Hearts Color episode 2

Chapter 2

Aku sempat berpikir,kenapa masalah selalu datang di saat yang tepat. Di saat aku merasa ingin sekali menghabiskan waktu dengannya. Di saat perasaan yang telah mati selama lima tahun ini, hidup kembali…

“Kenapa gak di angkat…?”—tanyanya setelah handphone itu berdering untuk yang ketiga kalinya—“Dari, dia…?”

Sontak aku melirik kearahnya, yang saat ini tengah menatapku dengan ekspresi wajah datar. Lalu dengan nada tinggi, aku berkata, “bukan urusanmu!”

Aku kesal, sangat kesal. Maksudku, kenapa wajahnya begitu datar kalau tahu telepon ini darinya. Dari seseorang, yang harusnya akan menjadi penghalang hubungan kami nantinya. Dan jika dia masih menyukaiku, tunjukkan ekspresi wajah kesal. Atau paling tidak katakan, ‘jangan angkat klo dari dia’, atau kata-kata semacam itu lah.

Bergegas kujawab panggilan telepon itu. Tanpa embel-embel kata sayang atau semacamnya, walau kami pacaran. Ya, aku memang tak pernah mengucapkan hal-hal memalukan seperti itu. Tidak juga kepada ‘eks’, yang saat ini duduk tepat dihadapanku.

“Eerrr… Sudah makan…?”—tanyanya setelah sempat sunyi sejenak, setelah kuangat telepon itu.

Agak canggung memang, karena dia tipe cewek yang agak pemalu. Sangat jauh berbeda, jika dibandingkan dengan, sekali lagi, ‘eks’ yang saat ini saat ini duduk tepat dihadapanku. Super berisik.

“Ya, tentu saja sudah,”—balasku seraya kemudian melihat jam tangan, dan waktu menunjukkan pukul tiga kurang lima belas menit sore hari. Jelas kalau pertanyaan tadi hanya sekedar basa-basi.

Tapi lebih bodoh lagi, aku juga menanyakan hal sama kepadanya. “Kau sendiri bagaimana? Sudah makan ‘kan?”

“Iya, tentu saja…”—jawabnya menirukan ucapanku—“Sebenarnya…”

“Tunggu sebentar!” Potongku. Saat kulihat dirinya tengah menguping pembicaraan ini, dengan sangat antusias. Tetapi saat aku ingin beranjak pergi menjauh, dia menggenggam pergelangan tanganku erat. Hanya diam, tak mengucapkan apapun. Tapi, ekspresi wajahnya seakan ingin berkata, ‘jangan pergi!’

Tanpa berpikir, aku memutuskan untuk kembali duduk di tempat semula. Dan dengan tetap menggenggam telepon di tangan kanan, aku berujar, “Ya, ada apa?”

“Tadi, kenapa…?” tanyanya penuh keragu-raguan.

“Tidak, gak ada apa-apa kok…”

“Sedang, bersama seseorang…?”

“Ya,”—jawabku berlahan. Bagaimanapun, aku tak ingin berbohong, tidak sama sekali—“saat ini, aku sedang bersama teman.”

Dia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya kembali bertanya, “cewek…?”

Sekarang ganti aku yang terdiam karena pertanyaannya itu. Kugerakkan kepalaku untuk melihat seseorang, yang saat ini tengah memperhatikanku dengan sangat serius. Tapi, begitu mata kami bertemu, buru-buru dia saja dia membuang muka, dan meminum orange float-nya.

Dengan beralih menatap tanaman-tanaman yang tertata rapi di balkon restoran, aku membalas pertanyaaannya. “Ya, dia cewek, temen saat SMU…”

“Be-begitu ya…”—walau aku tak bisa menatap wajahnya, tapi aku tahu dia terkejut mendengarnya—“Kalau gitu, maaf sudah ganggu…”

“Tunggu!”—balasku buru-buru, sebelum dia benar benar mematikan teleponnya—“Walau sepenting apapun urusanku saat ini. Walaupun saat ini aku sedang bersama keluarga, atau teman. Jika kau yang menelpon, dan walau sekedar menanyakan kabar, itu sama sekali tak mengganggu. Karena kau pacarku, wajar jika kau menelpon.”

Untuk saat ini, entah mengapa, aku seperti di tarik kembali ke dunia nyata. Dunia sebenarnya, yang walau tidak begitu indah, tapi tetap harus di jalani. Di banding dengan perasaanku sebelum ini, yang semua serasa jauh lebih indah, walau aku sedang kesal dan bimbang.

“Terima, kasih…” ucapnya lirih setelah aku menunggu cukup lama.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”

“Sebenarnya, untuk acara besok aku masih belum nemuin baju yang pas. Jadi hari ini aku berencana membelinya, bisakah, kau menemaniku…?”

“Ya, tentu saja,”—balasku cepat—“akan kujemput jam setengah delapan. Kita pergi bersama.”

“Err…”

“Ya ?”

“Sekarang, gak isa ya…?”

Sekali lagi aku sejenak mendengar permintaannya. Aku tahu maksudnya, dan kuanggap itu suatu hal yang wajar dilakukan. Tapi—kulirikkan mata, melihat seseorang yang sedang duduk dihadapanku sekali lagi—jujur saja aku masih ingin bersamanya lebih lama lagi.

“Maaf, tapi mungkin, aku baru bisa jemput dua jam lagi…”—hanya ini hal terbaik yang bisa kulakukan.

“Ya, baiklah,”—jawabnya cepat—“akan ku tunggu sampai jam lima sore, makasih…”

“Ya…” Jawabku sebelum akhirnya dia menutup teleponnya. Seumur hidup, aku tak pernah berharap punya dua orang cewek yang menyukaiku, tidak sedikitpun.

********************

Aku kembali melihat kearahnya yang terus memperhatikanku. Bibirnya berada ujung sedotan, dan terhubung dengan minumannya yang berwarna oranye. Entah bagaimana caranya minum, tapi kuperhatikan minuman itu sama sekali tak berkurang, sedikit pun. Dan dia malah tersenyum saat aku menatap matanya.

“Apa?!” Tanyaku sinis.

“Kenapa gak berbohong ?”—jelasnya senang, setelah melepaskan bibirnya dari ujung sedotan—“klo bohong dan bilang lagi sama temen cowok, pasti dia mau kau jemput jam setengah delapan malem.”

“Memang kenapa?”—balasku lantang—“berarti kau tau’kan klo dua jam lagi aku harus pergi, ada urusan!”

“Jelas terlihat, masih mengelak…” ujarnya dengan mimik mengejek yang tak berubah.

“Apanya yang ngelak ? klo bicara yang jelas!”—sebenarnya aku tahu apa maksudnya, hanya saja… tak ingin mengakuinya.

“Yaaa,”—jawabnya dengan memanjang-manjangkan huruf a—“kau ingin bersamaku sampai jam setengah delapan, paling tidak.”—seraya dia tersenyum kearahku.

“Itu’kan maumu!”

“Seperti yang kau mau.”

Setelah itu aku hanya terdiam. Karena aku tahu, jika kuteruskan tak akan pernah selesai. Dia akan terus dan terus membantah semua yang kuucapkan. Dan toh semua yang di katakannya benar. Hanya saja, sikapnya yang seolah bisa membaca isi kepalaku, yang membuatku tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya.

Cukup lama kami hanya saling menatap kesal, tanpa mengatakan apapun. Sampai akhirnya, tangan kirinya bergerak gesit mengambil handphone-ku, lalu tersenyum penuh kemenangan.

Aku mengerti apa di inginkannya dengan mengambil telepon itu. Tapi toh aku tak terlalu mempedulikannya, karena sejak awal aku tak ingin menyembunyikan apapun darinya

Akan tetapi, melihatku yang tak merespon apapun. Dia malah memasang tampang sedikit bersalah, dan bertanya, “Boleh aku melihatnya…?”

“Terserah.” Jawabku ketus.

Setelah itu aku menghela napas panjang, dan menatap langit luas. Aku bingung, terlalu bingung sampai tak tahu harus memulainya dari mana. Aku sadar bahwa hati, dan jiwa ini masih sangat merindukannya. Tapi seperti yang dikatakannya dulu, terlalu banyak perbedaan di antara kami. Dan akan ada lebih banyak mata, yang akan melihat perbedaan itu. Terutama untuknya…

“Wuaah!! Ini di bromo ‘kan?!?! Aku pengen banget pergi kesana sekali lagi!!” Serunya dengan volume suara yang sangat sangat kencang. Entah apa yang merasukinya, sampai harus berteriak seperti itu.

“Hei, hei, gimana klo kita kesana, lalu berfoto seperti ini?!?!”—ujarnya bersemangat sambil menyodorkan foto mesraku bersama seseorang menelponku tadi.

“Dia manis sekali loh, sungguh!”—lanjutnya seraya kembali mengutak-atik handphone-ku—“Kurasa kami bisa jadi teman baik.”

Aku menyipitkan mata mendengarnya mengatakan itu. Jadi teman? Yang benar saja, lalu bagaimana denganku?!

Ya… walau akhirnya aku hanya bisa membatin pertanyaan itu dalam hati. Menatap wajahnya yang saat ini terlihat begitu ceria, aku jadi tak ingin merusak mood-nya.

Tapi aku juga bukan tipe orang yang suka membiarkan masalah berlarut-larut. Aku harus membuat keputusan, kembali bersamanya, atau melepasnya. Dan sebenarnya penghalang terbesar hubungan kami, adalah orang yang paling dekat dengannya. Jika beliau merestuinya, ini akan lebih mudah untuk kami.

“Bagaimana dengan ayahmu?” tanyaku berlahan.

Sejenak dia mengabaikan telepon genggam di tangannya, dan melirik kearahku. Cukup lama dia terdiam, sebelum akhirnya berkata lirih, “Gak apa-apa, dia baik-baik saja kok…”

“Syukurlah…” jawabku lega.

Walau bukan itu sebenarnya jawaban yang kuinginkan. Tapi aku senang, ayahnya baik-baik saja. Dan kuambil kesimpulan sederhana, bahwa dia belum mengatakan apapun pada ayahnya. mengenai masalahnya ini.

Sebenarnya, secara tak langsung, ayahnya lah penyebab kandasnya hubungan kami. Tapi aku sama sekali tak bisa menyalahkan beliau, dan kupikir itu sifat wajar dari seorang orang tua. Aku tak ingin, menjadi seseorang yang merusak hubungan ayah dengan putrinya.

“Ini tentang kita,”—ujarnya sembari meletakkan handphone-ku—“sama sekali gak ada hubungannya sama papa.”

“Aku tau, tapi paling tidak,”

“Ya, ya, ya!”—serunya sinis memotong ucapanku, lalu sambil memejamkan mata dia kembali berkata—“kau tak bisa mengabaikannya ‘kan.”

Dasar, dia memang sangat keras kepala, dan susah di atur. Dulu kami sudah sangat sering membicarakan tentang ini. Dan sikapnya selalu seperti itu, menganggap remeh. Padahal ini adalah masalah serius. Aku tak ingin dia di benci oleh kedua orang tuanya, hanya karena ku.

Terlebih lagi, sekarang kami bukan anak-anak, yang menganggap cinta adalah segalanya. Kami tak bisa menikah, hanya karena kami saling mencintai. Karena kami, tidak sedang hidup di dunia dongeng.

Ia membuka salah satu matanya, dan menatapku tersenyum.

“kau tau?!”—serunya tiba-tiba, seraya menyodorkan wajahnya tepat didepanku.

Sontak saja kutarik kepalaku mundur, menjaga jarak dari kedua mata indahnya yang menatapku lebar. Mimik wajahnya terlihat sedikit kecewa, saat melihat reaksi spontanku. Lalu berlahan dia menarik kepalanya menjauh.

Dengan kedua tangan yang dilipatnya rapi di atas meja, ia menatap kearah langit di luar restoran, dan berkata, “Akan lebih mudah jika kita,”—dia menggerakkan kepalanya, menatap mataku, dan tersenyum senang—“kimpoi lari.”

“Ha ha ha.”—celetukku sangat tidak antusias.

Lawakannya sangat tidak lucu, dan kuyakin dia juga tak serius mengucapkan hal itu. Karena setelahnya, dia malah tertawa terbahak-bahak. Lalu ia kembali memandang langit sore hari itu, dan tersenyum.

Setelah diam sejenak, dengan memandang wajahnya. Kuputuskan untuk melihat kearah yang sama. Awan biru yang diselimuti sinar matahari senja. Walau aku telah melihatnya berulang kali. Tapi bersamanya, semua jadi tampak begitu indah

Ya, mungkin ada baiknya aku melupakan masalah ini sejenak. Tak penting apa kami bisa kembali bersama seperti dulu, atau tidak. Karena tak ada yang lebih kuinginkan, selain melihat wajah tersenyum bahagianya, seperti saat ini.


cerbung.net

Hearts Color

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
Dua puluh januari, kami berdua duduk berhadapan di restoran Itali. Melihatnya yang saat ini, tengah menikmati Spaghetti Aglio-Olio. Pasta udang, menu favoritnya. Sudah sangat lama, dan aku hampir melupakannya. Saat itu kami duduk bersama di sini, di sofa warna merah ini. Saling berhadapan, menikmati hidangan yang kami pesan. Ya, di tempat inilah terakhir kali kami makan bersama, sebelum akhirnya dia memutuskanku, lima tahun lalu.Kini kami hanya dipisahkan oleh meja makan, selebar tujuh puluh sentimeter. Semenjak berpisah, kami tak pernah lagi berada pada jarak sedekat ini. Ini mengingatkanku pada kejadian hari itu. Hari di mana, untuk pertama kalinya kami makan bersama, di satu meja. Dan sebuah kekonyolan, yang tak kan pernah bisa kulupakan…

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset