Jellybeans episode 29

Part XXIX Gerald’s eyes : Without You

”Nggak ada siapa-siapa di rumah Ran?” Tanyaku begitu memasuki ruang tamu rumah Ranie.

”Nggak. Papa sama Mama lagi ke singapura. Om gw dirawat disana. Pembantu gw kebetulan lagi mudik. Makanya gw minta lu temenin gw malem ini….” Ranie menjawab sambil mempersilahkanku duduk diruang tamunya yang terkesan mewah. Berkarpet yang sepertinya berjenis karpet persia, dengan arsitektur design rumah bergaya ghotic, berperabot dari kayu yang terlihat mahal.

”Ow.” jawabku singkat.

”Sebentar yah Ger. Gw ambilin minum dulu. Lu mau minum apa?” tanya Ranie.

”Terserah lu. Kalo bisa yang anget-anget Ran! Coz gw lagi kedinginan.” Ujarku meminta. Kebetulan diluar hujan.

”Sebentar yah…”

”Ok!”

Aku kembali menerawang menatapi ruangan mewah kediaman rumah keluarga Artanggajaya. Beberapa pernah-pernik menghiasi rak besar yang sepadan dengan ruang tamu yang memang berukuran besar ini. Pernak-pernik tersebut terlihat berasal dari negara-negara yang berbeda.

Ternyata salah satu keluarga Ranie ada yang mengoleksi pernak-pernik berbentuk burung-burungan. Ada yang terbuat dari keramik, metal, logam, plastik, kayu dan beberapa terlihat terbuat dari kertas (mungkin itu salah satu hasil karya buatan negara jepang dengan origami kebanggaannya), terlihat burung-burungan dari kertas itu terlihat begitu menarik dibanding burung lainnya. Aku menghampiri dan memegang pernak-pernik kertas yang berukuran segenggam itu dan meletakkannya di atas telapak tanganku, mengamati.

”Itu buatan nyokap gw sewaktu dia di jepang. Gw juga suka sama bentuk dan warnanya….” Tiba-tiba Ranie sudah ada di hadapanku sambil memberikanku secangkir kopi-susu, kesukaanku.

”Koleksi nyokap lu?” Tanyaku. Aku mulai tertarik dengan pernak-pernik itu.

”Yup! Itu asalnya dari negara yang berbeda-beda. Yang satu itu dari Afrika, trus yang warnanya ijo itu dari Brunei, yang merah itu dari cina, trus yang dari logam dipojok itu, dari yunani. Itu batu mata yang dari yunani terbuat dari batu mirah lho. Batu kebanggaan masyarakat yunani kuno dulu…” Ujar Ranie panjang lebar menceritakan kolesi mamanya itu.

”Ohh! Hebat yah mama kamu…”

”Yah gitu deh mama. Kalo suka sama satu barang, bakalan setengah mati dapetin tuh barang.”

”Ow..”

”Kayak mama suka sama Peter. Mama suka banget sama Peter. Mama selalu berusaha keras supaya hubungan gw sama Peter bisa berjalan dengan lancar. Tapi, Lu tahu sendiri khan perasaan gw ke Peter. Gw udah bosen sama Peter. Gw,.. Gw nggak bisa menolak kemauan Mama… Gw… Gw…” Ranie menangis.

”Ran, Maafin gw….” Ujarku sambil memeluknya. dan membimbingnya duduk di sofa bersamaku.

”Gw nggak bisa nolak kemauan Mama…. Gw bingung harus apa Ger…”

”Yah, elu harus nurutin kemauan nyokap lu.” Saranku.

”Gw nggak bisa ger…. Su..Sah…” Ranie sesugukkan dipelukkanku.

”……” Aku terdiam. Aku bingung harus bicara apa. Disamping aku tidak tahu solusi yang terbaik untuk kemauan mamanya dan kemauan Ranie, Aku memiliki keinginan memisahkan Ranie dengan Peter, karena aku mencintai Ranie.

Ranie mulai terdiam. Akupun mulai mengelus-elus rambutnya. Ranie terlihat senang dengan perlakuanku padanya. Sesaat ku dekati wajahku dengan wajahnya. Kucium lembut bibir Ranie. Ranie membalas ciumanku, basah….

Sesaat terlintas dipikiranku untuk berbuat hal lebih pada Ranie. Aku mencintainya, sudah sewajarnya kalau aku menunjukkan rasa cintaku pada Ranie.

”Ran, Gw cinta sama elu…” Ujarku sambil tetep menempelkan bibirku di bibirnya dan mulai membuka pakaian Ranie.

”GERALD!” Ranie mendorong tubuhku mencegah perbuatanku. Mencegah perlakuanku yang mengatas namakan cinta itu.

”Kenapa Ran? Gw cinta sama lu. Gw mau buktiin ke elu rasa cinta gw…” Ujarku memelas.

”Tapi nggak dengan cara kayak begitu Ger!!” Ranie terlihat naik darah.

”Tapi gw cinta sama elu…”

”Tapi gw nggak bisa Ger! Kalo elu mau berbuat hal itu, lakuin aja sama cewek lain! Tapi jangan sekali-kali lu sentuh gw!!! Gw benci sama elu Gerald!!” Ranie menangis meninggalkanku dan berlari ke kamarnya.

Aku hanya terpaku mendengar amarah Ranie. Aku merasa bodoh. Aku merasa bersalah… Aku menangis…

Akupun melangkahkan kakiku menuju mobilku. Aku merasa tak wajar bila aku terus berada di dekat Ranie yang jelas-jelas membenciku. Aku pulang…

Hari ke-22

Aku berusaha menepon Ranie tapi tidak digubrisnya. Aku berusaha mencari Ranie, tapi tidak sedikitpun aku menemukan tanda-tanda keberadaannya. Aku mencarinya di rumahnya, di kampus bahkan di setiap tempat yang disukai Ranie, tapi dia tidak juga kutemukan. Aku mulai putus asa. Aku merasa payah. Aku memutuskan untuk meminta maaf kepada Ranie karena kebodohanku. Aku bodoh.

Aku berusaha menepon Ranie lagi. Nada tersambung terdengar. Lalu..

KLIK

”Gerald?”

”RANIE?! Dimana lu? Gw cari lu dimana-mana!” ujarku panik.

”Gw dirumah Peter.”

”Peter?”

”Iya. Peter, cowok gw…”

”Oh…” Ujarku lemas.

”Kenapa?” Tanya Ranie yang seakan-akan semalam hanyalah mimpi yang ia alami.

”Maafin gw…” Ujarku pasrah.

”Iya. Gw maafin lu.” seakan-akan masalah kemarin hanyalah masalah sepele, dengan entengnya Ranie memaafkanku.

”Gw sayang elu Ran. Gw mau jadiin lu pacar gw. Gw pasti lebih baik dari Peter. Gw nggak bakalan ngebuat lu bosen.” Ujarku.

”Maaf Ger, Menurut gw nggak ada yang lebih baik dari Peter. Makasih kalo lu udah nemenin gw selama gw jenuh dengan Peter. Jujur, Gw sayang sama elu. Tapi, gw cinta sama Peter. sekali lagi, Makasih…”

KLIK

Ranie menutup teleponnnya. Membuatku terpekur. Membuatku menyalahkan diriku sendiri.. Membuatku sekali lagi, Menangis….


cerbung.net

Jellybeans

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Cerita ini menceritakan tentang Lima orang sahabat. Cowok semua. Rengga, Marvin, Ribby, Gerald dan Reo. Mereka memiliki latar belakang, watak dan permasalahan hidup yang berbeda-beda, khususnya masalah cinta. Mungkin agak basi yah kalo dimana-mana selalu cerita yang mengandung unsur cinta.. Tapi di cerita yang satu ini, akan dipaparkan lebih dalam hal-hal yang erat kaitannya dengan persahabatan, cinta vs persahabatan, masa depan vs persahabatan dan persahabatan vs persahabatan

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset