He’s My Doctor! episode 2

Chapter 2

5
Bandung

Pagi harinya aku berangkat ke Bandung. Seperti kataku, aku membawa kebutuhanku cukup seperlunya untuk sementara sampai aku menemukan tempat tinggal disana. Dan jika aku membutuhkan sesuatu aku tinggal balik ke Jakarta untuk mengambilnya. Lagipula aku akan rindu dengan orang rumah jika aku lama tidak bertemu mereka.

Lagi-lagi bunda dan bi odah jadi penyelamatku, kali ini sebelum berangkat aku lupa mengenakan celanaku. Iya, karena waktu itu aku bangun kesiangan. Soalnya pada malam harinya, aku bersikeras untuk ikut berpartisipasi menjaga komplek kami bersama Pak Akim. Siapa itu Pak Akim? Beliau adalah satpam di tempatku, biasanya beliau ngeronda bersama Pak Asep. Namun saat itu Pak Asep sedang pulang kampung.

Bunda : Rafaaaa, kamu mau ke Bandung pakai celana pendek?
Rafa : Aaahh, iyaa celana! Celana rafa bun tolong ambilin di kamar.
Bunda : Kamu itu yaa, kebiasaan!? Bi odah, tolong ambilin celananya rafa di kamar sekalian tolong setrikain sebentar (teriak bunda ke bi odah)
Bi Odah : Baik bu.

Kemudian bi odah langsung buru-buru masuk kamarku.

Bunda : Gimana coba kalau kamu disana sendirian, bunda jadi khawatir sama kamu.
Rafa : Tenang bun, nanti aku kalau mau tidur pake baju kantor deh. Jadi besoknya tinggal berangkat.
Bunda : Kamu pikir kaya superman, kemana-mana bawa baju tugasnya!?
Rafa : Hoho, boleh juga superman. Superman! (ucapku ke arah dilan yang waktu itu juga sedang sarapan denganku).
Dilan : Emoh, eeeetmeeennn! Ucapnya sambil makan. Dari mulut sampai hidungnya penuh bekas makanannya, maklum dia memang masih belum terbiasa makan sendiri.

Dilan memang pencinta batman, makanya kalian gak usah bingung. Aku sudah berkali-berkali mencoba meracuninya dengan tokoh superhero lain, seperti Rano Karno, eh salah itu mah “Si Doel Anak Sekolahan” ya? Maksudku superhero lain semacam superman, hulk, iron man sampai songokunya dragonball. Tapi dia menolaknya, bahkan menjadikan mainan tokoh superhero lain yang kubelikan itu sebagai musuh mainan batmannya.

Rafa : Ayah udah berangkat bun?
Bunda : Iya, ayah berangkat tadi subuh-subuh.
Rafa : Ayah memang sampai berapa lama di Perancis bun?
Bunda : Katanya sih seminggu. Makanya itu ayah lagi jauh, kamu juga mau pergi. Kamu gak kasihan sama bunda dan dilan?
Rafa : Mulai lagi deh, mellow lagi.
Bunda : Terus kamu itu ngapain coba ikutan ngeronda? Kan jadi telat bangun. Apalagi ke Bandung pasti bakal macet kalau berangkat jam segini.
Rafa : Ya udah mau gimana lagi, hari ini paling rafa juga cuma sebentar bun di kantor. Perkenalan terus ngurus beberapa berkas.

Rafa : Lagi, bunda gak kasihan sama Pak Akim yang beberapa hari ini menjaga komplek kita sendirian?
Bunda : Iya, tapi pas ada kamu malah gak keliling komplek sama sekali. Kalian malah asik main playstation kan!?
Rafa : Wuiihhh, tul! (betul!), nar! (benar!), ren! (keren!). Ucapku sambil memakan roti yang sudah disiapkan bunda.

Rafa : Nda, au ri na? (Bunda, tau dari mana?). Tanyaku sambil mengunyah sarapanku
Bunda : Taulah, orang pagi-pagi Pak Akim nganterin playstation nya ke rumah.
Rafa : Ih, dibilangin balikinnya pas ada rafa aja, ketauan kan jadinya. Gak jadi keren deh. (Gerutuku, kemudian kembali melahap roti keduaku)

Aku akhirnya tiba di Bandung kurang lebih jam 11 siang. Yah, mau bagaimana lagi, di jalan macet. Kalau bisa kugotong, kugotong deh mobilnya. Tapi bagi kalian, baik kalian itu Dokter atau siapapun kalian. Jangan pernah mengikuti kelakuanku ini, itu hanya akan membuat kalian terlihat buruk dimata orang lain dan juga dimataku. Lho mengapa dimataku juga? Ya kalau tingkah laku kalian sama sepertiku, terus yang membedakan aku dengan kalian apa?

Bandung, bagiku saat ini mungkin hanya sekedar geografis. Tapi pada nantinya, Bandung akan lebih dari sekedar dari geografis bahkan akan melibatkan perasaan (Pidi Baiq).

6
Kamu

Aku, di tempat kerjaku yang baru. Kupikir sih tempatnya lumayan bagus. Ada pohon, kantin dan yang paling penting ada toiletnya. Bayangkan saja kalau tidak ada toiletnya? Mau jadi apa rumah sakit ini? Ah aku tidak ingin membayangkannya.

Andre : Morning
Rafa : Siang

Mari kukenalkan kalian dengan orang ini, kelak orang ini yang entah mengapa kok bisa menjadi teman baikku, namanya Andre. Kalau nama panjangnya Andre Bastian Sweisteigner, itu menurut versiku ya. Kalau dari versinya sendiri sih, nama panjangnya Andre Syaifuddin Utomo. Kalau kalian gak suka dengan versiku, aku sih tak mau pikir.

Dia itu English Man atau lebih tepatnya Morning Man, yang kadang-kadang kalau ngomong sama orang selalu dimuati dengan bahasa inggris. Makanya namanya kubikin british biar pas dengan orangnya. Dia sih katanya lulusan dari Harvard, tapi cuma sampai semester 5 habis itu pulang ke Indonesia buat nyelesein kuliahnya di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Katanya sih pas semester 5 dia disana, dia berbeda pola pikir dengan professor disana, sehingga dia tak betah. Itu sih katanya ya, coba aja kalian tanya sendiri ke dia bagaimana kisahnya yang sebenarnya.

Setiap kali menyapa orang-orang, entah itu ke teman-temannya, pasien-pasiennya, keluarganya atau bahkan nenek-nenek yang jualan cireng di kantin dia selalu menyapa dengan kata morning. Dia tak perduli entah saat itu sudah sore atau sudah malam hari. Kata dia, kita harus membentuk mind set kita agar semua selalu terasa di pagi hari (morning). Karena di pagi hari itu energi positif paling banyak berkumpul di sekitar kita, sehingga kita bisa selalu bersemangat menjalani aktifitas. Dan aku cuma bisa berkata.

Rafa : Aku tak perduli itu. Tapi jika kamu mau sogok aku dengan kue mungkin akan lain cerita.

Tak lama, kemudian mobil ambulance datang.

Rafa : Pasien apa? Tanyaku ke salah satu perawat disana, kalau gak salah namanya Eri.
Eri : Pasien yang baru coba bunuh diri mas rafa, dari info yang diberikan di telepon tadi, pasiennya meminum cairan obat serangga.
Rafa : Pria atau wanita?
Eri : Wanita
Rafa : Ah, pasti karena masalah pria. Ayo ndre, langsung kita bawa ke ICU (Intensive Care Unit).
Andre : Masalah pria? Tau darimana?
Rafa : Kalau misalkan kubilang kamu yang sedang dibawa ke RS karena percobaan bunuh diri dan penyebabnya karena masalah seorang pria. Apa itu masuk akal?
Andre : Ya enggak lah, memangnya aku pecinta pria!?

(Aku tersenyum)

Eri : Jadi maksud mas rafa dengan kata lainnya itu jika seorang wanita mengalami masalah itu disebabkan karena seorang pria. Sedangkan jika seorang pria mengalami masalah itu disebabkan karena seorang wanita?
Rafa : Ya kurang lebih seperti itu, he he he.
Andre : Teori macam apa itu!?
Rafa : Ah sudahlah, ayo kita kesana

Aku dan andre kemudian bergegas menghampiri mobil ambulance tersebut, kemudian aku melihat wanita tersebut. Wanita yang hampir membuat dirinya mati cuma karena masalah dunia, pikirku saat itu.

Dia cantik…

Kuperkirakan umur kami tak jauh berbeda jika aku simpulkan saat itu. Kemudian aku kembali ke pikiran sehatku untuk menolongnya.

Rafa : Ayo ndre, kita harus cepat!

Kami langsung membawa wanita tersebut ke ICU, kemudian langsung memberikan langkah pertama padanya agar dia bisa mengeluarkan cairan beracun tersebut dari dalam perutnya.

-0o0-

Sampai akhirnya dia sudah dalam kondisi stabil.

Saat ini dia sedang nyenyak tertidur. Kulihat dia mengerutkan dahinya.

Hey kamu, iya kamu, kenapa denganmu? Seakan-akan di dalam tidurmu pun kamu sedang membawa beban dunia di pundakmu, Memangnya kamu siapa? (gumamku dalam hati).

Andre : Kenapa fa?
Rafa : Ah gak papa.
Andre : Cantik ya…
Rafa : Bohong kalau aku bilang enggak. Pulang yuk aku sudah capek!? Biar kita minta tolong dimonitor sama dokter yang jaga shift berikutnya saja.
Andre : Oke. Tapi aku ambil buku sama tasku dulu sebentar.
Rafa : Sekalian tolong ambilin tasku ya ndre.
Andre : (Menadahkan tangannya kepadaku) 5 ribu!
Rafa : Ngutang dulu.
Andre : Dokter kok ngutang?
Rafa : Dokter kok malak?
Andre : Dokter kok nyuruh dokter?
Rafa : Yang nyuruh rafa bukan dokter
Andre : Ah, iya deh. Sekali-sekali mengalah kenapa. Tunggu di depan deh.

Kemudian aku keluar ruangan dan bertemu dengan keluarga pasien wanita tadi.

Rafa : Maaf, Ibu siapanya wanita itu?
Ibu Kiki : Saya ibunya dia, bagaimana keadaan anak saya Dokter?
Rafa : Ibu tenang saja. Keadaannya dia, maksud saya anak ibu sudah baik-baik saja. Sekarang dia sedang tertidur setelah kami berikan obat penenang.
Ibu Kiki : Puji Tuhan, syukurlah kalau begitu. Saya benar-benar khawatir.
Rafa : Iya bu, sementara biar anak ibu menginap dulu disini saja malam ini. Jadi kalau ada apa-apa, kami bisa langsung mengecek keadaannya.
Ibu Kiki : Iya, Dokter. Terima kasih.
Rafa : Ah, panggil saya Rafa saja bu. Saya tidak terlalu suka dipanggil Dokter. Dan nama anak ibu siapa kalau saya boleh tau?
Ibu Kiki : Iya nak Rafa, terima kasih. Nama anak ibu itu, Kiki Saigo.

Begitulah aku mengenal kamu saat itu, kamu yang akan tiba-tiba menjadi berharga dalam hidupku.

Hey kamu, bisakah kamu mendengarku? Iya kamu yang namanya kiki saigo. Berhentilah berbuat sesuatu yang bodoh selama sisa hidupmu karena aku akan terus merasa ada yang kurang dalam hidupku jika kamu tak ada lagi di dunia ini.

7
Doctor Stranger

Hari minggu kemarin adalah hari termalas dan hari yang paling melelahkan untukku. Sehari sebelumnya, aku kerja sampai larut malam di kantor. Aku sebenarnya sudah ingin pulang waktu itu bersama andre. Tetapi tepat sebelum pulang eri memberitahuku bahwa ada kecelakaan lalu lintas. Dan saat itu para korban sedang dibawa menuju ke rumah sakit kami.

Kami langsung mengumpulkan semua Dokter dan perawat yang ada saat itu dan melakukan persiapan secepat mungkin.

Rafa : Segera siapkan kasur untuk pasien dan bawa semua persediaan darah untuk transfusi!
Rafa : Hubungi bagian x-ray, orthopedi dan bedah saraf!

Kemudian setelah semua sudah bergegas mempersiapkan semua yang dibutuhkan aku dan yang lainnya langsung bergegas ke depan sambil menunggu pasien-pasien tersebut tiba.

Andre : Terkadang aku bingung dengannya. Tingkah lakunya kadang seperti anak kecil tapi kadang tak bisa ditebak seperti ini.

Andre : Meski aku suka dengan kesigapannya, tapi kenapa dia suka sekali menyuruh semua orang seenaknya? Dia kan bukan bosku, dan itu menyebalkan. (Keluh andre kepada eri yang waktu itu ada disampingnya)
Eri : Bagiku gak ada yang salah dengannya. Aku pikir mas rafa yang seperti itu keren. He’s pretty cool!
Andre : Benarkah? Haruskah aku bersikap begitu juga?

Tanpa menjawab andre, eri langsung berlalu kemudian pergi membantu menyiapkan semuanya. Dan tak lama mobil ambulance datang membawa pasien-pasien tersebut.

Petugas : Dokter, orang ini mengalami beberapa patah tulang dan hilang kesadaran
Rafa : Pak, bisa dengar suara saya pak!? (aku mencoba berbicara dengan pasien tersebut karena aku ingin tahu sejauh apa kesadarannya saat itu).
Rafa : Kemudian aku memeriksa detak jantungnya, ini cardiac arrest. CPR ndre cepat!
Andre : Oke

Kemudian andre langsung naik ke atas tubuh pasien tersebut, menduduki badannya dan melakukan CPR. Sambil saat itu kasur dorong tersebut dibawa petugas untuk dibawa masuk kedalam.

CPR atau cardiopulmonary resuscitation adalah langkah yang harus dilakukan terhadap seorang pasien yang sedang mengalami cardiac arrest atau kondisi dimana jantung seseorang berhenti berdetak.

Setelah itu aku menuju ke pasien lain. Aku melihat kondisinya sebentar, kemudian aku instruksikan kepada petugas dan perawat agar dilakukan x-ray terlebih dahulu.

Petugas : Tekanan darah 40/80 dan denyut jantung 115

Aku membuka kain kasa yang menutupi kaki pasien tersebut, kulihat bagian pahanya terluka.

Rafa : Periksa pembuluh darah bagian pahanya untuk memastikan seberapa dalam lukanya. Pintaku ke salah seorang dokter disitu.

Aku kemudian kembali memeriksa kondisi pasien berikutnya yang baru datang.

Petugas : Tekanan darah 50/90 dan denyut jantung 126

Aku membuka dan melihat bagian tubuh pasien yang mengalami luka tersebut, tulang paha pasien tersebut patah.

Rafa : Segera lakukan CT Scan, dan siapkan kain kasa serta beberapa saline solution. Pintaku terhadap beberapa perawat dan Dokter disana.
Rafa : Periksa bagian yang patah dengan CT scan dan segera beritahu jika ada pendarahan hebat. Cepat!

Terakhir, aku menuju ke pasien terakhir yang baru tiba.

Rafa : Tingkat kesadaran? Tanyaku ke salah satu petugas disitu.
Petugas : Hampir tidak ada Dokter.

Aku mengecek kondisi matanya, kemudian melihat kondisi lukanya. Parah, tulang kering kaki pasien tersebut patah, dan tulangnya menonjol keluar. Tak ada jalan lain selain harus dilakukan amputasi.

Rafa : Bawa ke ruang operasi segera!
Petugas : Baik.

Saat itu kondisi di rumah sakit benar-benar dalam penuh ketegangan. Kami harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan pasien-pasien tersebut dan melakukan upaya-upaya yang terbaik untuk menolong mereka.

-0o0-

Keadaan menjadi terkendali setelah pukul 10 malam. Aku capek sekali saat itu, apalagi aku belum sempat makan.

Rafa : Ah, aku rindu masakan bunda. Bunda bagaimana kabarnya ya? Dilan juga.

Aku mengambil handphoneku. Aku berniat untuk menelepon mereka. Tapi ketika aku melihat jam pada saat itu, aku akhirnya mengurungkan niatku. Aku tak ingin mengganggu mereka jam segini. Biarlah mereka istirahat, besok juga aku masih bisa menelepon mereka, pikirku.

Kemudian andre bersama eri datang menghampiriku.

Eri : Heeeiiii, mas rafaaaaa. Tau gak?
Rafa : Heeeeiiiii! Apa apa apa apa?
Eri : Ih sekali aja cukup apa nya, he he he.
Rafa : He he he.
Eri : Mas rafa tadi kereeeeeennnn lho!
Rafa : Apanya?
Eri : Ya tadi itu pas nanganin pasien-pasien, kereeeenn! (sambil memberikan jempolnya, tanda itu benar-benar keren).
Rafa : Benarkah? Tadi cuma akting padahal.
Eri : Ih, kok akting. Akting apa memang?
Rafa : Akting jadi bos biar bisa nyuruh-nyuruh, he he he.
Eri : Ih, dasar nakal! Ucap dia sambil tertawa.

Andre : Rafa, makan yuk. Laper nih, belum makan kan?
Rafa : Belum lah, yuk.
Eri : Pada mau makan apa?
Rafa : Mau cokelat sama es krim.
Andre : Ih mau ngapain makan es krim jam segini?
Rafa : Biarin.
Andre : Ya elah, ya udah makan es krim rasa cokelat aja biar sekalian.
Rafa : Emoh, mau cokelat terus es krim rasa cokelat (senyumku kepada mereka).
Andre : Tuh, gak salah kan yang kubilang ri!? Ini orang ngakunya Dokter tapi mau makan es krim jam segini. Udah gitu mintanya harus diturutin semua lagi.
Andre : Apanya yang keren dari orang ini ri? (Tanya andre kembali ke eri).
Andre : Doctor stranger mah iya! Dia ini Dokter yang punya kepribadian ganda.

Aku dan eri tertawa mendengarnya. Kami kemudian pergi untuk membeli makan dan kemudian akhirnya kami bisa pulang ke rumah dengan perasaan lega dan senang. Meski aku benar-benar capek saat itu, aku senang, sangat senang. Karena hari itu aku bisa membantu banyak orang, kupikir andre dan eri bahkan semua dokter-dokter dan perawat disitu juga merasakan hal yang sama denganku. Perasaan senang setelah berhasil menyelamatkan pasien.


cerbung.net

He’s My Doctor!

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset