Juragan Untir-Untir Kepuntir Cinta episode 14

Nasihat Bapak

Ramli ngebut dari Banyumanik ke Sriwijaya dengan mazda 2 nya karena Ia kawatir kalau terlambat dan kurang 10 menit Ramli sudah sampai, Ia segera mencuci muka dan beberes diri. Ivan barusan turun mengajar dan masih sempat merapikan Ramli dan menata pakaiannya karena Bu Rani akan marah kalau melihat Ramli tak segar atau loyo.

“Nah…sekarang dak oke dan selamat mengajar ayang Ramli”. Ivan puas melihat penampilan Ramli yang sudah rapi.

“Makasih Van, kamu memang jempol”, Ramli mengucapkan terima kasih atas bantuan Ivan dan membaca materi sekali lagi.Peserta khursus sudah siap dan menunggu Ramli memulai pelajaran serta aksinya

“Malam klas, okey akan kakak absen dulu apakah hadir semua?”. Satu-persatu peserta siap memberikan senyum dan actingnya di depan kelas. Ramli memanggil nama Verra, yang dipanggil berjalan sesuai pelatihnya Ramli dan memakai hak tinggi juga tatanan yang manis.

“Verra apakah kamu sudah konsul pada kak Ivan kalau akan menggunakan sepatu High Heels?” , tanya Ramli

“Belum kak, karena kan Ivan masih mengajar di lantai dua dan Verra belum berani naik lantai dua kak” sejenak terdengar ketawa klas dan Verra cengengesan agak malu.

“Okey Verra kamu manis dan jujur silahkan duduk kembali”. kata Ramli “Jadi nilai Verra Manis dan jujur saja kak Ramli…?”, tanya Verra sekali lagi

“Iya…cantikmu belum dapat, tak seperti hari Rabo kemarin cantikmu luber”. Verra agak kecewa tapi memang begitulah kenyataannya. Lalu Ramli memanggil Gunawan Suryo seorang pekerja PNS , Gunawan menggunakan sepatu olah raga dan trining panjang serta jaketnya. Ramli juga memanggil Mutea untuk menilai Gunawan Suryo dan Gunawan Suryo memberikan penilaian Mutea sementara Ramli tinggal sebentar karena dipanggil Bu Rani lewat air phone. Verra,Gunawan Suryo dan Mutea mencoba menilai semua rekannya agar nanti mudah dan lancar memberikan tanggapan dalam penilaian dan mereka bertiga disuruh mendiskusikan pertemuan kali ini.

Ramli diperintahkan untuk persiapan ke Philipina mendampingi pak Andreas bersama Sherley,Ivan dan Sisca, Pak Andreas sudah berada di Philipina dan mempersiapkan acara show “Indonesia’s eternal beauty”. Ivan akan melakukan demo bersama Sisca dan meluncurkan product make up kit terbaru beserta 10 alat make up yang harus dimiliki wanita, sebenarnya alat-alat tersebut sudah dipergunakan Ivan untuk merias Ramli bahkan semua mentor menggunakannya karena memang Sriti Kosmetik diperuntukkan orang Asia.Semua peserta khursus menggunakan Sriti Kosmetik dan Pak Andreas dan Mr Adam Lee sangat menginginkan productnya menyebar di Philipina. Bu Rani dan pak Nanang akan mengurusi klas mode serta melatihnya menggantikan Ramli dan Sherley sedangkan Lusi menggantikan klas balita yang di asuh Ramli dan Sherley. Sinta dari Soraya modeling sangat senang melihat Bu Rani dan pak Nanang membantunya karena Ramli peminatnya banyak, Soraya sendiri kuwalahan dengan pertanyaan-pertanyaan klasnya Ramli yang sangat konyol itu yah maklum klas dewasa diatas 22 tahun yang rata-rata sudah bekerja serta mencari tambahan pengkasilan sambil kuliah.
Lusi memesankan tiket untuk hari Kamis lusa.

“Kak Ramli tiketnya sudah Lusi print, segera diambil ya..Lusi mau pulang nih!”kata Lusi agak terburu

“Oke Lus titip ke kamu saja dulu dan bawa ke rumah , kakak mau sidang habis maghrib dan nanti balik rumah dulu”,jawab Ramli ketika ngampus

“Baik kak…Lusi pulang dulu daaaaggg..”

Lusi menemani ibunya karena nenek sakit dan Lusi memijit-pijit kaki dan tangannya, ibu meminta tolong Mukidi mencarikan pengganti nenek, karena ibu tak mampu melakukan pekerjaan sendiri mengolah makanan di dapur.

Mukidi menemui Bu Sarwo dan membawa adiknya yang baru saja menikah dan butuh pekerjaan, nenek mendengar pembicaraan Mukidi dan menyuruh Mukidi menemuinya , nenek senang sekali melihat Menuk adik Mukidi.

“Jadi ini Menuk adikmu terkecil itu yang sering bermain dengan mas Ramli ya.. ?”, tanya nenek. Menuk tersenyum dan memberi salam sambil mengangguk

“Menuk sudah menikah.. hla kamu kapan menikah Di…? kan tugasmu dah selesai, tinggal ngurus dirimu…”, lanjut nenek sementara Mukidi senyum-senyum saja.
Mukidi dipanggil Bu Sarwo karena mau menjelaskan tugas-tugas Menuk. Mukidi pamit mau ke dapur bersama Menuk

Selesai mengajar Ramli pulang menemui adiknya Lusi dan mengecek tiket ke Manila karena Mr Andreas meminta Ramli segera berangkat, Mr Andreas menelepon Ramli kalau akan menjemputnya di Bandara Internasional Nenoy Aquino jam 12 siang sesuai dengan perintah Bu Rani dan Lusi menuruti arahannya.

“Bagaimana Lus…kamu siap di klas balita?”, tanya Ramli

“InsyaAllah siap kak karena Lusi pernah beberapa kali diajak miss Sherley membantunya karena miss Sherley kurang paham dengan bahasanya anak kecil Indonesia kalau klas remaja miss Sherley senang bila ada omongan yang salah langsung ketawa sehingga paham jadinya”. Lusi amat senang dengan miss Sherley karena amat ramah dan pemaaf, lanjut Lusi
Ramli ke kamar nenek menengoknya, dan menanyakan pada ibu pengganti nenek.

“Menuk adiknya Mukidi yang menggantikannya.., apa kamu gak ketemu Menuk?” dan Ramli menggeleng

“Dia baru nikah dapet orang Mangkang anak blantik sapi, tapi suaminya gak bisa jualan sapi dan memilih jadi kondektur bis jurusan Semarang Kaliwungu”,jelas ibu.

“Katanya mau kuliah si Menuk buk..?”Ramli menanyakannya.

“Tak ada biayanya…mending nikah gak menggantungkan kakaknya Mukidi yang ingin menikah dengan Partini memilik warung sebelah ibu”.

” Ya sukurlah bu kalau gitu”.

“lo… le….kata Lusi kamu mau berangkat ke Philipina…kapan ?”

“Kamis besok buk, doakan lancar show yang di Philipina ya buk”, Ramli mencium tangan ibunya.

“Kapan kamu akan berumah tangga…dan gadis mana yang akan mendampingi hidupmu…?”

“Ah…ibuk…Ramli masih bingung memutuskan pilihan…Ramli ingin beli rumah dulu agar tak menyusahkan bapak ibuk”.

“Yo wis le.., istirahat sik awakmu sayah banget ketoke…”. Ibuk menyuruh Ramli tidur sementara bapak masih menonton sepak bola dan Ramli mendekatinya.
Bapak merasa ditemani maka duduknya bergeser, Ramli melihat bapaknya amat enjoy sedangkan ibunya menemani nenek tidur, Ramli mengambil bantal dan guling karena matanya belum ngantuk dan ingin menikmati acara sepak bola.

“Pak…Ramli boleh tanya..?” Ramli menggoda bapak yang lagi sepaneng menyemangati idolanya, tumben banget bapak gak jawab pertanyaan Ramli matanya tertuju ke tivi dan tiba-tiba bapak berteriak “Gooooooolllll”, Ramli diciumi pak Sarwo yang kegirangan dan meloncat-loncat bersama Ramli karena idolanya menang.

“Waaaaahhhh Chelsea idolamu menang pak….sesok aku di traktir yoooo..?!”, kata pak Tugino lewat hape yang di speaker pak Sarwo.

“Beres pak…ngumpul pinten tarikane…”

“350.000 lumayan pak, lah ini pak RT Marwoto manggil mie goreng disuruh ngumpul ditempate njenengan pripun niki..? lanjut pak Tugino

” Wis ayo monggo mumpong sih greret dadeke ngumpul ning ‘gonku….” Bapak keluar rumah dan sudah berdiri Cak Yatno bakul mie Jowo, Ramli dan pak Sarwo mulai memesan dilanjut pak RT Marwoto, Pak Tugino dan yang lainnya.

“Cak satene ro pea ne ojo sampe lali, satene dibakar sik di nehi kecap yo”, pak Sarwo dah kemecer nyantap mie goreng cak Yatno, Ramli mengeluarkan aqua gelas satu dos njagani kalau ada yang kepedesan. Cak Yatno tanganya ngipasi sate sambil masak , serasa diborong jam 01.30 dagangannya dah habis. Ramli pamit tidur sama bapaknya karena besok pagi mau persiapan ke Manila.

“Jo lali leh – olehe mas Ramli, mugo-mugo sukses gih mas….”

” Aamiin..suwun pak RT Marwoto lan sedoyo sederek …saya pamit dulu” Ramli meninggalkan bapaknya dan satu persatu warga pulang pak Sarwopun tidur sebelumnya melihat nenek bersama bu Sarwo yang sudah nyenyak.Pak Sarwo ke kamar Ramli dilihatnya Ramli masih beberes memasukkan pakaian ke kopernya.

“Sing ati-ati yo lee…mugo-mugo cepak jodomu, nenek berharap kamu segera menikah dan memiliki buyut”, bapak menasihati Ramli.

“Wanita itu sulit dipegang omongannya..sebentar begini dan sebentar lagi begitu…, kalau didekati pura-pura gak tahu…kalau dijauhi marah dan diam lalu telepon nangis-nangislah dan meminta maaf khawatir diputusin…pusing pak …mending njomblo dulu sampai bener-bener tahu siapa yang setia. Bapak memeluk Ramli dan berkata:

“Bacalah wanita lewat hatimu…, wanita itu begitu indah makanya sulit dipegang…, pilihlah wanita yang bisa membawa hatimu dan bukan nafsumu…,bisa menjaga martabatmu”. Bapak memeluk Ramli.

“Terima kasih pak..,Ramli akan melihat mereka melalui hati…bukan melalui nafsu.


cerbung.net

Juragan Untir-Untir Kepuntir Cinta

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2019 Native Language: Indonesia
Ramli menatap sepeda motornya dengan tajam, ia heran kenapa ban motornya kempes padahal baru saja dipompakan, terpaksa ia mendorongnya sampai ketemu tempat tambal ban. Gandum 2 zak yang diatas sedel ia turunkan disamping keranjang yang berisi gula pasir, telur dan daun pisang. " Kenapa mas motornya?" tanya tukang tambal ban". " Ini kenapa ban motor saya kok kempes lagi padahal baru saja dipompakan " jawab Ramli, dan pak tambal ban memeriksa ban sepeda motor Ramli. "Mas ini bannya kempes karena ada yang bocor, coba saya pereksa kebocorannya " Tukang ban memeriksanya ternyata ada dua kebocoran di ban motornya. Ramli duduk di kursi kayu dan menelepon ibunya," Buk , Ramli akan telat sampai tumah" " laaaah kenapa ... apa yang terjadi nak..?" tanya ibunya setengah kecewa. "Penasaran dengan kalajutan ceritanya? yuk segera simak petualangan Ramli disini

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset