Kembang Melati Pembunuh Rindu episode 1


Ibu Darmono usia sudah 59 tahun, tapi masih gesit dan berpenampilan rapi, Empat tahun yang lalu dia baru purna tugas ( pensiun ) Suaminya sudah meninggal dunia kena serangan angin duduk . Memiliki dua orang anak laki dan perempuan, Widati begitu panggilan anak perempuannya sudah bertunangan setahun lagi akan menikah, menunggu calon suaminya diwisuda S2 di Kakultas Ekonomi, sedang kakaknya Aldi belum mau berumah tangga , masih pingin asik bekerja, pingin mapan di pekerjaannya di Rumah Sakit sebagai Analis Kesehatan, Aldi hanya tamatan Akademi Analis di Semarang tapi semangatnya sangat bagus . Sebenarnya bu Darmono sudah amat pingin punya cucu tapi mau bagaimana lagi anak dan menantunya sudah punya rencana sendiri..yaa sudah dia harus sabar dan menyiasati kepedihan hatinya dengan menanam bunga melati peninggalan suaminya didepan , samping , sampai belakang rumahnya di daerah Bandungan

Pagi sore Ia sirami ibarat memelihara seorang cucu dan melayani suami yang sudah 10 tahun meninggalkan dirinya. Air matanya menahan kerinduan suami tercinta tak kan pernah kembali dan semua terkubur di kembang Melati kacintaannya. Ketika kembang Melatinya berbunga rumah itu begitu harum semerbak mewangi dan yang lebih membuatnya heran, ada seorang wanita memperkenalkan diri bernama Juwita dia usaha salon dan menerima jasa pernikahan berniat memborong bunga melatinya. Bu Darmono melongo…” Jangan mbak…ini tidak di jual semua. ..ini saya ambil keharumannya “. tapi Juwita ngotot merayu untuk membelinya karena sudah tak ada bunga melati yang siap panen hanya di tempat bu Darmono yang siap panen. Padahal dia sudah berkali-kali melewati rumah itu dan berharap yang punya rumah memperbolehkan untuk dibeli.

Akhirnya bu Darmono mengalah, tak tega dia sama Juwita yang berharap banget bunga itu. ” Ibu ini saya kasih DP dulu, tapi ibu tetep menyiram ya untuk merawatnya agar tetap segar dan seminggu lagi akan saya petik bunga ini” pesan Juwita sambil memeriksa kwalitas bunga melati bu Darmono, Terlihat muka Juwita cerah sekali dia merasa tak sia-sia muterin tempat tinggal Bu Darmono yang cukup sepi karena sering ditinggal anak-anaknya  dengan berbagai aktivitas. Bu Darmono menceriterakan kembang melatinya pada Widati dan Aldi dan memperlihatkan DP dari Juwita. ” Waaah lumayan ini bu bisa buat bisnis ibu. Ibu Darmono senang karena anaknya tidak keberatan malah ditawari tanah sebelah ditanami melati juga dan akan dibantu menanamnya besok kalau sudah di petik pemiliknya.

Juwita bersama karyawannya datang untuk memanen kembang melati, sesuai permintaan bu Darmono untuk panen di sore hari dan pagi hari. Sore itu  yang dipetik bagian depan dan samping, sedangkan esok pagi yang di belakang. Bu Darmono kaget melihat kuncup-kuncup yang masih muda juga dipetik..tapi harus bagaimana …? bu Darmono tak kuasa melarangnya…ternyata banyak juga kalau dipanen , karena selama ini tak pernah dipanenin semacam ini..paling orang pada  satu kresek atau dua kresek  untuk nempil ( dijual hanya sedikit dan menerima pembayaran seiklasnya )

sepulang Juwita, kembang melati itu disiram sebanyak-banyaknya karena sudah di ambil bunganya secara berantakan. Ibu meminta maaf pada bunganya, rasa tertekan  membuat Ibu darmono menangis, Dia meminta maaf pada Almarhum suaminya terlalu serakah, namun Aldi menghiburnya, ” Sudahlah Bu, ibu jangan sedih macam ini, dulu kembang melati hanya di depan saja dan kini disamping ada, dibelakang ada..bahkan besok sebelah rumah kita penuh ditanami melati, uang yang ibu terima buat membayar tenaga kerja dan ditabung, ibu tak usah menyesal, bapak gak apa-apa dan tak akan marah sama ibu, bahkan senang karena ibu dapat nafkah dan selalu sehat , selalu menjaga anak-anaknya dengan baik.” begitu Aldi menenangkan ibunya. ” Ibu hanya pingin kamu menikah dan ibu tak kesepian jika sudah punya cucu.” ” Tentu,  ibu  tak usah kuwatir pasti Aldi akan ajak kesini calon menantu ibu, Aldi kenalin ke ibu, ibu yang sabar ya…?” Ibu memeluk Aldi, perasaan ibu sudah tenang

Pagi-pagi sekali  Juwita datang lagi, Aldi belum berangkat kerja, dan sempat menyapa Juwita, berbicara sebentar terus memanggil ibunya. Bu Darmono menyambut Juwita, Tapi Juwita agak muram wajahnya, dan meminta maaf” Ibu maafkan Juwita sudah membuat ibu sedih dengan kembang melati ibu, Juwita janji nggak akan merusak bunga ibu.” Bu Darmono lega mendengar penuturan Juwita dalam hatinya Aldi pasti sudah bicara pada wanita muda itu agar hati-hati memetik melatinya. ” Baiklah mari ibu bantu memetik bunga.” Mereka memetik bunga sambil bercanda, kadang bu Darmono menyanyi lagu-lagu lama kesukaan suaminya, sementara Juwita tersenyum dan ikut berdendang.” Omong-omong mana karyawan kamu kok sendirian ke sini ?.”

” Mereka meronce kembang melatinya bu, karena segera dikirim Siang ini ke Solo dan yang dipetik pagi ini siap untuk roncean sore hari, karena Resepsinya malam hari. ”

‘Kalau begitu bareng dong sama ibu, ibu juga akan diajak Aldi ke Solo menghadiri pernikahan teman kantornya. ”

” Terima kasih bu, saya bareng rombongan Melati dan meriasnya jadi siang ini saya sudah datang lebih awal”. ” Waaah sayang ya gak bisa bareng .”

Aldi dan Widati pamit hendak berangkat kerja mereka bersalaman dan mencium tangan ibunya, Widati dijemput tunangannya dan Aldi naik motor.” Bu saya juga mohon pamit melatinya juga sudah habis dan terima kasih sudah membantunya.” Juwita mohon diri dan mengumpulkan kembang melati dalam wadah berisi air yang aman goncangan. ” Tolong main kesini ya nak Juwita kalau butuh melati lagi.”

” Injih bu, matur suwun, Juwita pasti main sini lagi, monggo bu ”

” Hati-hati dijalan Nak Juwita ” begitulah ibu yang sudah mulai akrab dan harus melepaskan tamunya, segra memberesi dapur.

Seminggu sudah ibu tdk melihat Juwita, tiba-tiba sore itu dia datang bersama Aldi membonceng dimotornya ” Hallo ibu, ketemu lagi….” sapa Juwita

” Ehhhh…Nak Juwita, masuk…ayo masuk..tumben ada apa…?”

” Kenalin nih bu, calon mantu ibu….”.  malah Aldi yang jawab sementara Juwita tersenyum malu..

” Yang bener…!! betul begitu nak Juwita..? ” tanya Ibu

” Iya Bu, kami kenal sebenarnya sudah lama “. jawab Juwita pendek dan diteruskan Aldi pembicaraan itu. ” Juwita teman sekolah Aldi di Akademi Analis Kesehatan dan dia kerja di Puskesmas, sambil berbisnis kembang melati mempertemukan kami. Ibu Darmono memeluk calon menantunya yang ayu itu. Lewat kembang Melati itu ayahmu menuntun jodoh kamu Aldi, ibu bahagia sekali.

Selesai


cerbung.net

Kembang Melati Pembunuh Rindu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
bu Darmono usia sudah 59 tahun, tapi masih gesit dan berpenampilan rapi, Empat tahun yang lalu dia baru purna tugas ( pensiun ) Suaminya sudah meninggal dunia kena serangan angin duduk . Memiliki dua orang anak laki dan perempuan, Widati begitu panggilan anak perempuannya sudah bertunangan setahun lagi akan menikah, menunggu calon suaminya diwisuda S2 di Kakultas Ekonomi, sedang kakaknya Aldi belum mau berumah tangga , masih pingin asik bekerja, pingin mapan di pekerjaannya di Rumah Sakit sebagai Analis Kesehatan, Aldi hanya tamatan Akademi Analis di Semarang tapi semangatnya sangat bagus . Sebenarnya bu Darmono sudah amat pingin punya cucu tapi mau bagaimana lagi anak dan menantunya sudah punya rencana sendiri..yaa sudah dia harus sabar dan menyiasati kepedihan hatinya dengan menanam bunga melati peninggalan suaminya didepan , samping , sampai belakang rumahnya di daerah BandunganPagi sore Ia sirami ibarat memelihara seorang cucu dan melayani suami yang sudah 10 tahun meninggalkan dirinya. Air matanya menahan kerinduan suami tercinta tak kan pernah kembali......

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset