He’s My Doctor! episode 3

Chapter 3

8
Celana Batman

Kembali ke hari minggu pagi. Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 09.45 bagian Indonesia barat. Namun aku masih tertidur pulas di kamarku. Di tempat tinggalku yang ada di bandung, saat itu aku tinggal bersama dengan andre, di sebuah komplek perumahan daerah dayeuhkolot, Bandung.

Andre : Morrniiinggg Doctor Stranger! Ucapnya ketika masuk ke kamarku dan kemudian langsung membuka gorden jendela.
Rafa : Aaaaaahhhh, get outtttt!
Andre : Heish! Mau sampai kapan kamu mau tidur terus?

Kemudian dia membuka selimutku dan langsung tertawa setelah melihat gambar celanaku. Iya, saat itu aku memakai celana boxer bergambar batman.

Andre : Hahahaha, emang bener-bener stranger ini orang. Yaaay! Kamu itu sudah umur berapa, masih aja makai celana gambar batman!?
Rafa : Bodo! Kamu itu berisik! Aku baru tidur jam 6 tadi pagi tau gak!? Ucapku saat itu dengan nada kesal.
Andre : Emangnya kamu habis ngapain? Perasaan kita nyampe di rumah jam 3 pagi setelah jalan-jalan sama eri tadi malam. Terus kamu ngapain sampai jam 6 pagi?
Rafa : Aku lapar terus bikin mie. Tapi aku gak mau langsung tidur setelah makan.
Andre : Terus masa cuma segitu aja?

Rafa : Iya habis itu bundaku telepon.
Andre : Ngapain bundamu telepon subuh-subuh begitu?
Rafa : Biasa lah bundaku itu selalu lapor kepadaku apapun yang sedang terjadi di rumah.
Andre : Emangnya apa yang terjadi di rumahmu?
Rafa : Si dilan habis bikin bunda girang.
Andre : Ouh adikmu dilan, kenapa sama dia?
Rafa : Dia baru bisa memfasihkan omongannya buat bunda.
Andre : Penting gitu buat dicurhatin?
Rafa : Bagi bundaku, apapun yang terjadi pada dilan sama seperti ketika Presiden kita menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak).
Andre : Damn! So what’s the matter?

Rafa : Dilan baru bisa ngomong dengan benar, “bunda pergi ke pasar”.
Andre : Done? Just it? Ha ha ha ha. Memangnya sebelumnya kaya gimana?
Rafa : Nda, egi ke acay (Bunda, pergi ke pasar). Ucapku sambil menirukan gaya dilan saat berbicara.
Andre : Ha ha ha, kalian lucu sekali sih.
Rafa : Apanya yang lucu!? Padahal apa bagusnya dilan bisa ngomong kaya begitu. Mau-maunya bunda disamain kaya sarimin sama si dilan. Sarimin kan sering di suruh ke pasar.
Andre : Siapa itu sarimin?

Rafa : Kamu gak pernah liat pertunjukan yang dijalan-jalan, “sarimin pergi ke pasar?”
Andre : Ahh iya tau! Ha ha ha ha. Kali ini andre ketawa sambil menepuk nepuk punggungku.
Rafa : Heiiissshhhh, sakit ndre!
Andre : Terus kalian ngobrol itu aja sampai pagi?
Rafa : Gak lah, bunda marah.
Andre : Marah karena?
Rafa : Karena tiap kali aku telpon, katanya aku lebih lama ngobrolnya sama bi odah.
Andre : Bi odah, pembantu rumahmu?
Rafa : Iya, emang siapa lagi? Istri presiden? Asal kamu tau bi odah itu sudah punya suami orang Somalia.
Andre : Heiissh, Somalia kepalamu, orang suaminya dari Sumedang juga, kamunya aja yang maksa. Tapi kok bisa kamu lebih lama ngobrol sama bi odah? Emang ngobrolin apa aja?

Rafa : Aku nanya kabar mangga-mangga yang udah mau masak di pohon mangga di belakang rumahku. Aku suruh cek tiap 2 jam sekali, kasih air, terus kalau udah masak, petikin mangganya terus simpenin dalam kulkas. Kalau aku udah datang tinggal bikinin jamu mangga.
Andre : Kamu kok sudah kurang ajar terus aneh-aneh aja sih mintanya?
Rafa : Ah suka-sukaku lah, kamu keluar sana! Aku masih ngantuk.
Andre : Heissh! Kamu gak mau jalan-jalan ke dago atau ke mall gitu? Mumpung hari minggu ini?
Rafa : Ah udah jalan-jalannya tadi malam, aku capek! Kamu aja yang pergi sana!?
Andre : Ya udah, kalau gitu aku ngajakin eri ah.
Rafa : Sana, hush hush hush! (Usirku kepadanya)
Andre : Eh fa, setidaknya kamu gantilah celanamu itu. Gak cocok dengan usiamu. Memangnya kamu mau jadi batman sampai umur berapa?
Rafa : Aku bosnya batman!!!! Sana pergi!
Andre : Ha ha ha.

9
Bintang

Eri : Mas rafa, mau pesan makan apa? Aku sama mas andre mau keluar beli makan sebentar.
Andre : Eriiii, ih udah kubilangin kalau nawarin dia makan itu jangan kasih dia pilihan makan apa tanpa ada menunya!
Rafa : Aku mau ayam KFC. Dada atas ya, tapi kalau habis pokoknya dadanya aja. Gak pake nasi tapi pake kentang, terus minumnya pepsi blue yang big cup. Thank you.
Andre : Telat deh. Rengek si andre.

Andre : Gitu tuh ri kalau kamu tanya dia tanpa persiapan. Orang macam dia, kita gak boleh lengah sedikitpun. Kita semua mau ke rumah makan padang, dia sendiri yang mau ke KFC. Kalau udah begini kan jadi susah ceritanya.
Rafa : Udah gak usah pake cerita-ceritaan, sana pergi cepetan. Nanti bahaya kalau tiba-tiba banyak pasien datang.
Andre : Hey hey, omongan itu doa. Kita lagi santai nih, gimana sih.
Rafa : Ha ha ha. Ya udah sana cepetan berangkat.

Rafa : Ah iya! Eri, hati-hati ya. Ingat kalau ada apa-apa di jalan langsung hubungi 911.
Eri : Lho kok 911 mas rafa?
Rafa : Nomor telepon polisi amerika, biar nangkep si andre.
Andre : Heissh, memangnya aku lelaki bejat apa!? Ucapnya kepadaku.

Aku dan eri hanya tertawa melihat tingkahnya.

Rafa : Hati-hati yaa, ucapku kepada mereka.

Malam itu, malam rabu. Aku kemudian berjalan menelusuri rumah sakit sambil melihat kondisi beberapa pasien. Sampai di depan lorong, aku memberhentikan langkahku. Karena dari kejauhan, aku bisa melihat seseorang wanita yang berada di seberangku waktu itu. Wanita tersebut sedang terjatuh dalam lamunannya sambil menengadahkan kepalanya melihat langit, melihat bintang-bintang di langit saat itu.

Memang malam itu langit sedang cerah dan bintang-bintang pun sangat banyak. Salah satu langit malam yang indah selama beberapa minggu aku berada di Bandung.

Rafa : Sepertinya aku mengenal wanita tersebut, mungkinkah dia? Gumamku dalam hati.

Aku kemudian berjalan, menghampirinya perlahan, aku tak ingin menimbulkan suara atau apapun sehingga dia sadar akan kehadiranku. Tidak, aku tak ingin dia terbangun dari lamunannya saat itu. Aku ingin melihatnya lebih lama lagi seperti itu, lebih lama lagi sampai aku berada sedekat mungkin dengan dirinya.

Aku kemudian tepat berada disampingnya, berhasil tanpa membangunkan dirinya dalam lamunannya. Saat dia tersenyum tiba-tiba, manis sekali saat itu kulihat dirinya. Dan untuk pertama kalinya aku merasa jantungku berdetak secepat ini.

Iya, tak salah lagi. Dia pasien itu, pasien yang kuselamatkan saat dia mencoba bunuh diri waktu itu.

Kiki Saigo.

Kemudian dia terbangun dari lamunannya dan sesaat kemudian dia menyadari bahwa saat itu aku berada dekat sekali dengan dirinya. Aku juga tak sadar kenapa jarakku jadi sedekat ini dengannya.

Rafa : Ah maaf, kiki saigo ya? Aku rafa. Ucapku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tanganku padanya.

Namun dia hanya diam menatapku dan tak membalas ajakan dariku untuk bersalaman. Mungkinkah dia marah karena aku tiba-tiba disampingnya?

Rafa : Ah iya maaf juga, bukannya tadi aku mau menakutimu. Aku hanya sedang ingin tahu kamu sedang melihat apa?

Rafa : Aku orang yang kemarin membantumu sadar setelah kamu dibawa ke RS ini beberapa waktu lalu.

Ah kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini.

Rafa : Kamu, kok ada di rumah sakit lagi? Gak habis ngelakuin hal yang aneh-aneh lagi kan?

Dia tetap diam sambil menatapku. Aku bingung, mungkinkah orang ini bisu? Dan lama-lama jika dia seperti itu, dia cuma akan menakutiku. Kemudian ada seorang ibu yang datang menghampiri kami.

Ibu Kiki : Kiki, kamu disini rupanya!? Ibu keliling mencari kamu kemana-mana.

Ibu Kiki : Ah Dokter rafa. Kita bertemu lagi disini. Dokter apa kabar?
Rafa : Ah iya, saya baik bu. Ibu sendiri bagaimana kabarnya?
Ibu Kiki : Saya juga baik. Kemarin maaf ya Dok, kami gak sempat pamitan.
Rafa : Iya gak papa bu, sebenarnya sih saya kemarin menyempatkan diri untuk menjenguk anak ibu. Tapi kata perawat, ibu sudah pulang tidak lama sebelum saya datang.

Rafa : Tapi ada apa lagi dengan kiki bu? Kenapa kiki masuk rumah sakit lagi?
Ibu Kiki : Iya Dok, ceritanya agak panjang.
Rafa : Kalau begitu kita antarkan kiki ke kamarnya dulu saja bu.
Ibu Kiki : Iya Dokter.

Setelah mengantarkan kiki masuk ke dalam kamarnya, aku dan ibunya kembali berbicara di luar.

Rafa : Ibu, gak usah panggil saya Dokter ya. Cukup panggil saya dengan rafa saja, tidak apa-apa kok bu (ucapku sambil tersenyum).
Ibu Kiki : Ah iya, ibu lupa. Maaf ya nak rafa. Oh iya, kita juga belum kenalan. Nama ibu, Monica.
Rafa : Sebenarnya saya tidak punya hak untuk bertanya seperti ini, tapi kalau saya boleh tau ada apa dengan kiki ya bu? Tanyaku.
Ibu Kiki : Anak ibu, kiki. Dia suda lama seperti ini, sudah hampir 2 tahun.

Dia dulunya anak yang periang dan selalu tersenyum. Tiap kali ibu melihat senyumannya, ibu selalu senang. Tapi sekarang sudah hampir 2 tahun lamanya dia tidak pernah tersenyum lagi. (Ucap ibu kiki yang mulai meneteskan air matanya).

2 tahun lalu, pacarnya kiki, Radit, meninggal. Tak lama setelah mereka bertengkar hebat. Kiki sangat sayang padanya, begitu juga radit, dia sangat sayang ke kiki. Saat itu kami sebagai orang tua kiki akan langsung bilang setuju jika mereka berniat melanjutkan hubungan mereka ke pernikahan.

Tapi sebelum hal itu terjadi, mereka bertengkar hebat. Dan setelahnya, radit meninggal karena kecelakaan. Kiki merasa dirinyalah yang menjadi penyebab kematian radit. Kiki merasa sangat menyesal karena sikap egoisnya yang membuat mereka bertengkar dan akhirnya radit meninggal karena kecelakaan.

Setelah itu, kiki tak pernah keluar kamar selama 1 minggu lebih. Dia sudah berkali-kali mencoba melakukan usaha bunuh diri.

Aku hanya diam dan mendengarkan cerita beliau.

Ibu Kiki : Termasuk waktu nak rafa menyelamatkan kiki kemarin, dia juga saat itu berusaha bunuh diri lagi.
Rafa : Sekarang pun dia di rumah sakit, karena hal itu juga bu?
Ibu Kiki : Tidak, kali ini ibu hanya ingin membawanya ke rumah sakit. Dia sudah beberapa hari tidak makan dan sempat pingsan dirumah beberapa hari yang lalu. Tapi karena ibu khawatir, maka ibu bawa dia kembali lagi kesini.

Ibu Kiki : Kamu tau nak rafa, kiki selalu tahan melihat bintang-bintang dilangit? Karena sewaktu radit masih hidup, mereka selalu melihat bintang bersama-sama. Terkadang dia marah ketika dia sedang melihat bintang ada orang lain di sebelahnya, apalagi mengganggunya.

Ibu Kiki : Makanya ibu sempat bingung, kenapa tadi dia tak bereaksi apa-apa, padahal nak rafa saat itu sedang ada disebelahnya.
Rafa : Benarkah bu?
Ibu Kiki : Iya.

Akhirnya aku mulai mengetahui siapa dirinya. Bagaimana dirinya, dan apa yang terjadi pada dirinya. Dan sekarang aku juga jadi mengerti kenapa di saat tidur pun dia terlihat tidak bisa tidur nyenyak.

Aku tidak mengerti saat itu dengan perasaanku, apa karena kasihan atau hal lain. Ingatkah aku saat aku melihatnya tersenyum tadi, jantungku berdetak kencang!? Entahlah, aku masih belum mengerti tentang perasaanku terhadapnya waktu itu. Yang aku tahu dengan pasti tentang dia saat itu adalah dia sangat menyukai bintang.

Bunda, untuk pertama kalinya aku menemukan orang yang mempunyai kebiasaan yang sama denganku. Kebiasaan suka melihat bintang.

10
Ayah

Tanggal 11 maret adalah tanggal dan hari yang paling berisik di rumahku selama 6 tahun ini. Tapi aku menyukainya, ah bukan hanya aku yang menyukainya. Tapi semua orang di rumah sangat menantikan hari tersebut tiap tahunnya. Ayah, bunda bahkan bi odah akan bersuka cita menyambut hari tersebut. Apapun yang akan terjadi di hari tersebut dan tidak perduli apapun alasannya, semua anggota keluarga harus meliburkan diri dan harus ada di rumah.

Tanggal 11 maret adalah tanggal lahir bunda. Sedangkan ayah lahir pada tanggal 13 november. Aku sendiri lahir tepat pada tanggal 13 desember. Itulah salah satu alasan dari dua alasan mengapa tanggal 11 maret itu adalah tanggal merah dalam keluarga kami. Selain itu bagaimana dengan alasan lainnya?

Alasan lainnya adalah karena tanggal 11 maret juga ditetapkan sebagai tanggal lahirnya Dilan. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, dilan menjadi keluarga kami sejak dia berusia 6 bulan. Ayah dan bunda tidak tahu kapan tepatnya dilan dilahirkan, karena kata pengurus panti asuhan, dilan ditemukan di depan rumah panti pada saat pagi hari. Dan tidak ada info apapun baik mengenai orang tua, keluarga ataupun informasi tentang dilan sendiri. Sedangkan nama dilan sendiri adalah nama yang diberikan oleh pengurus panti tersebut.

Tapi bunda tidak mau memikirkannya, siapapun dilan saat itu bunda menyukainya. Tak perduli bagaimana latar belakang orang tua ataupun keluarga kandungnya. Tak perduli bagaimana kondisi dilan saat itu. Yang ada di mata bunda, mulai saat itu dilan akan menjadi anaknya dan akan terus menjadi anaknya sepanjang hidupnya. Tak akan ada yang bisa menggoyahkan kemauan bunda saat itu.

Ayah sangat mengerti watak bunda, sehingga apapun yang bunda inginkan akan ayah turuti. Sedangkan aku, aku juga menyukai dilan sejak aku bertemu dengannya pertama kali di panti asuhan tersebut. Bagiku, ketika bunda mengatakan dilan adalah anaknya, maka aku juga akan mengatakan ke semua orang, ah tidak hanya ke semua orang tapi aku akan katakan ke dunia dengan lantang, bahwa dilan adalah adikku!

Sejak dilan menjadi anggota keluarga kami, yang pertama dilakukan bunda adalah menetapkan tanggal lahir dilan. Bagi bunda itu hal penting, bunda tak perduli meski harga mata uang rupiah turun drastis terhadap mata uang dollar amerika ataupun harga cabai melambung tinggi. Yang penting adalah menetapkan tanggal lahir dilan. Dan saat itu bunda menetapkan pilihannya, tanggal lahir dilan adalah 11 maret, bersamaan dengan tanggal lahirnya.

Ayah sendiri tak sedikitpun memberi berkomentar. Ayah menyukainya, dan langsung mengurus akta kelahiran untuk dilan. Dan membuat nama dilan ada di dalam kartu keluarga kami hari itu juga. Entah bagaimana caranya ayah melakukannya pada saat hari itu juga. Ayah seakan tak perduli bagaimana caranya meski dia harus melawan birokrasi negara, pokoknya ayah ingin semua jadi hari itu juga.

Hari itu aku pikir juga menjadi salah satu hari yang membahagiakan untuk ayah. Kedatangan dilan ke rumah kami, ke keluarga kami, membawa angin yang sangat sejuk untuk keluarga kami. Membawa kebahagiaan yang sempat menghilang dari mata bundaku. Sebegitu besar cinta ayah terhadap bunda dan kuatnya keinginan ayah untuk membahagiakan bunda. Dia tak akan segan-segan dan tidak akan berpikir 2 kali untuk pasang badan jika terjadi sesuatu hal yang berkaitan dengan bunda.

Kupikir sosok itulah, sosok terkeren dari ayahku. Orang yang akan selalu menjadi panutanku dan aku sangat bangga mempunyai ayah seperti dirinya.


cerbung.net

He’s My Doctor!

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset