He’s My Doctor! episode 12

Chapter 12 : Tamat

Semenjak malam itu, rafa selalu menghubungi handphoneku, dan selalu memberikanku pesan untuk bisa bertemu denganku. Aku selalu menolak panggilan telponnya dan menjawab enggak setiap kali aku membalas pesannya.

Malam itu…

Rafa : Kenapa agama jadi dipermasalahkan sekarang?

Rafa : Kita gak pernah mempermasalahkan ini sebelumnya. Aku menghormati agamamu dan aku pikir kamu juga menghormati agamaku. Tidakkah itu cukup?
Ai : Mungkin itu cukup bagi kita, tapi itu mungkin belum cukup untuk keluarga kita.
Rafa : Kita tidak akan tahu selama kita belum mencobanya.
Ai : Aku memohon padamu berlapang dada untuk menerima keputusanku. Kita belum menikah, dan kupikir aku punya hak untuk bersikap seperti ini.

Rafa terdiam, dia tidak berkata apa-apa karena memang jawabanku tidak salah.

Rafa : Kalau begitu, izinkan aku bertemu ayah dan mamah kamu sekali saja.
Ai : Untuk apa?
Rafa : Untuk membicarakan masalah ini! Mungkin saja mereka mau memberi kesempatan untuk mendengarkan permintaanku.
Ai : Gak usah!
Rafa : Kenapa?
Ai : Kamu boleh menggangguku tapi kamu gak boleh mengganggu kedua orang tuaku!

Dan aku pun kemudian meninggalkannya sendirian disana.

Maafkan aku rafa, maafkan aku bunda, aku minta maaf.

Inilah satu-satunya yang bisa aku lakukan agar kamu bisa bahagia rafa, tolong mengertilah, semua yang kulakukan hanya untuk kebahagiaanmu. Biarlah aku yang mundur dari kamu, aku tidak ingin kamu terluka ketika kamu memilihku. Sudah cukup kehilangan bunda sebagai kehilangan terbesar dalam hidupmu.

Sudah 1 bulan aku dan rafa tidak pernah berkomunikasi dan betemu lagi. Aku pikir dia sudah terbiasa tanpa diriku sekarang. Atau mungkin dia sudah menemukan penggantiku saat ini. Kalaupun iya, selamat ya rafa, semoga dia bisa membahagiakanmu lebih dari aku dan yang penting dia seiman denganmu.

Sedangkan aku, aku masih seperti dulu. Aku menyibukkan diri di kantor sebulan ini, mengerjakan berbagai kegiatan yang sebenarnya bukan job deskku. Tapi selama itu bisa membantuku agar aku bisa menghabiskan waktuku tanpa memikirkannya, aku akan melakukannya.

Memang ada beberapa laki-laki yang mulai mendekatiku setelah mereka menyadari aku tidak pernah bersama rafa lagi. Karena memang kadang aku suka telponan sama rafa ketika jam istirahat atau bahkan kami bertemu untuk makan siang bersama. Kadang rafa juga bersikeras untuk menjemputku kalau dia sedang shift malam di rumah sakit. Dan rafa juga sudah terlalu sering mengantar dan menjemputku ketika aku gereja setiap minggunya.

Tapi dari semua laki-laki yang berusaha mendekatiku tersebut, tak ada satupun yang bisa membuat hatiku goyah. Memang tak akan ada yang bisa sesempurna rafa dimataku, minimal yang bisa membuat hatiku berdegup kencang itu belum ada. Dan aku sendiripun saat ini sangat tidak tertarik untuk membuka jalan bagi semua laki-laki yang berusaha mendekatiku.

Sore harinya saat itu aku dan beberapa temanku memutuskan untuk pergi ke mall ciwalk untuk pergi berbelanja sekalian nonton mungkin. Aku tak ingin tahu terlalu banyak, aku hanya ingin menghabiskan waktu saja bersama mereka. Karena jika aku sendirian aku selalu terpikirkan dirinya dan ketika sudah terpikirkan dirinya aku akan merindukannya.

Aku dan teman-temanku menghabiskan waktu untuk membeli baju, sepatu bahkan juga tas. Tapi aku sendiri, tak berminat pada benda-benda tersebut. Aku hanya senang menemani mereka. Kemudian kami mampir ke salah satu toko perhiasan. Aku melihat banyak kalung yang dibuat dengan berbagai bentuk. Namun dari semuanya tak ada yang berbentuk layang-layang seperti kalung bunda.

Ai : Mas, ada gak kalung yang bentuknya layang-layang? Tanyaku kepada orang toko tersebut.
Pemilik Toko: Layang-layang? Wah sepertinya susah mbak, saya juga belum pernah melihat kalung berbentuk seperti itu.

Kemudian salah satu temanku, maya, bertanya padaku.

Maya : Igo, bukannya kamu punya kalung seperti itu? Teman-teman kantor memanggilku dengan panggilan Igo dari nama saigoku.
Ai : Iya, dulu.
Maya : Lho memangnya sekarang udah gak ada?
Ai : Iya.
Maya : Kok bisa? Hilang apa gimana?
Ai : Gak hilang, aku cuma melepaskannya.
Maya : Maksudnya?
Ai : Kita cari minum yuk, aku haus. Mintaku untuk mengalihkan pembicaraan.

Disaat kami sedang menuju ke salah satu kafe, maya kembali bertanya padaku.

Maya : Igo, igo, itu rafa kan?
Maya : Dia sama siapa igo?

Iya, yang maya lihat memang benar rafa. Akhirnya aku benar-benar melihat dirinya. Tapi aku langsung sedih ketika melihat ada wanita yang bersama dengan dirinya dan bahkan wanita tersebut melingkarkan tangannya ke lengan rafa.

Aku sebenarnya ingin berbalik arah dan pergi dari sana, sebelum rafa menyadari kehadiranku. Tapi aku tidak bisa, kenapa aku harus lari? Aku juga punya harga diri. Dan akhirnya rafa dan wanita itu tepat berada di depan kami.

Aku lihat rafa juga sepertinya menyadari aku ada disana. Kemudian dia berhenti.

Rafa : Gak nyangka kalau kita bertemu disini. Ucap rafa kepadaku.
Rafa : Apa kabarmu?

Aku hanya diam mendengar pertanyaannya tanpa menjawab sepatah katapun.

Maya : Rafa, kamu kemana aja? Wanita itu siapa? Tanya maya kepada rafa.
Rafa : Ah iya, raina kenalin ini maya. Rafa berbicara kepada wanita yang ada disampingnya.

Rafa : Dan dia…
Raina : Dia teman kamu juga?
Rafa : Bukan, dia orang yang melepaskanku.

Aku terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh rafa. Tapi aku tidak ingin berkata apa-apa saat itu. Akupun tidak ingin memandangnya terlalu lama. Aku takut, aku takut kalau memandangnya aku akan memeluknya.

Aku benar-benar merindukannya.

Rafa : Raina kamu duluan, nanti aku susul.

Rafa tiba-tiba meminta wanita yang ada di sampingnya untuk pergi terlebih dahulu, dan sekarang aku jadi tahu kalau nama wanita itu adalah raina.

Raina : Baiklah, tapi jangan lama-lama ya.

Kemudian wanita tersebut pergi, sedangkan rafa masih tak beranjak di depanku.

Ai : Maya, bisakah aku berdua dengannya sebentar? Nanti aku akan menyusul kalian.
Maya : Baiklah, rafa sampai ketemu lagi ya.
Rafa : Iya.

Rafa :
Bagaimana rasanya setelah melepaskanku? Kamu senang?
Bagaimana rasanya setelah mengabaikan semua telponku? Kamu menyukainya?
Bagaimana rasanya setelah habis-habisan menolak bertemu denganku? Kamu bahagia?
Sebegitu burukkah aku dimatamu sehingga ketika bertemu denganku secara tak sengaja pun kamu tak mau memandang wajahku?

Dia menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa kujawab, begitulah rafa, dia sama sekali tak berubah. Dia akan sangat ofensif seperti itu ketika dia benar-benar marah terhadap seseorang.

Ai : Kupikir kamu yang senang, toh kamu sudah mendapatkan wanita barumu.
Rafa : Benarkah?
Ai : Maksudmu?

Rafa : Taukah kamu seberapa sakitnya hatiku ketika kau tinggalkan aku malam itu?
Ai : Aku tahu. Jawabku singkat.

Aku tahu kamu pasti sakit sekali waktu itu. Tapi aku juga sakit rafa.

Rafa : Benarkah kamu tahu? Lantas apa kamu juga tahu aku adalah tipe orang pendendam?

Rafa : Aku sudah memutuskan untuk membalas sikapmu kepadaku. Dan kalau kamu pikir ini adalah salah satu caraku untuk membalas dendam kepadamu. Itu terserah kamu, tapi aku bisa pastikan aku masih belum selesai melakukan pembalasan dendam itu.
Ai : Itu terserah kamu. Kamu punya hak untuk melakukannya. Lakukanlah sesukamu, aku terima.

Malam yang cerah dan penuh bintang. Tak lama aku melihat langit akhirnya aku bisa menemukan bintang layang-layang.

Ai : Rafa, apakah kamu melihat langit malam ini? Bintangmu sedang bersinar terang malam ini.

Aku merindukanmu rafa…

Sudah beberapa hari setelah pertemuanku dengan rafa waktu itu. Dan sampai hari ini aku belum ada mendengar kabar apapun darinya. Dia tidak ada menghubungiku sama sekali.

Aku menjadi menyesal kenapa waktu itu aku terlalu cuek dan aku bahkan tak mau lama-lama memandangnya. Padahal sudah hampir satu bulan kami tidak bertemu.

Mamah : Aaaaiiiii
Ai : Iya maaahh?
Mamah : Di depan ada tamu, bisa kamu keluar sebentar? Mamah lagi sibuk di dapur nih.
Ai : Iyaaaa.

Aku kemudian keluar kamar dan menuju ke depan untuk membukakan pintu. Aku benar-benar terkejut, ternyata tamu yang datang saat itu adalah rafa. Dan tidak hanya rafa, ada ayah dan juga dilan.

Dilan : Kaaaaak aaaiiiiii! ilaan aannggeeennnn (Kak ai, dilan kangen). Ucap dilan sambil memelukku.

Ai : Dilan.
Rafa : Boleh kami masuk? Kami jauh-jauh datang dari Jakarta lho.
Ai : Iya, silahkan masuk.

Ai : Ayah, dilan silahkan duduk.
Rafa : Kamu gak nyuruh aku duduk?

Aku kemudian menarik rafa keluar.

Ai : Maksudmu apa datang kemari? Tanyaku kepada rafa.
Rafa : Balas dendamku yang terakhir.
Ai : Aku sudah bilang kepadamu, kamu boleh menggangguku tapi tidak pada orang tuaku!
Rafa : Sudah terlambat, aku sudah disini. Kalau kamu gak suka, silahkan usir aku dan ayahku dari sini sekarang juga.

Aku tidak bisa berkata apa-apa padanya. Aku benar-benar mati langkah dibuat rafa malam ini. Tak lama kemudian mamah datang dari dapur.

Mamah : Oaaallaaaah rafaaa! Wah ada ayahnya rafa juga sama dilan.

Mamah : Darimana aja kamu rafa? Mamah kangen sekali sama kamu.
Rafa : Iya rafa juga kangen sama mamah, tapi aku dilarang anaknya mamah ini datang ke rumah.
Mamah : Lho kenapa? Katanya ai kamu lagi sibuk di rumah sakit.
Ai : Mah, aku ke dapur bentar ya buatin minum. Ucapku untuk mengalihkan pembicaraan.
Mamah : Lho kamu mau kemana? Rafa kesini buat ketemu kamu juga. Biar mamah saja yang buat minum. Kamu disini aja. Ucap mamah kepadaku.
Rafa : Rafa datang kesini bukan untuk bertemu dengannya kok mah.

Apa maksudnya? Kalau dia kesini bukan untuk bertemu denganku, lantas apa sebenarnya yang direncanakan olehnya!?

Rafa : Rafa datang untuk masa depan rafa.
Mamah : Masa depan? Maksudnya rafa?

Kemudian ayah rafa yang saat itu diam, berbicara pada kami.

Ayah : Kami kesini sebenarnya atas permintaan rafa untuk melamar nak kiki. Saya pikir rafa sudah bilang sebelumnya ke ibu ataupun kiki.
Mamah : Melamar kiki, rafa? Tanya mamah sedikit kaget kepada rafa.

Aku sendiri pun sangat kaget waktu mendengar ayah bilang seperti itu, aku hanya terdiam dan aku tak bisa berpikir apa-apa waktu itu.

Rafa : Iya mah, rafa kesini bareng keluarga rafa, ada ayah dan dilan juga. Untuk secara resmi meminta izin dan restu dari mamah agar rafa bisa menikah dengan ai.
Mamah : Waah surprise banget! Mamah malah nunggu momen ini udah dari lama. Mamah dan ayahnya ai akan sangat bahagia jika benar rafa mau menikahi anak kami.

Ai : Tapi kami berbeda agama mah, akan sulit untuk kami jika kami bersama.
Rafa : Lagi-lagi masalah itu, kamu terlalu memikirkan hal-hal yang harusnya gak usah kamu pikirkan. Bahkan gara-gara itu kamu benar-benar menjauhiku.

Kemudian rafa mengeluarkan kalung bintang layang-layang dari sakunya dan dia kalungkan ke leherku.

Rafa : Kalung ini adalah kalung bunda, ketika bunda memberikannya kepadamu maka itu sudah menjadi milikmu.

Rafa : Dan asal kamu tau, aku sangat senang ketika kamu bilang padaku, bunda memberikannya padamu.
Ai : Tapi bukannya kamu sudah punya wanita baru?

Ayah : Wanita baru? Siapa rafa?
Rafa : Oh itu raina ayah, kemarin kan pas dia ke Bandung. Rafa ajakin dia jalan-jalan ke mall dan ketemu ai. Terus ai nya menyangka raina itu pacar baru rafa.

Ternyata raina itu sepupunya rafa, yang datang dari Jakarta. Ah aku jadi malu setelah tahu hal ini.

Ayah : Kiki, rafa sudah cerita tentang masalah yang terjadi pada kalian. Percayalah ketika bundanya rafa memilihmu maka ayah juga sama.

Ayah : Ayah tak ada masalah terhadap perbedaan agama kalian, selama itu tidak menjadi masalah dalam kehidupan pribadi kalian kelak. Dan ayah harap kalian tetap bisa hidup bersama dengan saling menjaga dan menghormati agama masing-masing.

Aku terharu mendengar apa yang diucapkan oleh ayah. Ternyata ayah juga menerimaku untuk bisa bersama dengan rafa.

Rafa kemudian memelukku dan berkata, “maukah kamu menikah denganku?”. Dan ketika aku mendengar pertanyaan itu dari rafa, entah ini nyata atau sekedar pikiranku yang tiba-tiba teringat bunda. Aku melihat bunda berdiri di depan pintu sambil menganggukkan kepalanya, menandakan agar aku mengiyakan permintaan rafa sambil tersenyum kepadaku.

Ai : Iya aku mau…


cerbung.net

He’s My Doctor!

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset