Hello, Hello, and Hello episode 2

Hari terpanas di musim panas

“Kamu benar-benar pekerja keras, ya.”

Seorang gadis yang tak kukenal berbicara denganku.

Kejadian ini terjadi setelah aku melakukan lima putaran sprint 100m.

Suaranya begitu lembut nan manis, mirip dengan malam dimana panas baru saja mereda.

Karena aku baru saja selesai berlari, aku masih ngos-ngosan, tidak mampu menanggapi kata-katanya. Gadis itu mendekatiku, dan memberiku handuk. Aku secara naluriah meraihnya, tapi, apa aku boleh menggunakannya? Aku mencium aroma wangi pelembut, dan merasa ragu.

“Tidak mengelap keringatmu?”

Dia bertanya saat aku masih tetap diam, memiringkan kepalanya dengan lucu. Rambut yang ada di wajahnya, tampak mengganggu. Ujung jari telunjuknya yang cantik membelai wajah lembutnya, meletakkan rambut halus tersebut ke belakang telinganya.

“Emang boleh?”

“Tentu saja. Aku memberikannya kepadamu karena alasan tersebut. ”

Gadis itu tersenyum, tampak bingung, dan itu membuatnya tampak jauh lebih tidak dewasa. Mungkin karena suasana di sekelilingnya sedikit cerah.

Semua kekhawatiran di hatiku segera lenyap, dan ketegangan di bahuku mereda.

Meski begitu, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Setiap kali aku selesai berlari, aku selalu ngos-ngosan, merasa kehabisan napas, hatiku terasa sakit. Aku mengalami perasaan ini ratusan, ribuan kali sejak aku bergabung dengan tim berlari. Tapi, kenapa? Kenapa detak jantung ini tampak sedikit berbeda, terasa aneh dari sebelumnya?

Tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya berbeda.

Hal ini ….. sepertinya disebut ambiguitas.

“Kalau begitu, dengan senang hati aku akan menggunakannya. Terima kasih.”

“Silahkan,” Balas gadis itu.

“Aku Shiina Yuki. Senang bertemu denganmu ”

“Hah? Senang bertemu denganmu juga. Namaku Segawa Haruyoshi. “

Aku memberi namaku,” Haruyoshi, Haruyoshi. “Dan Shiina-san menggumamkan namaku.

“Baiklah, aku akan memanggilmu Yoshi-kun.”

Ujarnya, mendadak.

“Bukan Haru atau semacamnya?”

“Kamu tidak menyukainya?”

“Tidak juga, karena belum pernah ada yang memanggilku seperti itu sebelumnya. Jadi, Aku merasa sedikit terkejut mendengarnya. “

“Jika tidak ada yang memanggilmu begitu, bukannya itu lebih baik? Ini adalah caraku untuk memanggilmu. Oh ya, panggil saja aku Yuki. “

“Yuki-san?”

“Tak usah pakai ‘-san’. Panggil saja aku ‘Yuki’. “

“Baiklah kalau begitu, Yuki. Aku punya sesuatu untuk ditanyakan.”

Begitu aku mengatakan itu, Yuki memalingkan muka dariku, dan memusatkan pandangannya ke arah orang-orang dari klub sepak bola. Sepertinya dia menyadari kalau mereka sedang meliriknya.

“Mau tanya apa?”

“Kamu bukan murid dari sekolah ini, ‘kan?”

“… Ketahuan juga, ya?”

Anak cowok dari klub sepak bola dilirik olehnya, dan merasa panik ketika mereka kembali berlatih. “Oper! Iya! Lari! Iya! Minigame! Ya. ”Suara-suara keras bergema dari lapangan.

“Apa mereka temanmu, Yoshi-kun?”

“Kurasa, lebih seperti junior. Kami tidak pernah berinteraksi, sih. Aku dari klub lari, dan mereka yang ada di klub sepak bola yang memiliki hubungan baik denganku sudah pensiun semua. Bagaimanapun juga, aku sudah kelas tiga. ”

Mereka mungkin sedang berada di ruangan ber-AC, berkutat dengan buku pelajaran, dan bukan sepak bola. Bagi kami, siswa kelas tiga, istilah ‘peserta ujian’ benar-benar menjengkelkan.

Sekarang sedang liburan musim panas.

Cahaya matahari yang menyengat di hari musim panas membuat semuanya terlihat putih menyilau, dan aku tidak bisa membuka mata.

Awan lembut yang terlihat seperti krim itu melayang di atas dengan tenang.

Karena panas, lapangan tampak mengambang, tidak stabil.

Suara jangkrik yang terdengar entah dari mana membuatnya terdengar panas dan tak tertahankan.

“Jadi?”

“Apanya?”

“Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku bukan murid dari sekolah ini?”

“Ah, mudah saja. Aku tidak mempunyai kesan tentang dirimu. ”

“ Yoshi-kun, apa kamu bisa mengingat wajah semua orang di sekolah? ”

Yuki benar-benar terkejut. Tentu saja, aku tidak mungkin mengingat semua wajah semua siswa di sekolah.

Ada banyak siswa yang tidak aku kenal, apalagi seluruh sekolah. Namun, tanpa diragukan lagi kalau  Yuki bukan murid sekolah ini.

Jawabannya mudah saja.

Dia memiliki kulit yang putih, rambut bergelombang seperti permen kapas, alis yang menawan, serta mata hitam yang besar dan tampak dalam. Dia cukup istimewa dibandingkan dengan semua gadis yang aku temui.

Jika ada gadis seperti dirinya di sekolah, pasti akan ada keributan besar saat dia pertama kali datang ke sekolah.

Memilih gadis-gadis manis di sekolah adalah hal yang wajib bagi semua anak cowok, termasuk juga diriku.

Tapi aku tidak bisa mengatakan alasan ini dengan terang-terangan di depannya. “Yah, semacam itu” Jawabku, menghindari subjek.

“Hm, aku gagal ya. Padahal. Aku sudah berpakaian dengan seragam sekolah ini. ”

“Tidak usah khawatir, aku tidak memberitahu guru, kok. ”

Yuki menendang ringan batu yang ada di dekat kakinya, dan itu memantul, mendarat 2m jauhya dari kami. Dia tidak serius menendang batu itu menjauh.

“Tidak, bukan itu maksudku. Kurang lebih, kupikir aku akan sedikit lebih bahagia jika kamu menganggapku sebagai teman sekelas, Yoshi-kun?”

“Apa maksudmu?”

“Begitu ya. Jadi kamu tidak tahu. ”

Segera setelah itu, bel yang menunjukkan jam 3 sore berbunyi.

“Sudah waktunya untuk mulai berlari, ‘kan?”

Yuki memegang ujung handuk yang melilit leherku, dan menariknya. Leherku agak dingin tanpa itu.

“Aku akan mencucinya dan mengembalikannya padamu.”

“Tidak usah repot-repot. Jangan khawatir. “

Yuki melambai, pada dasarnya memberitahuku, “Silahkan latihan lagi”. Aku tidak bisa bertanya lagi, jadi aku mengucapkan terima kasih, dan kembali ke garis start.

Aku berdiri di garis start, dan menarik napas dalam-dalam. Di depan mataku ada bayangan yang terpotong dengan alat cukur, menempel di tanah. Aku menatap pria itu. Tidak peduli seberapa keras aku mencoba berlari, orang ini selalu mendahuluiku dengan mudah. Aku tidak pernah bisa mengejarnya. Rasanya seperti mimpi buruk. Meski begitu, mengapa aku masih bersikeras untuk berlari?

“Hei.”

Dan tanpa aku menyadarinya, Yuki, yang dengan bijak pergi ke tempat teduh di bawah pohon, berkata….

“Anak-anak kelas tiga di klub lari sudah pada pensiun. Lalu, kenapa kamu masih berlari, Yoshi-kun? ”

Pertanyaannya seakan-akan bisa membaca pikiranku.

Aku tidak segera menjawab, dan hanya tersenyum saat aku meletakkan tanganku dengan lembut di garis start, berjongkok ketika aku bersiap untuk berlari. Permukaan tanah menyerap panas dari matahari, dan hampir membakar kulitku, dan jari-jariku merasakan sensasi terbakar. Bersiap. Ucapku dalam hati, membuat aba-aba sendiri. BAM. Aku mengerahkan kekuatan di kakiku, dan mulai berlari.

Ini terjadi selama musim panas saat aku kelas 3 SMP.

Begitulah, pertemuanku dengan Shiina Yuki.

❀❀❀

Awalnya, aku tidak suka berlari.

Aku bisa mendapatkan peringkat kedua atau ketiga saat ada festival olahraga di SD. Kurasa aku bisa membanggakan diri menjadi orang kedua di antara orang yang sangat cepat, tapi yang berlari di festival olahraga semuanya hampir sama dalam hal kecepatan. Dan hasilnya, itu semua hanya masalah kemampuan.

Dan alasan mengapa aku bergabung dengan tim lari karena aku bertemu dengan teman sekelas bernama Takeshita.

Tepat setelah aku memasuki SMP, saat ada pergantian tempat duduk untuk pertama kalinya, dan Takeshita duduk di sebelahku, mengenakan seragam yang sama.

“Seriusan nih, pakai seragam ini tiap hari? Bukannya ini sama saja dengan penyiksaan? ”

Aku sangat mengerti perasaan tak nyaman karena leherku menyentuh kerah baju, bersamaan dengan keinginan untuk menghilangkan rasa gatal.

Bagi kami, yang sudah biasa memakai pakaian yang nyaman dan memudahkan pergerakan selama beberapa minggu terakhir, seragam ini terlalu berat dan tidak nyaman, dan juga memalukan.

“Ya. Benar-benar ingin menyingkirkan ini sesegera mungkin ”

Aku setuju,“ Oh.” Takeshita membelalakkan matanya, kemudian berseri-seri dengan senyum tulus.

Aku sudah bersekolah selama enam tahun, dan sampai batas tertentu, aku merasa, “Yap, sepertinya aku bisa berteman dengan orang ini.”

“Senang berkenalan denganmu”. Ucapku pada Takeshita, dan memegang tangannya yang terulur.

Takeshita sudah menjadi bagian dari klub lari sejak sekolah dasar. Ia biasanya pendiam, tapi saat melakukan kegiatan klub, Ia menjadi sangat bersemangat.

Misalnya saja, Ia akan berbicara tentang bagaimana dia mengalahkan lawan-lawannya di kompetisi terakhir, atau kenangan dari kemah musim panas, atau pelatihan musim dingin yang keras karena Ia membenci dingin, atau betapa kagetnya Ia karena banyak senior yang Ia kenal.

Secara pribadi, aku tidak tertarik pada olahraga, tapi aku pernah diajak oleh Takeshita untuk melihat kegiatan klub lari.

Takeshita benar-benar sangat cepat.

Dalam sprint 100m, anak kelas tiga sekalipun tidak bisa mengalahkannya.

Jika dilihat dari cara Ia berlari, tidak ada yang pernah menyangka kalau Ia adalah orang yang mendapat nilai 13 dalam tes bahasa. Sosoknya yang berlari sangat berbanding terbalik dari pria yang smenghabiskan satu jam untuk menemukan satu jawaban, bukan tipe orang yang menyemburkan omong kosong seperti. “Rese banget, tinggal bakar aja sekalian.”

Ia benar-benar terlihat keren saat berlari. Sangat keren.

Keesokan harinya, Takeshita dengan senang hati mengambil formulir pendaftaran klub lari dariku.

“Rasanya lebih menyenangkan dari yang kau bayangkan, bukan?” Takeshita tampak sedikit bangga ketika Ia mengucapkan itu.

“Ya.” Aku mengangguk. Terlalu memalukan untuk mengatakan alasan sebenarnya. Yah, lagian kita berdua sama-sama cowok. Jadi, tidak perlu mengatakan semuanya.

Dalam kontes untuk anggota baru, aku melakukannya dengan sangat buruk, sementara Takeshita berhasil menaiki podium pertama. Dia terus menang, dan lolos dalam tahap seleksi tingkat local sebagai juara pertama, bahkan Ia berhasil mencapai final dalam kompetisi tingkat prefektur.

Ada banyak pesaing seperti Takeshita di final, dan Ia benar-benar memiliki sedikit peluang untuk menang, hasilnya, banyak yang menantikan penampilannya pada tahun depan, atau tahun berikutnya. “Yah, begitulah.” Aku masih ingat dia mengatakan itu dengan senyum bodohnya, dan para senior yang mendukungnya tampak kurang senang dengan sikapnya.

Pada hari saat anak kelas tiga pensiun, sebagian besar dari mereka memberi semangat pada Takeshita. “Lakukan yang terbaik.” “Kau pasti bisa mencapai tingkat nasional.” Sementara para senior bersorak dengan air mata, “Ya, serahkan saja padaku.”  Takeshita mengangguk dengan serius.

Namun, segera setelah semester kedua dimulai, Takeshita keluar dari klub lari.

Dari awal, Takeshita tidak terlalu tertarik pada klub lari.

Alasan Ia masuk klub lari karena ada seorang gadis yang dua tahun lebih tua darinya, yang lulus dari SD yang sama berada di klub lari.

Takeshita menyukai gadis tersebut.

Tapi, cintanya tidak membuahkan hasil.

Pada akhir upacara pensiun, gadis yang disukai Takeshita mengumumkan kalau dia berpacaran dengan wakil kapten.

Takeshita, orang yang tercepat di tim kami, kalah dari seorang anak kelas tiga yang paling lambat. Ah ya, Ia kalah. Meski begitu, Ia hanya tersenyum kaku. “Selamat.” Ujarnya dengan suara bergetar. Kalau dipikir-pikir kembali, Ia pernah gemetar dengan suara seperti itu saat Ia kalah pada final tingkat prefektur.

Bahkan sampai sekarang, aku masih belum paham mengapa aku sangat emosional. Namun aku tidak bisa memaafkannya.

“Hei, Takeshita. Apa kau baik-baik saja dengan itu? Kau tidak mau berkelahi melawannya?”

Takeshita hanya tertawa dengan cara yang konyol.

“Apa kau berniat terus kalah?”

Aku benar-benar cemas, dan berteriak.

Teman-teman sekelas di sekitar kami terkejut dan memandangku dengan tatapan aneh, membisikkan sesuatu. Saat itu, aku mengabaikan semua yang biasanya aku dengarkan. Itu cuma suara berisik belaka. Apa yang ingin kudengarkan bukanlah hal yang itu. Aku ingin mendengar pikiran sebenarnya dari teman sekelasku, sohib di klub lari.

Tapi Takeshita hanya tersenyum tak berdaya, dan pergi tanpa ragu.

Aku tak lagi menemukan sosok Takeshita yang pernah aku kagumi. Kutatap punggung yang sama dengan cowok yang mendapat nilai 13 dalam ujian. Itu bukanlah siluet seorang pemenang, tapi seorang pecundang.

Sejak itu, dua tahun berlalu.

Aku terus bekerja keras di klub lari. Kurasa aku sedang bekerja keras. Aku menghabiskan dua tahun penuh, dan akhirnya tiba di tempat yang sama dengan Takeshita saat Ia berlari kelas satu dulu. Seperti orang yang pernah aku kagumi, aku meletakkan jariku di garis start. Ujung jari memerah saat mereka menahan berat tubuhku.

Pistol itu ditembakkan, aku menginjak tanah dengan keras, dan berlari kencang.

Aku melakukan yang terbaik untuk berlari.

Dan aku tidak menyesal dengan kekalahanku.

Sebagai orang biasa, aku berhasil mencapai babak final tingkat prefektur. Bukankah ini cukup? Ah ya sangat cukup. Tapi, mengapa hatiku merasa begitu hampa?

Aku merasa seakan-akan kehabisan napas. Keringat yang bercucuran meluncur di pipi dan leherku. Sinar matahari yang kuat menyebabkanku tidak bisa membuka mata. Aku menghirup udara panas yang dalam, dan melihat waktu.

Ini adalah usaha terbaik dalam berlari.

Itu adalah waktu tersingkat yang aku tempuh.

Namun, itu masih lambat 0,1 detik dibandingkan dengan waktu terbaik Takeshita.

❀❀❀

Esok harinya dan seterusnya, Yuki terus mencariku. Dia sering memegang minuman olahraga atau es krim.

Aku seharusnya meminta juniorku untuk memegang stopwatch, tapi tanpa kusadari, itu berakhir di tangan Yuki.

“Bersiap—”

Teriak Yuki.

Aku mengumpulkan kekuatanku di kaki.

“Bang!”

Pada saat itu, aku segera berlari.

Awal mulanya tampak bagus. Tubuhku yang condong ke depan perlahan naik. Tubuhku terasa ringan, dan kakiku bisa melangkah maju. Dampak dari kakiku yang terus berlari membuat tubuhku maju, lenganku berayun. Sosok Yuki tampak semakin besar. Aku merasakan sensasi yang menyakitkan dan membakar pada beberapa titik di tubuhku.

Aku terus mengambil nafas pendek, menghirup oksigen ke paru-paruku.

Aku menggertakkan gigiku.

Menatap bayangan di hadapanku, dan mengejarnya.

Saat aku berlari melewati Yuki, aku mendengar bunyi ‘bip’ kecil.

Itu dari sisi lain dari garis finish.

Apa aku berhasil sampai ke tempat yang kuinginkan?

Aku melambat sedikit demi sedikit, dan berhenti, kuletakkan tanganku di lutut seraya menopang tubuhku yang kelelahan. Aku merasakan udara lembab yang merembes ke seluruh pori-poriku. Ah sial, ini melelahkan.

“Haa, haa, haa. Ba-bagaimana? “

“Tidak memecahkan rekor terbaikmu. Tinggal sedikit lagi. ”

“ Ah — masih kurang ya. ”

Karena tak punya tenaga lagi untuk berdiri, jadi aku jatuh terbaring ke tanah. Bau tanah, bau khas musim panas, dengan terik matahari bisa tercium dari hidungku. Keringat membasahi bajuku, dan akibatnya, kotoran menempel di punggungku.

Langit terlihat biru, dan terik matahari yang panas serasa membakar kulitku.

Tubuhku mendambakan oksigen, terengah-engah, dan jantungku berdetak kencang. Dadaku mengembang, mengempis, dan mengembang lagi. Aku merasa lelah. Tubuh dan jiwaku seakan-akan terpisah.

“Fyuhh, panas banget.”

Saat aku mengucapkan kata-kata tersebut, sesosok bayangan menutupi wajahku.

“Kerja bagus. Beristirahatlah sebentar. ”

Ternyata, sosok itu adalah Yuki.

Dia memegang dua botol minuman, yang satu minuman isotonic dan satunya lagi teh dingin. Dia memintaku untuk pilih yang mana, dan aku memilih minuman isotonic. Aku mengucapkan terima kasih, duduk tegak, dan memegang botol minuman.

Untungnya, dia sudah membukakan tutup botolnya, jadi aku bisa meminumnya segera. Aku meneguk hampir dari setegah dari isi botol.

Yuki memastikan untuk tidak duduk saat dia berlutut di tanah, membantuku menutup dan membuka tutup botolnya. Dia menyipitkan matanya, seolah melihat matahari, dan berkata,

“Seperti bau anak cowok.”

Kudekatkan botol minuman ke bibirku sekali lagi, dan kali ini, aku meminumnya secara perlahan. Tenggorokanku berdenyut-denyut. Isi dari air minuman tersebut mengalir ke dalam tubuhku.

“Mau tiduran di atas tanah? Emang ngga takut kalau pakaian atau rambutmu jadi kotor. “

“Yah, tentu saja.”

“Hhhmmmm”

“Emangnya Kau merasa itu kotor?”

“Tidak apa-apa, kan? Aku pikir itu sangat keren. ”

Aku mulai mengingat laporan cuaca pagi, ketika si wartawan itu melaporkan kalau hari ini akan lebih panas daripada kemarin, atau semacamnya. Setelah selesai minum, aku pun berdiri.

“Aku mau cuci muka dulu. Beristirahatlah di tempat teduh, Yuki. ”

Entah kenapa, tenggorokanku terasa lebih haus daripada sebelumnya.

❀❀❀

Aku pergi ke wastafel di halaman, di mana jarang ada orang.

Dengan menggunakan keran, aku membasuh kepala untuk menenangkan diri. Kepalaku lebih berat setelah rambutku basah, tapi aku merasa jauh lebih segar dibandingkan sebelumnya. Kemudian,  kucuci mukaku, keringat yang bercampur air masuk ke mulutku. Rasanya sedikit asin. Aku berkumur, meludahkan air, dan meninggalkan tempat itu.

Aku mengangkat rambutku yang basah dan dibundel, dan sedikit beristirahat di bawah bayangan gedung. “Haa.” Aku menghela nafas panjang.

Aku menyandarkan punggungku di dinding, dan menutup mataku, pikiranku mengingat senyum Yuki. “Aku pikir itu sangat keren.” Suaranya bergema berkali-kali. Setiap kali hal itu terjadi, hatiku merasa bahagia, dan sekaligus sedih.

Aku harus fokus pada berlari. Apa ada yang salah denganku?

Ini adalah pertama kalinya aku mengalami perasaan seperti ini. Bahkan sampai pada titik wajahku terasa panas.

Setelah beberapa saat, aku membuka mataku lagi, dan melihat wajah yang akrab berlalu di depanku. Orang itu memberikan tampilan yang sangat suram, sangat berkebalikan dengan penampilannya yang biasa. Dia adalah orang paling terkenal di sekolah yang tampil selama kompetisi musim panas.

Dia adalah Rindou Akane dari tim renang.

“Eh, Akane? Apa yang sedang kau lakukan di sini? ”

Saat Akane mendengar suaraku dan menyadari keberadaanku, ekspresinya berubah lebih cepat daripada membalik halaman. Wajah suram dari sebelumnya terkubur jauh di dalam hatinya, dan dia menunjukkan wajahnya yang ceria.

“Hm? Ah, ternyata kamu, Haru. Aku sedang beristirahat, nih. Aku meninggalkan sesuatu di ruang kelas. Jadi aku pergi untuk mengambilnya sekarang. ”

“Nyahahaha. ”Ucapnya sambil tertawa, tapi yah, itu jelas bohong.  Mana mungkin dia bisa menuju ke ruang kelas dengan penampilan seperti itu.

Karena kenyataannya, dia hanya mengenakan baju renang sekolah.

Desain bijaksana dan mengedepankan fungsionalitas, itu adalah desain terburuk yang pernah ada. Tidak peduli jenis kelaminnya, tidak ada yang menyukai pakaian renang ini. Baju renang berwarna biru gelap akan menjadi hitam setelah menyerap air. Dia basah kuyup di seluruh rambut dan tubuhnya, dan jelas dia tidak mengeringkan dirinya dengan handuk. Rambut pendeknya mengumpulkan sedikit air, dan meneteskan air, meluncur turun di kulitnya, lalu mendarat di tanah.

“Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“… Tidak. Bukan apa-apa. “

“Begitu ya. Yah, jika ada sesuatu terjadi, jangan malu-malu buat curhat. Setidaknya aku bisa mendengar keluhanmu. Ngomong-ngomong, apa-apaan dengan wajah itu? ”

“Aku sedikit terkejut. ”Kata Akane.

“Tak kusangka aku akan mendengar kata-kata seperti itu darimu, Haru.” lanjutnya

Memang, rasanya sedikit aneh dari apa yang biasanya aku katakan.

“Mungkin karena musim panas. Aku sendiri merasa agak aneh. Tidak, maaf, lebih baik lupakan saja.”

“Tidak perlu malu. Tapi baiklah, tebakanmu ada benarnya. Aku akan mengatakan apa yang kuinginkan.”

Akane mengubah arahnya, dan menuju ke sampingku.

Itu adalah jarak yang tidak bisa dijelaskan yang mana kurasa mampu untuk kugenggam, namun tak bisa kucapai hanya dengan mengulurkan tanganku. Pada saat yang sama, aku bisa mencium bau garam dari Akane, tidak, bau kolam renang.

Akane, yang sedang bersandar di dinding dalam posisi yang sama denganku, menghela nafas juga. Ah, dingin banget. Dia bergumam pada dirinya sendiri, dan mengambil napas dalam-dalam. Aku pikir dia akan mengatakan sesuatu, tapi kesunyian berlanjut untuk sementara waktu.

Suara dari beberapa instrumen yang terbawa angin, datang dari suatu tempat. Aku melihat sekeliling, dan menemukan ada dua gadis di jendela di koridor lantai dua, tengah meniup terompet. Suara-suara dari terompet bernada tinggi melayang ke arah kehijauan musim panas.

Setelah pertunjukan berakhir, Akane angkat bicara.

“Yah, sebenarnya, aku tidak bisa bilang kalau ada sesuatu yang terjadi. Hanya saja, Aku tidak bisa memunculkan motivasi yang aku miliki sebelumnya. Saat aku mencapai tingkat nasional pada turnamen terakhir, aku membuat rekor terbaik diriku, dan cuma merasa sedikit lelah. Baru hari ini, guru pembimbing klub memintaku untuk membimbing junior, tapi aku … ”

Tidak bisa berenang seperti sebelumnya.

Suaranya hampir menghilang pada kata terakhir, nyaris tak terdengar.

Akane mengekspresikan dirinya. “Tidak apa-apa.” Dan aku bergumam. Aku tahu Akane sedang menatapku, tapi aku malah melihat dua gadis yang meniup terompet tadi.

“Tapi yah, bukannya kau masih berenang, Akane?”

“Berenang adalah kebiasaanku, sama seperti menyikat gigi. Aku merasa sedikit kurang nyaman jika tidak berenang.”

“Benar. Jadi masih ada harapan. Ini mungkin menjadi lebih kecil, dan lebih sulit untuk dilihat, tapi tidak padam. Aku akan mengatakan ini sebanyak mungkin. Tak diragukan lagi kamu bisa pergi ke tempat yang lebih jauh, Akane. ”

Akane berbeda dari Takeshita dan diriku.

Niatnya untuk berenang benar-benar nyata.

Meski aku tidak mengatakan kalimat terakhir.

“… Rasanya kamu sedikit berubah, Haru.”

“Benarkah?” Tanyaku. “Dulu, kamu tidak akan mengatakan hal seperti itu.” Jawabnya.

“Jika itu kamu yang dulu, Haru, kamu mungkin takkan menyapaku jika aku tidak menyadari keberadaanmu. Aku tidak tahu berapa kali aku diabaikan olehmu. Bahkan jika ada banyak orang, kamu hanya berdiri di pinggiran dan melihat semua orang. Kemudian kamu akan mengatakan kalimat- kalimat ambigu dengan senyum yang benar-benar palsu. Tapi itu berbeda. Aku tahu. Ini adalah pikiranmu yang sebenarnya, Haru. Ini mungkin pertama kalinya Kamu mengatakan apa yang sebenarnya Kamu rasakan. Jadi, hm hmm … Aku sedikit senang.”

“Ini salah musim panas. Rasanya sangat panas di sini jadi aku tidak bisa berpikir jernih dan mengatakan hal-hal aneh. Maaf.”

“Sudah kubilang, kamu tidak perlu malu. Hm Tapi, yay! Berkat kamu bilang begitu, Haru, aku akan mencobanya. Ah ya. Boleh aku meminta sesuatu darimu kali ini?”

“Jika itu ada dalam kemampuanku.”

“Apa kamu tak keberatan untuk bilang ‘berjuanglah’? Aku sebenarnya orang yang sederhana. Jika aku disemangati, aku mungkin bisa bekerja sedikit lebih keras.”

“Cuma itu saja? Bukannya semua orang mengatakan itu kepadamu berkali-kali? “

“Tidak, itu berbeda. Katakan itu padaku. kumohon! “

“Oke. Berjuanglah. ”

Akane menutup matanya, tampaknya berusaha fokus saat dia mendengarkan.

“Ya.”

“Berjuanglah.”

“Ya.”

“Berjuanglah, Akane.”

“Ya, aku akan berjuang.”

Akane perlahan membuka matanya, aura disekitarnya mendadak berubah. Dia memiliki aura orang-orang yang populer. Dengan sifatnya yang ceria, baik hati, sedikit ceroboh, dan sangat jujur. Dia terlihat menyilaukan layaknya matahari musim panas.

Melihat dirinya, aku hanya bisa menyipitkan mataku.

Lalu, Akane, yang ada di sebelah kiriku, berbalik dan kembali ke tempat asalnya.

Saat bayangannya semakin kecil, entah kenapa, dia berbalik ke arahku lagi. Dia berjalan keluar dari tempat teduh, dan berdiri di bawah pancaran cahaya yang kuat. Tetesan air di seluruh tubuhnya memantulkan sinar matahari, dan dia tampak sangat mempesona.

“Ya, aku akan berjuang juga.”

Kemudian, dia mengepalkan tinju ke arahku.

“Jadi, kau juga berjuanglah, Haru.”

“Ah, hhmm ya.”

Gumamku.

Kurasa aku memang harus berjuang.

Ada perasaan gatal di hatiku, tapi terasa sangat nyaman.

“Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja kurasa aku harus benar-benar berjuang sekuat tenaga. ”

Usai mendengar jawabanku, pipi Akane sedikit memerah saat dia bicara dengan gembira,

“Bukannya itu hebat?”

❀❀❀

Pembicaraan yang aku lakukan dengan Akane akhirnya membuatku tenang kembali. Aku kembali ke lapangan, dan ketenangan itu lenyap dalam sekejap.

Yuki sedang menunggu di bawah pohon di dekat lapangan.

Dia sedang berbicara dengan seseorang.

Laki-laki itu berambut agak panjang, dan terlihat keren. Ia memakai seragam tim sepak bola, dan jika aku ingat benar, namanya Sawachika. Tiga bulan lalu, teman sekelasku, Satake, dengan bangga membual bahwa pemain sayap yang lincah bergabung dengan mereka.

Sedikit jauh dari mereka berdua ada beberapa orang dari tim sepak bola yang sedang memata-matai. Begitu salah satu dari mereka melihatku mendekat, gerombolan itu langsung berhamburan panik.

Aku mendapat gambaran kasar tentang apa yang terjadi. Kelihatannya Yuki sedang dirayu. Yah, tidak aneh baginya untuk dirayu, karena hanya dengan berdiri di sana saja, dia terlihat cantik.

Jika memang begitu, apa yang harus aku lakukan? Apa hal yang benar untuk dilakukan?

Tiba-tiba, aku sadar.

Apa yang aku sedang coba lakukan?

Bahkan aku sendiri merasa bodoh untuk memikirkan pertanyaan seperti itu.

Kurasa aku bertingkah aneh karena cuaca panas. Ini benar-benar bukan seperti diriku, tapi yah, itu bukan hal yang buruk. Bukan hal yang buruk sama sekali.

Aku mendekat saat mereka masih berbicara. Yuki memperhatikanku, dan bergegas ke arahku?

“Ada apa?”

“Cuma sedikit masalah.”

Ketika kami berbicara, Sawachika mendekat. Yuki melihatnya, dan langsung bersembunyi di belakangku. Aku pun mengambil langkah maju.

Saat aku melakukannya, Sawachika tampak ragu-ragu, dan menelan kata-katanya. Tidak, hanya itu yang bisa dia lakukan.

Bagi kami anggota klub olahraga, para senior dihormati layaknya Dewa. Sebenarnya Sawachika mendekati Yuki selagi aku tidak ada. Dia mungkin menunggu kesempatan tersebut.

Dengan senyum ramah di wajahku, aku berkata pada Sawachika.

“Aku ingat kau dipanggil Sawachika, ‘kan? Aku kira kegiatan klub tidak mudah setelah anak kelas 3 pensiun? Satake masih mampir dari waktu ke waktu, bukan? ”

Aku tidak begitu peduli tentang apa pembicaraannya. Aku hanya ingin memberi tahunya tentang hubunganku dengan mantan kapten tim sepak bola Satake.

Sawachika mengerti apa yang aku maksudkan, dan sementara merasa tidak senang tentang hal itu, dia membungkuk ke arahku dengan sopan, dan kembali ke teman-temannya.

❀❀❀

Hari itu, setelah latihan.

Yuki, yang sampai kemarin biasanya langsung menghilang saat aku berada di ruang ganti klub, tengah berdiri di depan pintu, menatap ke langit. Matahari akan segera terbenam, dan awan membiaskan cahaya oranye, langit mengubah tanah menjadi merah menyala. Matahari diagonal memanjangkan bayangan Yuki, dan dibandingkan dengan siang hari, siluetnya yang samar-samar seakan-akan memberi kesan bahwa dia akan menghilang begitu saja bila aku memalingkan muka darinya.

“Hm, ada apa?”

Ucapku pada Yuki, yang berbalik ke arahku. Rambut kastanyenya yang jernih berkilau, dan senyumnya terlihat sangat cantik. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku melihat senyum seseorang yang begitu cantik.

“Aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkanku dari masalah tadi. Ayo pergi ke minimarket. Aku akan mentraktirmu es krim atau sejenisnya.”

“ Tidak usah. Lagipula aku tidak berbuat banyak. “

“Aku merasa senang, jadi aku ingin mengucapkan terima kasih. Emangnya tidak boleh? ”

“ Bukannya tidak boleh sih…. ”

“ Kalau begitu, ayo pergi. ”

Sebelum aku sempat membalasnya, Yuki sudah berbalik ke gerbang sekolah. Aku mengejarnya, dan berjalan di sampingnya.

Dua bayangan bergoyang berdampingan, tapi bukan sekali saja mereka bertemu. Ada celah seukuran seseorang di antara kami. Aku merasa seperti sedang berbisik ketika aku berbicara. Mengapa?

“Beneran, deh, Yuki, kau ini cukup populer.”

“Itu tidak benar.”

“Tapi kau didekati oleh Sawachika hari ini.”

“Ohh, jadi yang tadi itu dipanggil Sawachika-kun?”

“Kau tidak menanyakan namanya? “

“ … Aku lupa buat nanya. Kurasa dia datang merayuku karena dirimu, Yoshi-kun. ”

“Mana mungkin, bukannya dia mendekatimu saat aku tidak ada?”

“Kurasa tidak. Saat aku benar-benar sendirian, tidak ada yang mau berbicara denganku. Aku tahu kalau aku sedang dilihat, tapi yah, Cuma itu saja. Yap, kukira aku bukan manusia saat itu. ”

“Sendiri. ” Gumam Yuki. Suaranya terdengar agak sedih.

Kesendirian miliknya membuatku merasa kesepian juga.

“Jadi, maksudnya, kau ini akan menjadi monster saat aku tidak ada?”

Aku membuat candaan. Aku tak peduli apakah dia marah, kaget, atau menganggapku orang bodoh.

Aku hanya ingin dia tidak sedih. Ya, emosi apa saja tak masalah, asal jangan sedih saja.

Aku ingin dia melupakan kesedihan dan kesepiannya. Pada saat ini, dia tidak lagi sendirian, karena aku berjalan di sebelahnya.

Sejenak, Yuki terperangah. “Ahahaha.” Dan kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

Kesedihannya lenyap dalam sekejap, seperti yang aku harapkan.

“Ya. Aku ini adalah monster yang menyemburkan api! ”

Yuki dengan sengaja melebarkan mulutnya, dan mengangkat alisnya, lalu berteriak “ Gyaaa !!!!.” Berpose layaknya kaiju dalam film-film yang pernah tayang di TV.

“Kau akan menghancurkan kota?”

“Tentu saja.”

“Kau akan bertarung melawan pahlawan?”

“Tentu saja!”

“Jadi, kau hanya akan menjadi manusia lagi saat ada aku saja?”

“ Ya …”

“Kenapa?”

Yuki tidak menjawab. Aku tidak menyerah dan terus bertanya.

“Kenapa kau menjadi manusia lagi saat kau bersamaku?”

Jawab Yuki dengan nada yang bercanda pula.

“Karena kamu orang aneh, Yoshi-kun.”

“Hah?”

“Karena cuma kamu satu-satunya yang akan berbicara dengan orang aneh seperti diriku.”

“Begitu ya.” Aku mengangguk tanppa sadar, tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak ingat kalo aku dulu yang berbicara dengannya. Malahan Yuki sendiri yang berbicara lebih dulu.

“Tunggu sebentar, bukannya kau orang yang pertama kali berbicara kepadaku, Yuki?”

“Masa sih?”

“Coba kau ingat-ingat lagi. Aku sedang berlatih saat itu. Kaulah yang mengatakan kepadaku “Kau benar-benar bekerja keras.“…. “

“Ah, kita sudah sampai di minimarket. Ayo masuk, ayo masuk. “

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Yuki sudah meraih lenganku, dan menarikku ke dalam minimarket. Bayangan kami digabung menjadi satu. Entah kenapa, tangan Yuki sedikit dingin, begitu dingin hingga aku khawatir kalau tangannya bisa meleleh karena tanganku yang lebih panas dari biasanya.

Kami membeli es krim di minimarket, dan duduk di tempat teduh di tempat parkir. Aku buru-buru mengeluarkannya dari bungkusnya, dan mengunyah lapisan gula. Gigiku memecahkan lapisan gula tersebut, dan es manis mengalir keluar. Sangat lezat. Aku mengunyah es, dan ada suara yang menyertai perasaan menyenangkan dan kenyal.

“Apa tidak mau yang lain? Ada beberapa yang lebih mahal, loh. ” ujar Yuki

“Aku suka yang ini.”

“Yah, lagipula yang ini juga enak. “

Menjelang waktu malam, ada banyak orang yang lewat di depan minimarket. Ada seorang Onee-san yang membawa anjingnya berjalan-jalan, anak SMA yang mengenakan headphone. Paman berjas yang tengah bergegas kembali ke perusahaannya. Dua orang pemuda mengayuh sepeda mereka menuju jalan pulang.

“Beneran, deh, Yoshi-kun.”

Ucap Yuki sambil berdiri di sampingku, menjilati es krim yang meleleh di tangannya.

Dia sadar kalau aku mengawasinya, dan berkomentar bahwa dia benar-benar tidak bisa memakan es krim lagi.

Aku tahu kalau Yuki tidak benar-benar bermaksud begitu, jadi aku sabar menunggu. Segera setelah itu, dia menggigit tongkat kayu es krim, sama seperti yang aku lakukan.

“Apa kamu pernah berkompetisi melawan seseorang?”

“Eh?”

“Apa kamu pernah ingin mengalahkan seseorang?”

Dia tidak terlalu yakin,

“Kau tahu?”

“Yah, aku bisa merasakannya. Aku selalu mengawasimu sepanjang waktu. ”

“Sepanjang waktu? ”

“Ya, Sepanjang waktu. ”

“Ahahaha. ”Aku mulai tertawa untuk mengabaikan pernyataan yang kabur itu. “Apa yang kamu bilang?” Tapi Yuki tidak ikut tertawa. Dia menatapku dengan penuh perhatian.

Tawa canggungku meleleh ke dalam udara musim panas, perlahan-lahan menghilang, dan akhirnya lenyap. Aku menatap ujung sepatuku yang compang-camping. Tiba-tiba, ujungnya membungkuk lembut. Aku sedikit terkejut. Semua yang ada dalam pandanganku, dunia yang aku lihat menjadi kabur dan goyah.

Sejenak, untuk beberapa alasan, aku mulai berbicara tentang masalah yang ingin aku sembunyikan di hatiku selamanya.

Ini adalah sesuatu yang telah aku selesaikan dalam pikiranku yang tak terhitung jumlahnya, dan telah menerima persetujuan.

Akhirnya, keluar dari tenggorokanku, melalui mulutku, kata demi kata terucap, menjalin istilah-istilah yang tidak berhubungan –

Aku punya teman yang bernama Takeshita.

Mengenai bagaimana cepatnya Ia,

Dan Ia memiliki senior yang Ia kagumi,

Serta percintaannya yang berakhir sangat cepat,

Dan bagaimana Ia menyerah begitu saja.

Suaraku terputus-putus, tubuhku gemetaran, penglihatanku kabur. Aku hanya mengatakan semua emosi dari mulutku. Tempat parkir menjadi semakin gelap. Emosi yang panas dan tajam mengambil bentuk kata-kata, dan terus menerus menyentuh bagian paling lembut dari hatiku.

Berapa lama waktu berlalu setelah aku menyelesaikan apa yang ingin aku katakan? Dua menit? Tiga menit?

“Jadi itu sebabnya kamu mulai berlari.”

Gumam Yuki.

“Apa maksudmu?”

“Kamu selalu berlari kencang, Yoshi-kun, tapi tidak sepenuhnya siap. Itu mungkin karena kamu terlalu mengagumi Takeshita-kun, dan itu sebabnya kamu hanya selangkah jauh darinya. Ya, aku mengerti. Aku akhirnya tahu apa yang bisa aku lakukan. ”

Aku menggosok wajahku dengan telapak tangan, dan mengangkat kepala. Dunia sudah ternodai warna malam hari tanpa aku sadari, dan ada banyak lampu kecil yang berkedip di belakang Yuki yanag sedang berdiri. Dia sangat cantik, baik di siang hari, sore, maupun malam hari.

“Hei, sekedar ingin tahu aja, Yoshi-kun, apa kamu benar-benar ingin melampaui rekor Takeshita-kun?”

“Aku mulai berlari karena orang itu.”

“Kamu sama sekali tidak jujur. Jika kamu memiliki sesuatu yang kamu inginkan, katakan saja. Jika ingin menang, katakan kalau kamu ingin menang. “

” … “

“ Ayo. Katakan.”

“Aku ingin menang. Aku ingin mengalahkan Takeshita.”

“ Baik. Semangat yang bagus. Aku akan membuatmu mengalahkannya. ”

Yuki mengambil stik kayu dari tanganku, dan menggantinya dengan miliknya. Tulisan ‘Kamu menang’ ada di sana. Kurasa mungkin menang untuk undian es krim. Ini pertama kalinya aku melihatnya, dan kupikir itu Cuma mitos belaka.

“Kamu benar-benar beruntung, Yoshi-kun. Tampaknya kamu punya Dewi keberuntungan dipihakmu.”

Walau Yuki sendiri yang mengatakan itu, dia malah tersenyum malu-malu. Dia segera memalingkan mukanya di depanku, tapi saat aku melihatnya dari belakang, aku bisa melihat telinganya sedikit memerah.

❀❀❀

Keesokan harinya, hujan yang mendadak membuatku tidak bisa sekolah.

Sehari setelahnya pun sama, dan lintasannya menjadi becek; Aku tidak bisa lari. Tiga hari setelah aku makan es krim itu, aku bertemu kembali dengan Yuki saat sore hari.

Aku menyelesaikan pemanasanku, dan berlari-lari kecil ketika Yuki muncul seperti biasa. Aku melihat sosoknya, dan membeku. Dia mengangkat tangannya, “Hai” sapanya, bertingkah seolah-olah  tidak ada yang terjadi.

“Sepertinya hari ini adalah hari terpanas di musim panas.” Ucapnya.

“Tidak juga. Lagipula, Apa-apaan dengan pakaianmu itu? ”

Aku menunjuk ke baju yang Yuki kenakan. Untuk beberapa alasan, dia memakai baju olahraga sekolah kami. Pakaian putihnya tembus cahaya, dan aku bisa melihat garis tubuh dan warna pakaian dalamnya. Kupikir, aku harusnya tidak melihat, tapi aku tidak bisa berpaling dari pemandangan itu.

“Aku membelinya.”

“Kali ini apa lagi?”

“Aku mungkin mengotori pakaianku hari ini.”

“Tidak, bukan itu yang ingin aku tanyakan. Aku ingin tanya, mengapa kau membeli pakaian olahraga sekolahku? “

“Jika aku memakai ini, tidak ada yang akan mencurigai identitasku jika aku terlihat. Lagipula, apa kamu sudah siap?”

Aku merasa, yah, jika sudah sejauh ini , dan Yuki terlihat sedikit senang, aku tidak repot-repot membalas. Aku mengangguk. Berkat hujan yang mendadak dari sebelumnya, aku cukup istirahat, dan merasa baik-baik saja. Ini adalah perasaan yang aku miliki saat aku memecahkan rekorku di Prefektur.

“Tapi apa aku bisa benar-benar mengalahkan Takeshita?”

“Ya. Tidak masalah. Larilah dengan kecepatan penuh seperti yang biasa kamu lakukan, Yoshi-kun, dan percayalah. Hanya lihat diriku. Sederhana, bukan? ”

Aku menyodorkan kepalan tanganku ke arahnya, yang mana hal itu entah kenapa bisa membuatku menjadi percaya diri. Setelah itu, Yuki pergi ke garis finish, sementara aku pergi ke garis start.

Seperti biasa, aku menenangkan pikiranku, dan di dalam pikiranku, aku terus mengulangi metode start terbaik seraya memperpanjang tendon kakiku. Aku meletakkan tanganku di jantung yang berdetak kencang. Aku menarik napas lambat, dan menghirup udara musim panas ke paru-paruku.

Aku membuka mataku.

Langit biru dan sinar matahari memasuki mataku, bersama dengan Yuki yang berdiri di garis finis.

Tanpa aku sadari, jantungku menjadi tenang kembali.

Aku memposisikan diri di garis start. Aku bersiap untuk berlari. Yuki mengangkat tangannya. Aku melihat ke depan.

“Bersiap——”

Dunia menjadi sunyi.

“Mulai!”

Itulah satu-satunya suara yang bisa aku dengar.

Aku mulai berlari. Ini adalah awal yang sempurna. Aku mempertahankan postur ke depan saat aku berlari , terus mempercepat seraya perlahan mengangkat tubuh bagian atasku. Angin bertiup kencang, dan pemandangan berubah. Aku terus berlari maju dengan kecepatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

10 m terlewati. 20 m terlewati. Hah. Hah. Kaki depanku menempel ke tanah saat aku melompat maju.

30 m terlewati. 40m terlewati. Aku mungkin benar-benar berhasil.

Dan saat aku berlari melewati jarak 50m, seperti biasa, aku melihat ke arah bayangan yang berlari di depanku.

Bayangan yang tak pernah bisa aku lampaui.

Aku selalu melihatnya sebagai Takeshita. Tapi,

“Yoooooossssssshhhhhhiiiiiikkkkkkkkuuuuunnnn. Angkat kepalaaaaaaaaaaaaaaamu! ”

Yuki berteriak padaku.

Dunia menjadi sunyi.

“Mulai!”

Itulah satu-satunya suara yang bisa kudengar.

Aku mulai berlari. Ini adalah awal yang sempurna. Aku mempertahankan postur ke depan saat aku berlari , terus mempercepat seraya perlahan mengangkat tubuh bagian atasku. Angin bertiup kencang, dan pemandangan berubah. Aku terus berlari maju dengan kecepatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

10 m terlewati. 20 m terlewati. Hah. Hah. Kaki depanku menempel ke tanah saat aku melompat maju.

30 m terlewati. 40m terlewati. Aku mungkin benar-benar berhasil.

Dan saat aku berlari melewati jarak 50m, seperti biasa, aku melihat ke arah bayangan yang berlari di depanku.

Bayangan yang tak pernah bisa aku lampaui.

Aku selalu melihatnya sebagai Takeshita. Tapi,

“Yoooooossssssshhhhhhiiiiiikkkkkkkkuuuuunnnn. Angkat kepalaaaaaaaaaaaaaaamu! ”

Yuki berteriak padaku.

Dia mungkin tidak terbiasa berteriak. Suaranya seakan-akan hampir pecah.

Aku mengangkat kepalaku, tepat saat dia memanggilku. Aku melihat garis finish. Wajahnya memerah ketika dia berteriak padaku.

“Lihatlah ke depaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnn”

Serius, erm, apa yang sedang kau lakukan, Yuki?

Aku akhirnya menyeringai.

“Aku di sini!”

Dia melambaikan tangannya, berteriak.

“Terbang kesini !!!”

Kemudian Yuki berseru, “Percayalah padaku, lihatlah diriku.”

Jadi, aku memercayai Yuki.

Dan hanya melihatp dirinya.

Ah ya, ini sederhana saja. Karena-

Setiap langkah yang aku ambil, Yuki menjadi lebih dekat denganku. Aku ingin menjadi lebih cepat … Aku ingin pergi ke samping Yuki lebih cepat lagi. Sekalipun itu hanya satu detik lebih cepat, aku ingin menjadi lebih cepat.

Yuki ada di pusat dunia.

Tidak ada yang lain.

Selangkah, dua langkah, tiga langkah. Aku pasti tidak boleh melambat. Lebih penting lagi, aku harus lebih cepat.

Pada langkah terakhir, aku mendepak keras ke tanah, dan saat Yuki berkata, aku melompat ke lengannya yang terbuka. Sekarang adalah musim panas, tapi aku bisa mencium aroma harum musim semi. Ini adalah aroma dari bunga sakura.

Pada saat itu, aku mendengar bunyi ‘bip’, dan pada saat yang sama, dunia berputar. Eh? Semua yang tersisa hanyalah suara terkejut yang menggema di dalam kepalaku.

Dan tanpa aku sadari, aku sudah berbaring di tanah. Tangan Yuki ada di leherku, dirinya berada di atas tubuhku. Kemungkinan saat aku akan menabraknya, dia menindihku ke bawah.

“Sakit tau—”

Seharusnya, dampaknya hanya mengenai punggungku saja, tapi seluruh tubuhku terasa nyeri dan sakit. Aku batuk, dan sulit bernapas. Rasa sakitnya tak tertahankan, dan Yuki melepaskan tangannya dari leherku, sama sekali tidak mengkhawatirkanku. Yang dia pedulikan hanyalah telapak tangannya. Kukira dia akan merangkulku dengan kuat, dan berseru,

“Apa yang kamu lakukan? Pura-pura sakit segala. ”

Tapi Yuki sama sekali tidak peduli dengan apa yang aku katakan, wajahnya berseri-seri ketika dia memperlihatkan telapak tangannya ke hadapan wajahku.

“Ini, coba lihatlah sendiri.”

Aku tidak tahu apa yang dia katakan. Apa yang kupikirkan hanya rasa sakit dipunggungku, dan sensasi lembut di atas perutku karena merasakan pantat Yuki. Melihat reaksiku yang sedikit aneh, Yuki cemberut dan mengerutkan bibirnya.

“Tidak bisakah kamu sedikit lebih senang?”

“Eh. Erm, senang dengan apa? “

“Waktunya. Lihat, buka matamu lebar-lebar ”

Aku menghabiskan sekitar 10 detik untuk memahami apa yang dia katakan. 5 detik kemudian, aku menerima kenyataan yang ada di depanku. Awalku dikumpulkan pada waktu yang ditunjukkan pada stopwatch di tangan Yuki.

Itu adalah rekor 100m baru.

Aku mengalahkan rekor Takeshita.

“Kenapa?”

Tiba-tiba, air mataku mulai mengalir. Jauh di dalam mataku muncul senyum Yuki. Stopwatch ada di mataku. Ah, aku tidak bisa melihat lagi.

“Hhm, Yoshi-kun, aku pikir kamu sudah lama melampaui Takeshita-kun, tapi kamu sangat mengaguminya sehingga kamu entah bagaimana akhirnya berlari dengan cara menghemat tenagamu. Saat kamu mencapai 50m terakhir, kamu selalu melihat ke bawah. Itulah yang menyebabkanmu sedikit lambat. Kau bisa saja melihat ke depan, tapi kau tidak melakukannya. Kurasa kurang benar, lebih tepatnya, kamu tidak bisa melakukan itu, ‘kan? Takeshita-kun yang berlari di depanmu sepanjang waktu, sekarang sudah tidak ada lagi, dan Kamu merasa takut. Kamu benar-benar mengagumi Takeshita-kun. ”

Aku menutupi mataku dengan tanganku, menggertakkan gigiku. Jika tidak, banyak hal akan mengalir keluar. Lebih penting lagi, aku tidak ingin Yuki melihat ekspresiku saat ini.

“Ia memang cowok yang luar biasa. Jika orang itu masih berlari, kecepatanku tak sebanding dengan dirinya. Itulah yang ingin aku lihat. Ah ya, Aku ingin melihat Takeshita yang lebih cepat daripada Ia. ”

Tetapi orang seperti itu tidak ada.

Aku tahu itu. Aku tahu seberapa keras usahaku, berdoa untuk itu, dan meminta Yuki membantuku mencapai tempat itu, tapi yang aku harapkan tak pernah ada. Meski begitu—

Yuki menggerakkan lenganku ke samping, dan menggunakan jempolnya yang panjang dan kurus untuk menghapus air mata yang mengalir di pipiku. Di sebelah Kanan dan kiri. Setiap air mata yang kutumpahkan, dia menyeka semuanya untukku.

Pandanganku menjadi jelas lagi. Aku akhirnya mengerti apa yang ada di tempat dimana aku berusaha keras untuk menggapainya.

“Selamat. Kamu sudah bekerja keras, Yoshi-kun. ”

Di hadapanku ada senyum Yuki.

Serta kata-katanya.

Aku kira semua kerja kerasku telah terbayar penuh.

❀❀❀

Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke minimarket lagi.

Sebagai rasa terima kasih kali ini, aku menawarkan traktiran dengan es krim, dan dia membeli es krim seharga 300 yen. Tidak, yah, itu tidak terlalu penting. Setelah ragu-ragu, aku juga memilih merek es krim yang sama. Yuki memilih rasa stroberi, sementara aku memilih rum dan kismis. Kurasa tidak apa-apa boros sedikit, karena kita sedang merayakannya.

Kami duduk berdampingan, di tempat yang sama, dan menemukan bangkai tonggeret di sana.

Musim panas akan segera berakhir.

Yuki menatap kulit tonggeret tanpa jiwa di tanah, dan bergumam.

“Tonggeret menghabiskan sekitar 6 tahun menunggu di dalam tanah.”

“Aburazemi* pun sama. Kalau tak salah, aku pernah membaca di suatu tempat bahwa seperti Aburazemi, ada tonggeret yang menunggu 17 tahun di tanah. ” (TN: Sejenis serangga)

“Ya. Dan dalam seminggu di atas tanah, mereka akan mati. Apa artinya itu? “

“ … Setidaknya, ada misi untuk melanjutkan ke generasi berikutnya.”

“ Itu mungkin bagi yang betina, tapi yang jantan berbeda. Tonggeret jantan bisa kawin dengan banyak, jadi ada jantan yang tidak bisa membuat anak. Jadi, apa kamu pikir kalau yang jantan punya tujuan untuk hidup?”

Kata-kata Yuki tampak pedih, jadi aku berpikir sedikit serius, dan menjawab,

“Makna hidup memliki arti yang berbeda menurut persepsi masing-masing, dan kupikir ini bukanlah sesuatu yang bisa aku setujui atau menolak dengan mudah. Tapi, yang pasti, mereka berusaha keras untuk hidup.”

“Meski begitu, itu tak ada gunanya sama sekali.”

“Kurasa tidak. Itulah yang kau ajarkan padaku, Yuki. Jika aku bekerja keras dan mencapai tujuan tertentu, meski tidak ada yang aku inginkan, akan ada hal lain untuk ditemukan. Dan Aku menemukannya. Bahkan, sepertinya tonggeret bisa bertahan selama sebulan.”

“Kamu bohong.”

“Aku tidak bohong, kok . Sulit untuk membesarkan mereka, dan itulah sebabnya mereka tidak bisa bertahan lebih dari seminggu. Itu sebabnya banyak yang salah. Faktanya, tonggeret liar bisa hidup selama sebulan. Itulah yang dikatakan TV, dan itu sebabnya mereka pasti akan menemukan sesuatu ”

Bagian terakhir hanyalah penghiburan.

Ini hanyalah kebohongan murah yang kubuat untuk membuat Yuki tersenyum.

Sejujurnya, aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada tonggeret. Walau begitu, jika Yuki menginginkannya, aku akan berdoa, berharap hidupnya akan bermakna.

Yuki akhirnya mengambil sendok, dan membawa es krim yang agak meleleh ke dalam mulutnya. “Enak, enak.” Ucapnya, dan aku terus mengawasinya ketika aku membuka tutupnya.

“Hm? Ngomong-ngomong, apa kamu menemukan sesuatu, Yoshi-kun? ”

“ Rahasia, dong. ”

Dalam situasi apa pun aku tidak boleh mengatakan ini. Jadi, itulah yang aku jawab sebagai gantinya.

“Tapi aku merasa kalau hari musim panas ini adalah waktu yang pasti takkan kulupakan saat aku tumbuh dewasa.”

Walau hari ini akan menjadi masa lalu, meski aku bertambah tua, sekalipun waktu berlalu dan memudar.

Aku takkan pernah melupakan panas musim panas ini,

Air mata dan keringat yang tercurah,

Manisnya es krim yang kumakan,

Keharuman bunga sakura.,

Dan sesuatu yang penting yang aku dapatkan.

Yuki menatap sendok plastik, lalu bergumam.

Hari mulai gelap, dan aku tidak bisa melihat ekspresinya.

Yang kudengar hanyalah dia tampak cemberut—

 

 

 

“Dasar pembohong.”


cerbung.net

Hello, Hello, and Hello

Score 5
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Japanese

Ini adalah kisah tentang bagaimana diriku menemukan dan kehilangan cinta setiap minggu selama 214 minggu berturut-turut.

Dan kisah tentang bagaimana, selama rentang empat tahun, Aku jatuh cinta pada gadis yang sama.

"Hei, Yoshi-kun. Aku pikir kamu——"

Mendengar suara tersebut membuatku menghentikan langkah. Dalam perjalanan pulang dari sekolah. Di lapangan SMP, dan di toko buku di depan stasiun. Dan kemudian di tempat kosong dimana tempat kucing putih tertidur. Shiina Yuki, gadis aneh yang entah bagaimana sangat mengenal tentang diriku, selalu mencoba mendekatiku.

Kami saling tertawa, menangis, marah, berpegangan tangan. Lagi dan lagi, kami mengulangi ingatan yang hilang dan janji-janji sesaat tersebut. Itu sebabnya, aku tidak pernah tahu. Tidak pernah tahu nilai senyum atau makna dibalik air matanya. Bahkan tak mengerti sedikit pun dibalik ucapan 'Senang bertemu denganmu' darinya.

 

Ini adalah kisah pertemuan dan perpisahan yang kejam namun memikat hati.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset