Head Over Heels from the Scarf I Lent Her episode 3

Bersih-bersih dan Puding

Selain hari pertama sekolah, setiap hari berjalan sesuai jadwal yang ada.

Tooru bekerja sebagai kasir di minimarket yang diberi upah 1.000 yen/jam. Itu penghasilan lebih dari cukup untuk ukuran anak SMA.

Ia melirik arlojinya — hampir jam 7:00 malam. Alangkah baiknya jika Ia bisa pulang kerja tanpa hambatan.

Begitu pikiran tersebut terlintas di benak Tooru, orang yang bekerja di register lain tiba-tiba angkat bicara. Ia adalah Sasaki Takato, 25 tahun, atasan Tooru. Beberapa orang bilang kalau Ia adalah seseorang “tanpa pekerjaan yang layak.”

“Giliranmu hampir selesai, ‘kan? Kerja bagus hari ini.”

“Terima kasih, anda juga, kerja bagus hari ini.”

“Pekerjaanku tidak pernah selesai. Tapi yang lebih penting …”

Takato menunjuk ke belakang bagian majalah.

“Apa itu temanmu? Dia imut banget, coy. ”

Tooru kemudian melihat ka arah yang di tunjuk atasannya. Berdiri di luar ada Satsuki, yang melambai sembari tersenyum.

Kenapa dia ada di sini?  pikir Tooru, lalu Ia mengingat kejadian kemarin.

Omong-omong, apa Ia memberitahu Satsuki tentang jadwal kerjanya? Tooru menolak tawarannya untuk menjemputnya setelah bekerja, jadi mengapa dia ada di sini?

“Dia … kenalan. Walau baru kenal kemarin.”

“Hmm …”

“A-Apa?”

“Hhmmm. Dia pacarmu?”

“Dia bukan pacarku. Kami hanya pergi ke sekolah yang sama—”

Jam dinding pun berdentang dan suaranya memotong pembicaraan.

“Baiklah, shift-mu sudah selesai. Sampaikan salamku pada pacarmu, oke?”

“Sudah kubilang, dia bukan pacarku!”

Tooru terus membantah sembari berjalan ke ruang istirahat. Ia dengan cepat ganti baju dan menuju ke tempat di mana Satsuki menyambutnya dengan senyuman.

“Hai, Tooru. Aku tahu kamu bilang tidak kemarin, tapi aku di sini.”

“Tidak apa-apa, tapi … apa kau baik-baik saja? Tidak ada yang mengganggumu atau semacamnya, ‘kan?”

“Aku baik-baik saja, terima kasih”

Ketika Satsuki membungkuk sopan, Tooru menggaruk bagian belakang kepalanya; rasanya agak memalukan baginya.

Tooru melihat kantong plastik dari apotek yang di pegang Satsuki.

“Uhh, apa isi di dalamnya?”

“Aku berpikir untuk membersihkan kamarmu hari ini.”

Yikes.

Seorang gadis membersihkan kamar cowok? Rasanya terlalu bagus untuk jadi kenyataan.

Bukan berarti ada sesuatu yang mesum ata semacamnya di kamar Tooru, tetapi membuat Satsuki membersihkan kamarnya seperti dia adalah pembantu rumah tangganya membuatnya agak gugup.

“Me-Membersihkan kamarku? Apa kau yakin tentang itu?”

“Aku yakin. Aku sedikit bersemangat dan itu sebabnya aku membeli banyak peralatan. ”

Terima kasih, tapi tidak, adalah apa yang ingin dikatakannya, tetapi Tooru tidak bisa menolak pada tawaran seperti ini.

“Baiklah, ayo kita pulang?”

“Ayo!”

Jawab Satsuki tersenyum lembut.

****

Ruangan yang berantakan dengan cepat teratasi.

Belum sampai jam 9:00 dan ruangan sudah hampir selesai. Siapa pun bisa tahu dia punya pengalaman dalam tugas rumah tangga.

“Apa kamu bisa menggunakan sticky roller untuk membersihkan karpet? Semua lantai sudah bersih jadi hanya itu satu-satunya yang tersisa untuk dilakukan.”

“Aku tidak tahu harus berkata apa …… tapi terima kasih banyak.”

Ngomong-ngomgong tentang lantai, di situlah rahang Tooru terus menganga. Ia tak bisa mempercayai kelahiran kembali kamarnya ini.

Tak disangka ada begitu banyak yang harus dibersihkan untuk cowok jomblo. Tidak, lebih tepatnya, rasanya mengejutkan karena sangat mudah dibersihkan.

Ia bukan tandingan Satsuki yang bahkan tidak menunjukkan sedikit pun rasa lelah.

Satsuki mengikat rambutnya. Aura kecantikannya sungguh jauh berbeda ketimbang dia menggeraikan rambutnya. Ya, hampir seolah-olah Tooru mendadak punya saudara perempuan.

Tapi penampilannya hanya membangkitkan rasa penasarannya. Perasaan murni itu terlihat bagus baginya .

“Apa itu celemek pribadimu?”

“Ya, aku membawanya langsung dari rumah. Apa ini baik-baik saja? Ini tidak terlihat aneh atau semacamnya, ‘kan? ”

Satsuki memutarkan badannya.

Gadis paling imut sekota memamerkan celemeknya benar-benar bikin ngiler siapapun yang melihatnya. Mana mungkin hal tersebut tidak cocok untuknya.

“Itu terlihat bagus untukmu.”

“Be-Benarkah? Jika memang begitu, aku merasa senang …”

Ekspresi malunya membuat siapa saja yang melihatnya ingin melindunginya. Tooru, yang sekarang tersenyum lembut, melihatnya sebagai adik perempuan.

Nah, setelah kegiatan bersih-bersih selesai, apa ada yang Tooru berikan kepada Satsuki sebagai tanda terima kasih?

Bukannya Ia bangga akan hal itu, tapi setidaknya Tooru bisa membuat nasi dan sup miso.

Ada sedikit nasi sisa dan bawang hijau untuk sup, tetapi jika Satsuki sudah makan malam, maka semuanya bakal sia-sia.

Tapi tetap saja, ucapan terima kasih segitu saja masih belum cukup untuk seorang gadis yang sudah berbuat banyak untuknya. Jika yang melakukanya adalah teman sekelasnya, mereka takkan punya hak untuk mengeluh. Tapi Satsuki adalah seorang gadis. Mana mungkin dia akan senang diperlakukan hanya dengan seperti ini.

Ketika Tooru mengerang frustrasi, Ia melihat Satsuki berjalan ke dapur.

“Miyamoto? Tidak usah membersihkan dapur segala… “

“Aku hanya memeriksa kulkasmu, untuk berjaga-jaga. Begini-begini, aku cukup pandai memasak, tahu? ”

Ugh, siapa yang tidak mau memeluk gadis imut seperti dia? Namun, itu berita baru untuk Tooru. Ia hampir tidak bisa makan masakannya sendiri.

Saat Ia masih berfantasi, Satsuki membuka pintu kulkas dan tatapan matanya tertuju pada tempat tertentu.

Tooru penasaran apa yang dia temukan di sana.

Ia tidak ingat menyimpan sesuatu yang istimewa. Jika ada sesuatu di kulkas, palingan cuma ada beberapa bahan dan bumbu.

Dia meremas pegangan pintu dengan erat. Kemudian, wajah Satsuki sedikit memerah dan menghadap ke Tooru.

“Umm …”

“Hmm?”

“Aku penasaran dengan puding …”

 Tooru segera sadar setelah Satsuki berbicara.

Dua hari yang lalu, tempatnya bekerja menawarkan produk baru — Banyak Krim Strawberry! Custard Pudding — jadi manajer membagikan ke para karyawan. Tooru tidak terlalu suka dengan makanan manis, jadi Ia menaruh puding ke dalam kulkas dan melupakannya.

Pasti masih belum habis masa kadaluwarsa, meski ini bukan hari ketika Ia mendapatkannya. Mungkin ini hadiah yang bagus untuk seorang gadis.

“Ah, silakan makan saja kalau kau mau. Aku bukan penyuka makanan manis.”

“Be-Benarkah? Ji-Jika kamu bilang begitu, maka aku akan menerima tawaranmu … ”

Matanya berbinar-binar saat dia meraih sendok dari laci alat makan. Dia kemudian kembali tepat di samping Tooru dan tersenyum manis. Daripada senyumnya yang biasa, kali ini, dia lebih terlihat seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah di Hari Natal.

Membuka penutupnya melepaskan aroma krim strawberry yang manis dan manis.
Satsuki menghirupnya sebelum menyendok puding.

“……..!”

“B-Bagaimana? Aku harap itu tidak terlalu buruk. “

Tooru agak khawatir kalau puding yang dmakan bukan selera Satsuki, tetapi kekhawatiran itu dengan cepat lenyap.

“Rasanya sangat luar biasa!”

“O-Oh! Aku senang mendengarnya.”

“Apa ini produk baru? Aku merasa belum melihatnya di jajakan sampai baru-baru ini …”

“Sepertinya begitu. Manajerku  yang menyuruhku untuk membawanya pulang.”

“Begitu ya…”

Satsuki memegang puding dengan kedua tangannya dan menghirup nafas sebelum memakannya lagi.

Melihat betapa bahagianya dia, Tooru menatapnya dengan lega. Namun, tiba-tiba, matanya bertemu dengan tatapan Satsuki.

“Kamu bilang kamu tidak suka yang manis-manis, ‘kan? Apa kamu tidak ingin mencobanya?”

 “Y-Ya, aku … “

“Jujur saja, rasanya tidak semanis aromanya. Apa kamu yakin tidak ingin mencobanya sedikit? ”

Satsuki lalu menyodorkan sendok kecil yang berisi puding ke hadapan Tooru. Apa ini momen legendaris “bilang ‘ah’”  itu?!!

Wajah Tooru langsung semerah tomat.

Wajah Satsuki benar-benar polos, yang mana membuat Tooru  merasa lebih buruk.

Ia bisa mengelak dengan berkata tidak dan menegaskan kalau Ia tidak suka yang manis-manis, tapi Tooru benar-benar menyukai senyum manisnya. Tentunya, mana mungkin dia tidak menyadari kecantikannya sendiri.

Dan ditambah lagi ini — ciuman tidak langsung. Ciuman tidak langsung!

Satsuki tampaknya tidak menentangnya. Dan meski Tooru belum melakukannya lagi sejak SD, bahkan Tooru pernah berbagi minumannya dengan gadis lain.

Ia tidak bisa menghancurkan hatinya dengan keraguan dan rasa malu. Oh terserahlah. Karena dipaksa Satsuki, Tooru menggigit pudding yang ditawarkan.

“… rasanya lebih baik dari yang aku kira.”

Mendengar komentar Tooru membuat Satsuki lebih bahagia.

“Benar, ‘kan?! Hehe, kamu senang bisa mencobanya, bukan? ”

Dia menyedok kembali dengan sendok yang telah Tooru cicipi. Mungkin Satsuki bukan tipe gadis yang terlalu cerewet dengan hal seperti itu.

Tooru tak punya nyali untuk menjelaskannya pada Satsuki dan membuat keduanya memerah. Ia hanya diam-diam menyaksikan Satsuki memakan habis puding.

****

“Maaf sudah membuatmu mengantarku pulang, padahal aku tinggal sangat dekat.”

“Aku takkan melakukannya jika kau tinggal lebih jauh. Dan sekali lagi terima kasih banyak karena sudah banyak membantuku hari ini. “

“Aku sangat senang, karena ini demi dirimu.”

Dengan senyum di wajahnya, Satsuki mengangkat tangannya dan memamerkan bisepnya.

Aku tidak yakin, tapi rasanya kita banyak tertawa hari ini. Aku tidak tahu kalau ada seseorang didekat kita bisa terasa menyenangkan seperti ini. Pikir Tooru sambil tersenyum.

“Baiklah, selamat malam. Hati-hati di jalan, oke?”

“Iya, kamu juga.”

Satsuki melambai kembali ke Tooru sebelum berbalik.

Mana mungkin Ia bisa tahu beban seperti apa yang dibawa oleh sosok mungil, tapi untuk melihatnya tertawa di sisinya sudah cukup untuk Tooru.

Setelah memastikan sosok Satsuki sudah tak terlihat lagi, Tooru pun pulang ke kos-kosannya.


cerbung.net

Head Over Heels from the Scarf I Lent Her

Mafura o Kashitara Sachiusukei Bishojo ni Kore demo ka to suka reta kudan
Score 5
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2019 Native Language: Indonesia
Usai menyelesaikan UTS-nya di hari bersalju, Yamanaka Tooru bertemu Miyamoto Satsuki — seorang gadis yang dikatakan paling imut sekota — di gerbang depan sekolahnya.
Satsuki berdiri di sana sendirian tanpa mengenakan syal maupun mantel.
Tooru ingin mengabaikannya begitu saja, tetapi karena tak tega, Ia melilitkan syal di sekeliling leher Satsuki.
Waktu pun terus berlalu setelah kejadian itu.
Sampai ketika Satsuki memasuki SMA Tooru dan mengunjungi rumahnya tanpa diundang.
“Aku harus membalas budi atas apa yang sudah kamu lakukan padaku.”
“Aku sama sekali tidak berbuat banyak ...”Ini adalah kisah antara Tooru yang canggung dan Satsuki yang malang serta suka ikut campur.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset