He’s My Doctor! episode 6

Chapter 6

16
Rafa Sudah Punya Pacar

(Sudut pandang cerita dari Kiki)

Beberapa hari setelah malam itu, rafa tak pernah mengunjungiku lagi. Bukannya kami tak pernah bertemu. Aku sering beberapa kali melihat rafa saat dia memeriksa pasien-pasiennya. Aku juga pernah melihatnya saat aku sedang melihat bintang.

Sampai pada hari ini pun dia masih bersikap cuek padaku…

Kali ini lagi-lagi dia berjalan dari kantin menuju lorong yang menuju ruangan utama rumah sakit sambil memakan es krim cokelat kesukaannya. Dan aku yakin dia juga menyimpan cokelat di kantongnya. Saat itu posisi kami berpapasan dan aku sangat yakin dia harusnya melihatku berpapasan dengannya waktu itu.

Tapi dia bersikap seakan-akan tidak mengenalku. Dia hanya berlalu melewatiku, terus berjalan menuju ke ruangan utama sambil meneruskan memakan es krimnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Sedangkan aku, aku hanya bisa melihatnya tanpa berani menegurnya.

Rafa, kamu pasti marah. Aku minta maaf.

Tak seharusnya aku menampar dan berkata-kata kasar kepadanya. Aku tahu bagaimana sikap dia, semua orang selalu menceritakan bagaimana sikap konyolnya dia, tengilnya dia. Tapi aku tak mengerti saat itu.

Tidak, aku bukan tidak mengerti tapi emosiku yang saat itu mengalahkan akal sehatku dan membuatku seakan tidak mengerti.

Beberapa hari sebelum mamah memutuskan untuk membawaku pulang kembali ke rumah. Ada sesuatu perasaan aneh yang aku rasakan. Perasaan bersalahku padanya? Tidak, aku pikir tidak hanya itu. Aku pikir aku mulai merasa sedikit kesepian tanpa kehadiran dia yang selalu menggangguku.

Tapi aku tidak boleh seperti ini! Aku harus meyakinkan diriku kalau perasaan itu bukan perasaan suka. Hanya perasaan bersalah dan sedikit rasa “kehilangan” kupikir. Aku tidak boleh egois, aku tidak ingin melupakan radit secepat ini, apalagi kepada laki-laki lain yang bahkan sangat sebentar aku mengenalnya.

Namun semakin aku mencoba mengalihkan pikiranku ke sesuatu hal maka semakin sering pula pikiranku tertuju kepadanya. Apa sebenarnya yang telah dilakukannya pada diriku!?

Tuhan, bantu aku kuatkan hatiku…

Siang hari di hari yang aku lupa kapan, aku berencana pergi ke kantin entah untuk membeli apa. Yang jelas saat itu aku hanya ingin keluar dari kamarku, aku sudah merasa sangat bosan disana.

Di perjalanan, aku melihat beberapa perawat membawa beberapa pasien anak ke sebuah ruangan khusus.

Ada apa ini? Gumamku dalam hati

Karena penasaran aku akhirnya mengikuti mereka, sesampainya di depan ruangan yang dimasuki oleh perawat dan anak tadi aku melihat ada sebuah banner yang bertuliskan,

PENGUMUMAN

Hadiri dan saksikanlah pertunjukan senang-senang!
Dan semoga bisa senang.
Datanglah dan ajaklah anak-anak anda.
Mari kita berbagi kebahagiaan!

Ternyata ada sebuah acara yang diadakan oleh pihak rumah sakit untuk para anak-anak yang memiliki “kelebihan” dibandingkan dengan anak-anak normal lainnya. Di banner itu terpampang gambar-gambar anak yang kurang beruntung itu.

Karena aku sudah terlanjur kesana aku mencoba melihat bagaimana acaranya, dan kalian tahu apa yang aku lihat disana?
Aku lihat ada beberapa perawat dan dokter disana seperti eri dan andre yang berdiri di samping anak-anak itu. Dan ternyata dia ada juga.

Rafa? Kamu ngapain duduk di depan? Kamu mau jadi pembicara?

Tidak lama kemudian dia bangun dari duduknya dan berjalan menuju kedepan anak-anak itu.

Rafa : Hai,,,
Rafa : Wah aku dicuekin, gak usah takut aku gak akan nyuntik kalian. Tuh tuh liat aku gak bawa suntikan kan? (ucap rafa sambil memperlihatkan isi kantong bajunya ke anak-anak)

Aku pikir dia tidak pandai mengajak anak-anak berbicara. Tampak jelas saat itu dia sudah mulai kehabisan kata-kata untuk mengajak anak-anak itu memberikan respon padanya. Tapi, bukan rafa namanya jika dia semudah itu menyerah.

Rafa kembali ke tempat duduknya kemudian tampak serius membaca sesuatu yang ada di hadapannya. Namun entah apa yang sedang dibacanya, dia tampak seperti itu terus untuk beberapa menit.

Aku lihat ada sedikit perasaan tampak cemas dari beberapa dokter dan perawat yang mulai merasa situasi di ruangan sudah menjadi agak kikuk karena tidak ada aktifitas apapun yang dilakukan oleh rafa yang seharusnya mengisi acara itu.

Rafa, kamu kenapa?

Andre : Rafa! (panggil andre ke rafa sambil mengisyaratkan agar rafa mengikuti rundown acara yang telah dibuat)

Bukannya menjawab pertanyaan andre dia malah langsung menggebrak meja di depannya.

Rafa : Apa-apaan ini acaranya!?

Melihat rafa yang tampak marah seperti itu andre langsung mencoba menghampiri. Tapi alih-alih membiarkan andre mendekatinya, rafa malah mengisyaratkan agar andre berhenti dengan tangannya.

Rafa : Aku gak mau disuruh nyanyi balonku ada 5! (Ucap rafa pada andre)

Dia kemudian memutar sebuah lagu dari laptop yang ada di depannya (yang mau denger lagunya klik disini)

Rafa :
Aku gak pernah liat film ini atau bahkan tau apa artinya. Tapi aku punya adik, seumuran dengan kalian dan namanya Dilan (ucap rafa sambil memperlihatkan foto dilan dari laptop itu).

Entah kenapa setiap kali mendengar lagu ini adikku itu selalu menggoyangkan kepalanya sambil bilang pada siapa saja yang ada didekatnya waktu itu, bafi bafi! (ucap rafa sambil mempraktikkan gaya adiknya). Kupikir adikku itu hanya menyukai batman tapi ternyata dia juga suka tokoh lain.

Hayo ada yang suka batman gak disini? (ucap rafa kepada anak-anak itu).

Ternyata apa yang dilakukan rafa berhasil, anak-anak yang awalnya hanya diam ketika pertama kali dia mengajak mereka berinteraksi sekarang sudah mulai ramai menjawab pertanyaannya.

Rafa :
Kalian tahu adikku itu sama seperti kalian punya 2 mata, 2 telinga, 2 hidung, eh maksudnya lubang hidungnya yang ada 2, hehe (anak-anak itu tertawa). Ketika dia marah atau sedang rewel tidak mau makan cukup diputerin lagu ini dia pasti langsung gak rewel.

Ah iya ada yang suka menggambar disini? Adikku itu gak pandai menggambar, gambarnya jelek! Beneran aku gak bohong. Tapi jujur pernah membuatku terharu.

Rafa kemudian membuka sebuah gambar dari laptop itu dan sejenak memandang kembali ke gambarnya sebelum dia melanjutkan pembicaraannya dihadapan anak-anak itu. Gambar yang dibilang olehnya itu adalah sebuah gambar sederhana yang digambar oleh anak kecil.

Hanya gambar seorang seorang yang tidur di kasur dan disampingnya ada seseorang yang menjaganya. Kemudian di kejauhan dari kedua orang itu ada seorang yang sedang berkumpul dengan beberapa orang di sekitarnya. Dan satu orang lagi yang seperti sedang sibuk di depan meja.

Rafa :
Gambarnya memang hanya seperti ini, tapi kata-katanya yang waktu itu membuat gambar ini menjadi bermakna. Dan cukup membuat gambar ini dijadikan gambar terbaik sewaktu lomba menggambar di komplek rumah kami.

Yang tidur di kasur itu ceritanya manusia bukan seperti bilah lidi yang kaya di gambar ini, hehe, dan itu adalah bundaku. Dan disampingnya itu adikku, nah kalau dia anggaplah bilah lidi soalnya dia juga masih kecil, hehe (anak-anak itu juga tertawa mendengarnya).

Waktu itu bundaku sedang sakit dan kebetulan waktu itu yang ada di rumah hanya ada adikku. Bundaku itu tidak pernah mau cerita kalau dia sedang sakit padahal anaknya dokter, heran. Orang yang lagi ngobrol itu ceritanya aku, waktu itu aku memang sibuk di kampus dan jarang pulang ke rumah. Dan orang yang sedang duduk di meja itu tentu aja ayahku. Ayahku memang waktu itu masih sering berada di luar kota karena pekerjaannya sehingga jarang ada di rumah.

Begitulah yang dia jelaskan ketika dia ditanya apa maksud dari gambar ini. Terakhir, dia ditanya untuk siapa gambar ini dia buat? Adikku menjawab,

wat nda (buat bunda),,,

Buat bunda? Oke buat bundanya, buat siapa lagi dilan? (tanya panitia lagi ke dilan)

wat nda (buat bunda),,,

Buat bunda semua ya dilan?

wat nda (buat bunda),,,

nda aacih dah hat, ngan kit agi (bunda makasih sudah sehat, jangan sakit lagi),,,
abang, ayah auh (abang, ayah jauh),,,
ilan aga bunda (dilan jagain bunda)…

Sesaat kemudian ada seorang anak berdiri kemudian maju mendekati rafa sambil mengeluarkan sebuah gambar dari tasnya.
Ka, ambar (Kak, gambarku). ucap anak itu kepada rafa sambil memberikan gambarnya.

Rafa : Adek menggambar juga? Siapa namanya?
Io,,
Rafa : Io?
Io,,,,iioo (rio)
Rafa : Rio?
Rio menganggukkan kepalanya.

Rafa kemudian terdiam sejenak melihat gambar itu.

Rafa : Gambar rio lebih bagus dibanding gambar dilan.
Rafa : Rio yang disini siapa?

Rio : Ibu
Rafa : Rio ingin bilang sesuatu?

Rio menggelengkan kepalanya namun meminta rafa untuk berjongkok sehingga dia bisa membisikkan sesuatu ke rafa. Cukup agak lama sampai rafa bilang padanya kalau dia mengerti.

Rafa :
Rio mencoba menceritakan semuanya melalui gambar ini tentang kesedihannya. Dia sedih ibunya meninggal, tapi dia lebih sedih karena dia dilahirkan dengan kondisinya yang berbeda dengan anak yang lain. Sampai-sampai dia bilang ayahnya lebih menyayangi kakak-kakaknya dibandingkan dengan dirinya.

Cukup jelas di gambar ini jika kalian lihat (ucap rafa sambil memperlihatkan gambar itu). Aku tidak ingin mencampuri urusan keluarga anak ini dan aku yakin aku juga tidak punya hak untuk itu.

Tapi aku juga salah jika aku tidak menyampaikan apa-apa disini setelah anak luar biasa ini maju kedepan memperlihatkan gambarnya dan mengatakan semuanya padaku. Apa salah anak ini dilahirkan dalam kondisi seperti ini? Apa dia meminta dilahirkan dalam kondisi seperti ini? Dan kenapa harus dia yang meminta maaf karena sudah dilahirkan!?

Rafa : Rio, kamu sayang sama ayah?
Rio mengangguk

Rafa : Rio masih sayang juga sama ayah meski ayah lebih menyayangi kakak-kakak rio?
Sejenak terdiam tapi kemudian menganggukkan kepalanya dengan tegas.

Ayaah, iioo aayaang ayaaah (ayah, rio sayang ayah)…

Dan tahukah kalian apa yang terjadi sesaat setelah anak kecil yang bernama rio itu menyampaikan rasa sayangnya kepada ayahnya? Tiba-tiba dari luar ruangan, tepatnya waktu itu ada seseorang laki-laki paruh baya yang ternyata sedari tadi berdiri di belakangku masuk ke dalam ruangan itu.

Tanpa mengatakan apa-apa laki-laki itu langsung memeluk anak kecil itu kemudian menangis sejadi-jadinya. Ah aku tidak ingin melanjutkan lagi cerita ini, sampai sekarang pun sampai cerita ini kutulis jika teringat kejadian itu aku masih merasa terharu.

Sejak aku melihat dia hari ini apalagi ketika aku melihatnya dari kejauhan seperti ini, membuatku merasa ada sesuatu yang berbeda yang saat itu kurasakan. Perasaan yang berbeda itu sulit untuk kujelaskan seperti apa tapi cukup bisa membuatku mengatakan kalau dia punya bakat untuk menggugah hati seseorang.

Tidak lama dari acara untuk anak-anak kemarin, besoknya aku kembali melihat rafa. Melihat dia yang saat itu sedang menyelamatkan pasien meski aku hanya bisa melihatnya dari jauh.

Rafa : Intubation! Intubasi akan mencegah pneumonia (paru-paru basah) dan membantu dia (pasien) cepat pulih.

Sekedar informasi proses intubation (intubasi) adalah sebuah proses yang dilakukan dengan memasukkan pipa jalan nafas buatan kedalam trachea (batang tenggorokan) melalui mulut pasien. Sedangkan pneumonia merupakan gejala yang berupa peradangan di salah satu atau kedua paru-paru.

Saat rafa ingin memasukkan alat intubasi ke dalam mulut pasien itu, pasien itu tiba-tiba muntah.

Andre : Kenapa fa?
Rafa : Kayanya ada sesuatu di dalam mulut orang ini

Rafa memasukkan sebuah tool kecil kedalam mulut pasien tersebut

Andre : Rafa, kita gak punya banyak waktu!
Rafa : Wait! Wait!
Andre : Oxygen saturation level turun ke 75! Fa, kita gak bisa nunggu lebih lama lagi! Eri, segera siapkan ruang operasi!

Rafa : Yaaaapp, dapat!

Rafa mengeluarkan sesuatu dari dalam mulut pasien tersebut.

Andre : Apa ini!? Heeiiissh! Orang ini habis makan apa sih!?
Rafa : Tube 10.5!
Andre : Get me the bag ery!

Eri : Pasien kembali bernafas mas rafa, mas andre! Ucap eri senang.
Andre : Oxygen saturation level is also rise up! Good job everyone!

Eri : Syukurlah, pasien ini hampir saja dapat bekas luka dari luka bedah.
Rafa : Yuk ndre! Ajak rafa pada andre untuk keluar.

Melihat rafa seperti itu, aku baru sadar kalau dia memang seorang dokter. Jika mengingat semua tingkahnya yang sering dilakukannya sesuka hati atau ketika dia makan es krim di ruangan utama rumah sakit kadang membuatku lupa kalau dia itu seorang dokter.

Aku sangat yakin dia juga melihatku waktu itu, tapi lagi-lagi dia mengacuhkanku…

Rafa, sebegitu marahkah kamu kepadaku? Bisakah aku menarik kembali kata-kataku agar kamu berhenti menggangguku? Berhenti untuk bersikap seakan-akan tidak mengenalku?

Aku ingin sekali berkata seperti itu kepada rafa secara langsung. Tetapi aku tak bisa, berat bagiku untuk berkata langsung seperti itu kepadanya.

Rafa bahkan bertukar pasien dengan andre untuk memeriksa keadaanku setiap hari. Sehingga mamah sempat menanyakannya kepada andre.

Mamah : Dokter andre, dokter rafa kemana ya? Kok saya jarang melihatnya lagi di rumah sakit?
Andre : Oh rafa ada kok bu, cuma dia beberapa hari ini shift malam. Dia meminta tolong saya untuk mengecek kondisi kiki tiap hari.
Mamah : Tapi dia tidak sakit kan dok?

Aku hanya diam mendengarkan percakapan antara mamah dengan dokter andre. Seolah-olah aku benar-benar tak tahu mengapa rafa tak mau datang ke kamarku lagi.

Andre : Oh tidak bu, nanti saya sampaikan kalau ibu mencarinya.
Mamah : Iya ibu kangen melihat dia, he he he. Dan besok kiki juga sudah pulang. Kemarin ibu tidak sempat pamitan kepadanya ketika kiki pulang, sekarang paling tidak ibu ingin pamitan kepada dia.

Andre : Hhhmm, kalau ibu pengen banget bertemu dengannya. Kebetulan nanti malam ada acara yang dibuat beberapa dokter dan perawat buat perkenalan dengan dokter-dokter dan perawat baru.
Mamah : Oh begitu?
Andre : Iya bu, nanti malam jam 7 di kantin rumah sakit.

Setelah dokter andre pergi dari kamarku, aku akhirnya menceritakan semuanya kepada mamah. Akulah sebenarnya yang menyebabkan rafa lebih memilih menghindari kami. Dan lagi aku telah menamparnya hanya karena aku emosi. Aku bahkan memintanya untuk bersikap layaknya tidak pernah kenal denganku.

Tapi sekarang aku menyesal telah melakukannya dan bahkan sekarang aku sering memikirkannya. Aku benar-benar ingin meminta maaf kepadanya. Ucapku kepada mamah saat itu.

Mamah : Kamu menyukai rafa sayang?
Ai : Aku gak tau mah, aku hanya… Mamah tau kan kalau dia selalu membuatku marah dengan apa yang dibuatnya padaku? Tapi sekarang, aku ngerasa benar-benar merindukannya yang seperti itu.

Ai : Aku terpikirkan dia siang dan malam mah. Seolah-olah aku terus merasa dia selalu bersamaku setiap saat. Aku tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, bahkan ketika aku bersama dengan radit dulu.
Mamah : Sepertinya kamu benar-benar menyukainya sayang (ucap mamah tersenyum padaku)

Ai : Benarkah ini karena aku menyukainya mah? Tapi aku bingung aku harus bagaimana sekarang.
Mamah : Kenapa kamu bingung? Pergi dan beritahu dia bahwa kamu menyukainya.

Ai : Gak semudah itu mamah, aku tidak tahu perasaan dia sebenarnya bagaimana padaku.
Mamah : Bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu tidak menanyakannya. Pergi dan tanyakan padanya. Kalau mamah jadi kamu, mamah akan langsung melakukannya.

Malam itu akhirnya aku memutuskan untuk datang ke kantin. Mamah sebenarnya ingin ikut tetapi ayah waktu itu meminta mamah agar bisa pulang karena ada sesuatu hal. Dan akhirnya aku berangkat sendiri.

Akal sehatku sebenarnya juga tak mengizinkan aku pergi sendiri. Untuk apa aku datang kesana? Padahal mungkin saja ketika aku disana rafa lagi-lagi akan cuek kepadaku. Tapi aku tak bisa melawan kata hatiku saat itu. Aku lebih mengalah terhadap hatiku untuk bisa bertemu dengannya.

Tuhan, jika memang benar dia, jika memang benar rafa itu adalah jodohku. Seseorang yang Engkau kirimkan khusus untukku. Maka buatkanlah jalan untukku agar aku bisa mengetahui isi hatinya untukku dan begitu juga sebaliknya.

Di kantin aku akhirnya melihatnya, aku melihat dia sedang berbicara dengan dokter andre dan beberapa temannya disana. Aku ingin menghampirinya, tapi rasanya kakiku berat sekali untuk melangkah. Dan entah kenapa saat aku melihat dia tersenyum waktu itu membuat hatiku berdetak sangat cepat.

Tak lama dia berdiri, rafa berjalan kedepan panggung dan mengambil gitar. Kemudian dia mulai bernyanyi. Petikan suara gitarnya dan lagu yang dinyanyikannya membuat semua mata yang ada disana saat itu memandang dan mendengarkannya (yang mau denger lagunya klik disini)

No I’m never gonna leave you darling
No I’m never gonna go regardless
Everything inside of me is living in your heartbeat
Even when all the lights are fading
Even then if your hope was shaking
I’m here holding on

I will always be yours forever and more
Through the push and the pull
I still drown in your love
And drink ’til I’m drunk
And all that I’ve done,
Is it ever enough

Ternyata rafa bisa bernyanyi. Aku menyukai bagaimana dia menyanyikan lagu itu. Dia seperti menyihirku, ah tidak, bukan hanya padaku tapi ke semua orang yang ada disitu, saat itu dengan lagu yang dinyanyikannya.

Setelah rafa selesai bernyanyi, aku melihat dia keluar dari kantin. Aku mencoba mengejarnya, berharap kami bisa saling berbicara satu sama lain. Aku ingin meminta maaf kepadanya, dan aku akan bilang padanya bahwa aku merindukannya. Ah tidak, aku akan mengatakan padanya bahwa saat ini aku mulai menyukainya.

Namun saat itu ada sesuatu hal yang membuat langkahku terhenti. Secara tidak sengaja aku mendengar percakapan antara dokter andre dan suster eri.

Eri : Mas andre, mas rafa keren yaa tadi.
Andre : Masa sih? Aku juga bisa nyanyi sambil main gitar.
Eri : Ih cemburuuu yaaa? He he he. Tapi mas rafa itu sudah punya pacar apa belum sih?
Andre : Setauku sih sudah
Eri : Masa sih?
Andre : Ih gak percaya? Aku itu tinggal serumah dengannya. Kalau kamu gak percaya datang aja ke rumah kami dan lihat ke kamarnya. Kamu pasti langsung percaya kalau dia sudah punya pacar.

Mendengar percakapan tersebut tiba-tiba aku merasa berat untuk melangkahkan kakiku lagi. Kepalaku tiba-tiba menjadi pusing seakan tidak percaya mendengarnya. Benarkah dia sudah pacar? Bukankah terakhir kali dia bilang dia belum menemukan soulmatenya? Kalau memang benar, apakah secepat ini dia bisa menemukan pacar?

Di saat aku mulai menyukaimu, kamu malah membuat hatiku terluka.


cerbung.net

He’s My Doctor!

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset