He’s My Doctor! episode 10

Chapter 10

20
Karena Kita Berbeda Agama

Setelah kejadian terakhir di rumah sakit, rafa akhirnya mulai terlihat sudah bisa menerima keadaan. Dia sudah kembali bekerja di rumah sakit dan sudah kembali ke sikap dia yang biasanya konyol, nakal, nyebelin, sesuka hatinya.

Tapi aku menyukainya. He he he…

Kembali ke hari itu dimana kejadian di rumah sakit itu…

Setelah aku cukup lama berbincang dengan andre dan eri akhirnya rafa memberanikan dirinya masuk ke ruangan kamarku.

Rafa : Bagaimana keadaanmu?
Ai : Buruk. (jawabku singkat padanya)

Rafa : Benarkah? Kamu ngerasain sakit dimana?
Ai : Disini.

Rafa : Disini mana?
Ai : Ya disini.

Rafa : Ah disini rumah sakit ya? Tempat orang yang sedang sakit memang.

Aku sebenarnya ingin tertawa mendengar ucapannya, tapi aku gak mau semudah itu tertawa. Aku gak mau, aku masih kesal dengannya!

Ai : Disitu deh!

Rafa : Disitu mana?
Ai : Pojokan.

Rafa : Pojokan? Kanan, kiri, atas atau bawah? (tanyanya lagi dengan mukanya yang dibikin sepolos mungkin)
Ai : Kanan.

Rafa : Itu vas bunga ih.
Ai : Memang.

Rafa : Terus kenapa sama vas bunganya?
Ai : Ambilin.

Rafa : Buat apa?
Ai : Mau aku lempar ke kamu!

Rafa : Ih jangan ih, kan sakit! He he he.
Ai : Kenapa ketawa?

Rafa : Disuruh.
Ai : Disuruh siapa?

Tuh kan dia selalu saja bisa membuat keadaan jadi terbalik. Aku selalu bisa dibuatnya bingung dan harus bertanya balik padanya. Padahal kan aku lagi marah kepadanya.

Rafa : Orang
Ai : Orang siapa?

Rafa : Manusia.
Ai : Ya siapa namanya?

Rafa : Dia.
Ai : Dia siapa ih!? Tanyaku mulai kesal.

Rafa : Temennya bi odah.
Ai : Temennya bi odah? Kok bisa? Emang siapa namanya?

Rafa : Pak Rahmad.
Ai : Emang pak rahmad kenal dimana sama bi odah?

Rafa : Depan rumah.
Ai : Ngapain gitu?

Rafa : Kamu kok kepo sih?
Ai : Ya kamuuu, jawabnya gak jelas! Kok bisa kataku?

Rafa : Bisa lah.
Ai : Gimana emang ceritanya?

Rafa : Tanya aja sama bi odah.
Ai : Rafa ih! (aku mulai ngambek kepadanya)

Rafa : Senyum dulu baru kujawab.
Ai : Gak mau!

Rafa : Dikit aja.
Ai : Gak!

Rafa : Ya udah tanya aja sendiri ke bi odah.
Ai : Ya udah dikit aja nih.

Rafa : He he he.

Dia selalu bisa membuatku tersenyum kan? Entah apa saja cara yang dilakukannya tapi dia selalu berhasil.

Ai : (Aku tersenyum) terus?
Rafa : Apa?

Ai : Kulempar bantal nih!?
Rafa : He he he, becanda ih. Ya bisa lah mereka kenal.

Ai : Ya gimana ceritanya?
Rafa : Kan kalau bi odah mau beli sayur tinggal beli ke pak rahmad.
Ai : Ha ha ha…

Rafa : Ai, maafin aku ya.
Ai : Hmmm, jadi kamu bisa minta maaf juga?

Rafa : Aku kan bukan Presiden Amerika, jadi bebas untuk minta maaf.
Ai : Oh iya, ha ha ha.

Ai : Rafa, kamu tau bunda bilang apa padaku malam itu?
Rafa : Apa?

Ai : Jangan mencoba terlalu keras untuk melupakan sesuatu yang sangat berat, tapi berusahalah untuk menerimanya. Karena dengan begitu sakit yang ada di sini (aku mengarahkan tanganku ke dadanya), sakit yang ada di hatimu akan lebih mudah diobati.

Rafa hanya tersenyum mendengar apa yang ku katakan padanya.

Ai : Dan aku juga sudah berjanji pada bunda untuk menjagamu. Aku gak ingin kamu berlarut-larut dalam kesedihan lagi. Kamu harus bangkit sayang. Masih ada ayah, masih ada dilan yang butuh kasih sayang dan perhatian dari kamu.
Rafa : Iya…

Beberapa minggu kemudian entah di minggu keberapa dan pada bulan. Yang aku ingat saat itu malam hari yang entah hari apa juga karena aku lupa. Waktu itu aku dan rafa sedang makan bersama di daerah braga, Bandung.

Kalau yang ini waitress nya cantik, sayang pas dia lagi balik muka (kayanya doi sadar ane jepret waktu itu) emoticon-Big Grin

Rafa suka sekali ke tempat ini, karena tempat ini menarik untuk dikunjungi dengan suasana dan pemandangan yang mirip dengan kota tua di Jakarta.

Rafa selalu mampir ke tempat ini, tempat es krim yang katanya sudah ada lama sekali di sini. Makanya tak heran jika kadang-kadang kalian selalu menemukan artis-artis ibu kota dan turis asing di tempat ini.

Ai : Kamu tahu kapan aku mulai suka sama kamu?
Rafa : Kapan?

Ai : Sejak aku melihat kamu bernyanyi di kantin rumah sakit waktu itu.
Rafa : Aku keren ya?

Ai : Sedikit.
Rafa : Ha ha ha…

Ai : Mau ku tambahin gak biar banyakan?
Rafa : Mauuuuuuu.

Ai : Tuh, gantiin mereka nyanyi (tunjukku ke performer yang memang ada di tempat itu).
Rafa : Hhhhmmmm, maluuuu ah.

Ai : Ih, kamu bisa malu juga?
Rafa : Bisa lah, kan aku rakyat jelata bukan Presiden Amerika!

Ai : Memangnya Presiden Amerika gak punya malu apa?
Rafa : Bisa juga sih, tapi mereka itu harus jaim.

Ai : Ih bisa aja kalau ngeles, terus emang kamu malu sama siapa? Biasa juga cuek.
Rafa : Aku malu ih, kan banyak orang disini.

Ai : Emang kamu orang?
Rafa : Bukan sih, he he he…

Ai : Nah itu kan, terus kamu siapa?
Rafa : Bos batman!

Kemudian rafa maju kedepan, mendekati beberapa orang performer yang sebelumnya menyanyi didepan. Dia benar-benar mau bernyanyi. Kupikir dia malu beneran, ah bisa-bisanya aku cepat percaya dengan kata-katanya. Mana mungkin dia bisa malu dengan hal kecil seperti itu? Dia kan rafaku.

Rafa sudah mengambil salah satu gitar dan mencoba memainkannya. Dan kemudian…

Rafa : Check check! Ah, maaf tadi udah di check duluan ya sama mas-mas yang nyanyi tadi. He he he…

Dan semua orang menjadi tertawa melihat tingkahnya.

Duh rafa, kamu itu ya jangan malu-maluin dong. Kalau kamu malu-maluin aku tinggalin pulang duluan nih!?

Rafa : Tolong cewek yang disana jangan senyum-senyum (tunjuk rafa kearahku). Yang boleh senyum cuma yang senyumannya manis. Kalau dia maksa senyum nanti aku takut aku jadi suka.

Ih, apaan sih! Awas aja ya nanti, gak akan aku senyum-senyum lagi ke kamu. Aku kesal karena aku jadi salah tingkah dilihat banyak orang.

Dia menutup matanya beberapa saat, hening untuk beberapa detik sampai membuat kami menunggu. Sampai akhirnya dia memetikkan senar gitarnya dan mulai bernyanyi

(Joe Jonas – I Gotta Find You)

Every time I think I’m closer to the heart
What it means to know just who I am
I think I finally found a better place to start
No one ever seems to understand
I need to try to get to where you are
Could it be you’re not that far?

You’re the voice I hear inside my head
The reason that im singing
I need to find you
Gotta find you
You’re the missing piece I need
The song inside of me
I need to find you
I gotta find you

Aku terbangun gara-gara handphoneku berbunyi. Kulihat ini masih jam 6 pagi.

Siapa yang menelepon sepagi ini!?

Ai : Hallo.
Rafa : Ai…

Ai : Rafa? Ada apa pagi-pagi telpon?

Dia cuma diam dan tidak menjawab pertanyaanku. Kalau seperti ini biasanya ada sesuatu yang membuat moodnya rafa jelek.

Ai : Kamu kenapa?

Rafa : Gak ada apa-apa. Ya udah nanti ku telepon lagi ya.
Ai : Gak mau, kamu kenapa kutanya!? Tanyaku sedikit memaksa.

Rafa : Udah nanti aja, nanti aku jemput kamu.
Ai : Gak mau! Sekarang atau gak sama sekali!

Rafa : Hmmm, ai…
Ai : Iyaa, ada apa sebenernya? (aku sekarang sudah mulai benar-benar terjaga dari rasa ngantukku)

Rafa : Sepertinya kita gak bisa ngelanjutin hubungan kita lagi…

Aku terdiam sesaat setelah mendengar ucapannya.

Ai : Kenapa? Aku ngelakuin sesuatu yang salah? Aku menyakiti hatimu?
Rafa : Bukan itu ai, bukan itu…

Ai : Lantas apa!? Kenapa kamu tiba-tiba secara sepihak memutuskan hal seperti ini! (ucapku dengan nada lebih tinggi sekarang. Aku kesal, aku benar-benar marah saat itu)

Rafa : Karena kita berbeda agama.

Sudah kukatakan sebelumnya kepada kalian kalau hal ini adalah satu-satunya hal yang kutakuti dan pasti akan menjadi permasalahan kami cepat atau lambat. Dan ternyata pikiranku benar, masalah itu akhirnya datang.

Sebelumnya kekhawatiranku agak berkurang karena kupikir rafa terlihat tidak mempermasalahkan perbedaan kami. Begitu juga dengan bunda, bunda bilang kepadaku bahwa perbedaan agama kami tak menjadi masalah. Tapi sekarang masalah itu datang kembali.

Ai : Maksudmu apa? Bukankah selama ini hal itu tidak pernah menjadi masalah dengan kita? Bahkan bunda juga bilang gak ada masalah dengan hal itu, kamu juga ada waktu itu kan!? Kamu pasti dengar apa kata bunda.

Rafa : Iya memang, aku tak masalah dengan itu. Aku juga dengar bunda bilang seperti itu kepadamu. Tapi ayah berbeda.

Rafa : Ayah, tak setuju setelah aku bilang kepadanya kalau aku ingin mengajakmu ke jenjang yang lebih serius. Ayah bilang bahwa keluarga besar kami tak akan mau menyetujuinya, karena ini sudah wasiat dari kakek ayahku kepada garis keturunan beliau.

Mendengar apa yang rafa ucapkan, aku tak sadar bahwa aku mulai menangis. Hatiku sakit mendengarnya.

Ai : Bisakah aku, bisakah aku bertemu dengan ayahmu? Kamu tau ayah dan mamahku juga tak pernah mempermasalahkan hal ini!? Aku yakin kalau keluarga kita bertemu, pasti akan ada jalan keluar.

Rafa : Aku sudah coba bilang seperti itu ai, aku sudah berkali-kali menjelaskannya kepada ayah. Bahkan aku sudah bilang ke ayah, aku tak akan mau menikah dengan orang lain selain kamu. Karena aku benar-benar mencintaimu.

Rafa : Tapi, tapi ayah bersikeras. Ayah malah menyuruhku memilih dia apa kamu.

Rafa : Aku harus bagaimana ai? Aku baru saja kehilangan bunda, apa sekarang aku harus kehilangan ayah juga?

Ai : Gak, aku gak mau kamu kehilangan siapa-siapa lagi setelah bunda. Biarlah aku yang pergi, ayahmu juga masih membutuhkanmu saat ini.
Rafa : Ai… maafin aku.
Ai : Gak rafa, kamu gak perlu minta maaf. Ini bukan salah kamu.

Ai : Ini semua hanya karena kita yang berbeda agama.


cerbung.net

He’s My Doctor!

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset