He’s My Doctor! episode 11

Chapter 11

21
Aku Datang Bukan Untukmu

Aku benar-benar kesal dan benar-benar marah. Tidak, mungkin lebih tepatnya aku sedang sangat bersedih sekarang. Kata-kata karena kita berbeda agama itu seperti terdengar berulang-ulang di kepalaku dan tak bisa kuhentikan.

Kenapa pada akhirnya harus berakhir seperti ini? Aku merasa ini sangat tidak adil. Tidak cukup kah alasan karena kami saling mencintai sebagai satu-satunya syarat untuk hubungan kami? Mengapa harus membawa masalah agama ke dalam hubungan kami. Aku mencintainya tidak lebih dan tidak kurang, tidak ada alasan lain yang tersembunyi dibalik itu.

Salahkah jika kami yang berbeda agama hidup bersama? Salahkah jika kami yang berbeda agama saling mencintai? Lantas bagaimana dengan orang-orang yang diluar sana yang bahkan tidak mempercayai Tuhan atau kepercayaan dapat saling hidup bersama dengan pasangan yang mereka sukai?

Terus apa lagi alasannya!? Apa karena masalah budaya? Karena masalah adat yang membuat peraturan mutlak untuk hal itu? Apakah memalukan jika anak-anak mereka berpasangan dengan orang yang berbeda agama dengan mereka? Bahkan jika mereka saling mencintai dan tetap saling menghormati agama masing-masing?
Aku masih tidak dapat menerimanya, sampai aku benar-be
nar dapat penjelasan yang jelas dari keluarganya! Baiklah, aku tak akan perduli dengan bagaimana hasil akhirnya. Tapi aku tak ingin menyesal nantinya jika sekarang aku tak bisa memperjuangkan perasaanku. Seseorang yang telah berjasa besar dalam hidupku, yang telah membuatku merasa kalau hidupku masih terlalu indah untuk aku lewati dalam jurang kesedihan.

Aku akan menyesal jika aku hanya berdiam diri saja seperti ini!

Aku akan menemuinya, menemui keluarganya. Apapun jawaban mereka aku akan terima yang jelas aku harus datang.

Aku akhirnya tiba di depan rumahnya. Saat itu kulihat di rumahnya sedang ada tamu. Apakah aku harus menunggu terlebih dahulu sampai tamu itu pergi? Tidak, aku akan tetap ke dalam sekarang. Karena kulihat mobil rafa ada, dan artinya dia sekarang juga ada di rumah.

Ai : Permisi.
Rafa : Ai.

Aku terkejut, benar-benar terkejut setelah aku melihat siapa tamu itu. Dia adalah eri bersama dengan orang yang kuyakini sebagai kedua orang tuanya. Tapi sedang apa eri beserta kedua orang tuanya berada di rumah rafa?

Ai : Maaf, tampaknya waktu saya kurang tepat datang kemari.
Rafa : Ai, tunggu sebentar.
Eri : Ah, ai. Gak papa kok.
Ayah : Kiki, gak papa. Ayo masuk dulu. Lagipula kamu sepertinya datang jauh-jauh dari Bandung. Masuklah terlebih dahulu.

Ai : Gak papa yah, tadi habis dari tempat teman. Jadi sekalian aku mampir sebentar kesini. Jawabku sebagai alasan.
Rafa : Benarkah? Kamu habis dari tempat siapa?
Ai : Teman. Jawabku tersenyum kepadanya.
Eri : Sini duduk ai, sinii aku kangen sama kamu. He he he…
Ai : Iya, he he he…
Ayah : Oh iya, mumpung ada nak kiki disini. Kami saat ini dan keluarga nak eri sedang membicarakan tentang pernikahan rafa dan eri.

Ayah : Ayah sudah berpikir berkali-kali semenjak bundanya rafa meninggal. Rafa harus cepat menikah agar ada yang bisa mengurusnya. Jadi ayah juga akan mengundang nak kiki beserta keluarga jika waktunya pernikahan rafa dan eri sudah ditetapkan.
Eri : He he he, ayah, kan kita belum menentukan tanggal tepatnya. Undangannya aja belum ada lho ayah.

Aku terdiam mendengarnya. Benarkah, benarkah secepat ini dia akan benar-benar meninggalkanku?

Rafa : Maaf ai, jika ini terlihat sangat mendadak. Tapi ini sudah kemauan fix dari ayah. Dan ayah sebenarnya udah suka pada eri sejak eri pertama kali datang ke rumah, sewaktu ulang tahun bunda dan dilan.

Rafa : Aku sebenarnya sudah berniat nanti malam ke rumahmu untuk memberitahukan hal ini kepadamu dan juga pada mamah.
Ai : Gak perlu.
Rafa : Ai…
Ai : Cukup aku saja yang tahu, nanti mamah biar aku yang kasih tahu. Jawabku tersenyum kepadanya.

Ai : Ayah, yang aku lihat rafa dan eri cocok. Mereka sangat serasi dan bisa saling melengkapi satu sama lain.

Ai : Rafa, kamu dan eri beneran sangat serasi. Dan aku sangat bahagia jika kalian benar-benar menikah nantinya. Aku pastikan aku akan datang ke pernikahan kalian.

Ai : Selamat ya ri, aku turut berbahagia untuk kalian.

Ai : Maaf, sepertinya saya harus pulang sekarang. Saya sudah ada janji dengan mamah nanti malam.
Rafa : Ai, tunggu sebentar. Aku ikut denganmu.
Ai : Gak perlu rafa. Kamu mau kemana? Disini ada eri, kamu gak boleh pergi.

Ai : Oh iya, eri aku punya sesuatu untuk kamu.
Eri : Benarkah, apa itu ai?

Kemudian aku melepaskan kalung yang tergantung di leherku. Kalung bintang layang-layang yang diberikan bunda kepadaku.

Ai : Ini, kamu harus menerimanya. Ini bukan kepunyaanku. Kalung ini pemberian dari bundanya rafa kepadaku. Tapi kupikir kalung ini lebih pas untuk kamu.
Eri : Tapi kata kamu, kalung ini pemberian dari bundanya rafa kepadamu.
Ai : Memang, tapi waktu itu bunda bilang kepadaku kalung ini akan diberikannya kepada seseorang yang akan berharga untuk rafa. Dan kamu akan menjadi orang yang berharga untuk rafa.
Rafa : Aii!

Ai : Saya pamit pulang, permisi.
Bunda : Kamu mau kemana sayang?

Apakah aku bermimpi? Kenapa tiba-tiba ada bunda disini? Bukankah, bukankah bunda sudah meninggal.

Bunda :
Bunda memberikan kalung itu untuk kamu. Dan bunda tak salah memberikannya kepadamu.
Kamu tahu kenapa bunda memberikan kalung itu kepadamu?
Karena kamu bilang kepada bunda dengan tulus bahwa kamu sangat mencintai rafa. Bunda tahu kalau itu benar-benar serius kamu ucapkan, karena bunda bisa lihat dari matamu kalau kamu memang benar-benar mencintai anak bunda, rafa.
Itu hadiah istimewa dari rafa untuk bunda. Dan bunda dengan senang hati memberikannya kepadamu. Tapi kenapa kamu memberikannya kepada orang lain?

Ai : Bunda, bunda tapi bunda…

Krrrriiiiingggg krrrrriiingggg, alarmku berbunyi. Dan aku terbangun karenanya. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Kemana bunda? Tadi aku melihat bunda. Iya itu benar-benar bunda yang berbicara kepadaku.

Kemudian aku mencari kalung itu. Dan ternyata kalung itu masih tergantung di leherku.

Ternyata aku bermimpi…
Tapi benarkah aku hanya bermimpi? Aku kemudian menelepon rafa untuk memastikannya.

Rafa : Kenapa ai?
Ai : Kamu dimana?
Rafa : Di rumah. Tumben telepon jam segini, kenapa? Kangen ya?

Aku hanya diam mendengar ucapannya.

Rafa : Halo? Halo? Ai?
Ai : Bisa kita ketemu hari ini?
Rafa : Kamu kenapa?
Ai : Bisa kita ketemu hari ini!? Tanyaku setengah berteriak kepadanya.
Rafa : Iya bisa.

Pada malam harinya kami bertemu di mall ciwalk, di daerah cihampelas walk, Bandung. Aku sengaja datang lebih dahulu ke tempat ini, karena tempat ini akan selalu mengingatkanku saat aku dengannya menghabiskan waktu.

Bermain di arena bermain seperti layaknya anak muda yang pacaran. Kalau kalian mau tahu, rafa itu orangnya gak suka ngalah. Contohnya aja ya setiap kali dia kalah main balapan mobil, dia selalu gak mau berhenti sampai dia bisa menang. Meski pada akhirnya dia gak menang-menang tapi bukan berarti dia mau menyerah. Dia malah menyuruh anak kecil ikut main balapan mobil denganku untuk menggantikannya. Dan dia senang bukan main setelah anak kecil itu mengalahkanku. Aneh kan? Dia bilang kalau aku payah bisa dikalahin anak kecil.

Rafa, rafaku, kamu itu aneh, kamu itu nyebelin, gak suka kalau kalah. Tapi kamu lucu dan aku sayang sama kamu.

Dia akhirnya datang, dan menemuiku di salah satu tempat makan di sana.

Rafa : Udah lama ai?
Ai : Lumayan. Gimana hari ini di RS?
Rafa : Capek.

Rafa : Kamu tau nenek yang jualan cireng di kantin?
Ai : Iya, kenapa? Neneknya sakit?
Rafa : Enggak, katanya sebulan ini ikutan yoga sama balet
Ai : Balet, yang benar kamu?
Rafa : Kamu ih, gak percayaan. Katanya sih bisa berdiri pake satu kaki dia sekarang.

Aku hanya berpura-pura terlihat seakan-akan percaya terhadap omongannya, padahal aku yakin sekali kalau itu cuma karangannya. Dia emang kalau ngarang jagonya, imajinasinya seperti anak kecil, tapi unik. He he he.

Rafa : Jadi ada apa denganmu tadi pagi? Tanyanya kepadaku langsung ke topik.
Ai : Kamu makan dulu aja, kamu belum makan pasti. Kasian.
Rafa : Iya nih acian, lapaar, inta ciummmm. Jawabnya manja dan bicara niru-niru dilan.
Ai : Iiiih aciaaann ayangkuu, nih cium. Aku arahkan sendok ke bibirnya.
Rafa : Iiih!
Ai : He he he.

Dia kemudian makan, sedangkan aku saat itu tidak lapar sama sekali. Aku hanya bilang kepadanya kalau aku sudah makan duluan sebelum dia datang. Tapi nyatanya susah sekali bagiku untuk bersikap tenang saat ini.

Yang aku inginkan saat ini hanya memuaskan diri untuk memandangnya. Memandang dia ketika dia sedang makan, memandangnya ketika dia tersenyum, tertawa, cemberut, ketika sedang manja. Aku ingin melihat semuanya hari ini.

Setelah selesai makan, aku mengajaknya nonton. Aku suka sekali saat dia menggenggam tanganku secara bergantian. Seolah-olah dia tidak ingin tanganku kedinginan. Aku juga suka saat dia mengenakan jaketnya kepadaku. Aku yakin dia saat itu juga merasa kedinginan karena aku bisa merasakan tangannya yang bergetar karena kedinginan.

Rafa, rafaku sayang. Aku suka sekali dengan perhatian dan caramu menjagaku.

Kemudian aku menyandarkan kepalaku di pundaknya. Menyilangkan tanganku ke lengannya dan menggenggam tangannya yang lain dengan sebelah tanganku yang lainnya juga. Yang ada di pikiranku saat itu bukan film yang sedang kami tonton, sama sekali bukan. Tapi dia!

Tuhan, aku benar-benar menyukai orang ini. Bisakah Engkau membuat kami terus bersama seperti ini?

Dan air mata itu menetes dari mataku…

Rafa : Ai, kamu kenapa? Tanya rafa kepadaku setengah berbisik.

Aku sudah sekuat mungkin tidak mengisakkan tangisku, tetapi rupanya air mata itu jatuh mengenai dirinya. Sehingga dia sadar saat itu aku sedang menangis.

Rafa : Sayang, kamu kenapa? Ada masalah?
Ai : Enggak kok sayang, aku cuma teringat bunda.

Kemudian rafa mencium keningku…

Rafa : Bunda ada di sini, dia selalu bersamamu. Kata rafa sambil memegang kalung bintang layang-layang yang ada di leherku.

Selesai menonton, kebetulan saat itu taman bermain di tempat itu masih buka. Aku bersikeras mengajaknya untuk bermain disana.

Rafa : Gimana kalau besok aja ai? Aku sudah capek banget.
Ai : Gak mau! Nanggung rafa, udah disini. Lagian juga bentar lagi mau tutup.
Rafa : Ya kan besok masih bisa kesini, dan kita bisa main lebih lama?
Ai : Emoh! Ayoooooo sayanggg. Pintaku setengah memaksanya.

Rafa : Kamu kenapa sih? Kamu gak seperti biasanya.
Ai : Aku mohon rafa. (Kali ini aku meminta kepadanya dan dengan mataku yang tampak sudah berkaca-kaca).
Rafa : Sebenarnya kamu kenapa ai? Ya udah yo kita kesana.

Sseperti biasanya dia selalu bisa mengalahkanku dalam main lempar bola basket. Dan beberapa permainan lainnya. Namun ketika permainan balapan mobil, dia senang bukan kepalang karena akhirnya dia bisa mengalahkanku.

Rafa : Yeeeeeeeyyyyy! Aku menang! Ha ha ha…
Ai : Ahhh kalaaaaahhhhh! Tapi kok kamu seneng banget sih? Baru juga menang sekali main ini sama aku.
Rafa : Ya karena pertama kali, aku jadi senang banget. He he he.

Kamu pasti senang banget. Maafin aku ya rafa? Selama ini aku selalu egois dan tidak perduli dengan watakmu yang gak suka ngalah. Sedangkan kamu selalu mengalah padaku, apapun yang aku inginkan. Jadi biarlah kali ini aku mengalah meski saat ini aku hanya bisa melakukannya melalui hal kecil seperti ini.

Kami kemudian akhirnya pergi karena karyawan tokonya bilang sudah mau tutup.

Ai : Yah, kok cepat banget sih tutupnya. Aku kan masih mau main. Ucapku setengah merengek.
Rafa : Cepat apanya, sudah jam segini wajar lah kalau mereka mau tutup. Besok kan juga masih bisa.

Bukan karena itu rafa, bukan karena aku ingin main lebih lama, bukan itu sebenarnya. Lagi-lagi aku tak bisa menahan air mataku.

Rafa : Ai…
Rafa : Kali ini kamu harus cerita padaku kamu kenapa!

Aku kemudian mencium bibirnya…

Rafa, rafa sayangku. Maafkan atas semua kelemahan-kelemahan yang pernah aku perlihatkan kepadamu. Aku bersyukur, sangat bersyukur pernah bertemu dan pernah kenal denganmu. Waktu-waktu yang pernah kuhabiskan bersamamu, sama seperti saat ini, adalah waktu-waktu yang paling indah bagiku. Dan momen-momen saat sedang bersamamu tak akan pernah akan aku lupakan seumur hidupku.

Rafa : Barusan apa yang terjadi?
Ai : Barusan aku habis cium kamu. Jawabku tersenyum kepadanya.

Kemudian aku melepaskan kalung bintang dari leherku.

Ai : Maaf rafa, aku gak bisa menjaga ini lebih lama lagi.
Rafa : Maksud kamu apa?
Ai : Maksudku, kita gak bisa meneruskan hubungan kita lagi.
Rafa : Kenapa ai? Apa aku ada salah kepadamu? Apa aku ada menyakiti hatimu?
Ai : Bukan itu rafa, bukan itu.
Rafa : Lantas apa!?
Ai : Karena berbagai alasan.
Rafa : Dan alasannya itu apa!? Tanya rafa sedikit berteriak kepadaku.

Aku yakin saat itu dia benar-benar marah.

Ai : Karena aku ingin kamu bahagia.
Rafa : Apa maksudmu? Aku bahagia denganmu.
Ai : Tapi aku enggak! Jawabku berbohong kepadanya.

Sungguh aku tidak bisa menemukan alasan lain lagi untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan lain yang akan keluar dari mulutnya.

Rafa : Kenapa? Apa aku gak bisa membahagiakanmu selayaknya yang radit lakukan kepadamu dulu?
Ai : Iya
Rafa : Baiklah, aku mengerti. Tapi bisakah kamu berikan aku kesempatan sekali lagi? Ajarkan aku bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu lebih bahagia?
Ai : Meski kamu, aku berikan kesempatan sekali lagi pun, itu tidak akan bisa merubah apa-apa rafa.
Rafa : Kenapa?
Ai : Karena kita berbeda agama.


cerbung.net

He’s My Doctor!

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset