He’s My Doctor! episode 5

Chapter 5

14
Air Mata Untuk Rafa

Beberapa hari setelah kejadian tersebut…

Dia sudah kembali normal, tak lagi sering melamun. Dia juga sudah sering mengobrol dengan ibunya bahkan ke beberapa perawat dan pasien-pasien lain. Dan dia juga akhirnya dapat tersenyum kembali, dia tersenyum kepada siapa saja. Namun sayangnya dia tidak pernah mau tersenyum kepadaku.

Rafa : Heiii ai! Gimana kabar kamu hari ini?

Sejak saat dia sadar aku sering memanggilnya dengan panggilan yang berbeda. Aku berusaha bagaimanapun caranya agar dia mau berbicara banyak dan tersenyum kepadaku. Semua sogokanku tak pernah berhasil terhadapnya. Aku bahkan sudah hampir kehabisan ide untuk melanjutkannya, dan karena saking kesalnya aku tak pernah mau lagi mengganti panggilanku padanya meskipun dia bilang tidak suka.

Kiki : Sudah kubilang aku gak suka kamu panggil ai ai ai ai!

Kiki : Ai gak ada disini! kamu salah kamar.
Rafa : Masa? Tapi nama kamu disini ditulis ai kok. Tunjukku ke papan informasi pasien di bednya.

Nama yang tertera di situ, yang seharusnya kiki saigo. Aku ubah menjadi ai. Kiki dan beberapa kata lainnya aku coret pakai board marker permanen. Aku tak perduli jika dia marah, tapi aku akan perduli jika dia berhenti marah terhadapku.

Ibu Kiki : Oh iya benar, nama kamu ai disitu sayang. Ha ha ha.
Kiki : Heeeehh kamu apa-apaan sih!? Iiiih gak bisa dihapus lagi coretannya mah! Rengeknya terhadap ibunya.

Dia memanggil ibunya dengan panggilan mamah.

Rafa : Selamat hari rabu nyonya ai, semoga harimu menyenangkan. Ucapku dengan penuh kemenangan kemudian beranjak pergi dari kamarnya.

Rafa : Mamah, aku keluar dulu membela kebenaran. Ucapku ke mamah (ibu kiki).

Mulai dari sini, aku akan memanggil kiki dengan panggilan ai dan ibu kiki dengan panggilan mamah.

Mamah : Ha ha ha, iya nak. Selamat berjuang ya.
Ai : Iiiih mah, aku gak suka sama dia! Bisa minta dokter pengganti aja yang bisa ngecek kondisiku tiap hari?

Ai : Terus kenapa juga mamah ngasih respon ketika dia manggil mamah, emang sejak kapan dia jadi anak mamah!? Ucap ai ketus.

Ai : Dan aku juga udah gak papa kok sekarang. Kita pulang aja yuk mah.
Mamah : He he he, gak mau. Mamah suka sama dia. Nanti, beberapa hari lagi sampai mamah yakin kamu gak akan kenapa-kenapa lagi baru kita pulang! Ucap mamah tegas.

Mamah : Dia kaya gitu ke kamu karena kamu yang gak pernah baik sama dia.
Ai : Lho kok jadi aku yang salah sih?
Mamah : Iya dong, kamu itu gak pernah ngomong baik-baik sama dia. Kamu juga gak pernah senyum sama dia.
Ai : Ngapain aku ngobrol sama dia? Ngapain aku senyum sama dia?
Mamah : Karena kamu harus berterima kasih sama dia. Karena dia kamu bisa kembali, karena dia juga kamu bisa tersenyum kembali, dan mamah bisa ngobrol denganmu bahkan bisa melihat senyum kamu sekarang karena dia.
.
Mamah :
Kamu tau sebelum kamu sadar dia selalu datang kesini!? Dia berusaha membuatmu bisa terbangun dan bisa berbicara kepadanya.
Dia membawakanmu cokelat, boneka, bunga, bahkan mengisi tts (teka-teki silang) sampai semua halaman dia isi berhari-hari cuma karena dia ingin kamu mau berbicara dengannya.

Dia menyelamatkanku bukan cuma sekali, dia menyelamatkanmu sudah beberapa kali! Terus kamu tahu seberapa keras usahanya ketika kamu tiba-tiba hilang kesadaran terakhir kali?
Seandainya mamah harus memilih salah satu Dokter dari seluruh Dokter yang ada di dunia ini. Mamah gak akan berpikir 2 kali untuk memilihnya.

Ai : Tapi aku gak pernah minta dia ngelakuin itu semua buatku mah. Apa juga untungnya bagi dia sebegitu memperhatiin aku?

Mamah :
Karena dia Dokter yang terbaik yang diturunkan Tuhan untuk kamu! Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk umatnya tanpa umatnya harus meminta terlebih dahulu.
Mamah tak pernah sekalipun menyuruhnya untuk sebegitu perhatiannya kepadamu. Dia melakukannya karena kemauannya sendiri. Dan itu membuat mamah menyukainya, bahkan mamah sangat menyukainya, tapi sekarang mamah kecewa sama kamu.

Mamah kemudian keluar dari ruangan, meninggalkan ai sendirian. Meninggalkan ai yang akhirnya meneteskan air matanya. Air mata pertama yang keluar darinya bukan karena seorang radit. Tapi karena seorang rafa.

15
Radit

Malam itu adalah malam selasa. Malam yang dimana langitnya terlihat cerah. Bintang-bintangnya pun banyak sekali malam itu.

Aku yang namanya rafa, kata orang sih seorang dokter tapi aku ngakunya bos batman. Just in case saja kalian lupa siapa aku, makanya kuingatkan kembali.

Saat itu aku masih di rumah sakit, sedangkan andre, sahabatku yang kadang-kadang kubuat sebagai prajuritku itu sudah pulang. Katanya sih dia ingin dinner sama eri malam ini. Syukurlah akhirnya dia tidak menyerah untuk memperjuangkan cintanya.

Aku saat itu baru habis dari kantin, jengukin nenek yang jualan cireng sekalian beli es krim sama cokelat. Dan sekarang saat aku sedang berjalan menuju ke dalam ruangan utama rumah sakit. Aku kembali melihat seseorang wanita yang sedang duduk sendirian sambil menengadahkan kepalanya keatas. Kupikir wanita itu lagi-lagi sedang melihat langit.

Aku memutuskan untuk mendatanginya.

Rafa : Jadi yang mana bintangmu?
Ai : Iiihhh, ngagetin! Kamu mau ngapain kesini?
Rafa : Mau liat bintang.
Ai : Ya udah disana kan juga bisa!?
Rafa : Emoh.

Dia sepertinya lelah menghadapiku dan memilih untuk diam, kemudian melanjutkan memandang bintang.

Rafa : Es krim?
Ai : Gak
Rafa : Cokelat?
Ai : Mau

Aku tersenyum, kemudian memberikannya cokelat.

Rafa : Jadi yang mana bintangmu?
Ai : Maksudmu?
Rafa : Jadi selama ini kamu melihat bintang tanpa pernah menentukan mana bintang kamu?
Ai : Selama ini? Kamu tau darimana aku suka liat bintang?
Rafa : Tau kok

Rafa : Kamu liat bintang yang sebelah sana? Kumpulan beberapa bintang yang membentuk layang-layang!? Ucapku sambil tersenyum kepadanya.
Ai : Ah iya, yang itu?
Rafa : Itu bintangku
Ai : Ih sejak kapan itu bintangmu? Memangnya kamu yang bikin bintang itu?
Rafa : Anak kecil juga tahu kalau bintang itu Tuhan yang bikin! Tapi kita bebas menentukan bintang mana yang kita sukai.

Rafa : Dan aku memilih bintang itu

Ai : Kenapa harus bintang layang-layang itu? Biasanya orang sukanya dengan satu bintang yang sinarnya paling terang
Rafa : Karena bintang layang-layang itu terdiri dari beberapa bintang. 1 untuk ayahku, 1 untuk bundaku dan 1 untuk adikku dan 1 lagi untukku sendiri. Jawabku sambil tersenyum kepadanya.
Ai : He he he, bisa aja. Jawab dia sambil tersenyum kepadaku.

Itulah pertama kali dia tersenyum kepadaku.

Rafa : Sadar gak kalau tadi kamu senyum?

Mendengar ucapanku, dia langsung berhenti tersenyum.

Ai : Eh tapi disitu ada 1 bintang kecil di dalamnya, terus itu untuk siapa?
Rafa : He he he, kamu jeli juga. Yang satu itu untuk pasanganku kelak, tapi sayang saat ini aku belum menemukannya.

Rafa : Kamu boleh jika mau daftar.
Ai : Iiihhhh enggak! Terus dia menempelkan cokelatnya ke mulutku.
Rafa : Heehh! Ngajakin berantem ya!? Tapi makasih, aku lagi pengen cokelat juga, tadi sisa satu soalnya di kantin.

Ai : Aku hanya suka memandang bintang, karena rasanya aku bisa melihat radit waktu melihat bintang.
Rafa : Radit, mantanmu? Kenapa memang?
Ai : Aku merindukannya…

Rafa : Kamu mencintainya?

Butuh waktu beberapa detik sampai dia menjawab pertanyaanku tersebut.

Ai : Iya.
Rafa : Dia mencintaimu?
Ai : Iya.
Rafa : Tau dari mana?
Ai : Memangnya harus ya dibilangin dulu kalau seseorang mencintai kita? Gak bisa dengan merasakannya?

Rafa : Kamu tau, seseorang yang jika diberikan pertanyaan dan membutuhkan waktu beberapa detik baginya untuk menjawab, itu bisa karena dia gak yakin atau bisa karena dia berbohong…

Ai : Maksud kamu?
Rafa : Kamu terdiam beberapa detik ketika aku tanya kamu apa kamu mencintainya.

Dia kembali terdiam namun kali ini dia terdiam sambil memandangku beberapa saat.

Rafa :
Aku tak perduli bagaimana perasaanmu dengan dia dulu, ataupun bagaimana perasaan dia ke kamu.
Dan aku juga gak perduli bagaimana hubungan kalian dulu. Itu masalah kamu dengannya.

Tapi apa pernah kamu melihat mata ibumu? Banyak kesedihan di matanya semenjak kamu terlalu egois di dalam duniamu sendiri.
Apa yang sudah kulakukan untukmu itu semata-mata buat mata itu.

Dia terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Hanya mendengar perkataanku.

Rafa : Aku sudah melakukan banyak hal, setidaknya bilang makasih kek.

Dia memandangku kemudian berkata, terima kasih.

Ai :
Aku hanya merasa sangat sedih radit meninggal karena aku. Kamu tau saat itu, seandainya aku mau memaafkannya waktu itu? Dia bisa saja gak pergi dari rumah dan gak akan mengalami kecelakaan.
Aku memang menyayanginya, kami sudah berpacaran hampir 3 tahun. Dia sayang padaku dan aku bisa merasakannya. Tapi dia sering bersikap kasar padaku, dan kata-kata kasar selalu keluar dari mulutnya jika dia sedang marah.

Awalnya aku berusaha mengerti dirinya. Aku yakin dia bisa berubah suatu saat nanti. Dan jika aku benar-benar menyayanginya maka aku harus bisa menerimanya apapun semua kekurangannya.

Tapi aku juga punya hati, aku juga punya harga diri! Kami belum sampai menikah tapi dia sudah seperti itu padaku. Lama-lama aku tak tahan dengan sikapnya dan aku berniat putus dengannya. Tetapi karena dia selalu bisa mengambil hati orang tuaku, orang tuaku jadinya selalu menilainya dengan sempurna. Dan karena orang tuakulah aku tak bisa memutuskannya dengan gampang.

Sampai pada akhirnya aku tak sengaja melihat dia smsan dengan wanita lain, yang isinya mereka sayang-sayangan. Aku marah, marah sampai aku tak perduli apapun saat itu. Dan aku memutuskannya secara sepihak.
Dia bilang menyesal dan meminta maaf padaku. Dia memohon-mohon padaku agar aku bisa memaafkannya. Dia bahkan langsung menelepon wanita itu tepat didepanku dan bilang bahwa aku dan dia akan segera menikah. Tapi aku tak perduli. Dan aku mengusirnya.

Dia menungguku di depan rumah berjam-jam lamanya, berharap agar aku bisa memberikannya sedikit waktu. Namun aku tetap tidak memperdulikannya sehingga akhirnya dia menyerah dan pergi. Besoknya aku dapat kabar dia meninggal karena kecelakaan pada saat dia pergi malam-malam dari rumahnya.

Seandainya aku mau memberikannya waktu untuk kami berbicara. Dia tak mungkin keluar dari rumahnya malam-malam dan tak mungkin dia sampai mengalami kecelakaan. Semuanya karena salahku!

Kemudian ai menangis.

Rafa : Hei ai.
Ai: Sudah berapa kali kubilang, aku gak suka dipanggil ai!

Belum selesai dia berbicara aku kemudian menyentuh kedua pipinya.

Rafa : Tersenyumlah, kamu terlihat lebih cantik saat kamu tersenyum.
Ai : Iiiiihhhh apaaaaaannnnn sssihhh!
Rafa : Sssssttt! Diam dan dengarkan!

Rafa :
Jika ketika pulang nanti aku meninggal karena kecelakaan dan sampai saat itu kamu tetap tidak mau tersenyum kepadaku apakah besoknya kamu akan menyesal dan menangis untukku?
Atau jika besok Presiden Amerika terbunuh karena serangan teroris, apa besoknya kamu akan menyesal dan menangis untuknya?

Hentikan berpikir dan berbuat sesuatu yang bodoh karena hal yang terjadi bukan karena salahmu!

Rafa : Apa masalahmu?
Ai : Masalah?
Rafa : Iya! Mengapa kamu merasa beban seluruh dunia ada di pundakmu? Ucapku sambil menyentuh kedua pundaknya.

Rafa : Memangnya siapa kamu?

Dia terlihat mulai sangat kesal kepadaku dan ingin segera beranjak pergi dari tempat kami berada sekarang.

Rafa : Aku belum selesai ngomong ai!

Rafa : Apa gunanya kamu berdoa pada Tuhan saat kamu tidak bisa menghargai hidup yang diberikan oleh Tuhan?
Ai : Apa yang kamu tahu tentang hidupku!?
Rafa : Gak banyak memang tapi cukup buat mengenal kamu.

Rafa : Dari matamu mungkin hidupmu itu tidak berarti. Tapi coba pandang hidupmu dari mata orang lain. Kamu bakalan tahu bahwa hidup kamu itu berarti!
Ai : Sekarang aku harus mendengar ceramah!?

Dia kembali beranjak ingin meninggalkanku, tetapi aku menarik tangannya.

Rafa :
Kamu tahu kalau semua orang mempunyai pola detak jantung yang berbeda? Sama halnya seperti orang mempunyai wajah yang berbeda.
Jika seseorang mempunyai pola detak jantung yang sama denganmu maka dia mungkin adalah soulmatemu. Seseorang yang khusus diturunkan oleh Tuhan hanya untuk kamu.

Kemudian aku menarik tangannya dan memeluknya.

Rafa : Coba kamu dengar dan rasakan apakah pola detak jantungku sama dengan pola detak jantungmu? Siapa tahu aku adalah jodohmu. Ucapku kemudian tersenyum kepadanya.

Dan plak! lagi-lagi dia menamparku. Ini yang kedua kalinya dia menampar wajahku.

Ai :
Apa yang kamu lakukan!?
Kamu pikir aku wanita gampangan?
Dan berhentilah berkata seakan-akan kamu tahu semuanya! Aku tak perlu mendengarkan ucapanmu!

Aku tak ingin melihatmu lagi! Soulmate!? Omong kosong! Itu hanya omongan kalian para pria terhadap wanita.
Kalaupun benar ada soulmate, soulmateku itu bukan kamu! Dengar, aku gak akan pernah menyukaimu. Sedikitpun gak akan!

Sekali lagi, aku mohon kepadamu dengan sangat, berhentilah menggangguku. Ketika kita bertemu di rumah sakit, berusahalah untuk bersikap tidak mengenalku. Dan aku juga akan melakukan hal yang sama.

Kemudian dia pergi meninggalkanku sendirian, pergi meninggalkanku yang untuk pertama kalinya aku merasa dalam hidupku, merasa hatiku sesakit ini.


cerbung.net

He’s My Doctor!

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset