dia tidak pernah memperhatikan Akane yang sedang berjalan, masih menulis di buku catatannya.

Amane tahu persis apa yang dia lakukan dan apa yang ada di catatan miliknya, dan dia mulai berlari ke arah Akane.

Namun, itu adalah upaya yang sia-sia karena Tooru melangkah untuk menghalangi Amane.

“Jangan menghalangi jalanku!”

“Menghalangi bagaimana? Aku tidak ingin kau tersandung dan melukai dirimu sendiri.”

“Kamu ini…!”

Akhirnya, Akane berjalan ke arah guru dan menyerahkan catatan kepadanya.

“Aku ingin pergi ke ruang guru untuk menyerahkan ini kepada seseorang yang bertanggung jawab, tapi ini mungkin jauh lebih baik. Aku melihat semuanya. Miyamto sebenarnya memukul Jun.”

“Tidak, aku tidak memukulnya! Sungguh…!”

Suara Amane pecah seolah-olah dia akan menangis. Protesnya tidak akan banyak berpengaruh terhadap mereka bertiga. Belum lagi, ada segunung bukti yang memperkuat tindakannya.

Si Guru mengambil catatan Akane dan membaca sekilas dari halaman pertama. Matanya melebar ketika Ia mencapai halaman terakhir dengan semua rincian tentang Tooru. Amane, bagaimanapun juga, tidak bisa berkutik karena dia ditahan oleh Tooru.

“… apa semua yang ada di sini benar?”

“Tidak …”

“Itu semua benar. Anda ingat bagaimana meja Tooru dirusak? Itu juga yang dilakukan Miyamoto.”

“Tapi … “

Namun, kepala sekolah memfavoritkan Amane. Seorang guru saja tidak bisa berbuat apa-apa.

Karena itu, Jun mengulurkan perekam suaranya juga. Guru itu bingung dengan apa yang Ia lihat sebelum mulai berbicara.

“Oh, kamu sudah menyerah? Aku pikir mainan Satsuki akan memiliki lebih banyak nyali daripada ini. Sayang sekali.”

 “Apa ini …?”

 “Terus dengarkan saja. Anda akan segera tahu.”

Jun mempercepat rekamannya sampai ke kalimat dimana Amane memulai pelecehannya.

“Tapi, aku tidak pernah membully siapa pun yang bisa bertahan selama dirimu. Kamu adalah mainan favoritku, jadi mengapa kamu tidak membuktikan kepadaku kalau kamu bisa terbang dengan melompat dari atap? Aku yakin itu akan menjadi hiburan yang luar biasa. ” 

“Kau bercanda. Tidak ada yang akan melakukan itu.”

“Berani-beraninya bajingan sepertimu bilang tidak padaku ?! Tidak ada hal lain yang baik untukmu! Sama persis seperti dia!”

Ada sedikit suara ribut dalam rekaman itu, tetapi suaranya masih bisa terdengar dengan jelas. Si Guru itu tampak sangat galak begitu Ia menyadari bahwa itu adalah suara Amane.

Setelah melihat bagaimana situasinya terkuak. Amane langsung lemas di lengan Tooru. Reputasi atau kedudukannya mulai hancur pada saat ini. Ini adalah saksi mata dan bukti dari semua kecurigaan para guru terhadap Amane.

“Tapi … aku …”

“… Miyamoto, ayo ikut aku ke — tidak, ayo pergi kantor kepala sekolah setelah ini. Aku akan melaporkan ini ke wakil kepala sekolah juga.”

“Ah … ah.”

Apa yang dia katakan tidak akan membuat perbedaan lagi. Amane menyelinap keluar dari cengkeraman Tooru dan merosot ke tanah. Air matanya bukan lagi air mata buaya yang dia lakuakan sebelumnya.

Mereka bertiga mengikuti guru ke kantor sebagai saksi. Mereka ditanya berbagai macam pertanyaan, seperti kapan pembullyan mulai dan mengapa itu bisa terjadi.

Mereka mengatakan yang sebenarnya tentang jangka waktu, tapi itu bermula karena perdebatan antara Tooru dan Amane. Dengan begitu, mereka bisa meninggalkan Satsuki dari kekacauan ini. Akan sulit baginya jika dia harus berbicara pada kakaknya.

Dari awal, para guru sudah memahami segalanya, jadi setelah mendengar apa yang mereka bertiga katakan, semuanya berjalan dengan baik.

Amane tampaknya dipanggil ke kantor kepala sekolah dan ditegur atas semua yang telah dilakukannya. Tampaknya, karena Akane tidak ada di sana untuk menyaksikannya secara langsung tapi mendengarnya dari para guru.

Para guru juga memberikan lembaran survei kepada setiap siswa di kelasnya, yang menemukan banyak insiden intimidasi dari Amane. Dikombinasikan dengan kekerasan terhadap Jun, dia diskors dari sekolah selama dua bulan.
Meski sebelum dia diskors, Tooru dan Amane berpapasan. Dia menundukkan kepalanya dan berjalan melewatinya. Itu sangat memuaskan bagi Tooru.

Dan dengan demikianlah kejatuhan dan kehancuran dari sang ratu tiran.
Kekuasaan Amane atas sekolah sudah tidak ada lagi.


cerbung.net

Head Over Heels from the Scarf I Lent Her

Mafura o Kashitara Sachiusukei Bishojo ni Kore demo ka to suka reta kudan
Score 5
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2019 Native Language: Indonesia
Usai menyelesaikan UTS-nya di hari bersalju, Yamanaka Tooru bertemu Miyamoto Satsuki — seorang gadis yang dikatakan paling imut sekota — di gerbang depan sekolahnya.
Satsuki berdiri di sana sendirian tanpa mengenakan syal maupun mantel.
Tooru ingin mengabaikannya begitu saja, tetapi karena tak tega, Ia melilitkan syal di sekeliling leher Satsuki.
Waktu pun terus berlalu setelah kejadian itu.
Sampai ketika Satsuki memasuki SMA Tooru dan mengunjungi rumahnya tanpa diundang.
“Aku harus membalas budi atas apa yang sudah kamu lakukan padaku.”
“Aku sama sekali tidak berbuat banyak ...”Ini adalah kisah antara Tooru yang canggung dan Satsuki yang malang serta suka ikut campur.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset