Hello, Hello, and Hello episode 4

Kucing Putih Bermata Biru

(TN : Ada Perubahan Sudut Pandang)

“Kurasa kau harus berhenti sampai di situ.”

Aku dipanggil oleh suara yang tidak dikenal.

Itu terjadi ketika aku mencoba diam-diam mengutil bungkus cokelat ke dalam kantongku di minimarket.

Itu adalah suara seseorang yang sangat yakin kalau dirinya melakukan hal yang benar.

“Lepaskan tanganku.”

Aku ingin melepaskan tangan yang memegang tanganku, tapi percuma saja.

Ia memiliki wajah kurus seperti gadis.

Ia juga sedikit lebih pendek dariku, tapi Ia masih seorang cowok.

Ia lebih kuat dariku.

Dan suaranya lebih dalam dari milikku.

“Aku akan melepaskannya jika kau berhenti.”

“Ini tidak ada hubungannya denganmu, ‘kan?”

“Tapi perbuatanmu masih termasuk kejahatan.”

Meski begitu, aku ingin mengatakan sesuatu. Walau Ini salahku.

Kata-kata di tenggorokanku berubah menjadi helaan, dan aku melotot ke arah jam di dinding. Jarum menit dan jarum jam berada di arah yang berlawanan, membagi jam menjadi setengah. Dengan kata lain, sekarang jam 6 sore.

Dalam 5 jam lagi, dunia akan ditulis ulang.

Semua yang kulakukan, dan semua jejak keberadaanku akan lenyap. Terlepas dari aku berhasil mencuri atau tidak, itu bukan masalah lagi. Perbuatan ini kulakukan demi menghabiskan waktu.

“Baiklah.”

Aku menaruh cokelat itu kembali ke rak, dan seperti yang Ia janjikan, Ia melepaskan tanganku. Mungkin  karena Ia memegangku dengan sangat erat,  lenganku masih terasa sakit meski Ia sudah melepaskanku. Aku meletakkan tanganku yang lain di tempat yang panas dan menyakitkan, dan keluar menuju pintu tanpa melihat bocah itu.

Begitu aku pergi, hembusan angin menerpa wajahku layaknya pedang tajam.

Ketimbang dingin, aku malah merasakan sakit.

Ow, ow, gumamku.

Tapi tidak ada orang yang memperhatikanku.

Semua orang terus tersenyum, dengan semacam kewajiban untuk terus hidup bahagia, dan tidak pernah memperhatikan orang seperti diriku. Semua orang menikmati cahaya dan warna jalanan yang semarak.

Aku sengaja menghindar dari berbagai suara dunia,  mendengarkan napas dan langkah kakiku sendiri. Aku punya kaki. Aku bergerak maju. Aku bernafas. Jantungku berdetak.

Aku berada di tempat seperti itu.

Dan masih hidup.

Seharusnya inilah yang aku rindukan, sesuatu yang dengan putus asa aku raih.

Walau begitu, mengapa aku merasa sesakit ini?

Ini bukan rasa sakit fisik, juga bukan rasa takut yang kuat, tapi dalam artian lain, hidup di dunia ini sama saja dengan hidup di Neraka. Kesepian dan perasaan sedih yang menumpuk setiap hari perlahan-lahan membunuh hatiku.

“Tunggu.”

Tiba-tiba, aku mendengar seseorang memanggilku.

Bagi orang seperti diriku, yang iri dengan hal-hal yang sepele, aku mungkin sudah bosan dengan apa yang namanya “hidup. ”

“Tunggu.”

Dan aku mendengar suara itu lagi.

Suara itu lebih dekat dari sebelumnya, dengan keras. Pada saat yang sama, aku merasa kalau aku pernah mendengar suara ini.

“Kubilang….”

Aku terus berjalan untuk melarikan diri dari jalanan yang dipenuhi dengan kebahagiaan.

Bagiku, musik yang membahagiakan, wajah-wajah yang tersenyum, atau bahkan panggilan dari orang lain terlihat seperti racun.

“Tunggu aku. Dari tadi aku memanggilmu, jadi apa kau bisa berhenti sebentar? ”

Bahuku dicengkram, dan merasa terkejut. Kupikir jantungku akan copot karena kaget. Sudah berapa tahun sejak aku mendengar suaraku yang terkejut?

Aku menengok, dan melihat seorang cowok yang sedang terengah-engah, berdiri di belakangku.

Karena merasa canggung, aku mengambil jarak agak menjauh, dan memelototinya.

“A-apa? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?”

“Yah, tidak juga. Jika Kau tidak keberatan, ini untukmu, terimalah. ”

Dari plastik kresek minimarket yang dipegangnya, cowok itu menyerahkan cokelat yang aku coba curi.

Begitu aku menyadari apa yang Ia coba lakukan, aku langsung geram.

“Aku tidak membutuhkannya!”

“Kenapa? Bukannya kau mau makan ini?”

Aku tidak menginginkan cokelat. Aku menginginkan sesuatu yang berbeda.

Tapi aku tidak bisa mengekspresikan diriku dengan jelas.

Karena aku tidak tahu apa yang aku inginkan.

“Kamu sama sekali tidak mengerti diriku, jadi kenapa kamu melakukan ini? Serius, aku sangat membenci tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain seperti dirimu. Aku sangat, sangat membencimu !! ”

Aku berteriak seperti anak kecil, napasku tidak teratur. Aku terkesiap, dan udara dingin memasuki tubuhku, membuatku sangat sakit.

Tetapi aku takkan bilang kalau aku terluka lagi.

Karena aku tidak ingin dikasihani oleh cowok di depanku.

Usai mendengar teriakanku, cowok itu menunduk ke bawah.

Setelah beberapa saat, Ia mencengkram plastic kresek di tangannya dengan kuat seraya mengangkat kepalanya. Ia melihat langsung ke arahku. Bagian tengah matanya berkilauan dengan cahaya.

“Tapi yah, jika kau tidak membenci yang manis-manis. Setidaknya, kau bisa menerima ini, ‘kan?”

“Mengapa?”

“Dengar, aku sadar kalau aku melakukan sesuatu yang sangat berbeda dari diriku yang biasa, tapi kurasa aku bisa memberikan hadiah kepada seseorang yang tidak kukenal hanya karena aku menginginkannya. Selain itu……”

Cowok itu tampak sedih, dan tersenyum ragu.

“Lagipula, Sekarang adalah Malam Natal.”

“Kamu ini orang yang aneh.”

Cowok tersebut tidak membantah; Ia menyerahkan plastik kresek itu kepadaku, dan langsung lari. Segera setelah itu, Ia menghilang ke dalam kegelapan kota. Langkah kaki yang berderu terus bergema di dadaku.

– Orang aneh.

Sekali lagi, aku menggumamkan itu.

Itu adalah hari di musim dingin, ketika aku baru berumur 15 tahun.

Begitulah pertemuanku dengan cowok yang namanya tidak aku kenal.

❀❀❀

Setiap hari Selasa, mulai dari jam 10.54 malam.

Mungkin kelihatannya seperti iklan pada dini hari, tapi tidak ada orang lain selain diriku yang tahu kalau dunia mengalami perubahan pada waktu segitu.

Dunia baru akan lahir setelah semua catatan dan jejak mengenai gadis tertentu dihapus.

Karena kecelakaan lalu lintas delapan tahun lalu, ada sedikit perubahan pada bagaimana dunia yang seharusnya.

Kecelakaan lalu lintas bukanlah kejadian tidak biasa.

Berita kejadian seperti itu sering muncul di TV.

Di negara tempat aku tinggal, termasuk kecelakaan kecil, sepertinya hampir 500.000 kecelakaan lalu lintas terjadi. Di antara angka-angka tersebut, sekitar 4.000 di antaranya melibatkan kematian, dan jumlah kematiannya hampir sama. Dengan kata lain, setiap hari 11 orang meninggal dunia, dan untuk setiap dua jam atau lebih, seseorang meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

Ya…

Kalau dilihat-lihat lagi, itu bukanlah hal yang langka.

Tapi, saat data 500.000 atau bahkan 4.000 bukan hanya data biasa, melainkan nama-nama orang terdekat, seberapa banyak rasa sakit dan keputusasaan yang ditimbulkannya? Secara pribadi, aku sendiri pernah mengalaminya.

Ayo kita bicarakan tentang masa lalu.

Ini adalah kisah sebuah keluarga, yang menjadi bagian dari angka 500.000,  3 dari 4.000.

Tidak, mungkin ini sedikit berbeda.

Setelah itu, aku akan membicarakan kisah seorang gadis yang melarikan diri dari salah satu bagian dari angka 4.000 tersebut.

Pada ulang tahunnya yang ke-7, gadis itu kehilangan segalanya.

Hari itu seharusnya menjadi hari yang istimewa baginya. Mereka pergi ke taman hiburan yang sangat disukainya, bersama dengan keluarga tercinta. Tidak ada alasan baginya untuk tak bahagia.

“Bangun, bangun, kita sudah sampai.”

Gadis yang tertidur di dalam mobil dibangunkan oleh ibunya. Dia membuka matanya, dan menemukan sosok buram. Sosok yang lebih kecil tersebut adalah adik perempuannya, Umi. “Onee-tan, kita di sini.” Dia menirukan ibunya, mengguncang tubuh gadis itu.

“Nnn. Pagi, Umi.”

“Ai. Pagi juga onee-tan.”

Ayah dan ibunya tersenyum melihat sapaan keduanya.

Mungkin itu adalah bentuk kebahagiaan murni yang tersebar di mana-mana di dunia ini.

“Ayo pergi. Kita akan bersenang-senang sepanjang hari. Ayo bersiap!”

Dan dengan dorongan antusias dari sang ayah, gadis itu turun dari mobil, dan menemukan kastil yang dia lihat di TV di depan matanya.

Wahh, gadis itu berteriak takjub. Kesadarannya terfokus pada taman hiburan di depannya. Baginya, pemandangan tersebut hanya bisa digambarkan sebagai pemandangan magis. Lampu berkelap-kelip di mana-mana, dan bahkan suara-suara yang ada tampak penuh warna.

Seperti yang dikatakan ayahnya, semua orang tampak sedang bersenang-senang—

Mereka bermain di beberapa area permainan, menikmati makanan lezat, dan melakukan tur di beberapa tempat wisata.

Mereka benar-benar sedang bersenang-senang.

Itu adalah ulang tahun terbaik yang pernah ada.

Ayahnya, memegang banyak hadiah dengan kedua tangan, membawa Umi yang tertidur kembali ke mobil, dan jam 9 malam mereka pulang ke rumah.

Biasanya, pada jam segitu, keluarga mereka sudah selesai mandi dan memakai baju tidur, tapi mereka belum mengantuk sama sekali. Masih ada keajaiban yang tersisa.

Gadis itu mengobrol dengan ibunya tentang makanan penutup yang mereka nikmati hari itu, dan ayahnya terkadang ikut berbincang, yang mana hal itu jarang baginya. Namun tak boleh; percakapan antar gadis dilarang untuk pria.

Keduanya sengaja mengabaikan sang ayah, yang mendecakkan lidahnya seperti teman-teman sekelas gadis itu, dan cemberut. Sang ayah mungkin tidak marah. Sepertinya Ia menikmati kenyataan bahwa dia diejek oleh putri dan istrinya.

Sikapnya tersebut agak mencolok, dan gadis itu tertawa.

Ibunya juga ikut tertawa.

Dan Umi yang tertidur melengkungkan bibirnya dengan gembira.

Lalu, semuanya lenyap.

Itu semua terjadi dalam sekejap.

Cahaya putih terang menghalangi pandangannya, dibarengi dengan tubrukan yang luar biasa. Setelah itu, gadis itu tidak tahu apa yang terjadi.

Terdengar suara sesuatu yang pecah.

Terdengar suara sesuatu yang terkoyak robek.

Terdengar suara sesuatu yang hancur.

Jeritan orang tuanya tumpang tindih dengan suara yang lebih keras. Adik perempuannya yang masih kecil mungkin tidak bisa berteriak.

Akhirnya, terdengar suara menandakan akhir dari semua orang yang penting bagi gadis itu. Ahh, tepatnya, bukan suara yang berdering, melainkan menghilang. Ya, orangtuanya menemui ajalnya.

Sudah berapa lama waktu telah berlalu?

Huuu huuu.

Tenggorokan kering gadis itu akhirnya menghembuskan napas, dan dia mengerahkan tenaganya untuk membuka matanya lagi. Tiga kali, kelopak matanya berkedip, sebelum dia membukanya. Dunia diwarnai nyala api.

Gadis itu berpikir bahwa dia harus bergegas dan menemukan keluarganya, tapi tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali. Seolah-olah itu bukan tubuhnya sendiri. Beberapa saat yang lalu, dia bisa bebas menggerakkan anggota tubuhnya, namun sekarang dia tak bisa menggerakannya sama sekali,  tidak peduli berapa banyak kekuatan yang dia berikan.

Cuma panas yang satu-satunya keluar dari mulutnya, berteriak pada tubuhnya yang tak bergerak dan jantung yang mati rasa.

Dia ingin tetap hidup.

Dia tidak mau berakhir seperti ini.

Karena ini terlalu menyedihkan.

Dia masih punya banyak hal yang ingin dia lakukan.

Dia ingin melihat kembang api besar selama liburan musim panas sekali lagi, membaca buku, mengenakan baju-baju yang lucu, dan mengunjungi taman hiburan lagi. Dia ingin mengalami cinta dengan cowok yang luar biasa, persis seperti kisah-kisah dalam novel.

Namun, semuanya harus diambil dengan kejam.

Itu adalah tempat yang tidak bisa dijangkau oleh apa pun, bahkan amarah, kesedihan, atau jeritan memilukan. ‘Kematian‘ melambai di depan matanya.

“Aku tidak menginginkan ini.”

Gadis itu menjerit dengan sekuat tenaga.

“Aku benci ini.”

Dunia diwarnai dengan air mata.

Dan kontras emosi gadis itu, kesadarannya memudar. Sepertinya, akhir untuknya sudah membayangi.

Tidak.

Dia hanya tak bisa membuka matanya.

Tidak.

Cahaya-Nya sudah dekat.

Tidak.

Dia tidak bisa mengeluarkan suara, dan tak tahu apakah dia bernafas atau tidak.

Tidak.

Bahkan jika itu adalah tempat yang kejam, dia ingin tetap tinggal.

Dia ingin tetap di dunia ini.

Tiba-tiba, gadis yang menolak kematian tersebut mendengar sesuatu.

Tidak, mungkin kurang tepat kalau dia mendengar sesuatu. Itu adalah pertanyaan tanpa konsep kata atau suara.

Dia hanya merasakannya.

Dia menyadari kalau dia bisa hidup jika dia menganggukkan kepala.

Dan demikian, gadis itu mengulurkan tangannya.

Dengan putus asa, dengan penuh kerinduan, dia merentangkan tangannya ke depan.

“Aku ingin hidup.”

Gadis itu meraih cahaya.

Dia pulih dan menemukan dirinya berbaring di tempat tidur.

Langit-langit putih, kamar putih.

Orang asing datang dan pergi silih berganti. Orang-orang ini semua mengenakan pakaian putih. Gadis itu ditanyai namanya, dan tidak tau banyak tentang kecelakaan itu.

Sambil merasa lega, dia merasa jijik karena ditinggalkan.

Dia membawa makanan yang tidak enak ke mulutnya, dan menghabiskan sepanjang hari menonton TV. Ada laporan berita tentang kecelakaan lalu lintas yang melibatkan keluarga beranggotakan tiga orang, dan reporter berita itu melanjutkan dengan nada yang monoton. Seorang pengemudi truk yang kelelahan karena mengemudi selama 36 jam berturut-turut, pingsan selama beberapa detik, dan empat nyawa, termasuk miliknya, lenyap dari dunia ini.

Itu salah. Seharusnya bukan seperti itu.

Seharusnya keluarga tersebut beranggotakan 4 orang, dan Umi seharusnya bukan anak tunggal. Dia punya kakak perempuan. Namun, apa yang dikatakan penyiar itu adalah kenyataan bagi dunia.

Dunia merah yang terang menyala.

Di dunia ini tak ada yang tahu kalau di tempat yang sulit bernafas itu, ada gadis yang selamat secara ajaib. Bukan, tak ada yang tahu kalau ada seorang gadis di sana. Keberadaannya seakan-akan lenyap.

Gadis itu ingin berteriak, tapi dia berusaha menutup mulutnya dengan segala cara. Dia menggenggam seprai dengan kuat, meninggalkan bekas kerutan, menahan kesengsaraan yang dideritanya.

Karena inilah jalan yang dia pilih.

❀❀❀

Lalu, seminggu pun berlalu setelah kecelakaan itu.

Pada hari itu, gadis itu melihat jarum jam berjalan. Jarum menit berdenting, dan waktu berlalu dengan mudahnya. Jam 10.54 malam. Dalam sekejap mata, dunia ditulis ulang lagi.

Itu adalah kedua kalinya dunia ditulis ulang.

Jika terus begini, dia tak bisa bertahan lama.

Gadis itu, menyusup ke dalam selimutnya, mencoba untuk meninggalkan rumah sakit. Tapi, dia menunggu waktu yang tepat, karena dia ingin menyaksikan secara pribadi apa yang akan terjadi.

Dan demikian, insiden itu terjadi.

Awalnya, dia mendengar teriakan dari suara yang dia kenal.  Ternyata, suara tersebut berasal dari suster muda, yang ramah kepada gadis tersebut di rumah sakit. Dia memberikan permen kepada gadis itu, dan saat gadis itu bilang kalau dia suka membaca, suster tersebut meminjaminya beberapa buku yang menarik. Tapi kali ini, suster muda itu terkejut melihat gadis itu, Dia seolah-olah sedang memandang keberadaan yang tidak diketahui asalnya.

Usai mendengar teriakan, banyak orang yang berkumpul.

Di antara mereka ada dokter yang merawat gadis itu.

Gadis tersebut tahu nama dokter dan suster itu. Di dalam benaknya, dia mencoba mengatakannya. Beliau adalah Kanzaki-sensei. Dan si Suster adalah Tanio-san.

Kanzaki-sensei mendekat. Gadis itu bangkit dari tempat tidur, dan berdiri, menghadap dokter. Dokter pun berkata,

“Kau……siapa?”

Kata-kata yang dianggap tak berbobot ini memberikan banyak beban kepada gadis itu daripada apa yang bisa dia bayangkan.

Gadis itu berlari keluar dari kamar rumah sakit dengan linglung, dan orang-orang di sekitarnya membuka jalan untuk membiarkan dia lewat. Dia pergi, melihat sekeliling, dan menemukan tulisan di papan nama telah menghilang. Sebelum tidur, dia memeriksa kalau namanya ada di sana. Padahal, baru 30 menit yang lalu. Selama waktu itu, tak ada orang yang lewat di depannya kamarnya.

Gadis itu menuruni tangga, dan meninggalkan rumah sakit melalui pintu belakang.

Tanpa ada keluarga.

Tanpa ada tempat untuk kembali.

Yang dia miliki hanyalah hidupnya sendiri.

Memikirkan hal ini, perasaan gadis itu membludak tak terbendung. Tak ada yang berhenti. Emosi yang terpusat terus meraung di dalam dirinya, dan jika dia tak membiarkannya keluar, gadis itu bisa-bisa hancur.

“Ah, AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH──”

Gadis itu pun menjerit.

Di malam tanpa rembulan, dan hanya ditemani bintang-bintang yang berkelap-kelip. Udara yang dihembuskan menjadi kabut putih bak musim dingin, tapi salju tidak pernah turun. Entah kenapa, gadis itu merasa kedinginan. Tenggorokannya terasa berapi-api.

“AAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH──”

Dia berteriak ke langit malam.

Dia berteriak ke dunia yang meninggalkannya.

Butiran air mata jatuh dari matanya.

Orang-orang yang mengenal gadis itu sudah tidak ada lagi.

Gadis tersebut adalah aku, dan aku sendirian di dunia ini.

❀❀❀

Aku berada di bangku taman, sedang mengunyah cokelat yang kuterima dari cowok yang namanya tidak kukenal. Aku menggigit sepotong, dan sedikit terkejut, karena aku bisa merasakan rasa manis. Selama bertahun-tahun, aku tak bisa merasakan apa pun apa pun yang aku makan.

Setiap kali aku menggigit, cokelatnya menjadi sedikit lebih kecil. Aku memandangi cokelat yang menyusut itu, dan  merasa sedih. Ah, begitu ya. Jadi ini yang namanya ‘kesedihan’. Aku tak pernah berpikir kalau aku akan memiliki perasaan seperti itu.

“Ayo pergi.”

Aku tidak punya kekuatan untuk berdiri, dan aku bergumam dengan lemah.

Mungkin karena terlalu dingin, dan tanganku mati rasa, jadi aku tidak bisa merasakan apa-apa bahkan setelah menyentuhnya. Aku merasa seperti mayat, jadi aku berpikir sambil menggigiti cokelat yang menyusut. Ini sangat manis, sangat manis sampai-sampai air mataku akan jatuh.

5 menit berlalu, dan cokelat itu masuk ke perut sepenuhnya.

Aku bersandar di sandaran, dan menatap ke atas langit.

Awan kelabu yang melayang, seolah-olah meninggalkanku sendirian saat ini. Mungkin karena angin sepoi-sepoi yang terlalu kencang, awan-awan itu melayang dengan kecepatan yang mengejutkan, mengubah bentuk, dan akhirnya pergi.

“Apa yang aku lakukan…”

Tidak ada yang menjawab celotehku. Yah, walau aku sudah tahu itu akan terjadi.

Aku hendak melemparkan kemasan kusut yang sudah digulung menjadi bola, ke tempat sampah, tapi entah kenapa, aku malah memegangnya dengan kedua tangan, sebelum memasukkannya lagi ke dalam kantong saku.

Setelah berpikir sebentar, aku meletakkan tanganku di kantong saku, berdiri, dan mulai berjalan tanpa tujuan.

Taka da alasan khusus kenapa aku tidak membuang kemasannya. Namun, kehidupanku saat ini pada dasarnya memang seperti itu. Bernafas, berjalan, membiarkan waktu terus berlalu. Lihat ‘kan, tak ada arti apa-apa. Tapi,  meski pun ada “arti”, itu akan segera menghilang.

Ini adalah harga yang harus kubayar untuk tetap hidup.

Cahaya yang aku raih hari itu adalah “sesuatu”. Ya, “sesuatu”. Bahkan dengan semua bahasa di dunia ini, aku mungkin tak bisa menggambarkannya. Jika aku harus menggambarkannya, mungkin cahaya itu adalah sebuah “keajaiban”.

Dan diriku, yang menyentuh ‘sesuatu’ itu, mengetahui banyak hal.

Misalnya saja, sudah diputuskan dari dulu kalau keberadaan yang disebut dunia akan bergerak menuju akhir. Umat ​​manusia menyebut bahwa aliran takdir, atau sejarah, dan prosesnya tidak bisa diubah.

Aku terus berpikir sambil berjalan, ada kerikil yang menyentuh sepatuku, dan berguling-guling di tanah. Kemudian, anak laki-laki di belakangku menendang kerikil itu. Kerikil tersebut berguling ke rumput, dan seekor burung yang tampaknya baru berada di rumput itu pun terbang.

Semuanya dimulai karena aku menendang kerikil di sini.

Roda takdir kembali diposisikan sedikit.

Perubahan kecil ini mungkin akan menyebabkan sesuatu yang besar di masa depan. Sesuatu seperti merubah nasib dunia──

Diriku yang seharusnya meninggal pada saat itu, menjadi sebuah eksistensi yang tidak lagi ada di dunia ini. Dengan demikian, semua tindakanku akan menjadi Black Box, dengan potensi tersembunyi untuk mengubah nasib dunia.

Di sisi lain, gerak-gerik makhluk hidup semuanya bergerak menuju masa depan. Masa depan yang diambil dariku sama sekali tidak ada artinya.

Jadi, sebagai harga untuk tetap hidup, masa laluku yang diambil. Sebelum taring perubahan dapat mencapai masa depan yang jauh, sumbernya terputus terlebih dahulu, dan jalan menuju masa depan bisa disesuaikan kembali.

Setiap Selasa, jam 10.54 malam, semua yang terjadi akan dianggap ‘masa lalu’, dan keberadaanku akan terhapus dari ‘masa lalu’ tersebut, semua kenangan tentang namaku, wajahku, maupun perbuatanku tidak ada yang ingat. Dan kemudian, semua perbedaan yang disebabkan oleh hilangnya “keberadaanku” akan ikut tersapu bersih.

Semua yang kudapat sebagai imbalan atas hidupku ialah satu minggu di masa depan.

Tuhan sendiri takkan menawarkan hari yang ke-8.

Ini mirip seperti aku sedang  memainkan Kursi Musik.

Setiap hari, kursi hilang, dan pada hari ke 8, semuanya akan lenyap. Selesai. Untuk melanjutkan, aku harus memulai lagi dari awal.

Aku tahu. Aku yang meraih cahaya, tahu itu akan terjadi.

Jadi, aku tak bisa menyalahkan siapa pun.

Aku hanya bisa terus melanjutkan hidup.

Demi menghabiskan waktu, aku mengambil jalan memutar menuju stasiun, lalu mendengar dengung di suatu tempat.

“Meong meong.”

Suara tersebut datang dari dekat selokan. Semak-semak ilalang tumbuh di sana, dan aku tidak bisa melihat apa itu, tapi pasti ada sesuatu di sana. Aku melihat sekeliling, tetapi tak ada orang lain selain aku. Meong. Itu adalah suara yang hanya bisa didengar olehku.

Aku tahu rasa sakit itu.

Aku tahu rasa kesepian itu.

Aku sangat memahami keputusasaan itu lebih dari orang lain

Tanpa aku sadari, aku sudah menyingkirkan ilalang ke samping, dan melihat jauh ke dalam selokan.

“Meong.”

Ada anak kucing, badannya sedikit kotor karena tertutupi lumpur, dan warna bulunya tidak terlalu jelas. Mungkin dia baru saja lahir. Cakar, kaki, serta tubuhnya sangatlah kecil, suaranya terdengar sangat lembut. Hanya Mata birunya yang besar, seakan-akan memandang Bumi dari angkasa, meski aku tak pernah melihat Bumi dari luar angkasa.

“Meong.”

Tangisan untuk seseorang menjadi tangisan untukku.

Mata birunya  memikat hatiku.

Cuma aku sendiri.

“Apa kamu mau ikut denganku?”

Kuulurkan tanganku untuk menyentuh bulunya. Rasanya sangat lembut dan hangat. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan.

Aku membawa anak kucing itu ke hotel, dan menamainya ‘Shiro‘. Setelah aku memandikannya, bulu di tubuhnya menunjukkan bulu putih yang indah.

Shiro adalah kucing betina yang pendiam, saking pendiamnya sampai-sampai suara meow-nya terdengar seperti ilusi.

Untuk memberinya makan, aku memberinya susu melalui pipet. Sepertinya dia membenci susu bubuk, tapi begitu aku membawanya ke mulutnya, dia dengan patuh menelan.

Shiro masih kecil, fisiknya masih lemah, jadi aku tak punya niat untuk membawanya keluar. Tentu saja, aku tak pernah pergi karena aku harus merawatnya.

Aku tetap di samping Shiro, duduk di kursi sembari membaca untuk menghabiskan hari.

Kadang-kadang Shiro suka menempel di kakiku, dan pada saat seperti itu, aku akan menggendongnya dan meletakkannya di pahaku. Dia kemudian akan tertidur dengan puas. Aku bisa merasakan berat dan kehangatan hidupnya ketika aku membalik-balik halaman. Sudah lama sejak aku merasakan kehangatan seseorang. Aku merasa bahwa aku diselamatkan oleh hal sekecil ini.

“Jika kamu terus tidur, kamu akan jadi gemuk loh.”

Shiro terus tertidur, tidak mendengkur sama sekali. Rasanya agak membosankan. Hei, ayo berbincang.

“Kamu benar-benar punya bulu yang cantik. Kamu juga kurus. Rasanya akan sia-sia jika kamu jadi gemuk. “

“Meong.”

Kamu berisik, jadi aku dimarahi.

Dia tampak agak kesal karena tidurnya diganggu. Namun itu membuatku sedikit senang. Ada kalanya ketika aku terlalu menjahilinya, dan aku dicakar olehnya. Namun rasa sakit ini membuatku bahagia.

Lagipula, luka yang disebabkan oleh seseorang adalah bukti bahwa aku melakukan kontak dengan orang lain.

“Maaf maaf.”

Aku mengusap bulu Shiro dengan lembut, dan dia tertidur lagi.

“Ahh, aku ingin tidur juga.”

Aku menutup bacaanku, meletakkannya di atas meja, lalu menutup mataku. Aku duduk di kursi, bersama Shiro yang tertidur di pangkuanku. Itu adalah postur yang sulit untuk tidur, tapi aku bisa tertidur dengan mudah. Kesadaranku mengambang di antara mimpi dan igauan. Lalu, aku cepat tertidur, seolah-olah jatuh ke dalam perangkap.

Waktu pun terus berlalu.

Saat aku bangun, area di sekitarku sudah benar-benar gelap. Mungkin karena postur tidurku yang aneh, saat aku terbangun, hal pertama yang aku rasakan adalah rasa sakit di leherku, dan kemudian punggungku. Kakiku benar-benar mati rasa, tapi Shiro masih tidur di kakiku, jadi aku tidak bisa bergerak. Aku mengulurkan tanganku, dan bersusah payah, aku meraih remote control di atas meja, dan menekan tombol. Setelah itu, cahaya oranye memenuhi ruanagn berukuran 4 tatami seperti api lemah.

“Nn.” Aku meregangkan punggungku untuk mengendurkan ototku yang kaku, dan memeriksa waktu saat ini. Jam 10.57 malam. 3 menit berlalu dari jam 10.54 malam. Sepertinya aku tidur selama hampir 8 jam.

Sekarang adalah hari Selasa. Penulisan ulang dunia sudah dilaksanakan.

Aku harus bergegas pergi. Tapi sebelum itu, aku harus membangunkan kucing malas yang mengantuk ini.

Apakah Shiro akan terkejut saat dia bangun nanti?

Lagipula, dia tidak memiliki ingatan tentang diriku.

Tapi karena Shiro masih anak kucing, dia mungkin takkan bertanya padaku, “Siapa kamu?”, iya ‘kan? Setelah aku memberinya makan, dia akan menempel lagi padaku.

“Hei, Shiro.”

Aku memanggil Shiro sembari membelai bulunya. Tapi saat menyentuh tubuhnya, aku terkejut, dan menarik kembali tanganku.

Tubuh Shiro terasa kaku dan dingin.

“Shiro, apa kamu meninggal?”

Aku bertanya dengan lembut, seakan-akan ingin menegaskannya.

Tapi Shiro takkan pernah mendengkur lagi.

Itulah jawabannya.

Shiro pasti ditakdirkan untuk mati di selokan. Mungkin karena kelaparan dan kedinginan. Namun aku mencegah kematiannya.

Namun, makhluk yang ditakdirkan untuk mati takkan pernah bisa melewati titik kematian.

Realitas menganggap bahwa selama seminggu, aku tak pernah memberi makan Shiro. Dunia sekali lagi terkoreksi.

Tubuh Shiro kehilangan tenaga dan kehangatannya, dan terasa jauh lebih ringan ketimbang saat dia masih hidup. Ada penelitian kalau berat jiwa itu sebesar 21 gram. Tapi, apa itu benar?

Butiran air mata mengalir, lalu mendarat di bulu lembut Shiro.

“Ahh, uuuu.”

Aku menggertakkan gigi, berusaha menahan tangisanku. Biasanya, pada hari-hari biasa, aku bisa dengan mudah tutup mulut, tapi entah kenapa, aku tidak bisa menahan diri bahkan setelah mengerahkan diri lebih dari biasanya. Suara gumam terus terdengar dari sela bibirku.

Aku ingin menghentikan air mataku.

Karena itu sama sekali tidak cantik.

Aku tidak menangisi Shiro, melainkan menangisi diriku sendiri. Kesepian yang kurasakan setelah kehangatan yang akhirnya kudapat ini telah lenyap, dan kegelisahan di hatiku jatuh dalam bentuk air mata. Dadaku terasa sakit. Bagian terlembut hatiku serasa tersayat-sayat.

Aku terus gemetaran, menggertakkan gigiku, menggenggam tanganku dengan kuat. Sangat menyakitkan.

Tapi hatiku sangat sakit.

Aku tidak bisa meninggalkan tubuh Shiro begitu saja, dan pada hari berikutnya, aku mulai mencari tempat untuk menguburkannya.

Jika aku mati, aku takkan berharap orang lain melihat tubuhku yang membusuk. Itu pasti yang dipikirkan Shiro.

Aku membeli sebuah kotak kardus di sebuah supermarket, dan meletakkan handuk mandi putih yang cantik, meletakkan Shiro di atasnya. Dia tampak seperti sedang tertidur. Jika aku berbicara dengannya, apakah dia mau membuka matanya? Apakah dia akan mendengkur padaku lagi? Dia bisa mencakarku lagi.

Walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mengubur tubuh Shiro di lahan kosong yang tidak terlalu jauh dari stasiun. Sementara ada papan nama ‘properti pribadi’ di sana, siapa yang peduli? Aku menggali tanah dengan sekop.

“Apa yang sedang dia lakukan?” aku bisa merasakan tatapan penasaran dari orang yang berlalu lalang. Ini adalah sebidang tanah yang jarang dilewati orang, tapi bukan berarti tak ada orang. Tidak ada orang aneh yang datang untuk berbicara padaku. Semua orang hanya menatapku, dan kemudian memalingkan muka.

Aku terus menggali, tapi saat terus menggali, bahuku semakin berat karena takut dan lelah bertanya-tanya apakah ini akan dihapus. Setiap tindakan yang aku lakukan mungkin dianggap ‘tidak pernah dilakukan’. Jika ada banyak saksi, kemungkinan itu menjadi lebih tinggi.

Meski begitu, aku hanya bisa melanjutkan.

Karena aku tidak punya orang lain untuk diandalkan.

Selama beberapa tahun terakhir, kekuatan fisikku telah menurun, dan mungkin itu sebabnya, aku butuh waktu lama untuk menggali lubang yang cukup besar bagi Shiro untuk beristirahat. Tiba-tiba, ada suara yang tajam mengguncang telingaku.

“Aduh.”

Sepertinya aku mengenai sebuah batu yang terkubur di bawah tanah. Tangan yang memegang sekop terasa sakit. Aku jatuh terduduk, yang biasanya takkan kulakukan. Aku meminum teh dari botol PET yang aku beli. Setelah menunggu sejenak, mati rasa di tanganku menghilang.

Tiba-tiba, aku mendengar suara dari atas.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Aku mendongak, dan menemukan sosok cowok seusiaku sedang berdiri di sana. Dia mengenakan kemeja hitam dengan trim merah, tas besar tersampir di bahunya. Sosoknya sangat familiar di mataku.

“Lagi-lagi kamu?”

“Eh, memangnya kita pernah bertemu?”

Cowok itu tampak tidak percaya.

Ah, begitu ya. Dua kali penulisan ulang terjadi sejak kami bertemu. Tidak ada informasi tentang diriku dalam ingatannya. Dia tidak ingat apa-apa tentang diriku, dan juga tentang bagian ketika dia mengejarku, atau saat Ia memberiku cokelat.

Tetapi jika itu Cowok ini, pikirku.

Jika itu dia, orang asing sok akrab yang memberiku cokelat, mungkin dia akan mendengarkan permintaanku.

Aku berdiri, membersihkan debu kotor dari pantatku, dan menundukkan kepala. Aku memaksakan senyum, mungkin, karena agak kaku. Yah, mau bagaimana lagi, karena aku sudah lama lupa bagaimana membuat senyum alami.

“Maaf. Aku pikir aku salah orang. Sebenarnya, kucing peliharaanku sudah mati, jadi aku membuat kuburan untuknya. Jika kamu tidak keberatan, apa kamu mau membantuku? ”

Aku pikir dia akan sedikit tidak rela, “Baiklah.” Tetapi dia menjawab dengan enteng. Dia mengangguk, meletakkan tasnya ke bawah, dan menarik keluar sekop yang ada di tanah, mulai menggali itu. Kali ini, aku memastikan bahwa aku tidak duduk di tanah, mengawasi bagian belakang yang ternyata lebih dapat diandalkan daripada yang terlihat.

“Hei, mengapa kamu berbicara denganku?”

Cowok itu melanjutkan apa yang dia kerjakan sembari menjawab,

“Kau tampak seperti akan menangis.”

“Kamu bohong. Aku tidak membuat wajah seperti itu.”

Aku menyentuh pipiku dengan tangan, dan jari-jariku tidak basah.

Aku tidak menangis, ‘kan?

“Ya. Tapi di mataku, kau terlihat seperti itu. Kau tampak bermasalah, merasa tidak berdaya, tapi kau masih bekerja keras, menampilkan sosok yang penuh tekad. Aku tidak bisa mengabaikanmu begitu saja. ”

“Aku paham sekarang. Kamu itu orang aneh. ”

“Enak aja, aku ini normal.”

“Tak ada yang pernah mengatakan itu tentangmu?”

Ia menghindari pertanyaan itu.

“… Yah, sepertinya aku tidak punya ambisi atau disiplin untuk melakukan sesuatu, jadi kurasa itu sebabnya. Aku benar-benar mengagumi mereka yang benar-benar berbeda dariku, orang-orang yang berjuang keras demi meraih apa yang mereka inginkan. Kelihatannya memang sedikit keras kepala, tapi aku berharap orang-orang seperti itu tidak menyerah. Mungkin aku memaksakan idealismeku pada orang lain, tapi jika ada yang membutuhkan bantuan, aku akan membantu.”

“Apa ada orang seperti itu sebelumnya?”

Aku bertanya dengan cuek.

“Entah, menurutmu?”

“Aku mengenal orang yang seperti itu. Orang yang awalnya terlihat keren, tapi akhirnya mengacaukan semuanya.”

“Aku mengerti. Itu sangat sulit, rasanya tak tertahankan. Meski begitu–”

Suaranya perlahan-lahan menjadi lebih lembut, lalu lenyap terbawa angin. Namun, kata-katanya memiliki kekuatan tersendiri, kurasa, dan bagiku sepertinya dia bukan seseorang tanpa hasrat atau disiplin. Hanya saja dia menganggap dirinya sebagai orang seperti itu.

Atau mungkin, Ia belum menemukan sesuatu yang bisa membuatnya bersemangat.

“Hmm. Kalau begitu, kuharap kamu bisa menemukannya suatu hari nanti. ”

“Eh?”

“Aku sedang membicarakan dirimu yang ingin menemukan sesuatu yang kamu inginkan.”

Cowok itu hanya tertawa kecil, tidak menjawab apa pun. Ia terus menggali dengan diam.

Akhirnya, di depanku ada lubang yang dalam. Cukup dalam untuk mengubur Shiro.

“Apa ini kucingnya?”

Cowok itu melihat ke arah Shiro yang ada di dalam kotak.

“Ya.”

“Namanya?”

“Aku memanggilnya Shiro.”

“Karena dia memiliki bulu berwarna putih?”

“Iya. Sederhana bukan? ”

“Yah, kupikir itu nama yang bagus. Pepatah mengatakan kalau nama adalah gambaran dari orangnya. ”

Setelah mengubur bangkai Shiro di dalam tanah, kami bertepuk tangan dua kali untuk berdoa. Kami tidak membangun kuburan. Aku adalah orang yang berdoa, tetapi aku tidak tahu harus berdoa apa.

“Saat aku pertama kali bertemu dengannya, Si kecil ini sedang sendirian di selokan.”

Cowok itu hanya mendengarkan diam-diam, tidak merasa curiga saat aku mendadak bercerita.

“Seminggu berlalu sejak itu. Sepertinya aku dipanggil olehnya. Ketika aku bertanya padanya, Apa kamu ingin ikut, dia mengeong seakan-akan menjawab iya. Tapi kehidupan Shiro hanya diperpanjang satu minggu. Jadi kupikir. Jika dia tinggal di selokan selama seminggu, apa lebih baik begitu? Katakanlah, apa ada artinya untuk memperpanjang umurnya hanya seminggu?”

Sama halnya dengan hidupku.

Aku menyaksikan orang tuaku dan Umi mati, dan menipu kematian. Tapi kenyataan tidak selalu hanya hal yang baik. Aku tidak tahu kapan itu dimulai, tapi aku terus bertanya, mengapa aku ingin terus hidup.

Di langit Musim Dingin, aku menemukan aliran kuat Sirius.

Dalam bahasa Yunani, cahaya putih kebiruan yang berarti panas. Kalau begitu, aku seharusnya menghilang dalam nyala api saat itu.

Tapi kenyataannya aku masih hidup. Aku memilih untuk hidup atas kemauanku sendiri, dan sejak malam aku kehilangan segalanya, aku telah mencari alasanku untuk hidup.

“Walau begitu, kau tetap menemaninya, ‘kan?”

Cowok itu, yang dari tadi mendengarkan dengan tenang, ikut berbicara,

“Jika kau bertanya apakah ada artinya membiarkan hidup Shiro seminggu lebih lama, kurasa jawabannya ada di dalam hatimu. Dia mendapatkan cintamu, sehingga kematiannya membuatmu sedih. Hanya itu saja sudah membuatnya bahagia. Yeah, Itu mungkin karena……

–Kau takkan melupakan seminggu ini, ‘kan?”

Ucapnya menyimpulkan.

“Apa itu tujuan hidupnya?”

“Kurasa begitu. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Shiro, tapi itulah yang aku pikirkan. Jika seseorang dapat tetap berada di hati orang tertentu dan dicintai, itu adalah berkah bagi Kehidupan.”

Kata-kata cowok itu terukir sangat dalam di hatiku.

Begitu ya. Jika aku bisa tetap berada di hati orang tertentu, maka ada tujuan hidup. Jika aku bisa melakukannya, mungkin aku bisa menemukan sedikit arti dalam hidupku.

Aku melihat ke arah cowok di sebelahku. Cowok sok akrab ini mungkin bisa mengingatku, tak peduli berapa tahun setelah aku menghilang.

Aku sudah berpikir bagaimana menggunakan hidupku.

Yup. Aku sudah memutuskannya.

“Hei, siapa namamu?”

“Haruyoshi Segawa. Kau sendiri?”

Keberadaan bocah itu mengambil bentuk Haruyoshi Segawa di hatiku.

Aku tidak mengatakan ini kepada Segawa-kun.

Hei, Segawa-kun.

Tolong sukailah aku.

Tolong tandai aku di dalam hatimu, dan ingatlah aku selamanya.

Ketika kenyataan itu terjadi, tentunya, aku akan–

Seraya memikirkan tentang itu, wajahku jadi berseri-seri,

“Aku Shiina Yuki. Senang bisa bertemu denganmu. ”


cerbung.net

Hello, Hello, and Hello

Score 5
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Japanese

Ini adalah kisah tentang bagaimana diriku menemukan dan kehilangan cinta setiap minggu selama 214 minggu berturut-turut.

Dan kisah tentang bagaimana, selama rentang empat tahun, Aku jatuh cinta pada gadis yang sama.

"Hei, Yoshi-kun. Aku pikir kamu——"

Mendengar suara tersebut membuatku menghentikan langkah. Dalam perjalanan pulang dari sekolah. Di lapangan SMP, dan di toko buku di depan stasiun. Dan kemudian di tempat kosong dimana tempat kucing putih tertidur. Shiina Yuki, gadis aneh yang entah bagaimana sangat mengenal tentang diriku, selalu mencoba mendekatiku.

Kami saling tertawa, menangis, marah, berpegangan tangan. Lagi dan lagi, kami mengulangi ingatan yang hilang dan janji-janji sesaat tersebut. Itu sebabnya, aku tidak pernah tahu. Tidak pernah tahu nilai senyum atau makna dibalik air matanya. Bahkan tak mengerti sedikit pun dibalik ucapan 'Senang bertemu denganmu' darinya.

 

Ini adalah kisah pertemuan dan perpisahan yang kejam namun memikat hati.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset