Jangan Ikuti Aku episode 4

Kenapa Aku Ada di Sini?

Dengan menahan rasa kecewa dan sedikit merasa acuh karena terbiasa. Ojik pulang ke rumah. Sampainya di pertigaan gang masjid, ia keluar

*gelunddungggg
*gelunddungggg
*gelunddungggg

“Allahuakbar!” teriaknya spontan

Tanpa menamatkan sosok benda yang menggelinding tersebut. Ojik lari. Dengan diikuti bayangan sosok benda bulat menyerupai kepala dengan ekspresi tertawa.

Lari terbirit-birit namun tak menjerit, takut membuat gaduh dan kena amuk tetangga. Pikirannya berkecamuk, terus memastikan apa yang baru saja ia lihat. Setengah percaya, setengah tidak. Badannya gemetar, keringatnya bercucuran, dan mulutnya kelu. Tak ingin mengulang episode sebelumnya, Ojik bergegas pulang, berlindung menemui orang tuanya.

*Tok tok tok
*Tok tok tok

“Assalamu’alaikum, buk, pak. Ini Ojik!”, ketuknya tergesa-gesa
“Duh, ibuk sama bapak kemana sih? Ojik takut nih!” teriaknya setengah-setengah

*Tok tok tok
*Tok tok tok

“Assalamu’alaikum, buk, pak. Ini Ojik!”, ulangnya

“Iya, sebentar, sabar.” sahut ibunya dengan suara berbeda

“Heee heeee, Ojik takut buk.” lapornya kepada ibunya

Ibunya diam tanpa membalas ketakutan anak sematawayangnya. Alih-alih karena fokus pada rasa takutnya, Ojik tak terlalu keberatan dengan sikap ibunya yang berbeda.

Menuju ruang makan, ditemuinya ayahnya. Tak langsung makan, ia pergi ke kamar mandi untuk sekedar cuci tangan. Tergesa-gesa. Selesai cuci tangan, duduk dengan tenang di kursi ruang makan, menunggui ibunya mengambilkan.

Beberapa menit berdiam diri, menahan perut keroncongan pun rasa takut yang mencemaskan. Tak sabar, ia pun mengambil makan secara mandiri kali ini. Dua entong nasi, beberapa sendok sayur mayur, sepotong ikan pindang, dan sebuah krupuk andalan.

Makan secara lahap dengan tak memperhatikan gelagat aneh orang tuanya. Ibuk dan bapak sibuk dengan makan sahurnya. Nasinya hangat, suasananya senyap. Berpikiran positif mungkin saja mereka sedang ada masalah atau marah kepadanya. Tapi, ada masalah pun atau marah, tak sesenyap ini.

Mengabaikan tentang pikiran curiga, tiba-tiba makan sahurnya habis tak terasa ditemani oleh lamunan. Bermaksud tak ingin memperburuk suasana, seusai makan, cuci piring dan bersiap untuk tidur. Tidur? ya, kedua kantung matanya memaksa untuk terlelap, tubuhnya tiba-tiba tak kuat, lemah, lesu. Bergegas mengarah ke kamar tidur, menyetel jam weker kesayangan, dan tertidur dengan nyaman.

———————————————————————
Sang fajar mulai menunjukkan cahayanya yang berpencar, dingin suhu ba’da subuh berganti hangat yang menyengat.

“Loh, itu kan anaknya bu Ahmad guru ngaji Rt sebelah. Iya to bu?” ucap seorang ibu paruh baya

“Eh, iya i, bener bu. Lha kok malah tidur di lapangan ki piye to?” sahut temannya

“Lha ya nggak tahu saya bu, kan dari tadi sama sampeyan. Mungkin dia lagi diusir, eh tapi..” tebak seorang ibu paruh baya

“Ngawur! ya nggak mungkin pak Ahmad sama bu Ahmad kayak gitu. Udah, samperin aja. Kita antar pulang.” sahut temannya gusar

———————————————————————

“Assalamu’alaikum, bu, bu Ahmad.” ucap salam seorang paruh baya dengan tertatih karena membopong Ojik, lumayan berat untuk seukuran bocah yang bertubuh bongsor.

“Yuhuuuu, sepadaaaaa!” sahut temannya

“Wa’alaikumsalam.” jawab bu Ahmad dari dalam rumah

*Klekkk pintu dibuka

“Wa’alaikumsalam, Innalillahi, anak saya kenapa ini buk? ya Allah.” segera menyambut dengan membopong

“Awas pelan-pelan bu.” menyerahkan Ojik kepada bu Ahmad dengan perlahan

“Jadi gini…….” terang seorang ibu paruh baya, suami ketua rt sebelah

***Tamat***

 


cerbung.net

Jangan Ikuti Aku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Berdampingan dengan mereka (makhluk astral) mungkin sudah biasa. Semua menjadi tak biasa ketika kamu berinteraksi dengannya meskipun berbeda dunia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset