Kaos Kaki Hitam episode 1

Chapter 1

Embun pagi terkuras dalam dedaunan dan rumput, jingganya langit terkurung hidup diatas bumi. Pohon-pohon kokoh berdiri tanpa lelahnya, menopang langit menjaga bumi.
Seorang Gadis diam merenung rasa berdiam tanpa bahasa, duduk dipinggir jendela menikmati suara gemercik sungai mengalirkan suka disebelah rumah.
Lukisan nyata hidup ini tergambar jelas dilukis sang pencipta. Masih saja sang gadis menatap keindahannya. Tak berkurang meski sudah banyak gedung-gedung tinggi menggapai runtuhan langit.
Lamunannya seketika retak …

“tana, sudah siang ! Ayo bangun… aku sudah buat sarapan” teriak seorang gadis lainnya
Namanya Altana, gadis muda berumur 17 tahun yang baru saja masuk kuliah untuk semester pertamanya.
Gadis manis, berambut coklat berponi tipis dan berkulit coklat seperti kismis.
Gontai tana menggapai handuk, kemudian pergi membersihkan diri.

Gemercik hujan tiba-tiba merengkuh, jalanan didepan rumah tiba-tiba berkilap basah, banyak genangan yang mengkeruh.
Dedaunan jatuh, seperti peluh bermanja dengan ranting yang kian rapuh.
Tana berjalan bersama Ratifa, teman satu kamar di kosannya.
Gelak tawa terkadang terdengar, terkadang juga senyum manis terukir hambar dari semua lelucon Tifa yang tidak pernah benar. Tana merasa selalu baik dengan semuanya, bahkan kala leluconnya Tifa yang tidak lucu sama sekali.

Kampus mereka tidak terlalu jauh dari kosan mereka, berjarak kurang lebih 1 km, melewati trotoar jalanan kota. Suasana paginya terasa sejuk bercampur aduk. Semua mahasiswa baru terlihat duduk ditaman kampus yang dipenuhi rumput.
“Ayo tana, telat nih”
“iya Fa, sebentar … bukuku ada dimana ya? Yang semalam aku baca?”
“Hmm… yang sampulnya warna pink? “
“Nah itu fa… kamu lihat?”
“hmm,, kayaknya ada disebelah TV deh Na, dikosan!”
“Duhh… Yasudah, Ayo cepet!”
Mereka bergegas berlari keruangan kuliah masing-masing. Karena mereka berbeda jurusan. Altana mengambil Jurusan Seni, sementara Ratifa mengambil jurusan Sastra Jerman.
Kuliah Pertama merekapun dimulai.

3 Semesterpun sudah mereka lalui, umurpun sudah Mengurang lagi.
Altana terlihat bingung duduk disebuah kursi dibalkon kamar kosnya. Tidak terlihat Tifa disana. Ruangan kamar yang berukuran 8×6 meter, berisikan 2 kasur tidur yang sekaligus kamar dan ruang TV dan satu kamar mandi, dan ruangan kecil berguna sebagai dapur, terlihat remang nyaris gelap.
Siluet Tana, tersiram cahaya sore kekuningan, dipegangnya sebuah telepon genggam menatap, mengharapkan suatu hal.
Menunggunya pun terlihat sia-sia.
Tak lama terdengar …

“Kreekk…”
Betapa kagetnya Tana, melihat seseorang masuk dengan lemah hampir jatuh.
“Tifa? Kamu kenapa?”
“Aduh Na, aku gak kuat!”
Tifa tersungkur kaku diatas kasur tidurnya, 3 hari dia mengikuti tes di jurusannya. Setiap hari selalu pulang larut malam. Karena hari ini hari terakhir, senjapun Tifa sudah pulang.
Tana terlihat panic tapi tenang, mengangkat kaki Tifa meluruskannya dan membuat posisi berbaring tifa lebih baik.
Altana mengerti, Tifa sangat kelelahan. Disiapkannya sup hangat dan segelas air putih hangat , berharap Tifa merasa baikkan.

“Yeayyy! “ girang tifa memegang secarik kertas.
Ternyata 3 hari bergelut dengan Tes, tidak sia-sia. Tifa lulus dengan nilai memuaskan. Akan tetapi ini baru Test Awal dimata kuliahnya itu, masih ada test lainnya.
Tapi, tifa tidak terlihat bingung sama sekali, atau khawatir.
“Fa, Hebat banget deh … terus gimana ? Test selanjutnya?”
“Gampang Na, Kan ada Kak Arka!”
“Arka?”

ARKA adalah senior Tifa dijurusan Sastra Jerman, Perawakan Tinggi Putih berkumis tipis, berambut hitam meninggi gagah, sesuai dengan wajahnya yang kotak. Kecerdasannya menjadikannya Asisten Dosen yang sangat terpercaya.
Selama ini tifa, selalu menyempatkan meminta arahan dari Arka untuk tugas2 atau Test kuliahnya.
Tifa sangat mengagumi sosok Arka.

“Kak, aku sedikit gak enak badan, jadinya aku gabisa kekampus dulu ya”
“Oke yasudah, nanti kaka ketempatmu saja!”
“Kesini kak?”
“Iya, sekalian nengok kamu yaa..”
“Oke kak, makasih …”
Percakapan Tifa dan Arka di telepon.

*Dua jam kemudian
Tok tok tok

Tana bergegas membuka kan pintu, sementara Tifa sedang tertidur.
Kemudian dibukalah pintu oleh Tana.
Bak melihat pangeran turun dari kereta kuda, bermahkota emas bermata berlian, kain sutra halus berkilauan, wajah putih bersih , senyum manis termanjakan wajah tampannya.
Tana sekejap terbengong-bengong melihat Arka yang terlihat sedang menunggu untuk dipersilahkan masuk.
“Maaf dek? Dek?”
Tana masih tidak bergeming
“Dek Tifa.nya ada ?”
“Eh eh… oh iya, siapa ya? Nyari Tifa?” jawab Tana sedikit gugup
“Saya Arka, kakak kelasnya Tifa … “

Tanapun mempersilahkan Arka untuk masuk, membuka sepatunya dan menanggalkan kaos kakinya.
“Eh, tidak apa-apa… pakai saja kaoskakinya”
“Tidak apa-apa, saya kurang biasa pake kaos kaki tanpa sepatu”
“Oh okelah … Taro disini aja kaos kakinya” seru Tana menunjuk sebuah keranjang kecil yang lebih mirip tempat tidur kucing, meski mereka tidak punya satupun hewan peliharaan.

Setelah itu, Tana bergegas membangunkan Tifa. Agar dia bias menyambut Arka dengan hangat.
Sementara Tifa dan Arka mengobrol tentang mata kuliah yang akan dijadikan test. Tana berdiri dibalkon kosannya dengan wajah yang berseri tersenyum, kegirangan tidak jelas.
Tapi semua itu berubah saat dia ingat , jika Tifa menyukai Arka juga. Pandangan Pertama yang tidak halal menurut Tana.
Sebagai sahabat yang baik, Tana tidak mungkin mengambil hak yang sudah menjadi hak Sahabatnya sendiri.
Menikmati segelas the hangat, Tana masih duduk sembari mendengarkan sebuah lagu kesukaannya dari salahsatu Band Indi Idolanya.
Tak lama Arka menghampiri Tana yang sedang khusyu menikmati waktu santainya.
“Ehh.. Maaf?” Sapa Arka sembari menepuk bahu Tana yang posisinya disebelah arka
Dengan perasaan kaget, Tana langsung terbangun menumpahkan tea yang ada ditangannya, mengenai kemeja biru Arka.
Semua tiba-tiba menjadi canggung, Tana yang panik dan malu mencoba meminta maaf dan bergegas mengambil lap kedalam, Arka hanya tersenyum lucu melihat kelakuan Tana yang kebingungan.
“Eh ada apa ini Na ?” Tanya Tifa
“Engga Dek, tadi temenmu gak sengaja tumpahin air ke kemeja kaka”
“Duh, Tana ini ceroboh banget…”
Tana terdiam sejenak melihat Tifa mencoba membantu membersihkan kemeja Arka.
“Eh maaf, ini baru ketemu lapnya!”
“Telat Fa, gak usah …ini udh aku bersihin pake tissue, lain kali jangan ceroboh … yaudah kak, ke kamar mandi aja dulu, “
“Oh iya dek, sekalian kita langsung keluar aja ya dek”
“Oh oke, aku mau ganti baju juga”
Tana terlihat sedikit kesal dan sedih melihat mereka.
Tak lama mereka pun pergi dari Kosan.
Tana masih saja terlihat kesal, lap yang tadi dicari susah payah didapur, dipegangnya erat-erat. Kemudian mengelap sisa air teh yang tumpah ke lantai balkon.
Semua terasa sangat menyebalkan bagi Tana.

Keesokan harinya …

Tana bangun pagi-pagi sekali, langit masih terlihat menghitam bahkan membiru perlahan, dan adzan Subuhpun belum terdengar sayup-sayupnya. Burungpun maish tidur pulas disarang mereka, belum ada terlihat kegiatan apapun, hanya pak satpam yang masih terjaga duduk terhuyung didalam pos satpam ditemani segelas kopi hitam hamper habis dan makanan ringan pemberian penghuni kos.
Tana beranjak bangun, mengikat rambut sebahunya. Sambil menggosok matanya, berjalan gontai menuju kamar mandi.
Terlihat Tifa tidur tertutup selimut. Itu membuat Tana merasa heran, Tifa tidak pernah mau tidur dengan ditutupi selimut. Karena Tana masih merasa kesal tentang kejadian kemarin, Tana mengabaikan itu dan langsung pergi ke kamar mandi.
~~
Tana keluar dari kamar mandipun, Tifa masih belum membuka selimut yang menutup sekujur tubuhnya sampai kepala.
Tana mulai merasa khawatir, apalagi terlihat Tifa tidak bergerak sama sekali.
Dihampirinya Tifa ke Tempat tidur Tifa, Tana melihat pemandangan yang sangat tidak mau dia lihat.
Badan Tifa seluruhnya asah dengan keringat, wajahnyapun terlihat pucat dengan bibir hampir berwarna putih. Badannya menggigil, dengan suhu sangat panas sekali.
Tana langsung panik, apa yang harus dia lakukan. Sontak Tana keluar balkon dan memanggil Pak satpam. Serentak teriakan Tana, terdengar oleh penghuni kos lain dan langsung berlarian menuju kosan Tana.
Tifa pun langsung dibawa pergi ke rumah sakit oleh Ibu kost.
Tana menangis sepanjang jalan didalam mobil ambulance, tersedu memegang tangan Tifa yang sudah lemas dan tidak berdaya lagi.
Sudah hampir satu minggu Tifa dirawat diRumah sakit, badannya perlahan membaik, tapi dia belom dipersilahkan untuk pulang.
Dokter mengatakan Tifa mengidap penyakit paru-paru. Itulah yang membuat TIfa cepat sekali lelah.
Ketika Tana dan Dokter sedang mengobrol tentang keadaan Tifa, Arka datang bergegas panic menuju ruangan Tifa dirawat.
Tidak menghiraukan Tana yang sedang berdiri bersama dokter didepan pintu, Arka langsung menerobos dan menghampiri Tifa yang sedang tertidur.

“Kak … Maaf” Panggil Tana
“Gimana sih kamu ini jadi sahabatnya, gak bisa diandelin banget… kenapa kamu gak ngasih tau saya!”
“Maaf kak, nomor kaka gak aktif terakhir kali tadi pagi aku telpon”
“Kan bisa telpon anak-anak lain yang ikut saya ke Luar Kota”
“Maaf kak aku gak tau”
Arka, terus saja memegangi tangan Tifa yang masih lemah.
Tana terdiam duduk, terlihat matanya yang ingin menangis, dia tahan sekuat-kuatnya. Tana bahkan tidak tahu Arka dimana, kenapa dia yang harus dimarahi.

Arka terlihat masih duduk disamping Tifa yang sudah bangun sedari tadi, kadang tersenyum dan mengobrol sedikit dengan waktu sudah menunjukkan Pkl. 22:00 Malam.
Tana datang menghampiri Arka membawa sebungkus Nasi Goreng, Tana hanya menaruhnya diatas kursi dibelakang Arka. Kemudian pergi keluar dan berlalu begitu saja pulang menuju kosan.
Sesampainya dikosan, Tana melihat kamar kosnya sangat berantakan, dia lupa dan tidak sempat membersihkannya kala pulang hanya untuk mengambil uang atau pakain kemudian kembali lagi ke Rumah sakit.
Karena Kesibukan Orangtua Tifa yang di Luar Negeri, mereka sama sekali susah untuk dihubungi. Bahkan Tana yang mebayar semua biaya administrasi dengan uang kiriman dari orang tuanya.

Ketika Tana membereskan Kosannya, Tana melihat sebuah kaos kaki hitam diatas keranjang kecil. Dia mengambilnya dan berpikir, mungkin ini kaos kaki Arka yang tertinggal seminggu yang lalu. Tanapun mencuci dan menyimpannya, dan berencana mengembalikannya ketika Arka sudah tidak marah lagi kepadanya.

Keesokan harinya …

Tana tertidur di sofa didepan TV, dia kelelahan setelah semalaman membersihkan kamar kosnya. Terdengar suara burung bangun, hujan juga mengguyur lumayan deras.
“TRIING TRIIING”
Sebuah pesan masuk ke handphone Tana. Tana perlahan bangun dan melihat siapa yang mengirim pesan itu.

“Na, kamu dimana ? tolong cepat kesini… aku tidak suka dengan orang ini”

Tana langsung bergegas menuju rumah sakit.

Sesampainya Tana disana, Terlihat Tifa menangis tersedu.

“Kenapa fa ? ada apa ?”
“Naaa…. “
“Kemana kak Arka?”
“Aku benci dia Na… dia sudah melakukan hal senonoh terhadapku, aku tidak menykainya! Dai berani menciumiku saat ku setengah tertidur!”
“Kak arka? Berani sekali dia ! sudah… sudah Fa… dia bukan laki-laki baik-baik!”
“Padahal aku sudah menganggap dia sebagai Kakakku sendiri, tapi dia menginginkan lebih, terakhir kali dia bertemu denganku ,,, malam itu dia menguatarakan perasaanya… dan aku menolaknya, aku tidak mau menjadi seorang pacar, akau sudah menganggap dia itu seorang kakak!”
“iya iya sudah …”
Setelah kejadian itu, Orangtua Tifa datang dan membawanya ke Singapore untuk melakukan perawatan disana.
Ditinggal Tifa, Tana sekarang tinggal sendiri dirumah kostnya. Dia selalu mengkhawatirkan Tifa, meski sama sekali dia tidak mendapat kabar apapun dari Tifa semenjak dia di Singapore.

Sore hari dikampus,
Tana berjalan gontai mengangkat alat-alat melukisnya menuju aula. Tergopoh menahan beratnya, Tana terlihat akan roboh.
Tapi seseorang dari belakang sukses menahannya agar tidak terjatuh.
Untuk mengucapkan terimakasih, Tana menoleh dengan perasaan malu.
“Terimaka …”
Tana kembali terpesona, terfokus pada seseorang yang menolongnya itu.
“Hai Na!”
“Terimakasih kak Arr… Ka…”
“Oke Noproblem…”
Arkapun berlalu pergi meninggalkan Tana.

~~
“TRIIING TRIIING”
Sebuah pesan masuk ekdalam handphone Tana .

“Na ada dimana ? boleh kita bicara? Aku tunggu ditaman kampus sekarang … Arka”

Awalnya Tana mengabaikannya, tapi dia juga penasaran apa yang akan dibicarakan Arka terhadapnya.
Diapun bergegas pergi menuju taman kampus.
Terlihat Arka dengan senyum manisnya, melambaikan tangan ke Tana yang sedari tadi mencari-cari dimana Arka.
Kemudian mereka berduapun mengobrol dengan canggung, Arka meminta maaf atas kejadian yang dia lakukan terhadap Tifa, karena Tifa sudah tidak bisa dihubungi, dia meminta maaf ke Tana. Dia melakukan itu karena tidak bisa mengendalikan diri karena kasih sayangnya terhadap Tifa begitu besar.
Semenjak dari itu, Mereka berdua mulai dekat dan sering mengobrol atau sekedar makan malam berdua.

Perasaan dari keduanyapun mulai tumbuh perlahan namun pasti.
Hingga tiba Arka mengungkapkan isi hatinya untuk Tana.
Mereka pun menjalin sebuah hubungan.
Mereka sangat bahagia menjalani kehidupan berdua, mereka selalu bersama meski sedang susah ataupun senang.
Hidup mereka selalu mengukir banyak kenangan, Arka snagat mencintai Tana, begitupun Tana yang sangat Mencintainya.
Meski banyak problem dalam hubungan mereka, tetapi mereka akan selalu kembali dengan baik dan bahagia kembali.
Sungguh kisah cinta yang sangat diinginkan orang lain. Mereka selalu merencanakan apa yang akan mereka lakukan untuk kedepannya.
Arka ingin menjadi seorang Dosen sastra, dan Tana ingin membuka sebuah Pameran untuk semua hasil karya seninya.

Hingga pada saat hubungan mereka menginjak 4 Tahun …
Semua mulai terasa berubah, Arka terlalu sibuk dengan semua pekerjaannya menjadi Dosen setelah menyelesaikan S2nya. Tana pun sering merasa kehilangan Arka, yang terkadang tidak pernah memberinya kabar apapun.
Meski Arka sudah tidak sempat membalas pesannya, Tana masih terus etiap hari mengingatkan makan dan jangan lupa beribadah. Tana selalu mengingatkan itu setiap hari, Mereka sudah jarang sekali untuk bertemu. Terkadang mereka berbicara ditelpon, itu juga tidak akan lama hanya beberapa menit saja.
Tana berpikir, apa sesibuk itu menjadi Dosen?
Tana selalu berfikir postifi, meski hatinya memaksa untuk memikirkan hal negatif. Entah Arka sudah mempunyai pacar lain atau dia sudah bosan lagi dengan Tana.
“Yank, malam ini bisa bertemu? Aku tunggu dicafe tempat biasa kita makan”
Pesan Arka untuk Tana.

Tana merasa akan ada hal yang mengejutkan untuknya, mungkin sebuah kejutan yang tidak terduga. Tana sangat mengharapkan itu. Dengan membawa sebuah Kado yang berisi Kaos kaki hitam milik Arka, Tana berniat memebrikan sebuah kejutan juga , dia menuju café yang Arka Maksud.

Sesampainya di Café

Terlihat Arka duduk dimeja no, 7, Mengenakan kemeja biru duduk serius. Tak pikir panjang Tana langsung menghampiri Arka.
“Hay sayang?”
“Hei … “
“Ayo duduk!”
“Iya, hmm… kamu udah pesen makanan ?”
“Gak usah, kita gabakal lama kok disini…”
“Hmm … ada apa nih? Abis dari sini kita kemana yank? Hihi”
“sebentar, … Aku mau ngomong serius!”
“Oke…”
“Begini Na… Aku sekarang lagi suka sama seseorang”
*Bagai tersambar petir, Tana kaget bukan kepalang… wajahnya lemah badannya melemas.
“tee… teeeruss?”
“Jadi kita sudahi saja hubungan kita ini ya!”
“terus 4 tahun ini, untuk apa?”
“Aku minta maaf, aku rasa dia lebih baik buatku, dan kamu mungkin lebih baik jika dengan yang lain !”
“Tapi? Aku tulus sayang sama kamu… aku cinta sama kamu !”
“Aku minta maaf, … Lupakan saja selama ini yang kita lalui”
“Ta.. taapi,,,”
Air mata Tana berdecak haru keluar memenuhi wajah Tana dan jatuh ke meja Café. Taka da sepatah katapun yang bisa dia katakana lagi, dia terpaku mengingat kenangannya bersama Arka 4 tahun lalu sampai sekarang.
“Sudah jangan menangis, dia akan datang kesini sekarang …”
Dari kejauhan terliaht seorang wanita datang menghampiri Arka dengan gaun pendek merah bernuanasa hitam dibagian rok membuatnya sangat cantik.
“Hai … kamu udah sampe?”
“Iya …” jawab wanita itu
Tana diam dan masih belum bergeming.

“Tanaaaaaaaaa…. SURPRISEEEE!!!”
Tana menoleh kebelakang.
“ TIFA?”
“Iya ini aku !”
“kenapa kaget yaaah … hehe aku balik lagi Tana sayang, maaf ya aku gak bisa ngabarin kamu, aku mau nikah sama Arka… hehe Gentle banget kan pas aku datang ke Indo lagi, dia langsung ngajakin aku nikah”
Tana hanya diam dan airmatanya terus mengucur. Hingga dia bangun dari duduknya dan berkata
“Selamat yah Fa … semoga bahagia!”

Tana berlalu pergi meninggalkan Arka dan Tifa.
Airmatanya sudah tidak bisa dilukiskan lagi bagaimana rasanya, sakit sungguh sakit. Guyuran hujan menerpanya kala dia gontai berjalan dengan perasaan yang sungguh kacau. Dress putihnya basah , memegang tasnya Tana masih berjalan tak tahu arah mana yang akan di tuju.
Sungguh perasaan yang tidak bisa terima, Cinta tulusnya selama 4 Tahun, hancur begitu saja, tanpa dia bisa rasakan semua harapannya. Cintanya kepada Arka semata tidak hilang begitu saja.
Matanya masih menagis tersedu, dengan tatapan kosong … makeup yang dia pakai sudah luntur tidak tersisa.
Saat dia berjalan menyebrang … sebuah Mobil melaju kencang ditengah Hujan.
Tana samasekali tidak menyadarinya.
“BRUKKK…”
Langkah gontai Tana berubah menjadi perhentian dan benturan badannya dengan Mobil dan Jalanan.
Darah mengalir deras dari dalam tubuhnya.
Semua barang barang dari Tasnya berhamburan, termasuk kado kecil terbungkus kertas berwarna biru yang berisi kaos kaki hitam milik arka, tergeletak dan basah.

4 Tahun Kemudian..
Sebuah Pameran karya seni digelar.
Terlihat seorang wanita bersusah payah mengendarai sebuah kursi roda menuju sebuah lukisan terbaiknya.
Tana, umurnya 25 tahun sekarang, dengan keterbatasannya dia menciptakan cita-citanya sendiri dengan membuka sebuah pameran karya seni.
Terpaku dia dihadapan sebuah lukisan, kerlingan airmatanya kembali jatuh dan tersenyum melihat lukisan itu.
Lukisan yang sangat berkesan, dan paling berkesan dalam hidupnya, dia memberi nama lukisan sesuai apa yang ada didalam lukisan itu.
“KAOS KAKI HITAM”


cerbung.net

Kaos Kaki Hitam

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Cerita pendek berkisahkan seorang gadis muda yang menemukan cinta pandangan pertamanya , namun kisah cintanya ternyata tak seperti yang dia harapan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset