Janur Kuning episode 12

Eksistensi Mereka

Pagi menjelang tapi masih buta, rumah dilembah masih tertutup kabut putih yang pekat, Hawa yang dingin masih menusuk tulang. Sesuai janji semalam Ayah dan pak Slamet dipagi hari setelah sarapan pergi mencari dukun atau sejenisnya, kini tinggalah aku sendirian dirumah. Selesai bersih – bersih sekeliling rumah, kegiatanku kembali menunggu mamak sama Niko yang masih terkapar. TV kunyalakan sebagai penghilang rasa jenuh, beberapa puluh menit selanjutnya gelas dibawah meja rak televisi bergerak kesamping kiri secara perlahan, pandangan mataku sebelumnya fokus pada layar TV kini beralih turun pada gelas yang mulai bergeser pelan…

sreeeggg…sreeggg… sreeggg….

Gerakan itu terhenti diujung meja, badanku awalnya rebahan kini mulai duduk berjongkok mengamati fenomena aneh ini. Semua panca indraku mulai mengamati gelas yang kini tepat didepanku. Setelah kuamati lama gerakan gelas diatas meja televisi tak bergerak lagi, merasa capek menunggu akhirnya tubuhku kurebahkan kembali bersama mamak. Tapi selang beberapa jam setelah berhentinya gelas dan aku yang dalam posisi rebahan???

“Bruakkkk…”

“Suara keras bantingan jendela dikamar mamak”

Badan ini langsung berdiri serta berjalan penuh penasaran, rasa hati ingin melihat asal suara, sampai akhirnya dipintu kamar langkah ini terhenti. Kulihat jendela mamak masih bergoyang, seingatku jendela mamak pagi tadi belum kubuka. Anggapku dipagi itu mungkin ada maling atau perampok, dengan nyali yang setengah menciut. Aku pergi kedapur untuk mengambil senjata, tangan kananku dengan cepat merebut sebuah pisau dapur dari rak piring.

Saat kabut mulai hilang, Langkah kakiku perlahan dengan sendirinya berkeliling rumah mencari sesuatu. Aku mulai memeriksa tiap sudut rumah sampai memutar diluar rumah berulang kali. Terakhir masuk kedalam rumah, semua kamar kumasuki satu persatu, tapi semuanya keadaanya kosong dan sepi. Tak ada satupun manusia atau mahluk selain kami bertiga dirumah pagi itu. Akhirnya aku kembali keruang tengah, dan beberapa jam kemudian ayah datang. Ia memarkirkan motor diteras sedang pak Slamet langsung kembali pulang, ayah dengan langkah gontai masuk keruang tengah serta menghampiriku dengan membawa bungkusan plastik hitam ukuran sedang.

“Bang kau tebar garam ini, disekitar rumah.” Perintah ayah yang sudah terlihat letih

“Ya yah” Jawabku serta mengambil bungkusan plastik hitam.

Selanjutnya sesuai permintaan ayah, perlahan kutebar garam disekeliling rumah sampai garam itu habis. Dalam hati Alhamdulilah semoga tidak ada mahluk yang mengganggu kami lagi, dan berharap mamak serta Niko cepat pulih. Selesai menebar garam kuhampiri ayah diruang tamu, dengan nada serius kuceritakan kepada ayah kejadian yang baru terjadi dirumah, ia hanya mengatakan “Semoga mulai sekarang kita semua aman bang”. Selama satu minggu beberapa syarat yang dibawakan ayah untuk dikonsumsi mamak dan Niko tak mengubah keadaan apapun. Hanya gangguan dari mahluk halus dirumah saja yang mereda selama satu minggu, Sedangkan ayah malah menjadi sering keluar sama pak Slamet. Karena ayah tau mereka masih belum ada perubahan, entah ia usaha kemana saja aku sendiri tak tahu.

Tapi tidak dengan fakta yang ada dirumah, setelah kejadian selama satu minggu gangguan terhenti kini dirumah muncul kembali bahkan lebih sering. Mereka para mahluk astral yang entah dari mana terasa ingin menampakkan eksistensinya semua, kini bukan hanya sekedar bau amis dipagi hari dan busuk disore hari. Seperti disuatu hari yang sudah siang sekitar jam sebelas setelah ayah pergi dengan pak Slamet…kudengar dari dapur

Pyar..pyar..pyarrr…(suara piring yang dilempar kelantai)

Suara itu membangkitkan aku untuk mendekati dapur, kulihat memang banyak berserakan piring-piring yang pecah dilantai. ‘Siapa juga siang-siang pada banting piring kayak gini pikirku’, saat aku melangkah didapur dan mulai membersihkannya tiba-tiba ada suara “pergi kau!!!” suara yang tak kuketahui dari mana sumbernya.

Spontan saat itu aku lari dan mengunci lagi pintu dapur dari ruang tengah. Aku langsung bergabung tidur tengkurap dengan Niko dan mamak dikamar tengah. Dalam posisi masih tengkurap suara bantingan piring kaca diganti dengan tangisan yang melengking…di siang hari!!! dalam kondisi ketakutan aku tetap tengkurap cukup lama dan kututup kepalaku dengan bantal, hal ini akhirnya juga membuatku sesak nafas. Disaat dadaku sesak parah kakiku ada tangan menyentuh “bang bangun bang, ini ayah?” Perintah ayah yang sudah berdiri dibelakangku

Setelah kusadari itu suaranya ayah, akhirnya aku berbalik dengan nafas yang masih berat nan sesak. ”Kenapa bang” Tanya ayah.

“Ada yang membanting piring dibelakang yah”. Jawabku mulai mengatur nafas secara perlahan.

Ayah yang mendengar keteranganku langsung kedapur. Ia sendiri tanpa pikir panjang memindah sementara peralatan dapur, dan sebagian bahan makanan keruang tengah. Aku yang masih takut dan letih akhirnya tertidur. Waktu tidur dalam beberapa jam telingaku mendengar…Kraaakkkk…kraaakkk….suara cakaran dari kamar Niko. Aku mengira ayah yang didalam kamar Niko tapi selang beberapa saat ayah keluar dari kamar mandi. “Ku kira ayah didalam kamar Niko?” Kataku

“Kamu ada – ada saja bang, mimpi kali! Cepat mandi sana.” Perintah ayah dengan mengelap rambutnya yang basah dengan handuk.

Setelah itu aku langsung menuruti permintaan ayah, kegiatan mandi cepat kulaksanakan sore itu karena masih takut dan ingat betul didapur akan kejadian tadi siang.

Malam hari ketika aku bersama ayah sudah mau tidur diruang tengah, suara mulai terdengar dari kamar ayah”…glodak…glodak…glodak…”ayah mengira itu tikus, sehingga ayah yang tanggap langsung pergi kekamarnya. Setelah beberapa saat ia kembali tidur bersamaku. “Ada apa yah” Tanyaku yang tidur disampingnya.

“Gak ada apa – apa bang.” Mungkin suara tikus.

Jawab bohong ayah untuk meredam ketakutanku, padahal aku sendiri yakin itu bukan bukan suara hewan. Tapi aku tetap mengiyakan saja jawaban kepada ayah. Suara – suara seperti ini menjadi hal yang mulai sering terjadi dirumahku, tidak perduli waktu siang atau malam. Aku sendiri yang masih polos hanya bisa menanamkan rasa takut yang mendalam tiap hari dan was-was.

Kondisi semacam ini terus berlanjut hingga memasuki bulan ketiga, mereka berdua tetap setia pada sakitnya. Akupun tetap setia merawatnya, meski harus kutinggalkan bangku sekolah yang hampir lulus tahun itu. Selama itu ayah sudah berulang kali keluar rumah untuk mencari solusi atas kejadian yang menimpa kami. Tapi dari semua usaha ayah selalu belum membuahkan hasil atau bisa dibilang “gagal”, karena belum memberikan perubahan apapun pada mamak dan Niko.

Bulan ketiga diminggu pertama.
Malam hari yang sepi, lembah yang sudah tertutup kabut…aku yang sudah tertidur samar-samar mendengar lirih gesekan parang yang diseret sesorang dari luar memutari rumah kami. Aku hanya diam saja dalam posisi tidur, karena kutahu ini smeua mahluk setan yang sedang mengganguku. Selang beberapa jam setelah suara itu menghilang dari atap kamar ayah tiba-tiba…

“Blenggg…”(suara benda yang terjauh dengan keras)

Sontak aku langsung berdiri dan berlari menuju kamar ayah, kunyalakan lampu kamar. Sinar bohlam lampu putih yang terang menyinari kamar ayah, mataku memandang dari ujung-keujung kamar tidak ada apapun. Semua benda dan letaknya masih tetap sama, tidak ada yang bergeser sedikitpun.

“Uhuk…uhukkk…Huuekkk…hueeekkk.” Suara batuk dan muntah ayah

Telingaku yang mendengar suara dari ruang tengah, telapak kakiku langsung berjalan menuju sumber suara tanpa mematikan bohlam putih kamar ayah lagi. “Kenapa yah?” Tanyaku sambil melihat muntahan ayah diremang cahaya ruang tengah. “Gak tau bang” Jawab ayah dengan bibir bergetar serta kepalanya mulai berkeringat.

Kuhidupkan sumber cahaya putih kamar tengah yaitu lampu utama untuk membersihkan muntahan ayah, Penglihatanku mendapati darah segar yang keluar dari mulut ayah. Sebagian sprei dan kasur yang menjadi bekas tempat tidur ayah menjadi merah hitam, serta bajunya mulai berbau amis.

Spotan aku kaget, saat itu juga aku langsung membopong ayah serta memindahkannya keruang tamu, kondisinya malam itu ayah sangat lemah. Aku baringkan ia dikursi panjang untuk sementara dengan bertujuan menenangkan beliau, selanjutnya kutinggalkan ayah di ruang tamu sendirian sebentar. aku yang panik kembali kedapur untuk mengambil air dan membuat minuman hangat diruang tengah. Sekembalinya dari dapur keruang tamu, diriku merawat ayah dengan hati-hati, setelah ia aku kembali keruang tengah.

Aku yang masih panik membersihkan bekas muntahan ayah dengan cepat serta mengganti spreinya. Saat kubawa sprei serta mau merendam bekas muntahan ayah disamping sumur, tiba-tiba diatas sumur sudah wanita dengan bayinya ini kembali muncul,,,ia tetap memakai baju putihnya yang lusuh memanjang, wajah yang pucat dan tangis sesenggukannya menatap bayi yang digendongnya. Tanpa bisa berkata apapun lagi, aku langsung lari kedepan menuju ruang tamu. Badanku langsung bersimpuh merapat kepada ayah yang terbaring dikursi,

“Uhuk..uhuk..ada apa bang?” Tanyanya sambil mengelus pelan kepalaku.

“Wanita didapur muncul lagi yah” Jawabku dengan wajah yang kubenamkan kesofa tempat berbaring ayah.

“Sabar ya bang” Jawab ayah pelan.

Sejak malam itu ayah ikut tergolek lemas dirumah, ia merasa tubuhnya panas terus meski besoknya sudah berobat kedokter. Akhirnya lambat laun ia ikut terbaring juga bertiga diruang tengah. Kini tinggallah aku satu-satunya yang masih sehat dikeluargaku. Tapi ayah masih bisa bicara, melihat dan sesekali berjalan tapi jalannya terbatas dirumah saja karena kondisi fisiknya yang lemah. Kegiatanku saat pagi menjadi bertambah untuk merawat ketiga anggota keluargaku, terkadang aku juga minta bantuan pak Slamet ketika ia berkunjung kerumahku.

Bulan ketiga diminggu pertama akhir, tepatnya hari sabtu. Malam yang tak pernah aku inginkan. Sehabis Isya’ saat aku duduk santai diteras sendirian mengusir kebosanan, kulihat Intan dari kejauhan keluar dari rumah depan sedang berpeluk mesra dan manja bersama Angga. Senyum bahagia mereka terlihat sangat terpancar dari keduanya. Beberapa menit kemudian dari kejauhan ia melihatku, spontan dengan cepat mereka berdua bergegas untuk pergi yang aku sendiri tak tahu kemana tujuannya.

Aku tetap hanya diam duduk termenung, tanpa berucap apapun. Tak sadar aku yang sendirian bengong meratapi nasib hidupku, hanya memainkan kedipan mata. Dengan pelan mata ini mulai mengeluarkan rembesan air yang tak kuminta. Tak sadar dari sampingku, ada tangan hangat meraih pipiku untuk menyeka rembesan air dengan pelan…

“Sabar bang, maafkan ayah” Kata ayah yang mulai duduk disampingku.

“Iya yah, Deno tak apa-apa” Jawab singkatku untuk menutup sesak dan sedih didadaku, meski lebih sedih ketiga anggota keluargaku yang sakit saat itu.

Masih dalam suasana sesak didada langkah ini langsung masuk kedalam rumah bersama ayah, untuk menemani Niko yang masih belum bisa bicara dan memijit mamak serta ayah. Mataku yang sudah mengering hanya fokus melihat acara TV dirumah, hingga tak terasa waktu sudah tengah malam.

Saat mereka sudah tertidur semua dari halaman rumah, aku mendengar suara ada langkah anak kecil sedang bermain berlarian, seingatku tetangga terdekat disini cuma dua rumah dan tak punya anak kecil. Kalaupun ada anak yang bermain pasti siang hari tapi hal itu jarang terjadi dihalaman rumahku. Dengan hati yang masih sesak aku berjalan kejendela serta menyelingkap sedikit selambu ruang tamu untuk melihat siapa gerangan yang main di tengah malam ini.

Sesampainya dijendela depan, mataku langsung melihat pemandangan halaman rumah yang tertutup kabut tipis. Dari dalam kabut terlihat dua anak kecil berlari – lari kejar mengejar dihalaman rumah. Mereka berlarian memakai gaun putih yang indah tapi dengan rasa saling adu amarah, kuamati cukup lama kegiatan mereka tanpa rasa curiga. Tapi sekian lama anak – anak perempuan ini malah berlari mendekat kearahku, terlihat dari wajahnya pucat semua. Terus mereka bermain lagi berlarian beputar-putar diterasku. Diakhir permainan mereka yang saling mengejar, keduanya berlari kearahku tepat dijendela. Waktu kulihat mereka berdua menembus dinding rumah…disaat yang sama aku menunduk melihat badanku serta samping kanan-kiriku, ternyata anak-anak yang berlarian itu menghilang entah kemana.

Sejenak aku terdiam dan sadar bahwa anak-anak ini bukanlah manusia yang nyata, melihat keganjilan ini badanku berputar cepat berbalik arah kembali keruang tengah. Tapi sewaktu berjalan cepat menuju ruang tengah sekilas mataku melihat kekiri ada sosok tiga orang yang duduk dikursi ruang tamu dengan berwajah pucat serta tatapan kosong. Satu laki-laki, satu perempuan dan satu anak laki-laki ditengahnya. Dengan cepat aku berlari dan langsung mengunci pintu ruang tengah sebagai pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah.

“Klek…klek…”

Sampai dikasur ruang tengah dengan cepat badanku tengkurap meringkuk disamping ayah, tak sadar aku membangunkan ia yang sudah tidur.

“ada apa bang” Tanya ayah pelan yang mulai bangun dari tidurnya.

“Ada tiga orang diruang tamu kita yah” Jawabku dengan tubuh tertelungkup di samping ayah.

Suasana hening sejenak, ayah hanya merangkul dan mendekapku yang sedang ketakutan. Serta ia berkata lirih padaku…

“Diruang tamu itu sosok satu keluarga bang?” Tanya pelan ayah disamping telingaku.

“Benar yah” Jawabku dari dalam dekapannya.

“Dihalaman juga tadi ada anak-anak kecil berlarian menembus tembok ruang tamu, tapi anak-anak itu langsung hilang saat menembus tembok ruang tamu” Terangku pelan.

“Sabar bang, ayah juga sering melihat mereka, sebenarnya ayah juga bingung sudah banyak ayah bawakan macam-macam syarat serta do’a-do’a tapi mereka malah sering menampakkan wujudnya dirumah. Makanya dari kemarin – kemarin ayah bilang kalau dirumah sekarang banyak penampakan semenjak mamak kau jatuh sakit.” Jawab ayah

“Sudah bang kau tidur saja sekarang, semoga mereka tak menggangu kita diruang tengah ini.” Jelas serta tangan ayah yang menyelimuti tubuhku.

Malam itu akhirnya aku tertidur dalam dekapannya ayah, tapi tidur dalam ketakutan rasanya jantung mau copot. Selalu was-was ketika mereka mulai menampakkan eksistensinya dirumah. Subuh menjelang, akupun tidak seperti biasa. Hari itu aku cuma melaksanakan kewajiban dengan tayamum dan ritual wajib diruang tengah, jelas perasaan trauma berat yang kuhadapi malam itu. Selesai melaksanakan kewajiban bersama ayah, aku mau memasak tapi kulihat diujung ruang ini bahan makanan kami habis. Rencana pagi itu aku mau kepasar untuk beli bahan makanan. Kuhampiri ayah yang sedang duduk nonton TV…

“Yah berasnya habis?” Kataku didepannya

“Ambil uangnya dibaju ayah yang tergantung itu bang,” Perintah ayah

Langsung kuambil uang yang ada, dikantong saku ayah ternyata hanya ada tiga puluh ribu rupiah. Setelah kutahu jumlah untuk belanja dan persiapan beberapa hari kedepan kurang, aku kembali kepada ayah…

“Yah untuk belanja ini kurang?” Kataku

“Pakai saja dulu bang, secukupnya. Uang kita sudah habis.” Jelas ayah dengan raut wajah sedih

“Maksudnya gimana yah?” Tanyaku lagi yang penasaran akan jawabannya

“Semua sudah ayah jual bang, semua kebun dan tabungan mamak kau sudah habis untuk biaya berobat kita semua selama ini.” Terang ayah yang tertunduk sedih

Selama sebulan terakhir memang ayah sudah tak terlihat berangkat kekebun lagi, ia hanya berangkat keluar bersama pak Slamet.

“Kini cuma tinggal rumah ini dan satu motor yang kita punya bang!!!” Terang ayah dengan rasa sedihnya.

Suasana shok jelas yang ada dalam otakku dipagi hari, jiwa muda yang tadinya tak terima atas jawaban ayah, perlahan luluh dan menyerah karena keadaan sudah seperti ini. Dalam diam otak ini berpikir ulang, mau tak mau harus menerima kenyataan ini dan harus berpikir keras untuk bertahan hidup dirumah lembah. Tanpa pikir panjang lagi, dihari yang masih pagi aku langsung kerumah pak Slamet untuk minta bantuan, sukurnya ia baik hati dan mau membantu kami untuk beban masalah ekonomi.


cerbung.net

Janur Kuning

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2019 Native Language: Indonesia
Kisah ini berawal saat keluarga kami ditawari tanah dari Jambi oleh kenalan ayahku, masih kuingat jelas namanya dia adalah Pak Herman. Orangnya ini berumur 40 tahunan.Orangnya ini berumur 40 tahunan. Saat dia menawari keluarga kami dimedan tentang informasi tanah beserta rumah yang murah di jambi, di informasikan tanah itu seluas 50 Ha, beserta rumahnya. Waktu itu kami ditawari dengan harga 200 juta. Berbekal informasi dari pak herman waktu itu kami sekeluarga berminat untuk pindah ke Jambi karena rumah dan tanahnya tergolong murah saat itu, pada akhirnya ayahku tertarik membeli tanah di Jambi.Penasaran kisahnya? yuk dibaca kelanjutannya!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset