Jellybeans episode 26

Part XXVI Rengga’s eyes : Set Fire To The Rain

“Gimana Rengga? Udah siap lawan Om khan?” Tiba-tiba papanya Rhea sudah ada di hadapanku masih dengan pakaian dinasnya.

Tadi sore Rhea meneleponku. Dia bilang, papanya meminta aku hadir di rumahnya sepulang ia dari kantor untuk menemaninya bermain catur. Dan sekarang, aku sudah berada di ruang tamu rumah Rhea. Sore ini papanya Rhea baru saja sampai dari tugas dinasnya di Papua. Entah hal apa yang membuatnya ingin bermain catur denganku menepati janjinya dulu.

“Siap Om!” Ujarku sambil merapatkan jemari tangan kananku dan menempelkan ujung jari tengah dan telunjukku di pelipis kanan kepalaku, tanda hormat.

“Kamu tolong rapihin bidaknya di teras belakang. Rhea, kamu ambil perlengkapan catur papa di ruang kerja papa. Papa mau ganti baju dulu…” Papanya Rhea terlihat begitu antusias ingin bermain catur denganku, padahal kemampuanku dalam bermain catur sangatlah terbatas.

“Ya udah papa ganti baju dulu aja! Biar Rhea sama Rengga yang ngerapihin perlengkapannya. Kebetulan bibik buat surabi kesukaan papa, biar nanti Rhea siapin juga.” Rhea pun menimpali.

“Ya udah, Papa tinggal sebentar yah…”

Rhea memberiku seperangkat alat bermain catur yang terdiri dari papan khas catur berwarna hitam-putih dan bidak-bidaknya yang berwarna serupa. Rhea lalu membimbingku menuju teras belakang rumahnya. Disana terdapat saung kecil yang dikelilingi oleh kolam berisi penuh ikan ko’i.

Rhea memasang karpet diatas saung lalu menyalakan lampu temaram guna menerangi sekeliling saung,

“Sebentar yah Ga! Rhea ambilin minuman sama surabi-nya dulu. Rengga beresin aja dulu papan sama bidaknya! Sorry Rhea gak bisa bantu, Rhea ngga ngerti catur…” Ujar Rhea sambil tersenyum, manis.

“Ok deh…” Aku balas tersenyum sambil membuka papan catur yang terbagi dua.

Setelah Rhea pergi, aku mulai merapihkan bidak-bidak catur. Setiap bermain catur, aku selalu beranggapan kalau kedua warna ini mewakili tiap-tiap dari kerajaan mereka masing-masing dan siap berperang satu sama lain. Dimulai dari pion, bidak terkecil yang berjumlah 13. Sesuai tata cara permainan catur, Ujar Rhea sambil tersenyum, manis.

“Ok deh…” Aku balas tersenyum sambil membuka papan catur yang terbagi dua.

Setelah Rhea pergi, aku mulai merapihkan bidak-bidak catur. Setiap bermain catur, aku selalu beranggapan kalau kedua warna ini mewakili tiap-tiap dari kerajaan mereka masing-masing dan siap berperang satu sama lain. Dimulai dari pion, bidak terkecil yang berjumlah 8 buah.

Sesuai tata cara permainan catur, aku meletakkan bidak pion itu di baris terdepan layaknya pasukan berani mati. Lalu kupegang bidak yang bernama benteng. Dinamakan benteng dikarenakan bentuk bidak itu memang menyerupai benteng atau tempat perlindungan dalam perang. Kuletakkan kedua benteng di tiap pojok kiri kanan pasukan, sesuai dengan tata cara permainan tentunya. Bidak ke tiga yaitu kuda. Tiap-tiap pasukan tentunya dilengkapi dengan kuda sebagai alat transportasi pasukan. Kuda aku letakkan di sebelah tiap-tiap benteng. Aku berfikir, mungkin kuda itu diletakkan disebelah benteng agar pasukan lebih mudah melakukan perjalanan setelah keluar dari benteng, seperti halnya mobil di jaman sekarang yang dimasukkan ke dalam garasi, ya nggak sih?… Bidak ke empat yang ingin kususun adalah….

“Ehem….” Aku terkejut mendengar suara dehaman yang berasal dari papanya Rhea yang sedari tadi ternyata menyaksikankku berkhayal dengan pasukan catur alias bidak-bidak dihadapanku.

“Eh Om. Sebentar lagi om…” Jawabku sambil meletakkan bidak bernama seluncur, ster, dan raja di tempatnya tanpa berkhayal terlalu banyak. He he he..

“Rhea mana?”

“Masih di belakang. Katanya mau ambil minum sama surabi…” Jawabku sambil menempati posisi dudukku. Begitu juga dengan Om Mulyadi, ia duduk dihadapanku layaknya bermain catur. Ia mengenakan pakaian kebangsaannya jika berada di rumah, celana pendek dan kaos oblong. Kumis lebatnya seakan menantangku yang harus siap akan amarah besarnya.

Rhea pun datang membawa senampan penuh Surabi dan dua cangkir kopi hitam.

“Ayo ayo bapak-bapak, diminum…” Ledek Rhea padaku sambil menjulurkan lidahnya. Aku pun membalas membuat papanya Rhea tersenyum melihat tingkah kami.

“Om jalan duluan…” Ujarku membuka permainan mempersilahkan Om mulyadi yang memegang bidak putih untuk jalan terlebih dahulu.

Om Mulyadi menggerakan pion di depan kuda sebelah kiri dua langkah.
Aku pun mengikutinya menggerakkan pionku yang berada di depan ster satu langkah.

Om Mulyadi menggerakan seluncurnya vertical ke kiri.

Aku pun menggerakan seluncur-ku vertical ke kanan.
………

Pertandingan berjalan mulus. Terkadang terlihat Om Mulyadi berfikir terlalu dalam dan lama sehingga membuatku penasaran dengan langkah yang ia pilih. Empat pion dan satu kuda-ku sudah di makannya. Begitu juga dengan dua pion, satu kuda dan satu seluncurnya yang sudah ku makan.

“Jangan terlalu tegang dik Rengga. Dimakan itu kue surabinya. Kesukaan Om tuh…” Om Mulyadi mengejutkan konsentrasiku.

“Duh, jadi buyar nih konsentrasinya Om…” celetukku membuat Om Mulyadi tertawa.

Sebelum aku menggerakan sterku vertical ke kiri tiga kotak, aku mengambil piring kecil yang kuisi dengan sebuah kue serabi yang sudah kusirami dengan kuah gula merah. Yummy…

“Gimana dinas luar di Papuanya Om?” Aku pun berusaha membuka pembicaraan sambil tetap mengunyah kue surabi.

“Bales dendam untuk ganggu konsentrasi Om nih??” Om Mulyadi merajuk seakan-akan aku mengajaknya mengobrol untuk membuyarkan konsentrasinya…

“Ha ha ha! Nggak kok Om…”

“Iya iya, Om ngerti. Dinasnya lancer-lancar aja… Kamu sendiri kuliah gimana? IPK bagus?” Om Mulyadi balas menembakiku dengan pertanyaan sambil me’makan’ seluncurku.

“Argh!” Aku mengerang melihat seluncurku dimakan oleh ster Om Mulyadi.

“IPK bagus dong Om! Kalo lancar terus kuliahnya, cum laude dapet lah!! Aku ngincer gelar itu Om.” Sambil tersenyum aku menggerakan kudaku meletakkan di posisi siap memakan ster Om Mulyadi,

“Ster!” Ujarku tanda bahwa ster lawan mulai terancam.

“Hubungan kamu sama Rhea udah sejauh mana?” Tiba-tiba Om Mulyadi menanyakan hal yang cukup membuatku tertohok. Sangat tertohok. Jadi, ia menganggap aku memiliki hubungan khusus dengan Rhea?

“Hmm, sebatas temen aja kok Om.” Jawabku jujur.

“Oh….” Om Mulyadi hanya meng’oo’-kan jawabanku. Ia mengerti mengenai statusku dan status Rhea yang jelas-jelas masih berhubungan dengan Reo.

Pertandingan berlangsung seru. Kami memainkan tiga game, menghabiskan waktu hamper empat jam. Aku menang satu kali, sedangkan Om Mulyadi memenangkan dua pertandingan. Ternyata papanya Rhea mahir dalam bermain catur. Sepertinya Reo lawan yang cocok untuk beliau.

Pukul 10 malam aku izin untuk pulang. Seperti biasa, alasan aku ada kuliah pagi, cukup membungkam keluarga Rhea untuk berhenti membujukku tetap berada di istana mereka. Dan terlebih-lebih aku takut mereka akan memojokkan hubunganku dengan Rhea. Tidaaaak!!

Hari ke-20

Di Kampus

Karena asik bermain catur semalam, aku melupakan tugas Bahasa Inggris-ku. Aku harus mengarang tentang ’if you’re become a public figure, what would you do?’ . Aku berniat mengerjakan tugas mengarangku itu di dalam perpustakaan yang notabenenya tempat terhening di kampus. Aku paling tidak bisa mendengar suara sekecil apapun disaat aku sedang melakukan hal-hal yang membutuhkan konsentrasi. Untuk itu aku memilih perpustakaan sebagai tempat mengerjakan tugas ini.

Sebelum aku mengerjakan tugas bahasa inggrisku, aku teringat akan buku yang dua hari yang lalu niat ku pinjam dari perpustakaan. Buku tentang Manajemen, guna membantuku dalam tugas akhir semester berupa presentasi. Aku mencari buku yang sepertinya sarat akan peminjam itu, terbukti kemarin aku melihat daftar peminjam buku itu yang ternyata lebih dari tiga puluh orang tiap tiga bulannya.

Aku menelusuri rak-rak besar berisi buku-buku manajemen dan akuntansi. Aku mencari buku ’Management Control System’ . Aku membutuhkan buku itu. Aku terus memutari bagian terdiri dari rak-rak besar setinggi dua meter yang berisikan buku-buku tentang manajemen dan akuntansi.

Ketika sedang asik menelusuri buku-buku yang ada, aku mendengar suara orang sedang mengobrol dari balik rak besar pembatas ruangan tempatku berdiri menilik buku. Suara cewek. Rupanya cewek-cewek itu memanfaatkan perpustakaan yang sepi ini untuk gossip. Aku berusaha tidak memperdulikan suara yang sepertinya familiar itu.

Aku terus mencari-cari buku yang aku maksud sambil berusaha mencari alternatif buku lain yang mengutip topik sama dengan buku yang aku cari. Suara kedua cewek itu makin terdengar keras seakan-akan lupa bahwa ini merupakan tempat yang cukup keramat untuk berbicara. Lalu aku seakan tertegun ketika cewek itu menyebutkan satu nama, Marvin.

”Itu rencana asli gw Sus! Misahin mereka…” suara salah satu cewek terdengar jelas. Sepertinya mereka sedang membicarakan Marvin, sahabatku.

”Maksud lu?” suara satu lagi terdengar lebih lembut dan terdengar antusias.

”…. Marvin…. Mentoknya jadian sama gw…” suaranyaterdengan putus-putus. Sepertinya hal itu hal yang rahasia sekali bagi mereka berdua.

Marvin jadian sama tuh cewek?? Siapa tuh cewek? Emang dia kenal Marvin? Wajar aja sih kalo se-seantero kampus mengenal Marvin. Tapi, untuk jadian dengan Marvin khan nggak segampang itu?? Pikirku.

Aku mulai penasaran. Aku mulai menempelkan telingaku ke rak di hadapanku yang menjadi batas antara aku dan kedua cewek itu. Masih juga terdengar kurang jelas dikarenakan mereka berbicara berbisik dan ketebalan rak ini.

Keisenganku mulai bangkit.

Segera ku keluarkan handphoneku, aku berencana merekam pembicaraan mereka. Aku letakkan handphoneku di kolong rak, kebetulan dasar rak terdapat celah kecil yang menyambungkan ruanganku dengan ruangan disebelahku. Aku berniat ingin meledek-ledek Marvin tentang Marviners Marviners yang ternyata ada dimana-mana.

”Cindy! Niat lu jahat banget….”

JDUG!! Cindy? Cewek yang berharap jadian sama Marvin ternyata Cindy? Keputusanku untuk merekam pembicaraan mereka telah berubah fungsi. Kini rekaman itu berfungsi untuk menjadi fakta bahwa dugaanku benar, kalau Cindy ternyata suka sama Marvin!!

”Dari awal gw suka sama Marvin! Wajar khan kalo gw berambisius miliki dia?!” Cindy mulai marah karena di-judge jahat oleh temannya yang belum aku tahu itu.

”Tapi Amanda sahabat kita! Masa lu tega mainin dia!?” temannya Cindy itu tetap menetang ambisi jahatnya.

”Ya ampun Susiii!! Amanda khan udah punya tunangan! Masa dia masih mau sih sama Marvin! Egois banget dia!!”

Owgh… Ternyata temannya Cindy itu ialah Susi, salah satu sahabat Amanda juga.

”Iya juga sih. Trus Kiky gimana? Dia gak sakit hati?” Susi mulai menyerah. Aku makin penasaran dengan kenyataan yang membuatku tertohok ini. Aku mulai menyimpulkan fakta-fakta.
……..

Panjang lebar Cindy menceritakan rencananya. Sedangkan Susi hanya dapat mewajari apa yang ingin Cindy lakukan. Terpaku aku setelah kedua orang itu membicarakan tentang sahabatku. Bukan hanya Marvin, tetapi juga Ribby. Aku harus memberitahu semua ini pada sahabatku itu. pada Marvin, dan juga Ribby..

Handphoneku berdering setelah aku menyimpan hasil rekamanku tadi dengan nama ‘Betrayal’. Telepon dari nomor yang tidak kukenal. Segera kuangkat tanpa berfikir macam-macam…

KLIK

“Halo…”

“Rengga?”

“Siapa yah?”

“Ini aku Amanda..” Baru saja aku mendengar rencana busuk sahabatnya, kini aku mendengar suara sang korban.

”Owgh…” Sesaat ingin aku membicarakan tentang hal yang kudengar dari mulut Cindy tadi, namun segera kuurungkan niatku itu dikarenakan Marvin-lah yang memiliki hak terlebih dahulu tahu akan rekaman itu.

”Ada apa Manda?” tanyaku heran. Tak biasanya cewek ini meneleponku dari telepon rumahnya.

”Tentang Marvin.”

”Ada apa dengan Marvin?”

”Aku bingung Ga. Dia sebenernya sama aku serius apa nggak sih?”

”Maksud lu?” tanyaku pura-pura bego sambil duduk disalah satu kursi baca perpustakaan.

”Selama ini dia deketin aku, selama ini dia perhatiin aku, tapi kok dia juga deketin orang lain, dia juga perhatiin orang lain… maksudnya apa?” Tanya Amanda membuatku terkejut.

”Maksud lu?”

”Rengga tau khan? Marvin juga deketin Kiky, kamu tau kan?”

”Eh-uh…” Aku bingung harus jujur apa nggak.

”Udah jujur aja. Aku udah liat kok dengan mata kepala aku sendiri.”

”Liat apa?”

”Marvin cium Kiky di depan mataku.”

”Hagh??”

”Bener. Aku lihat itu.Makanya aku tanya ke Rengga. Sebenernya Marvin tuh serius apa nggak sama aku?”

”Hm, Gw juga nggak tahu Man.. Setiap gw ngomong tentang itu, dia selalu ngomong kalo dia lagi cari The Right One. Hal itu yang dia bilang ke gw. Kayaknya dia bener-bener cari yang serius sama dia. Makanya dia seleksi tiap-tiap cewek yang deket sama dia…” Aku pun jujur menyatakan segalanya.

”……..” Amanda terdiam.

”Kok diem Man?”

”Gak kok. Cuma ngerasa, hati aku sakit banget!”

”Maafin Marvin yah Man…”

”……” Manda terdiam lagi..

”Well, gw tahu itu susah buat lu. Tapi, apa yang Marvin lakuin, semata-mata buat kebaikan lu juga kok…”

”Meskipun lebih semata-mata demi kebaikan dia?” Amanda memutus ucapanku.

”Mungkin…”

”Ok deh Ga. Makasih udah mau jujur ke aku.”

”Ok…”

”Trims…”
Klik


cerbung.net

Jellybeans

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Cerita ini menceritakan tentang Lima orang sahabat. Cowok semua. Rengga, Marvin, Ribby, Gerald dan Reo. Mereka memiliki latar belakang, watak dan permasalahan hidup yang berbeda-beda, khususnya masalah cinta. Mungkin agak basi yah kalo dimana-mana selalu cerita yang mengandung unsur cinta.. Tapi di cerita yang satu ini, akan dipaparkan lebih dalam hal-hal yang erat kaitannya dengan persahabatan, cinta vs persahabatan, masa depan vs persahabatan dan persahabatan vs persahabatan

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset