He’s My Doctor! episode 7

Chapter 7

17
Bunda

Keesokan harinya, aku dan mamah sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Aku memutuskan untuk menata hatiku. Untuk tidak mulai memikirkannya, memikirkan rafa lagi. Toh untuk apa juga memikirkan orang yang sudah punya kekasih?

Mamah : Tadi malam kamu sudah ketemu rafa, ai?

Sejak rafa memanggilku ai, mamah juga memutuskan untuk memanggilku dengan panggilan yang sama.

Ai : Gak, males mah.
Mamah : Lho katanya kamu tadi malam jadi berangkat?
Ai : Gak jadi.
Mamah : Berarti kamu gak jadi bilang tentang perasaanmu ke dia?
Ai : Gak.
Mamah : Kamu kenapa? Semua pertanyaan mamah dijawabnya cuma gak. Biasanya kalau lagi seperti itu kamu pasti sedang marah. Sebenarnya tadi malam bagaimana?
Ai : Mulai sekarang gak usah ngomongin dia, aku gak mau dengar tentang dia. Lagian ngapain kita ngomongin orang yang sudah punya kekasih.
Mamah : Rafa sudah punya pacar? Benarkah? Padahal dulu dia bilang ke mamah, punya pacar itu merepotkan.

Tak lama, tepat sebelum kami ingin keluar ruangan, dia datang. Rafa datang bersama andre.

Rafa : Hallo mamaahhh.
Mamah : Eh nak rafa. Kemana aja?
Rafa : Habis membela kebenaran. He he he.

Rafa : Untung masih sempat ketemu, katanya mau pulang hari ini ya mamah?
Mamah : Iya, rafa tau darimana kami mau pulang hari ini?
Rafa : Dari andre, tadi malam dia cerita. Katanya mamah juga kangen yaa sama rafa?
Mamah : Iya, mamah kangen kamu. He he he.
Rafa : Sama, he he he. Dia kangen sama aku juga gak mah? Tanya rafa ke mamah.
Mamah : Dia siapa?
Rafa : Itu istri Presiden Amerika. Ucap rafa sambil menunjuk ke arahku.
Mamah : Istri Presiden Amerika? Ha ha ha. Ai maksud kamu? Kok Presiden Amerika?
Rafa : Habisnya, dia kan suka bikin peraturan sendiri.
Ai : Apa sih!? Ngapain juga aku kangen sama orang yang sudah punya pacar! Jawabku ketus.

Rafa : Siapa? Tanya rafa bingung.
Mamah : Ah iya, nak rafa sudah punya pacar ya?
Rafa : Aku? Kalau punya pacar belum tapi suami sudah.
Mamah : Hah, maksudnya?
Rafa : Itu kata orang-orang suamiku. (Tunjuk rafa ke andre)
Andre : Heiisssh! emangnya aku suamimu!?

Mamah : Ha ha ha, kamu ini bisa aja, rafa rafa, dasar. Mamah nanya serius nih, kamu sudah punya pacar ya?
Rafa : Belum mamah ih, dibilangin belum. Memang siapa yang bilang?
Mamah : Itu istrinya Presiden Amerika yang bilang. Ucap mamah sambil melirik ke arahku.
Ai : Ih mamaah apaan sihhh!?
Mamah : Dia salah info kali ya, ha ha ha.
Rafa : Ndre, aku udah punya pacar ya? Tanya rafa pada andre.

Andre : Aaaaaaahhhhh! jadi gitu ya. Kiki tadi malam jangan-jangan datang ke kantin ya?
Mamah : Ke kantin? Katanya tadi ke mamah enggak. Kenapa memang di kantin?
Andre : Soalnya pas di kantin, eri sempat nanya ke saya kalau rafa udah punya pacar apa belum.
Andre : Saya bilangnya udah, terus kalau gak percaya datang aja ke rumah kami. Nanti dia bakal tau siapa pacar rafa kalau udah masuk kamar rafa.
Rafa : Emang ada siapa di kamarku?
Mamah : Iya, memang ada siapa di kamarnya rafa?
Andre : Ada batman.

Mamah : Oaaallllaaaahh.
Andre : Iyaa tante, di kamar rafa itu banyak gambar batman. Jangankan gambar, gorden, kasur, guling itu gambarnya batman. Bahkan celana boxernya juga batman.
Rafa : Heeeeeiiiisssshhhhh! Jangan kenceng-kenceng kenapa ngomongnya! Ucap rafa ke andre.
Andre : Ih, emang bener.
Mamah : Ha ha ha, jadi kamu pencinta batman ya rafa?
Rafa : Enggak, aku bosnya batman. He he he.

Mamah : Tuh ai, rafanya belum punya pacar. Cepetan ungkapkan sebelum dia jatuh cinta beneran sama batman.
Ai : Iiiihh mamah ihh, udah ah.
Rafa : Kenapa mah? Nyonya Presiden Amerika itu gak bakalan suka sama aku kok katanya mah.
Mamah : Ah maassaaa, kamu belum tau aja.
Ai : Ihhh, mamah udah ih. Ucapku dengan sedikit gusar.

Kemudian aku pergi keluar kamar. Aku malu kalau aku dengar mamah bilang kepadanya, kalau aku menyukainya. Tak jauh aku berjalan, dia bergegas mengejarku, menarik tanganku dan membawaku ke tempat dimana hanya ada aku dan dia.

Ai : Apaaan siih, sakit tau!
Rafa : Bukannya kamu bilang gak mau bertemu denganku, tapi kenapa tadi malam pergi ke kantin?
Ai : Gak papa, cuma ingin beli sesuatu.
Rafa : Masssaaaa? Bukan karena ingin bertemu denganku?
Ai : Gak!
Rafa : Aku belum punya pacar kok.
Ai : Iya, udah tau.

Rafa : Mau jadi pacarku?

Aku diam mendengar pertanyaannya. Sejujurnya aku tak kuat menahan perasaanku yang ingin melihat wajahnya, tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak melihat wajahnya.

Rafa : Kok diem? Mau gak jadi pacarku?
Ai : Kenapa? Kenapa kamu mau aku jadi pacarmu?

Rafa : Kenapa? Bentar deh aku nanya dulu.

Kalian tau apa yang dilakukannya? Dia berlari kedepan menemui seseorang yang sedang duduk sendirian di kursi itu. Mengobrol sebentar dengannya kemudian kembali lagi menuju ke tempatku.

Ai : Kamu ngapain!?
Rafa : Habis nanya
Ai : Nanya apa?
Rafa : Nanya kenapa aku mau kamu jadi pacarku

Ai : Kamu sehat?
Rafa : Wal afiat sih kayanya

Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawabannya. Kupikir dia berhasil membawaku masuk ke dalam dunia “ketidak jelasannya” dia.

Ai : Terus dia bilang apa?
Rafa : Dia bilang karena aku menyukaimu.

Ai : Kamu menyukaiku?
Rafa : Iya.

Rafa tersenyum mendengar jawabanku.

Ai : Tapi kenapa kamu menyukaiku?
Rafa : Emang gak boleh?
Ai : Ya boleh-boleh aja, tapi kenapa bisa gitu maksudku?
Rafa : Karena kamu wanita dan aku pria

Ai : Rafa, aku serius ih!

Melihat aku yang menginginkan dirinya untuk serius akhirnya dia mulai serius. Dia menutup matanya beberapa saat dan kemudian memandangku, tepat di mataku.

Rafa :
Aku membutuhkan waktu beberapa detik untuk menjawab pertanyaanmu ini bukan karena aku tidak yakin atau sedang berbohong. Tapi aku ingin memantapkannya kembali sebelum memberi tahukannya padamu.

Aku menyukaimu karena matamu, aku menyukaimu karena pandanganmu padaku, aku menyukaimu karena senyumanmu dan aku menyukaimu karena kamu juga menyukaiku.

Ai : Memang kamu tau kalau aku menyukaimu?
Rafa : Kamu tidak menyukaiku?
Ai : Tidak, ah maksudku aku…aku juga menyukaimu.

Ai : Aku…aku…
Ah, kenapa aku jadi serba salah!?

Rafa : Kamu mau jadi pacarku?
Ai : Iya, aku mau.

Semenjak saat itu kami akhirnya resmi berpacaran. Aku akui sekarang ke kalian kalau aku menyukainya, semua tingkah lakunya. Tengilnya, nakalnya, lucunya dia semua bercampur menjadi satu. Unik, aku tak pernah bertemu dengan orang seperti dia sebelumnya.

Dia jaauuuuhhh berbeda sekali apabila kubandingkan dengan radit. Meski memang dia suka ngeselin, tapi aku dibuat rindu dengannya. Beberapa hari aku tidak melihat usilnya dia, aku langsung merindukannya.

Ah, kupikir aku mulai mencintainya. Menyukai tak hanya kelebihannya tetapi dengan semua kekurangannya.

Tapi hanya ada satu hal yang masih membuatku sedikit ragu dengan hubungan kami. Dan aku sadar cepat atau lambat kami tidak akan bisa menghindari masalah ini, masalah perbedaan agama yang kami anut. Ah aku tidak ingin memikirkan hal itu sekarang. Yang aku inginkan sekarang adalah menikmati waktuku bersamanya. Bersama dengannya aku belajar bagaimana menikmati hidup yang selama ini belum pernah kurasakan.

Memang pada awalnya masalah perbedaan agama tak membuat kami jadi kikuk. Dia selalu mengantarku ketika hari minggu aku pergi ke gereja. Dan dia juga sering membuatku menunggunya di mesjid setiap kali dia menyempatkan diri beribadah ketika kami sedang jalan-jalan.

Dia menghormati agama yang kupeluk, dan sebaliknya aku juga menghormati agama yang dia peluk. Siapapun Tuhan kami, kami sama-sama berterima kasih Tuhan, karena dengan kuasa Tuhan kami bisa bersatu seperti saat ini.

Terima kasih Tuhan, aku benar-benar menyukai pemberianmu yang satu ini. Aku berjanji akan selalu menjaganya. Biarkan kami bisa seperti ini selamanya. Aku benar-benar mencintainya.

Hari itu, di hari sabtu sore. Saat aku dan rafa sedang berada di luar. Kami sedang makan bersama saat itu.

I’m gonna be your paradise,
I’m gonna be your paradise.
It’s time to heal, it’s just for you.
You just count on me tonight.
Cause love is amazing

Handphone rafa berdering, ada telepon masuk saat itu. Telepon dari ayahnya rafa. Aku sebenarnya ingin mengangkat teleponnya. Tapi aku takut rafa akan marah, sehingga aku biarkan saja. Sebentar lagi juga rafa akan kembali dari toilet.

Ai : Rafa, ada telepon masuk tadi.
Rafa : Dari siapa?
Ai : Ayahmu.
Rafa : Ayah? Ah, aku sudah lama tidak telpon ke rumah.

Kemudian rafa menelpon kembali ayahnya.

Rafa : Ayah, tadi telepon ya? Maaf tadi rafa lagi di toilet.
Rafa : Kenapa yah?

Rafa : Bunda, bunda kenapa???? Bunda kenapa yah????
Rafa : Bunda, bunda, bundaaaa…

Kemudian dia menangis sambil berkata bunda.

Ai : Kenapa rafa? Kenapa sama bunda?
Rafa : Aku harus ke Jakarta sekarang juga!
Ai : Kenapa dengan bunda, rafa? Tanyaku sedikit berteriak.
Rafa : Bunda masuk rumah sakit!

Rafa : Kata ayah bunda kena serangan jantung.
Rafa : Aku harus pulang sekarang! Kata rafa sambil menangis.
Ai : Aku ikut!

Aku tak ingin membiarkannya pergi sendirian dengan kondisinya saat itu. Aku tak akan rela jika terjadi sesuatu dengannya saat dia menuju ke Jakarta. Aku harus ikut dengannya! Dan aku juga ingin tahu kondisi bunda.

Ya Tuhan, tolonglah aku kali ini saja. Apapun yang terjadi dengan bundanya rafa sekarang, tolong kuatkanlah beliau. Aku tak ingin melihat orang yang kusayangi menangis lagi. Aku mohon kepadamu Tuhan. Tolong Engkau kabulkan permintaanku sekali ini saja.


cerbung.net

He’s My Doctor!

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset