He’s My Doctor! episode 8

Chapter 8

18
Jadikan Rafa Bintangmu

Aku dan rafa akhirnya tiba di rumah sakit. Rafa yang biasanya selalu ceria sekarang untuk pertama kalinya aku melihat dia sangat berbeda. Selama perjalanan kami ke Jakarta dia hanya terdiam. Aku sendiri pun terasa berat hati untuk membuka pembicaraan ketika melihatnya saat itu.

Setibanya di rumah sakit, dia langsung berlari menuju kamar bundanya.

Rafa :
Bundaaa, bundaaa, rafa datang bunda.
Bunda, bunda gak papa? Bunda?
Bunda, rafa minta maaf beberapa minggu ini rafa gak bisa hubungin bunda. Rafa terlalu sibuk.
Maafin rafa bunda, maafin rafa sudah ngelupain bunda.
Bunda, bunda, bunda, bunda…

Dia menangis sambil memeluk bunda.

Dan untuk pertama kalinya juga aku melihat sosok rafa seperti ini. Dari luar mungkin dia terlihat kuat, cuek, tapi ternyata dia menyimpan sosoknya yang rapuh.

Ayah : Rafa, bunda sudah gak papa. Tenangkan hatimu.
Dilan : Abang, abang angan angis (jangan nangis). Bunda gi bobo (lagi bobo), nanti bunda angun (bangun).

Kemudian dilan memeluk rafa, dia menangis sambil memeluk dilan. Beberapa saat kemudian dilan memegang wajahnya rafa dan mengatakan.

Dilan : Bos etmeen angan angis (jangan nangis).

Aku tak tau harus berkata apa saat itu, hatiku terasa lebih sedih berkali-kali lipat saat melihat orang yang ku sayangi itu bersedih.

Rafa : Ayah, maafin rafa yah. Harusnya rafa sebagai dokter tahu kondisi bunda, tapi rafa benar-benar…
Rafa : Maafin rafa ayah, semua salah rafa.

Ayah : Kamu jangan bilang begitu nak, semua bukan salah kamu.
Ayah : Ayah yang salah, ayah yang sering meninggalkan kalian, meninggalkan bunda. Harusnya ayah lebih tahu kondisi bunda.

Ayah memeluk rafa dan ayah akhirnya juga tak bisa menahan air matanya lagi. Ayah menangis dipelukan rafa.

Dilan : Yah, ayah angan angis uga (jangan nangis juga). Ilan akut (Dilan takut) yah. Kata dilan yang akhirnya ikut menangis.

Pada malam harinya, Tuhan benar-benar menjawab doaku. Tuhan benar-benar memberikan mukjizatnya kepada bunda. Bunda benar-benar siuman, sungguh hal itu diluar ekspektasi dari para dokter. Rafa dan ayah ahirnya bisa terlihat lebih lega. Terutama rafa, dia mulai kembali seperti rafa yang kukenal. Konyol, nakal, kekanak-kanakan, semuanya mulai kembali terlihat pada dirinya ketika bersama dilan.

Aku senang melihatnya kembali seperti itu.

Hei kamu, orang yang paling kusayangi. Jangan lagi kamu bersedih. Jangan lagi kamu menangis. Kamu membuat hatiku sakit ketika kamu seperti itu. Apapun, apapun akan kulakukan agar kamu tak kembali seperti itu.

Saat itu di ruangan hanya ada bunda, rafa, dilan dan aku. Sedangkan ayah pulang sebentar untuk mengambil sesuatu.

Dilan : Abang, ilan (dilan) lapar.
Rafa : Lapar? Ya udah dilan keluar, di luar kan ada kantin tuh? Nah dilan beli makan aja disana.
Bunda : Rafa! Kamu itu lho sama adik sendiri seperti itu. Kan kasian dilan.
Rafa : He he he, becanda ih bunda.
Ai : Gak tau nih bunda, rafa kadang-kadang kelewatan. Sini sama kakak aja ya beli makannya dilan.

Ai : Dilan mau makan apa?
Rafa : Gak usah, ai. Biar dilan sama aku aja beli makan.

Rafa : Kamu juga lapar kan? Kamu mau apa?
Ai : Aku masih kenyang.
Rafa : Ya udah gak usah.
Bunda : Rafaaa!

Rafa : Iya ih, becanda becanda.
Rafa : Mana mungkin aku ngebiarin istri Presiden Amerika yang jauh-jauh dari Bandung ke Jakarta buat nemenin aku jenguk bunda.

Ai : He he he, udah bunda biarin aja. Aku udah biasa sama tingkahnya.
Rafa : Aku sama dilan keluar dulu ya, kamu disini jangan kemana-mana, jagain bunda. Suruh rafa kepadaku.
Ai : Iya iya, siap bos batman.

Rafa kemudian keluar bersama dilan. Sedangkan aku sekarang tinggal berdua dengan bunda.

Bunda : Sini nak, dekat sama bunda.
Ai : Iya bunda. He he he.
Bunda : Namamu kiki saigo kan ya?
Ai : Iya benar bunda.
Bunda : Rafa banyak cerita tentang kamu.
Ai : Benarkah bunda? He he he. (tanyaku senang, aku ingin tau apa aja yang diomongin rafa ke bunda).
Bunda : Iya, setiap kali telpon bunda. Rafa lebih banyak cerita tentang kamu.
Ai : He he he, memangnya apa aja bunda yang diceritain rafa?
Bunda : Ha ha ha, tapi kebanyakan ngawur semua. Itu anak emang sudah gak ketolongan lagi nakalnya.
Ai : Iiiihh aku jadi penasaran bunda.
Bunda : Iya, masa kamu dibilangin hidungnya pesek, bibirnya sumbing terus matanya jereng!?

Bunda : Bunda sih dari awal gak percaya, karena emang kenyataannya kamu cantik begini.
Ai : Iiiih dasar rafa, awas aja nanti. He he he.

Ai : Terus terus bunda, rafa cerita apa lagi?
Bunda : Oh iya, katanya kamu kalau makan sate. Harus sate buaya sama sate hiu, minimal sate kuda lah
Ai : Iiihh, mana ada bunda! (Rengekku ke bunda).
Bunda : He he he, iya sayang. Bunda juga gak pernah mau percaya mentah-mentah sama omongan dia.

Bunda : Tapi kamu baik katanya…
Ai : He he he, masa sih bunda?

Aku mulai senang, karena sepertinya sekarang omongan rafa sudah mulai agak waras.

Bunda : Iya katanya tiap kali dia pengen makan jambu di kantor, kamu selalu mau manjat pohon jambunya buat ngambilin. Bener gitu kamu sampai segitunya ke rafa?
Ai : Ha ha ha, bohong bunda! Ih, aku mana pernah manjat pohon. Gak bisa bunda.
Bunda : He he he, habisnya kalau di rumah dia sering nyuruh bi odah manjat pohon buat ambil mangga.
Ai : Ih benarkah bunda? Dia nakal banget sih, kenapa gak dia aja yang ambil?
Bunda : He he he. Tapi dia benar-benar menyukaimu sayang.

Bunda : Rafa belum pernah sampai seperti ini terhadap perempuan. Kamu perempuan pertama yang paling sering diomongin rafa ke bunda.
Ai : Benarkah bunda? Memangnya rafa belum pernah punya pacar sebelumnya? Tanyaku ke bunda penasaran.
Bunda : Mana pernah sayang, kata dia punya pacar itu merepotkan. He he he.

Bunda : Bunda serius, dia benar-benar menyukaimu. Kamu suka melihat bintang kan?
Ai : Iya, kok bunda bisa tahu? Rafa cerita?
Bunda : Iya dia cerita ke bunda dan dia katanya cemburu.
Ai : Cemburu?
Bunda : Iya dia cemburu, karena tiap kali kamu liat bintang katanya kamu hanya melihat radit di matamu.
Ai : Iya soal itu…
Bunda : Udah, bunda juga sudah tahu semuanya. Dan bunda tidak terlalu ingin mencampuri urusan masa lalu kamu. Semua yang sudah berlalu biarkanlah berlalu.

Bunda : Jangan mencoba terlalu keras untuk melupakannya, tapi berusahalah untuk menerimanya. Karena dengan begitu sakit yang ada di sini (bunda mengarahkan tangannya ke dadaku), sakit yang ada di hatimu, akan lebih mudah diobati.

Ai : Iya bunda. Terima kasih bunda.
Ai : Aku boleh peluk bunda?
Bunda : Kenapa gak boleh, sini sayang…

Dan aku memeluk bunda, aku senang, aku sangat senang bisa memeluk bunda. Bunda sangat hangat, sama seperti mamah.

Bunda : Kamu sayang sama rafa nak? Bunda kembali bertanya padaku dan masih sambil memelukku.
Ai : Maaf bunda, jujur sebenernya aku tidak menyayanginya
Bunda : Ah begitu ya?
Ai : Aku tidak menyayanginya tapi mencintainya bunda.
Bunda : Ih kamu bikin kaget bunda saja! He he he, memang apa yang kamu sukai dari rafa?
Ai : Semuanya. Aku suka semuanya dari rafa, bunda. He he he.

Ai : Saat dia menangani pasien, dia terlihat keren. Saat dia bernyanyi juga gak kalah keren. Tapi aku juga suka nakalnya dia. Cueknya dia. Apapun yang dia ingin harus selalu diturutin kalau gak dia bakal ngambek.
Bunda : He he he, memang begitu kalau rafa.
Ai : Dia suka makan es krim tiap malam, dari lorong sampai ke ruang utama rumah sakit. Sering es krimnya berceceran di lantai. Tapi dia cuek bunda.

Ai : Dia sering dimarahin sama petugas kebersihan rumah sakit, katanya dia itu dokter tapi kaya anak kecil. Teman-temannya juga sering marahin dia. Tapi bunda tau jawabnya apa?
Bunda : Apa?
Ai : Dia katanya baik, ngasih makan buat semut-semut terus bisa ngasih kerjaan ke petugas kebersihan. He he he.
Bunda : Ha ha ha. Bener-bener yaa.

Bunda : Tapi kamu harus tau ada sosok dari dirinya rafa yang dia sendiri mungkin tidak menyadarinya. Dan itu menurut bunda sangat keren dan bunda sangat bangga karenanya.
Ai : Apa itu bunda? Tanyaku penasaran.

Aku merasa nyaman ngobrol dengan bunda, dalam pelukan bunda. Apalagi yang kami bicarakan itu tentang rafa. Rasanya aku ingin terus-terusan membicarakan tentang dirinya. Aku ingin tahu lebih jauh tentang dirinya.

Bunda : Dari semua hadiah yang diberikan rafa pada bunda, ada satu yang benar-benar istimewa. Meski semua pemberian dari rafa itu bunda sangat menyukainya.

Kemudian bunda mengeluarkan sebuah kalung yang tertutup di dalam bajunya. Sebuah kalung yang berbentuk layang-layang.

Ai : Ah bintang layang-layang rafa! Jawabku sontak setelah melihatnya.
Bunda : He he he, iya benar. Dari dulu dia suka melihat bintang. Bunda sering memarahinya karena setiap hari sebelum malam dia selalu melempar celana dalamnya ke atas genteng.
Ai : Iiiihh mau ngapain dia bunda?
Bunda : Katanya biar gak hujan, jadinya dia bisa liat bintang malamnya. Ada-ada saja kan? Tiap hari Pak Akim, satpam di komplek perumahan yang ambilin celananya di atas genteng.

Bunda : Dari kecil sudah suka nyusahin orang dia.
Ai : Iiiih dasarrrr konyol banggettt diaa bunda! Jawabku gemas.
Bunda : Ya gitu emang dia orangnya, tapi bukan itu cerita kerennya. He he he.
Ai : He he he, kirain.
Bunda : Cerita kerennya itu waktu dia berjuang mendapatkan kalung ini buat bunda.

Bunda : Dia beli ini dengan jeri payahnya sendiri. Kamu tau rafa itu tak pernah meminta lebih, baik ke bunda atau ke ayahnya. Sejak dia kecil dulu. Berapapun yang kami kasih ke dia, dia tak pernah mengeluh. Dan dia tidak pernah rewel untuk meminta lagi meski uangnya sudah habis.

Bunda : Dia selalu bilang “tenang tenang dan tenang, Indonesia masih aman”. He he he. Dia baru meminta ketika dia sudah sangat membutuhkannya. Kadang ketika mengingatnya, bunda ngerasa dia itu gimana yaa.. he he he. Ucap bunda sambil meneteskan air mata.
Ai : He he he, iya bunda. Dia kadang-kadang memang luar biasa. Selalu bisa menyentuh perasaan setiap orang tanpa disadarinya. Ucapku sambil menyapu air mata bunda dengan tanganku.

Bunda :
Dia membelikan bunda ini, dari hasil tabungannya. Entah sejak kapan dia mulai menabung. Dia selama sebulan penuh jarang ada di rumah. Dia ada di rumah cuma buat tidur dan besok paginya sudah berangkat lagi.

Dia menyibukkan dirinya, menjadi asisten praktikum di semua mata praktikum waktu dia masih kuliah saat itu. Malamnya dia nyanyi di kafe bersama teman-temannya. Dan masih banyak kerjaan yang bunda tau dilakukannya, tapi dia gak mau cerita semuanya.

Awalnya bunda tak tahu kenapa dia jarang pulang. Bunda memarahinya, bunda benar-benar memarahinya waktu itu. Karena bunda takut dia masuk ke pergaulan yang tidak benar.

Sampai akhirnya dia datang dan memberikan bunda hadiah ini. Dia bilang ke bunda, “bunda, bunda jangan marah-marah lagi ya”, “rafa takut kalau bunda marah”.

Dia bilang, dia gak sengaja melihat ada kalung seperti ini. Kalung yang sangat mirip dengan bentuk bintangnya dia. Bintang layang-layang itu kata dia seperti sudah ditakdirkan untuk dirinya.

Ai : He he he, iya bunda. Rafa pernah bilang katanya bintang layang-layang itu terbentuk dari beberapa bintang. Masing-masing untuk bunda, ayah, dilan dan dirinya.
Bunda : Iya, dia juga bilang kaya gitu ke bunda. He he he.

Bunda : Bunda sangat menyayanginya…
Ai : Iya bunda, aku juga sangat mencintainya.

Kemudian bunda melepas bintang tersebut dari lehernya dan memasangkan kalung tersebut ke leherku.

Bunda : Kalau kamu benar-benar mencintainya, kamu harus menerima ini dan gak boleh nolak.
Ai : Bunda… tapi ini kan hadiah yang sangat istimewa dari rafa ke bunda.

Bunda :
Memang, itu hadiah istimewa dari rafa ke bunda. Tapi karena sekarang kamu istimewa di hatinya rafa dan juga istimewa di hati bunda maka kamu yang harus mengenakannya.

Mulai sekarang, setiap kamu melihat bintang. Kapanpun dan dimanapun, bayangkanlah rafa di matamu. Jadikan rafa sebagai bintangmu.

Tolong jaga rafa untuk bunda.

Bunda kembali memelukku. Saat itu aku benar-benar terharu dengan kata-kata bunda. Dan aku pun menangis di pelukan bunda.

Pelukan hangat dan yang paling hangat yang pernah aku rasakan.

Ai : Bunda tak masalah jika aku sama rafa? Tak masalah jika kami berbeda agama?
Bunda : Rafa selama ini tak pernah menolak apapun yang bunda inginkan. Dan bunda juga tak akan pernah menolah apapun yang rafa inginkan. Termasuk kamu. Karena bunda yakin kamu adalah salah satu pilihan terbaik yang pernah dibuatnya.

Bunda : Berbeda agama? Kenapa memangnya? Agama memang penting untuk kita, selama kamu masih mempunyai agama, kepercayaan terhadap Tuhan yang kamu anut. Dan selama kamu masih berjalan lurus di jalan yang kamu anut. Maka bagi bunda itu bukan masalah.
Ai : Iya bunda.

Hari itu aku merasa sangat bahagia, sangat bahagia. Karena selain aku bisa kenal dengan keluarganya rafa. Aku juga bahagia karena aku merasa sudah sangat dekat dengan bunda. Dan aku juga sudah diterima bunda untuk menjadi pasangannya rafa. Namun hari itu juga akan menjadi salah satu hari yang tersedih selama hidupku.

Waktu itu di ruangan bunda di rawat. Semua sudah berkumpul. Ada rafa dan dilan, ayah juga sudah datang. Aku waktu itu ingin menginap disana, tapi karena kata rafa aku masih bisa kesini lagi besok, maka aku bersedia untuk ikut bersamanya pulang ke Bandung. Waktu itu memang aku belum bilang ke mamah kalau aku dan rafa ke Jakarta karena aku terlalu fokus dan khawatir terhadap bunda dan rafa.

Rafa : Bunda, rafa dan ai pulang dulu ke Bandung ya. Besok rafa mau mengurus izin dulu untuk cuti. Setelah itu rafa akan langsung ke sini lagi.
Bunda : Iya sayang, tapi besok bawa ai lagi kesini ya? Bunda masih ingin berbicara banyak dengannya.
Ai : Iya bunda, besok aku pasti kesini lagi. Biarpun gak sama rafa, aku pasti kesini buat nemuin bunda.
Bunda : Janji ya sayang? Kata bunda kepadaku.
Ai : Iya bunda, aku janji.
Rafa : Ayah, rafa pulang dulu ya. Tolong jaga bunda ya ayah.
Ayah : Iya, gak usah kamu minta pun ayah pasti jagain bunda. Sudah kamu pulang sana, ini sudah larut malam.
Ai : Ayah, aku pamit pulang dulu ya. Besok kalau aku kesini lagi ayah gak marah kan? Tanyaku ke ayah.
Ayah : Kenapa harus marah? Ayah senang kalau kamu mau kesini lagi besok buat menemani bundanya rafa. Jawab ayah kepadaku sambil tersenyum.
Rafa : Kamu boleh aja kesini, tapi harus bawa kue. Gak boleh kalau cuma tangan kosong.
Ai : Ih kalau kue nanti malah kamu yang habisin.

Kemudian kami pamit pulang.

Ai : Rafa, hari ini aku senang sekali.
Rafa : Kenapa?
Ai : Karena hari ini aku bisa kenal sama keluarga kamu, terutama bunda.

Kemudian aku memperlihatkan kalung yang diberikan bunda kepadaku.

Rafa : Ih, itu kan kalung bunda.
Ai : Aku dikasih sama bunda, yeeee! Kereeeen kan, bintang layang-layang. Ucapku kepada rafa dengan senang.
Rafa : Masa sih? Tapi bunda belum izin tuh sama aku.
Ai : Yeeee, ngapain pake izin kamu. Ini kan kalungnya bunda.
Tak jauh kami berjalan dari kamar bunda. Tiba-tiba ada beberapa perawat dan dokter yang berlari melewati kami. Berlari menuju kamar bunda.
Ai : Rafa, bundaa!

Aku dan rafa langsung berbalik dan berlari menuju kamar bunda. Saat itu Dokter yang sudah ada disana berusaha menyelamatkan bunda. Iya, bunda kembali dalam keadaan tidak sadar.

Kemudian rafa, rafa yang saat itu disampingku. Dia tampak pucat melihat kondisi bunda yang sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Dalam kondisi dimana dokter-dokter itu harus berjuang untuk menyelamatkan bunda. Perlu beberapa menit sampai rafa kembali sadar dan dia akhirnya berlari menghampiri bunda.

Rafa : Bundaaa!! Bundaaa sadar bundaaa…

Rafa berkali-kali berteriak memanggil bundanya sambil menangis. Dia kembali menangis sama seperti saat dia mendengar kabar bunda dari telepon ayah. Dia berusaha melakukan CPR terhadap bunda, sambil berteriak memanggil-manggil bunda.

Rafa : Bundaaaaa!!!! Bundaaa! Bundaaa bangun bundaaaa!
Rafa : Bundaaaaaaaaaaaa……


cerbung.net

He’s My Doctor!

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset