Jangan Ikuti Aku episode 3

Kepala Gelinding

Selesai dengan beberapa rukuk yang ia baca di alquran, merapikan tempat sholat dan berjalan mengarah ke ruang tamu.

“Buk, buk!” teriak memanggil ibunya

“Ibuk mana ya? Perasaan tadi bukannya jawab ya?” gumamnya dari hati sambil garuk-garuk badan karena belum mandi

*tok tok tok
“Assalamu’alaikum.” salam ibunya dari pintu depan

“Wa’alai…. ”
Salam terhenti

“Nak, salam ibuk kok nggak dijawab?” mengelus kepalanya

“Wa’alaikumsalam warrokhmatullohi wabarokatuh.” jawabnya lengkap dan sigap

“Habis dari mana buk? Kapan keluarnya?” bertanya penasaran

“Loh, kan tadi sore setelah sholat ashar waktu kamu mau pergi ke lapangan kan ibuk udah bilang.”

“Nak, habis ashar ibuk ke rumahnya bu RT ya. Nanti ibuk pulangnya agak telat, tapi ibuk sempetin masak supaya waktu kamu pulang dan ibuk nggak ada, kamu bisa buka sendiri.” tirunya seperti tadi sore

“I-i-iya sih buk, trus yang tadi?” tunjuknya dari arah suara

“Tadi siapa? tanya ibunya kebingungan

“Eumm, oh iya buk. Masakannya enak banget, seperti biasanya. Hehe.” tawa renyah si Ojik

Tetap dengan segala kesembunyian ketakutannya menyampaikan, alasannya hanya 1, tak ingin kedua orang tuanya tahu.

“Bapak kemana ya buk?” tanya Ojik celingukan

“Tadi ibuk disms bapak, katanya pulang telat, masih ada urusan di sekolah.”

“Owh, yaudah deh kalau gitu aku ke masjid dulu ya buk. Main sama temen sekalian nunggu sholat isya dan tarawih.” pamit meraih tangan ibunya

“Iya nak, hati-hati ya, nanti ibuk nyusul.”

“Oke buk, Assalamu’alaikum.” perginya sambil melambai

“Wa’alaikumsalam warrokhmatullohi wabarokatuh, hati-hati!”

Di masjid,

“Jik, nanti ikutan bangunin orang waktu sahur yuk.” ajak salah satu temannya

“Eummm. Aku minta izin dulu ya sama ibuk bapak.” jawabnya ragu

“Oke deh, nanti kalau dibolehin langsung kumpul di sini aja ya.”

“Oke!” jawabnya girang

Malam itu berakhir dengan cepat. Setelah sholat tarawih, Ojik dan teman-temannya tidak melanjutkan kegiatan rutinnya. Bermain bersama. Karena mereka sudah membuat perjanjian akan hadir di acara tekturan (membangunkan orang ketika waktu sahur). Alhasil, mereka harus segera pulang dan tidur lebih awal.

Sekitar pukul 03.00, ayam berkokok sangat kencang di dekat rumah Ojik. Rumah Ojik dikelilingi tembok rumah warga di sisi kanan, belakang, dan kiri. Setelah dibangunkan oleh ibunya, Ojik gegas bermapitan.

Ketika sampai di teras rumah. Ojik terkejut melihat ayam yang tadinya berkokok sangat kencang. Sempat ia dengar. Ada yang aneh dalam perawakan dari ayam itu. Mata. Dia tidak menemukan adanya mata. Berlumuran darah dan berbackground hitam. Tanpa banyak kompromi, Ojik langsung berlari meninggalkan rumah.

Dengan nafas yang tersengal-sengal, sampai dengan cepat di titik kumpul.

“Jik, kamu kenapa?” tanya kawan yang mengajaknya tadi malam

“Gpp kok, aku latihan lari, olahraga kecil-kecilan.” jawabnya masih dengan nafas yang terengah-engah

“Oh.”

“Kok masih sepi, yang lainnya mana?” tanya Ojik kebingungan

“Masih ambil alat di belakang masjid.” tunjuk kawannya ke arah belakang masjid

“Kamu tunggu di sana ya, aku susul mereka.” tunjuk temannya itu mengarah ke rumah takmir masjid

Ada sebuah rumah, yang di dalamnya dihuni seorang saja, takmir masjid atau pengurus masjid. Dan, terdapat sebuah lincak (kursi panjang yang terbuat dari bambu). Menunggulah ia di sana.

Dengan penuh rasa takut yang akud. Ojik memaksa diri untuk berani menanti kawannya. Biasanya, takmir masjid sudah siap sedia bersuara di masjid membangunkan warga. Tapi yang ia dapati hanya keheningan. Sebenarnya Ojik bisa saja mengetuk pintu dan merekrut kawan penantian. Karena tidak enak hati, dia lagi-lagi memaksa diri.

10 menit berlalu, kawannya tak kembali. Sekadar merehatkan badan dan menahan dinginnya pagi, ia tiduran. Tak disangka, lama-kelamaan ia terlelap.

Kemudian Ojik terbangun karena goyangan tangan yang ia rasakan. Seorang takmir masjid membangunkannya.

“Loh, Ojik? Kok di sini sendirian?” tanya takmir masjid

“Iya pak. Saya nungguin temen saya yang ambil alat tektur di belakang masjid.” jawabnya sambil mengucek mata

“Oh. Tapi, saya tadi dengar sepertinya teman-teman kamu sudah pada berangkat tekturan.”

“Loh, iya to pak? berarti saya ditinggalin.” jawabnya sambil memulihkan badan

“Iya mungkin mereka kasihan kamu masih ngantuk, akhirnya daripada ganggu kamu, mereka biarin.” jawab takmir masjid menenangkan

“Iya juga ya pak.”

“Yasudah pak, saya pamit mau sahur dulu. Assalamu’alaikum.” pamitnya pergi

“Wa’alaikumsalam warrokhmatullohi wabarokatuh.” menjawab dengan rasa heran dan pikiran kok bisa Ojik berani sendirian

Dengan menahan rasa kecewa dan sedikit merasa acuh karena terbiasa. Ojik pulang ke rumah. Sampainya di pertigaan gang masjid, ia keluar

*gelunddungggg
*gelunddungggg
*gelunddungggg

“Allahuakbar!” teriaknya spontan

Tanpa menamatkan sosok benda yang menggelinding tersebut. Ojik lari. Dengan diikuti bayangan sosok benda bulat menyerupai kepala dengan ekspresi tertawa.


cerbung.net

Jangan Ikuti Aku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Berdampingan dengan mereka (makhluk astral) mungkin sudah biasa. Semua menjadi tak biasa ketika kamu berinteraksi dengannya meskipun berbeda dunia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset