Janur Kuning episode 6

TEROR

Hari itu kami akhiri denan tidur, keesokan harinya kami beraktifitas seperti biasa. Di malam besoknya, waktu aku mau tidur dikamar bersama Niko mendengar pembicaraan ayah dan mamak. Mereka dengan serius membicarakan masalah kebun karetnya, mereka khawatir jika kedepannya ada yang meminta minta lagi. Apalagi dengan berbagai cara yang mengakibatkan kami dirugikan. Disaat pembicaraan mereka belum selesai, Tiba tiba suara dentuman keras diatap rumahku. Tepatnya suara itu dari dapur..

KRATAK…KRATAAKKKK…KRATAAKKKK…..DUAARRRRR

Setelah suara itu berulang kali berbunyi dengan kerasnya, kami sekeluarga tidak ada yang yang curiga sama sekali. Kami beranggapan pohon mangga dibelakang rumah rantingnya patah saja. Aku pun dan Niko hanya kaget sebentar dan melanjutkan untuk tidur lagi…
Pagi hari seperti biasanya, saat makanan sudah siap didapur. Kami semua berkumpul untuk memulai sarapan bersama, ditengah ayah makan beliau tiba-tiba berkata…

“Eh tadi malam ayah mimpi didekap orang yang menyeramkan, dia tiba – tiba datang menyekik leherku.” Kata ayah yang hampir selesai mengunyah

“Lho kok sama yah?” Sahut mamak

Suasana didapur ketika itu semua menghentikan makannya, dan saling berpandangan antara kami berempat.

“Sama gimana yank.” Kata ayah

“Mimpinya ayah, sama denganku.” Jawab mamak

“Kayaknya ada yang tidak beres?” Kata ayah lirih

“Alah mungkin kelelahan dan kepikiran karena kemaren ada masalah besar” Kata mamak

“Ya udah, sekarang anak anak berangkat sekolah dulu” Perintah mamak

“Ayah dan mamak juga mau berangkat kekebun.” Sahut Ayah

“Ia mak” Jawab kami bergantian

Setelah kejadian mempi buruk bersamaan malam itu, kami melajutkan aktifitas kami seperti biasa.

MALAM KEDUA

Hari kedua setelah ribut masalah tanah. Disiang sampai sore hari kami masih melanjutkan kegiatanku seperti biasa begitupun orang tua kami. Tibalah malam ini, Malam yang tidak seperti malam-malam sebelumnya. Waktu kami semua sudah terlelap, aku dan Niko tiba tiba mendengar suara teriakan yang sangat keras ayah dari kamarnya…

Whoiiiii ….Hooooiiii…. Ojjooooooo [Jangan]

Aku bangun karena kaget seketika itu juga, aku dan Niko langsung bangun dan berlari kekamar Ayah, tangganku dengan cepat menggedor pintu kamar orang tuaku.

“Tokkk..tok… tokkk.. Yah/Mak ada apa? Buka mak?” Kataku dari luar ruangan kamar orang tuaku.

“Masuk den tak dikunci kamar mamak” Perintah mamak

Aku langsung membuka pintu kamar mereka. Aku melihat ayah yang masih belum bangun. Ayah masih berteriak-teriak kencang berkata

“Jangan”, “Jangan” dan “Jangan”…setelah itu aku mencoba membangunkannya.

“Yah bangun yah.” ini deno yah kataku dengan menggoyang goyangkan kakinya

Setelah lama kucoba bangunkan tidak ada reaksi, akhirnya mamak yang sudah mulai panik dan jengkel mencoba membangunkannya.

“Bangun Yah” Teriak mamak dengan menggoyangkan kepala ayah.

Dalam hitungan detik ayah mulai bangun dan sadar, aku, Niko dan mamak bertiga memandangi ayah yang tampak kelihatan lelah.

“Ada apa yah.” Tanya mamak

“Ayah bermimpi, seperti ada nyekik leher Ayah” Jawab ayah yang sudah duduk dan kepalanya masih tertunduk lesu

“Siapa yah yang nyekik” Tanyaku

“Orang yang berjubah hitam kemarin malam” Jawab sedih ayah

“Sudahlah yah, mungkin ayah kelelahan seharian dikebun. Coba ayah ambil wudhu dan sholat malam setelah itu ayah kalau sudah tenang tidur
lagi.” Perintah mamak

“Iya yank” Jawab ayah ke mamak

Setelah itu ayah ambil wudhu dan sholat malam, aku menemani ayah karena beliau masih tampak kusam dan takut. Sehabis keadaan ayah mulai tenang, aku kembali kekamar untuk tidur begitu juga dengan ayah.
Pagi pun datang kami berkumpul didapur untuk makan bersama, waktu itu bau amis didapur masih sangat terasa menggangu. Aku yang sudah merasa terbiasa tidak begitu memperdulikannya. Aku dan Niko langsung duduk menunggu ayah dan mamak untuk memulai sarapan. Aku melihat Ayah datang dengan lemas, terlihat dari caranya berjalan. Saat ayah sudah duduk dihadapan kami.

“Wajah ayah kok beda hari ini.” Kataku dengan tatapan curiga

“Beda kenapa bang.” Jawab ayah dengan tenang

“Iya, ayah beda hari ini.” Kata Niko ikut penasaran

“Nggak tahu nih bang, rasanya gak enak semua badan ayah.” Jawabnya ayah yang datar

“Wajah ayah pucat kali mak” Kataku yang dengan menunjukkan wajah ayah untuk meyakinkan ke mamak yang baru ikut gabung dimeja makan
di dapur.

“Udah gak papa bang, ayah kalian pasti kecapek’an biar hari ini gak pergi kekebun. Istirahat saja dirumah ya yah? Jawab mamak.

“Iya yank, hari ini kita dirumah saja dulu ya.” Pinta ayah ke mamak

“Iya yah.” Jawab mamak

Setelah obrolan kami didapur seperi biasa kami beraktifitas masing-masing. Ayah pagi itu langsung kembali istirahat dikamar, sedang mamak dirumah melanjutkan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.

MALAM KETIGA

Siang hari kami lalui dengan kegiatan seperti biasa. Malam itu sepulang aku dan niko mengaji disurau, aku melihat ayah dirumah duduk diruang tamu sendirian. Wajah ayah terlihat semakin pucat, meskipun sudah seharian beristirahat. Akupun berjalan menghampirinya…

“Yah, gimana kondisi ayah” Kataku

“Gak papa bang, tenang saja” Jawab ayah

“Wajah ayah makin pucat, apa bang Deno antar periksa yah?“ Kataku

“Gak usah lah bang. Besok pasti ayah sudah baikkan.” Jawab ayah dengan tenang.

Setelah mendengar penjelasan ayah yang melegakan hatiku, akupun pergi kekamar untuk istirahat. Saat itu aku dan Niko tetap tidur satu kamar di kamarku. Ketika Malam itu kami sudah tertidur dengan lelap, pada saat jam dua dini hari…

DUARRR… DUARRR… DUARRR….BLAAAARRRRRR

[dentuman kali ini lebih keras dari malam sebelumnya]

Aku dan Niko langsung terbangun dengan cepat, kami berlari menuju kearah dentuman keras itu, sementara dari kamar mamak terdengar…

“Ala ma’jang apanya ini, (aduh ini ada apa sebenarnya : bahasa batak)”? Ucap mamak dengan cepat.
Aku dan Niko yang sudah berada dapur tempat suara meledak, kami berudua memandangi dapur dengan seksama. sesaat kemudian ayah dan mamak dari belakang menghampiri kami. Kami semua melihat dapur kami yang sudah hancur gentingnya dan pecahan genting sudah berserakan dimana-mana.

Ayah malam itu yang masih terlihat pucat berjalan pergi kebelakang dapur kami. Ayah menyelidiki sendiri dibelakang apa yang sebenarnya terjadi. Ketika ayah habis melihat kondisi dari luar ia berjalan kedalam dapur lagi. “tidak ada apa – apa, “Ini bukan mangga jatuh, tapi aneh sekali malam ini.” Gumam ayah sambil berjalan masuk kedapur. Saat ayah sampai didapur…

“Aneh kali yank gak ada apa – apa diluar, mangga pun tak ada yang jatuh.” Kata ayah

“Masak yah” Jawab mamak

“Tapi yah, kok sampai atap dapurnya hancur semua yah.” Tanya mamak

“Gak tau yank, ayah juga bingung.” Kata ayah

“Yah sudahlah biar besok pagi dibetukan tukang, ayok kita tidur lagi saja.” Perintah ayah.

Saat itu sebenarnya aku dan niko sudah merasa gelisah dan tak nyaman dirumah baru ini, saat aku dan niko berjalan ia mulai berbisik disampingku.

“Bang rumah ini kok makin lama makin aneh ya” Tanya Niko

“Iya nik, abang sendiri juga merasa begitu” Jawabku

“Hiiii….bang, ayok tidur saja” Jawab Niko sambil berjalan cepat ke kamarku.

“Dasar kamu nik,” Jawabku yang takut juga ikut berjalan cepat dibelakang Niko.

Setelah kejadian jam dua dini hari itu kami melajutkan tidur dengan nyaman. Waktu berjalan dengan cepat hingga pagi pun tiba. Saat itu aku masih bersih bersih halaman rumah, sedang Niko masih dikamar mandi. Aku mendengar ayah dari halaman depan sudah teriak teriak marah didapur.

“Yank sarapannya mana?, Yank sarapannya mana?, Yank sarapannya mana?” [Teriakan ayah dari dapur]

“Yank kok masih tidur toh, sarapannya mana? [Teriakan ayah dari dapur lagi]

Aku pun yang mendengar teriakan ayah itu langsung pergi kedalam rumah, karena hal ini sangat tak wajar bagiku. Karena mamak selalu disiplin tidak pernah telat ketika menyiapkan sarapan untuk kami. Saat aku sudah diruang tengah aku bertemu ayah.

“Ada apa yah, kok teriak teriak begitu. Memang mamak kemana yah?” Tanyaku

“Mamak kau itu bang? masak sudah siang gini belum siapin sarapan. Gak tau bang” Jawab ayah berjalan menuju kamarnya mencari
keberadaan mamak.

Sesaat kemudian, aku yang sudah didapur masih melihat serpihan genteng dan perabotan yang masih berserakan. Kudengar lirih dari dapur suara ayah…

“Yank yank bangun?” Panggil Ayah pelan

“Yank yank bangun?” Panggil ayah agak keras

Setelah panggilan membangunkan mamak tidak ada respon, ayah dengan cepat kebelakang mencariku dan Niko.

“Bang ayok, ikut ayah” Perintah ayah

“Kemana yah” Jawabku polos

“Ayok ikut saja, mana si adek kau bang?” Jawabku

“Masih dikamar mandi yah” Jawabku lagi

“Ya sudah ayok kesini bantuin ayah” Pinta ayah yang penuh teka teki

Setelah sampai dikamarnya mamak, aku melihat ayah langsung membuka selimut putih bergaris hitam, dan saat itu terlihat wajah mamak sangat pucat sekali. Pemandangan mamaku yang tiba-tiba terbujur lemas sudah tidak berbicara sama sekali. Bibirnya mulai berwarna keputihan sekan terkunci selama – lamnya. Hanya sesekali dengan mengedipkan kedua matanya saja….tanpa terlihat iris dan pupil hitam dimatanya. Hanya bola mata warna putih yang terlihat saat mamak mengedipkan matanya pelan.

“Mak …mamak….bangun….mak…bangun…!!!” Pintaku dengan mengoyang-goyangkan badan mamak

“Tenang bang…tenang!!!!” Kata ayah serta tangannya memegang kedua pundakku

“Bang mamak kenapa bang.” Sahut Niko yang sudah ada di belakangku

“Gak tau nik” Jawabku dengan mataku mulai menteskan air mata.

“Maaaakkkkk….maamaakkkk…. jangan tinggalkan Niko maakkkk.” Kata Niko berjalan dan memeluk tubuh mamak yang terbaring diranjang dengan menangis, serta suara tangisnya yang mulai menyayat hatiku.

Huuuuu….Huuuuu….Huuuuuuu…..Mamaakkkk..

cerbung.net

Janur Kuning

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2019 Native Language: Indonesia
Kisah ini berawal saat keluarga kami ditawari tanah dari Jambi oleh kenalan ayahku, masih kuingat jelas namanya dia adalah Pak Herman. Orangnya ini berumur 40 tahunan.Orangnya ini berumur 40 tahunan. Saat dia menawari keluarga kami dimedan tentang informasi tanah beserta rumah yang murah di jambi, di informasikan tanah itu seluas 50 Ha, beserta rumahnya. Waktu itu kami ditawari dengan harga 200 juta. Berbekal informasi dari pak herman waktu itu kami sekeluarga berminat untuk pindah ke Jambi karena rumah dan tanahnya tergolong murah saat itu, pada akhirnya ayahku tertarik membeli tanah di Jambi.Penasaran kisahnya? yuk dibaca kelanjutannya!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset