He’s My Doctor! episode 1

Chapter 1

1
Aku

(Sudut pandang cerita dari Rafa)

Hari itu mungkin hari terpanas di Jakarta kupikir. Keringat bercucuran dari keningku kemudian masuk membasahi badanku. Tak hanya kondisi cuaca yang saat itu kurang mendukung tetapi aku juga sedang sibuk membereskan dan memindahkan semua barang-barang yang ada di ruang kerja kantorku ke dalam mobil.

Semenjak hari ini aku resmi berhenti dari tempat kerjaku yang sekarang. Bukan karena aku dipecat atas tingkah lakuku yang buruk ataupun kinerjaku yang jelek, tapi karena aku sudah mendapatkan tempat kerja yang baru, di sebuah Rumah Sakit di daerah Bandung.

Mari kuperkenalkan kepada kalian siapa diriku. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, namaku Muhammad Rafa Alfarizi. Kata mereka sih aku adalah seorang Dokter. Memang sih aku bekerja di Rumah Sakit dan tahun ini adalah tahun keduaku bekerja di profesi itu.

Tapi aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu? Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

2
Batman

Bunda : Raaafffaaaaaaaaaa, kenapa ini adikmu!? (teriak bunda dari ruang tamu).
Rafa : Sebentarrr bunnnnn….

Kemudian aku bergegas masuk ke dalam ke rumah.

Rafa : Kenapaa bun?
Bunda : Kenapa kenapa! Ini lho adikmu! Kamu apakan adikmu iniii? (ucap bunda sambil menunjukkan jarinya ke arah adikku).
Rafa : He he he,,, dia katanya pengen jadi batman ih. Rafa kan cuma bantu dia aja bun.

Rafa : “Bang, ilan (dilan) mau adi etmen (jadi batman)” (ucapku sambil menirukan gaya adikku saat itu).
Bunda : Tapi gak begitu juga kali batman! Masa kepalanya dilan kamu pasangin celana kamu!? Terus itu kenapa pipinya kamu kasih warna merah juga? Pake lipstik bunda lagi! (bunda tampak kesal)

Bunda : Itu bukan batman, tapi kaya anak orang gila! (ucap bunda sambil marah-marah dan menjewer kupingku).
Rafa : Aaahhh, aduudduuh sakit bun.
Bunda : Ayah, anakmu yang satu ini lho nakalnya gak hilang-hilang. Kemaren bi odah disuruh naik pohon buat ambil mangga, sekarang adiknya yang dibuat jadi kaya anak orang gila!
Rafa : Ih bunda ih, anak sendiri dibilang kaya anak orang gila. Lagi kalau anaknya kaya orang gila, berarti bundanya juga kaya orang gila dong? He he he.
Bunda : He he he (tersenyum kepadaku kemudian telingaku di jewer semakin keras)
Rafa : Aduuhhhhhhhhh saaakkkitttttt buuuunnnnn, ammppuuuuunnn.

Dilan menangis melihat aku yang sedang di jewer saat itu sama bunda. Tapi kalau kalian pikir dilan menangis karena kasihan melihat aku yang di jewer, maka itu salah. Dilan itu akan menangis kalau tiba-tiba ada yang berteriak tidak jelas di depan dirinya.

Ayah : Sudah sudah mah, tidak enak terdengar sama tetangga.
Rafa : Pak Atteeepp tolonggg! Tolloongg! Pak Ateeepppp!!! (teriakku)
Ayah : Kamu juga Rafa, berisik! Daritadi suara kamu saja yang paling kencang. Siapa pula itu Pak Atep?
Rafa : He he he, iya maaf yah. Pak Atep, tetangga.
Ayah : Tetangga? Tetangga kita? Perasaan tidak ada yang namanya Pak Atep, ada gak mah tetangga kita yang namanya Pak Atep?
Bunda : Gak ada deh setau bunda selama 10 tahun kita disini yah.
Ayah : Terus siapa itu Pak Atep? (Tanya ayah kepadaku).
Rafa : Tetangganya si Roim, anak komplek sebelah.

Aku dilempar koran yang waktu itu sedang dibaca sama ayah.

Bunda : Gitu tuh yah, anakmu yang satu ini. Ampun nakalnya, salah apa coba bunda sewaktu lagi mengandung dia.
Rafa : Bunda gak ada salah kok, yang salah si bi odah tuh waktu itu belum nikah.
Bi Odah : Lho, kok saya yang disalahin mas rafa? (Tanya bi odah yang baru saja masuk ke ruang tamu membawakan minum).
Bunda : Udah bi, gak usah di dengerin. Ini anak kadang-kadang gak bisa dimengerti.
Rafa : Tul, he he he.
Bunda : Kamu mau sampai kapan kaya begini rafa? Kamu itu Dokter lho, malu sama teman-teman kantor, sama pasien-pasien kamu.
Rafa : Itu kan kalau di kantor bun, kalau dirumah kan aku adalah bosnya batman!? He he he (ucapku sambil tersenyum ke arah dilan)
Dilan : Etmen yeeeeee etmeeen.

Kemudian kami tertawa melihat lucunya tingkah Dilan saat itu.

3
Dilan

Bundaku, namanya Milea Hasan Alfurqan. Kata ayahku, bundaku itu dulu primadona dikampusnya. Banyak sekali yang suka dan mengejarnya, tapi saat itu cuma ayahku lah yang berhasil mendapatkan hatinya. Dan buktinya sekarang dia sudah berhasil menikahi bunda.

Kata ayah mendapatkan bunda itu butuh perjuangan yang sangat besar. Aku sih waktu itu cuma bilang iya iya saja, padahal kupikir, ah memangnya waktu itu harus melawan penjajah dulu baru bisa dapetin bunda? Tapi karena aku anak baik, aku menghormati apa kata ayah dan bersikap seakan-akan aku percaya. Kemudian agar ayah senang, setelah ayah selesai cerita aku akan bilang.

Rafa : Yeeeeyyyy ayah hebat! Merdeka!

Ayah lebih suka memanggil bunda dengan panggilan mamah. Sedangkan aku dan dilan lebih suka memanggilnya dengan panggilan bunda. Tapi tak apa, karena kami keluarga cemara jadi semuanya tidak masalah asalkan semua senang.

Kemudian ayahku, nama ayahku itu adalah Muhammad Hasan Alfurqan. Ketika kalian bingung kenapa nama belakangku tidak sama dengan ayahku, maka tak usah heran. Karena nama ayahku sebenarnya itu adalah Muhammad Hasan. Tapi karena kata bunda, bunda gak suka nama ayah cuma terdiri dari 2 suku kata, karena kelihatan terlalu pelit.

Jadi sebagai salah satu persyaratan pernikahan mereka adalah, nama ayah harus ditambahkan minimal menjadi 3 suku kata. Akhirnya nama ayah menjadi Muhammad Hasan Alfurqan.

Ih, kasian ya ayah? Padahal nama bunda malah lebih pelit, cuma terdiri dari satu suku kata, Milea. Namun karena mereka sudah menikah, sekarang nama bunda berubah menjadi Milea Hasan Alfurqan. Tapi sayang kata ayah dirinya tidak berani membela diri saat itu karena takut ditolak sama bunda katanya.Cemen ya?

Ayahku itu ayah yang keren menurutku. Sama seperti bunda, ayah juga sangat sayang pada kami, kedua anaknya. Ayah bekerja sudah hampir 25 tahun lamanya di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang perminyakan. Makanya gak usah heran kalau ayah sudah jadi General Manager sekarang. Katanya sih ayah itu lulusan Engineer, tapi kupikir ayah cuma seorang Engineer Stranger. Karena anehnya ayah berhasil menghasilkan seorang anak yang gak kalah aneh dari dirinya.

Terakhir, adikku. Namanya Dilan Hasan Alfurqan. Nah, kalau kalian bingung kenapa lagi-lagi cuma nama belakangku yang berbeda, maka gak usah nanya, karena aku kesal mengingatnya. Bunda ingin nama anak laki-lakinya itu Rafa, sisanya terserah ayahku, asalkan tidak hanya terdiri dari 2 suku kata.

Karena bunda memberi namaku Rafa, maka kata ayah dia juga punya hak memberikanku nama dari hasil pemikirannya waktu itu, dan itu adalah Alfarizi. Selebihnya mereka jadi berdebat panjang karena kata bunda nama belakangku jadi berbeda sendiri. Akhirnya dari hasil islah, biar ada kesamaan dengan nama dirinya, nama depanku diberikan dengan nama Muhammad. Sehingga namaku menjadi Muhammad Rafa Alfarizi.

Tetap saja kan berbeda sendiri namaku di keluargaku itu? Ah sudahlah, tidak apa. Aku juga tidak ingin menjadi kesal karena memikirkannya. Kembali lagi ke adikku, dilan. Beda umurku dengan adikku ini adalah 15 tahun. Jauh sekali bukan, kalau kalian bingung mengapa bisa, maka kubilang bisa saja. Karena dilan itu sebenarnya adalah anak yang di adopsi oleh orang tuaku ketika usianya masih berumur 6 bulan di sebuah panti asuhan.

Namun aku tak ingin membahas masalah itu terlalu banyak, karena kata adopsi di rumah kami adalah kata-kata tabu, kata-kata yang terlarang untuk diucapkan. Bagaimanapun kami mengenalnya, dan siapapun dia sebenarnya, maka kami tak perduli. Karena yang kami tahu dilan adalah keluarga kami, dilan adalah adikku dan dilan adalah anak dari orang tuaku.

Kalau kalian tanya macam-macam lagi, maka aku bersumpah akan menghajar kalian bagi kalian para lelaki, dan akan kunikahi kalian bagi kalian para wanita (hanya untuk para wanita cantik).

Aku sebenarnya punya adik kandung, kata Dokter dia adalah perempuan. Ayah dan bunda sangat senang sekali waktu itu, terasa keluarga kami akan lengkap jika adikku itu sudah lahir nantinya. Bahkan mereka sudah menyiapkan namanya terlebih dahulu, Alisha. Iya, itu nama untuk calon adikku. Tetapi ketika usia kehamilan bunda menginjak 7 bulan, bunda mengalami keguguran. Kupikir mungkin karena itulah salah satu alasanku mengapa aku ingin menjadi Dokter sejak aku masih kecil, agar aku bisa menolong orang-orang yang sakit.

Kehilangan anak kedua itu membuat bunda kehilangan kesempatan untuk bisa mempunyai anak lagi. Waktu itu rahim bunda juga harus diangkat karena keguguran. Butuh waktu beberapa tahun agar bunda bisa tenang, tanpa harus menangis di setiap shalatnya. Dan tepatnya 10 tahun yang lalu, saat itulah ayah memutuskan untuk mengadopsi anak, agar bisa mengurangi sedikit kesedihannya.

Padahal itu mungkin cuma sekedar alasan yang terdengar masuk akal saja dari ayah. Karena menurutku alasan sebenarnya adalah karena ayah sudah tak tahan lagi jika harus mendengar suara tangisan bunda yang selalu ada setiap tengah malam tiba. Aku sendiri sih kadang merinding dengarnya, kupikir menyeramkan apalagi kalau habis nonton film horor. Makanya kupikir ayah mencari cara bagaimana caranya menghentikan suara tangisan tengah malam itu. Dan dari semua anak-anak yang ada di panti asuhan tersebut, terpilihlah Dilan.

4
Bi Odah

Masih di ruang keluarga waktu itu. Masih bersama ayah, bunda dan adikku yang malang ini.

Ayah : Jadi kapan kamu sudah mulai bekerja di Bandung? (tanya ayah kepadaku)
Rafa : Besok yah (ucapku sambil memakan kue yang dibeli bi odah).
Ayah : Lantas bagaimana dengan semua barang-barang kamu? Kamu juga sudah dapat tempat tinggal disana?
Rafa : Rafa besok bawa secukupnya dulu aja yah, Bandung-Jakarta tidak sejauh Jayapura-Jakarta kok yah.

Rafa : Mengenai masalah tempat tinggal rafa udah dapat rekomendasi dari salah satu Dokter disana. Pulang kerja besok rafa langsung kesana jadi ayah tenang saja.
Bunda : Kenapa sih kamu harus nyari kerja disana rafa? Di Jakarta juga kan masih banyak. Dan kamu jadi jauh sama bunda.
Rafa : Bun, ragaku sih memang jauh dari bunda. Tapi jiwaku enggak.
Bunda : Emang jiwa kamu bisa misah dari raga gitu?
Rafa : Enggak, he he he.

Kami pun kembali tertawa, jika kalian anggap kami ini keluarga yang bahagia. Maka silahkan, aku juga tidak ingin membantahnya, karena kupikir kami memang selalu dan harus selalu bahagia.

Oh iya, aku akan berdosa jika aku lupa mengenalkan kalian dengan salah satu penghuni lainnya di rumah ini. Namanya adalah Odah Ramlan, kami memanggilnya bi odah. Dia bekerja di keluargaku sejak aku masih dalam kandungan bundaku. Waktu itu bi odah belum menikah, karena waktu itu katanya lelaki yang dekat dengannya ternyata sudah punya istri, untung saja dia tahu sebelum mereka jadi menikah.

Tapi untunglah setahun setelah itu, bi odah berhasil menemukan pasangan soulmatenya. Suaminya berasal dari Somalia, iya Somalia yang banyak bajak lautnya itu, keren kan. Padahal suaminya berasal dari Sumedang, tapi karena biar lebih keren, kubilang ke teman-temanku bahwa suami bi odah itu berasasl dari Somalia. Maklum lah, waktu itu lagi boomingnya film Johnny Deep yang judulnya The Pirates of Carribean.

Bi odah sampai sekarang belum mempunyai anak, dan suaminya bekerja jadi TKI di Arab sana. Mereka bertemu setahun sekali di Sumedang, bahkan kadang 2 tahun sekali. Selebihnya bi odah selalu ada jika kalian memanggil namanya di rumahku. Dia sangat sayang kepadaku dan adikku dan sudah menganggap kami sebagai anaknya sendiri. Begitu pula kami, kami sudah menganggap bi odah sebagai salah satu keluarga kami.

Tanpa dia, keluarga kami tak akan lengkap. Kalau kubilang sih Indonesia akan jatuh jika bi odah meninggalkan kami. Makanya tiap pagi aku selalu tidak pernah lupa untuk mengabsen namanya.

Tak terkecuali pagi ini…

Rafa : Biii odaaaaaah, bikinin aku jamu mangga bi!!!!!!
Bi Odah : Iyyaaa mas rafa. Jamu mangga jamu mangga. Eh jamu mangga!? Mas raafaaa….


cerbung.net

He’s My Doctor!

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset