Jangan Ikuti Aku episode 1

Bisikkan

Tiap kali bermain bersama kawan sepermainan, selalu saja dia sebutkan hal-hal yang tak bisa dinalar. Seperti menunjukkan ada firasat bahwa temannya yang 5 detik lagi akan terjungkal, gara-gara menyandung sebuah rumah makhluk (astral) hingga tak terima. Mencium bau anyir padahal sedang ada di rumah makan ketika sedang berbuka. Dan parahnya, hari itu….

Seusai sholat ashar Ojik bersama kawan-kawan berkumpul di lapangan. Seperti biasanya, Ojik selalu menjadi korban. Harus menjadi penjaga permainan petak umpet. Baik di awal maupun di akhir. Tak pernah bergilir. Selaku menjadi anak pindahan, dia terima tanpa sebuah protes yang disampaikan.

Hitungan Ojik menggema seantero lapangan, menghitung dengan perlahan. Hingga akhirnya ia selesai dengan hitungan, membuka tangan yang menutupi penglihatan. Dan… Hening senyap suasana di sekitaran.
Dari bawah kedua pohon talok yang membentuk gawang, ia mulai perjalanan menyusuri lapangan, yang tandus, hanya berisikan ornamen ban-ban bekas sisa potongan pabrik.

Lapangan itu terletak di perbatasan antar rukun tetangga. Menjadi penghubung antar daerah. Terdapat sebuah pabrik pembuatan ban, yang selalu kosong apabil sore datang. Siang hari sudah ditutup pintu gerbang. Tersisa satu karyawan yang menyapu di akhir pekerjaan. Setelah usai semua urusan langsung tancap gass menuju kampung halaman. Jadi, tersisa Ojik seorang.

Aturan permainan sangat mudah, hanya perlu menjaga tempat mula dan menunjuk beberapa kawan yang dilihatnya. Namun, tidak dengan Ojik. Dengan tanda keistimewaan yang berangsur datang, menyusuri sebuah wilayah sendirian adalah perkara yang sangat menakutkan. Dan bisa jadi saat dirinya mencari kawan, bukan sosok nyata yang ia temukan, makhluk astral gentayangan. Itulah hal utama yang menjadi sebab kenapa ia menjadi seorang korban, permainan.

*Diaaa ada disaaannhaaaahhh (bisikan pelan)
*Satu lagi adaa disaanaaaahhh (bisiknya berulang)

Tubuh bongsor yang mengendap sembari mengamat, tetiba bergidik seakan melihat seekor ular derik. Gemetar, beberpencar (pikiran). Masih dengan usahanya untuk tidak terhasut, bisikan itu…

*Diiaaaaaa diisaaanaaaahh (bisikannya mulai menemu ketegasan)

Entah kenapa, dia terpaksa menuruti bisikan yang datang kepadanya. Berlari kecil, sebentar. Tak pernah Ojik merasa seberani dan selincah ini, seperti ada sebuah semangat yang menguasai diri dengan pasti. Tetap dengan lari kecilnya, berhati-hati agar kawan tak mengetahui kehadirannya.

*Iyyaaaaa beeennaaarrrr diiii ssiittuhhhhh (bisikannya semakin pasti)

Betul saja, tanpa berekspresi mengagetkan, Ojik menunjuk salah satu kawan. Baru kali pertama setelah beberapa hari menjadi korban, Ojik dapat menemukan kawannya. Biasanya permainan berakhir dengan waktu mendekati berbuka dan dipertanda teriak dari mulut yang mengatakan *keluarrrr! Aku menyerah!!!* . Jika beruntung, kawan-kawannya akan perlahan menampakkan batang hidungnya, jika tidak…. Ia berakhir sampai waktu berbuka dan dihampiri oleh ibunya, lantaran ditinggal kawan.

Terasa begitu mudah, satu per satu kawan mulai ditemukan. Mungkin saja hari itu adalah hari keberuntungannya, dan mungkin saja bisikkan entah dari mana menjadi sebab akibat. Merasa sudah semua kawan ia temukan, Ojik menghitung urut dari sebelah kanan. Mereka berkumpul di bawah pepohonan, talok. Lengkap, tak ada yang tertinggal. Tapi, kenapa semua kawannya berdiam diri saja. Tanpa bicara dan mengumpat seperti biasanya, ketika tak terima Ojik menemukan mereka. Mungkin terlampau gusar, karena sudah menyebar tapi Ojik tak melewatkan satupun hari itu.

Adzan maghrib pertanda waktu berbuka berkumandang, tak terasa sudah sekian jam terlewati. Ojik tersenyum puas tak menghiraukan wajah masam kawan-kawannya. Sangat hebat, satupun tak terlewat, pikirnya waktu itu. Selang beberapa menit sang ibu pun menjemput.

“Kok masih di sini nak? Ditinggal temen-temen lagi ya?” tanya ibunya

“Nggak kok buk, mereka udah aku temuin semua tuh di situ semua tuh.” menunjuk beberapa kawannya yang berkumpul di kedua pohon talok, berdiam-diaman.

“Eummm udah kumpul? Mana sih nak? Ibuk gak lihat temen-temen kamu.” ibunya celingukan mencari teman-temannya Ojik.

“Tapi, ada…” jawabnya ragu
“Oh iya, tadi temen-temen udah pamit pulang.” cengengesnya spontan

“Oh gitu?” tanya ibunya kebingungan

“Iya buk, aku lupa. Soalnya aku seneng banget hari ini, berhasil nemuin mereka semua, temen-temenku. Padahal nih ya, mereka ngumpetnya nyebar loh.” jelasnya semangat terbalut ragu

“Yaudah deh, senengnya lanjut di rumah aja ya. Kita belum buka puasa nih.” tegas ibunya

“Iya buk, ayok pulang.”

Di dalam perjalanan, Ojik menceritakan kisah hari itu, secara detail. Mulai dara kawannya yang pertama hingga yang akhir ia temukan. Ibunya hanya mengangguk pasti mencoba menghargai perasaan anak sematawayang, mampu akrab dengan kawan-kawan barunya. Di sisi terdalam Ojik muncul satu pertanyaan yang belum menuai jawaban.

“Ibu benar-benar nggak lihat mereka? Temen-temenku yang kumpul di bawah pohon.” simpannya dalam hati

Ketika hampir saja mereka sampai di rumah, berkelok di perempatan gang terakhir…

“Tante, Ojik dari mana?” tanya Robet, kawan yang pertama kali berhasil ia temukan saat bermain di lapangan.

“Eh robet, bukannya tadi kamu maen sama si Ojik? tanya ibu Ojik sembari menghentikan langkah

“Nggak ta…” lanjut Robet

“Aaanuu buk, kita belum buka loh, aku udah laper.” potong Ojik seraya menarik tangan ibunya

“Eeehhh iya iya. Tante duluan ya Robet. Daaa. Assalamu’alaikum.”


cerbung.net

Jangan Ikuti Aku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Berdampingan dengan mereka (makhluk astral) mungkin sudah biasa. Semua menjadi tak biasa ketika kamu berinteraksi dengannya meskipun berbeda dunia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset