He’s My Doctor! episode 9

Chapter 9

19
Karena Dia Itu Dokter

Hari itu menjadi salah satu hari yang tidak terlupakan dalam hidupku, hari pemakaman bunda. Saat itu aku seakan-akan merasa Tuhan membuatku merasakan momen paling bahagia dalam hidupku namun sesaat kemudian Tuhan membuatku merasakan momen paling sedih dalam hidupku.

Bunda yang kemarin aku temui pertama kali, bunda yang kemarin membuat diriku sangat cemas tapi juga membuat diriku sangat bahagia. Dan bunda yang melahirkan seseorang yang paling aku cintai. Sekarang telah meninggal dunia dan meninggalkan kami dengan berjuta kenangan indah beserta berjuta kesedihan.

Semenjak malam itu, malam ketika bunda meninggal. Rafa tidak pernah berbicara kepada siapapun. Dia tidak mau tidur bahkan juga tidak mau makan.

Rafa, aku harus bagaimana? Bagaimana caranya aku bisa membantumu menghadapi duka yang saat ini sedang kamu hadapi? Beritahu aku caranya rafa! Aku akan melakukan apapun untukmu…

Malam itu…

Rafa : Bundaaaaa, bangun bundaaa. Rafa mohon…

Rafa : Rafa mohoon bunda, rafa, rafa masih banyak salah sama bunda. Bangun bunda, izinkan rafa berbicara dengan bunda…

Sungguh ini kedua kalinya aku melihat rafa sehisteris ini tapi untuk kali ini aku merasa rafa benar-benar sudah putus asa. Tangisan dan teriakan rafa saat itu benar-benar menyelimuti penuh ruangan ini.

Hampir semua orang yang ada di rumah sakit memenuhi ruangan ini, padahal awalnya hanya ada beberapa perawat, beberapa dokter dan kami. Situasi yang kami lihat saat itu di ruangan ini benar-benar membawa perasaan kami semua ke dalam perasaan duka sekaligus sedih yang mendalam.

Jika kalian saat itu ada di ruangan itu, aku tidak perlu meyakinkan kalian terlebih dahulu bagaimana situasinya. Karena sama denganku sekarang, aku yakin kalian pasti akan meneteskan air mata kalian.

Ayah : Rafa, sudah rafa. Ikhlaskan bunda.
Rafa : Ayah, bundaaa ayah. Bundaa….

Rafa : Rafaa, rafaaa masih ingin ngobrol dengan bunda ayah. Rafa masih ingin bercanda sama bunda. Rafa masih ingin dipeluk bunda ayah! Tapi bundaa, bundaa….

Ayah saat itu langsung memeluk rafa. Ayah tidak sanggup menahan emosinya untuk tidak menangis saat itu. Sekuat apapun ayah, sebesar apapun usahanya untuk berlapang dada. Namun tetap dialah yang pada saat itu sangat sedih kehilangan bunda.

Ayah : Sudah rafa, sudaaah… (Bisik ayah ke rafa sambil menangis).
Ayah : Izinkan bunda untuk pergi duluan, ini yang terbaik untuk bunda. Bundamu tak perlu lagi merasakan sakit.

Aku, aku tak tahan melihat ayah dan rafa saat itu. Aku benar-benar sedih. Aku sedih kehilangan bunda, tapi aku juga sedih melihat rafa seperti itu.

Bagaimana dengan dilan saat itu? Dilan yang pada saat itu hampir terlupakan olehku ada disana tiba-tiba membuat kami terpana. Dilan maju melewati dokter dan beberapa perawat yang saat itu ada di samping bunda. Dia maju dan naik ke atas kasur di samping bunda. Dia membelai rambut bunda, mencium pipi dan kening bunda.

Rafa : Dilan…

Dilan : Bunda, bunda apek ya (bunda capek ya)? Bunda idur agi (bunda tidur lagi)?
Dilan : Bunda aafin ilan ya (maafin dilan ya). Aafin abang bisik (maafin abang berisik), bunda gi bobo (bunda lagi bobo).

Kemudian dilan memeluk bunda, dilan cium kembali keningnya bunda. Kali ini dilan menciumnya lebih lama dari sebelumnya.

Dilan : Bunda, ilan anji gak akan ernah angis agi (bunda, dilan janji gak akan pernah nangis lagi). Ilan anji gak akan akal agi (Dilan janji gak akan nakal lagi). Api bunda angan akit agi ya (tapi bunda jangan sakit lagi ya)…

Sejenak kemudian dilan merebahkan dirinya disamping bunda. Menutup matanya sambil memeluk bunda.

Dilan : Abang, abang angan isik (abang jangan berisik)! Bunda agi istiyahat (bunda lagi istirahat)! Iar ilan yang aga bunda! (biar dilan yang menjaga bunda).

Semua, semua yang ada disitu meski aku tidak memperhatikan mereka semua satu per satu. Aku sangat yakin mereka juga sama, sama sepertiku yang saat itu terfokus pada dilan. Aku terharu melihat yang dilan lakukan.

Aku peluk dilan dan bunda.

Bagaimana bisa, anak sekecil ini begitu kuat dan tabah? Seakan dia tahu kondisi apa yang terjadi saat itu.

Saat itu di pemakaman, mamah bersama ayah juga datang dari Bandung. Aku pun sejak malam itu tidak mau pulang meski rafa memintaku pulang terlebih dahulu. Aku tak mau pulang, aku ingin membantu disana. Aku ingin bersama dengan bunda selama yang aku bisa. Dan aku juga tak ingin membiarkan rafa sendiri saat ini. Aku akan ada disamping dia, tepat jika saat itu dia membutuhkanku.

Dilan, dilan yang tadi malam benar-benar membuat kami terpana. Hari ini pun dia tidak juga menangis. Saat itu dia
menggenggam erat tangan ayahnya. Dan tidak pernah sedikit pun dia mau melepas tangan ayahnya.

Sedangkan rafa, rafa malah sebaliknya. Dia tidak henti-hentinya menangis saat itu. Aku sendiri tidak pernah berhenti untuk menyemangatinya, namun rasanya aku masih belum bisa menenangkan dirinya saat itu. Bunda adalah orang yang paling penting dan berharga dalam hidupnya. Kehilangan seseorang seperti itu secara tiba-tiba memang akan sulit bagi kita untuk menerimanya. Karena aku juga pernah merasakannya.

Perasaan kehilangan secara tiba-tiba adalah perasaan yang paling buruk yang akan pernah kita hadapi. Kalian tak akan pernah mengerti
rasanya jika kalian belum pernah merasakannya. Perasaan yang membuat diriku seakan menghilang selama 2 tahun di dunia ini.

Para dokter menyebut kondisiku saat itu sebagai kondisi vegetatif. Kondisi dimana seseorang kehilangan daya responsifnya. Tak akan pernah lagi kita akan melihat emosi orang tersebut. Baik itu tersenyum ataupun cemberut, baik itu bahagia ataupun bersedih. Susah untuk memprediksikan kapan aku akan bisa kembali normal. Tak ada obat atau terapi yang bisa membantu kondisiku saat itu, tak lebih seperti dalam kondisi koma.

Namun jika Tuhan berkehendak, maka tidak akan ada yang mustahil. Begitulah yang terjadi padaku. Semua cara pengobatan telah diupayakan oleh kedua orang tuaku agar aku bisa seperti sedia kala. Namun semuanya tidak ada yang berhasil sampai pada akhirnya Tuhan mempertemukanku dengan rafa. Iya, dialah yang diutus Tuhan untukku. Dengan sentuhan Tuhan lewat dirinya aku berhasil kembali dari dunia gelap yang aku tinggali selama 2 tahun.

Aku berterima kasih kepada Tuhan karena Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk menjalani hidupku dengan sempurna bahkan Tuhan memberikanku seseorang yang membuat hidupku terasa lebih dari sempurna. Dan jika memang kami dipertemukan untuk sebuah alasan, maka inilah saatnya. Aku tak akan pernah mau meninggalkannya dalam kondisi seperti ini! Aku tak ingin dia jatuh ke dunia gelap itu.

Tak akan pernah!

Ayah, ayahnya rafa dan dilan. Orang yang kulihat paling tenang saat itu. Ah kupikir orang yang sangat berusaha keras menenangkan dirinya saat itu, sekuat yang dia bisa agar terlihat tegar terutama untuk kedua anaknya. Tapi siapa yang tidak tahu bahwa saat ini dialah yang mungkin paling menderita? Tetapi pada akhirnya ayah juga menyerah dan memperlihatkan kesedihannya di saat pemakaman bunda.

Ayah :

Terima kasih saya ucapkan kepada kalian semua yang telah menyempatkan waktunya untuk mengantar istri dan sekaligus ibu dari anak-anak saya ini ke tempat pelabuhan terakhir hidupnya.

Pada air mata yang jatuh kali ini, saya selipkan salam perpisahan panjang untuknya. Pada kesetiaan yang telah dia ukir untuk saya dan juga untuk kedua anak kami. Pada kenangan pahit manis selama dirinya ada.

Saya bukannya hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar dia disini.

Tanpa ayah sadari, air mata itu kembali menetes perlahan ke pipinya.
Ayah :
Milea, mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang…

Tapi tanpa mereka sadari, bahwa kamulah yang menjadikan aku kekasih yang baik…

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua!? Tapi kamu ajarkan aku kesetiaan sehingga aku setia…

Kamu ajarkan aku arti setia. Sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini…

Kamu dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada. Selamat jalan Milea sayang. Aku berjanji akan menjaga kedua anak kita…

Dan lagi-lagi, kembali keluarga itu membuat kami bisa merasakan rasa sedih beserta rasa kehilangan sekaligus yang mereka rasakan. Sehingga tak sedikit dari kami juga meneteskan air mata melihatnya. Kehangatan kasih sayang mereka, cinta mereka, membuat kami disitu merasa sedih juga iri.

Sudah seminggu rafa tidak masuk ke rumah sakit. Bahkan dia juga tidak pernah keluar dari kamarnya. Ayah dan juga dilan berkali-kali mencoba mengajaknya keluar kamar, namun dia tidak pernah memberikan respon. Kehadiranku disana juga tidak mampu membuatnya seperti biasa kembali.

Aku sudah kehabisan cara untuk mengajaknya bicara. Andre dan eri juga beberapa kali menyempatkan diri untuk menjenguk rafa, mencoba membujuknya kembali ke rumah sakit yang mungkin bisa membantunya untuk mengurangi kesedihannya. Tapi percuma, rafa benar-benar seperti sudah tenggelam dengan kesedihannya.

Baiklah, jika rafa yang dulu bisa membawaku kembali. Maka sekarang saatnya bagiku untuk membawanya kembali!

Hari kamis, hari dimana akhirnya aku bisa bertemu dengannya langsung.

Ai : Rafa! Syukurlah aku akhirnya bisa melihat dirimu secara langsung sekarang.

Dia hanya diam dan terlihat buru-buru seperti hendak bepergian.

Ai : Kamu mau kemana rafa?
Rafa : Aku mau ke Bandung.
Ai : Kamu mau ngapain ke Bandung? Langsung ke rumah sakit?

Dia cuma diam. Aku saat itu tidak bisa memprediksi apa yang hendak dilakukannya dan tak bisa menebak jalan pikirannya. Yang aku tahu saat itu dia terlihat serius dan tidak ada keinginan untuk bercanda, seperti yang biasanya dia lakukan kepadaku.

Ai : Baiklah, tapi kamu harus makan dulu!
Rafa : Nanti, aku gak lapar.
Ai : Gak boleh, kamu gak boleh kemana-mana sebelum kamu makan! Bi odah udah cerita ke aku, kalau kamu jarang makan sekarang.
Rafa : Ya udah, aku makan.

Selesai rafa makan, aku memaksa diri untuk ikut ke Bandung. Tak mungkin aku membiarkan dia pergi sendirian, dan aku juga tak mau. Aku akan ikut kemana saja dia pergi, dan aku tak perduli kalau dia tidak mau.

Ai : Kamu boleh ke bandung, asalkan bersamaku. Naik mobilku dan aku yang menyetir. Kamu cukup duduk dan bilang padaku kamu mau kemana.
Rafa : Rumah sakit. Jawab rafa singkat.

Biasanya dia selalu mengajakku berdebat, tapi saat itu seakan-akan dia tak ada niat untuk berdebat denganku. Apa yang aku bilang kepadanya dia tidak menolaknya dan hanya menjawab secara singkat.

Setelah beberapa jam di jalan kami akhirnya tiba di Bandung. Di rumah sakit tempat rafa bekerja.

Ai : Sudah cukup lama ya kamu gak kesini rafa? Andre pasti senang melihat kamu masuk kerja lagi.

Rafa hanya diam.

Ai : Kamu pulang jam berapa rafa? Nanti aku jemput.
Rafa : Gak usah, aku cuma sebentar disini.
Ai : Lho, kamu memang kesini gak buat kerja?
Rafa : Aku mau resign.
Ai : Resign? Kenapa? Tanyaku kaget kepadanya.
Rafa : Aku hanya ingin tinggal di rumah. Aku sudah tak ada motivasi lagi bekerja di sini.

Kemudian rafa langsung berlalu meninggalkanku yang saat itu tak bisa berkata apa-apa. Rafa benar-benar serius dengan kemauannya. Dan aku juga tak bisa memaksanya.

Bunda, bunda tolong aku, apa yang harus kulakukan sekarang.

Andre : Oi rafa, akhirnya doctor stranger kita kembali ke rumah sakit. Apa kabar sobat? Wuiih, aku kangen sekali denganmu.
Eri : Yeeeeyyyyy, mas rafa akhirnyaa kembali ke kantor! Sekarang rumah sakit kita akan kembali ramaaaaiii. He he he.

Rafa hanya diam dan bergegas mengambil barang-barang di lokernya.

Andre : Rafa, kamu mau kemana dengan barang-barangmu?

Andre : Ai, rafa kenapa? (tanya andre kepadaku yang masih bingung dengan apa yang diperbuat oleh rafa).
Ai : Dia bilang ingin resign.
Andre : Wait wait wait! Apa-apaan nih, kok tiba-tiba begini!? Tenangkan dirimu dulu sobat. Tahan andre kepada rafa saat itu.
Rafa : Minggir ndre, aku mau pulang.

Aku tak tahan melihat sikap rafa saat itu, kalau ada hari yang benar-benar membuatku marah kepadanya, maka itulah harinya.

Ai : Kupikir kamu dokter yang keren.

Ai :
Ah, bukan hanya aku. Tapi semua orang disini mengira kamu adalah dokter yang keren. Tapi ternyata kami salah duga. Bahkan bunda juga salah duga padamu!

Seorang dokter tidak boleh sakit atau terluka. Pasien-pasien menghabiskan banyak waktu untuk mendatangi kalian para dokter untuk membantu mengobati sakit mereka. Tapi kamu, bukannya kamu membantu mereka kamu bahkan tidak dapat membantu dirimu sendiri untuk bangkit dari masalahmu!

Rafa : Iya, aku memang bukan dokter yang keren seperti perkataanmu! Aku juga bukan dokter yang baik! Memangnya kenapa!?
Rafa : Tau apa kamu tentang bundaku!? Jangan sekali-sekali kamu bawa bundaku kedalam masalahku! Jawab rafa dengan keras.

Dia marah, benar-benar marah atas perkataanku padanya. Tapi aku tak perduli.

Ai :
Tidak banyak memang, tapi cukup untuk mengenal bagaimana bunda menilaimu! Bagaimana dia sangat membanggakanmu! Aku tahu dan aku bisa merasakannya.

Kamu harus kuat rafa! Bunda pergi karena memang ini sudah jalannya, dan ini jalan terbaik buat bunda. Bunda tak ingin kamu sedih berlarut-larut seperti ini. Kamu harus bangkit! Masih ada dilan dan ayah yang harus kamu jaga, kamu gak boleh egois seperti ini!

Rafa hanya terdiam kali ini, dia tidak membalas kata-kata yang aku ucapkan. Dia malah memilih langsung pergi meninggalkan kami.

Ai : Kalau kamu pergi seperti ini, maka aku pastikan ini akan menjadi hari terakhir kita bertemu!

Aku kesal, kesal, kesal bahkan sangat kesal! Dia benar-benar memilih pergi. Tak tahukah dia kalau aku sedang tidak bercanda dan tidak sedang main-main? Baiklah, kalau memang itu maunya, kita lihat apakah dia akan membiarkanku seperti ini!

Saat itu aku melihat ada beberapa perawat yang sedang membawa defibrillator sempat terdiam melihat adegan kami. Aku berlari ke arah mereka, kemudian menyalakan defibrillator tersebut dengan cepat, menaikkan tegangannya, kemudian mengarahkannya langsung kepadaku, tanpa sempat dicegah perawat tersebut.

Kemudian seketika itu juga, aku langsung terjatuh dan tak sadarkan diri…

Andre : Kikiiii! Kiiikii! Minggir, semua minggir! (teriak andre).

Sedangkan rafa yang melihat kondisiku saat itu langsung berlari ke arahku.

Rafa : Minggir ndre! Berapa besar tegangan yang dia lakukan tadi? (tanya rafa ke eri).
Eri : 800
Andre : Ah ai, apa yang kamu lakukan!? Kamu mau membunuh dirimu sendiri apa!?

Rafa : Ini v-fib! Cepat siapkan kembali defibrillatornya!
Rafa : Setting ke 200mv! (teriak rafa ke eri).

Kemudian rafa mengarahkan paddlenya ke padaku.

Rafa : Shot!

Namun belum ada tanda-tanda detak jantungku kembali.

Rafa : Sekali lagi! Shot!

Andre : Akhirnya! Alhamdulillah! Eri cepat kita pindahkan ai ke kamar pasien untuk sementara.
Eri : Iya mas andre.

Andre : Kamu lihat rafa!? Kamu lihat seberapa besar rasa cintanya padamu? Dia bahkan tak perduli dengan apa yang dilakukannya itu bisa membunuh dirinya. Perlu usaha seperti apa lagi yang harus dilakukannya untuk membuat dirimu kembali menjadi rafa yang kami kenal?

Satu jam kemudian, aku akhirnya tersadar. Kepalaku sangat pusing dan badanku terasa sakit sekali. Kulihat disampingku ada andre dan eri.

Ai : Andre, eri…
Andre : Syukurlah kamu sudah sadar, kami khawatir sekali dengan keadaanmu.
Eri : Kamu baik-baik aja ai?
Ai : Iya aku baik-baik aaja. Mana rafa? tanyaku kepada mereka.
Andre : Dia diluar. Dia gak berani masuk ke ruangan ini. Mungkin dia takut kalau sampai terjadi apa-apa denganmu.

Eri : Tapi kenapa kamu senekat ini ai? Kamu tahu kamu bisa aja meninggal dengan apa yang udah kamu lakukan tadi.
Ai : Karena aku mencintainya! Itu kulakukan untuknya. Aku ingin dia sadar kalau dia gak boleh seperti itu terus.

Ai : Aku yakin dia pasti akan datang menyelamatkanku.
Eri : Kenapa kamu bisa seyakin itu?
Ai : Aku yakin eri, aku yakin. Bukan hanya padaku, dia pasti akan menyelamatkan siapa saja yang sedang butuh pertolongannya.
Ai : Karena dia itu seorang dokter!


cerbung.net

He’s My Doctor!

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset