Kenangan yang Terlepas dari Pandangan episode 1

Chapter 1

Rumah itu tidak besar, tidak pula kecil. Cukuplah untuk menampung kami sekeluarga. Kuakui, tanda-tanda bekas bocor ada di mana-mana. Di langit-langit kamarku juga ada. Aku dan dua adik perempuanku — sambil berbaring santai — kerap menebak-nebak dan membayangkan bercak kecoklatan itu sebagai buaya, awan gelap, ubur-ubur, sepatu, bintang laut patah kaki, kue bolu, dan banyak lagi.

Kamarku paling kecil karena aku menempatinya sendiri. Dua adikku yang lain menempati kamar yang lebih luas karena mereka berbagi. Tapi, mereka sering juga ‘menginap’ di kamarku. Dan, parahnya lagi, kami juga sering menghabiskan siang di kamar Mama, sebelum si empunya kamar pulang. Kamar Mama dan Papa adalah kamar paling nyaman, ada AC, ada televisi, ada DVD player, ada kamar mandi dalam. Lengkap.

Terkadang, di kamar tersebut, di akhir minggu, kami menonton film bersama, aku, dua adikku, dan Mama. Papa? Ia memilih mengobrol dengan tetangga di teras. Karena, yang kami tonton adalah komedi romantis. Dan, Papa sama sekali tidak romantis!

Namun, acara menonton yang biasa kami lakukan di hari Sabtu harus berubah jam tayangnya menjadi hari Minggu setelah aku bertemu dengan seorang pria yang berhasil meremas-remas hatiku setiap kali bertemu dengannya. Papa juga harus pindah lokasi mengobrol dengan para tetangga karena aku dan pria itu juga senang mengobrol di sana.

Di belakang rumah ada sebidang tanah kosong yang dihiasi dengan beberapa tanaman. Bukan Mama yang telaten mengurusnya, tapi Papa dan adik bungsuku. Mereka tergila-gila pada bebungaan. Catat, bukan karena Papa romantis, tapi karena ia pikir sebidang tanah itu harus memiliki fungsi seperti setiap sudut rumah kami lainnya. Papa adalah seorang yang sangat—sangat sangat—fungsional.

Rumahku surgaku. Begitulah aku melihat rumah ini. Rumah di mana aku dibesarkan. Kata Papa, rumah ini selesai dibangun saat aku berusia empat bulan dalam kandungan Mama. Meski dilarang oleh Kakek dan Nenek, Mama tetap sibuk pindahan meski perutnya mulai membuncit. Kata Mama, mungkin itu sebabnya aku tumbuh menjadi gadis yang tangguh, karena sejak kecil sudah diajak bekerja keras.

Mungkin ada benarnya juga. Aku tak pernah tinggal diam. Aku senang melakukan banyak hal. Bahkan aku kuliah sambil bekerja. Bukan untuk gaya-gayaan seperti yang dituduhkan teman-teman, tapi aku memang merasa perlu membantu membiayai kebutuhan keluarga kami. Papa terkena stroke semenjak enam bulan yang lalu. Setelah serangkaian terapi, Papa sudah dapat berbicara dan berjalan lagi, tapi kami melarangnya bekerja. Apa gunanya jika pada akhirnya nanti Papa jatuh sakit lagi?

Mama memang bekerja juga, tapi aku tahu, gaji Mama tidak cukup untuk menutupi semua pengeluaran kami. Bahkan, gajiku yang kupergunakan untuk membantu pun tak cukup.

Sebulan yang lalu, keputusan itu dibuat. Kami terkejut setengah mati. Tak pernah terpikir di benak kami bahwa Papa dan Mama tega melakukannya pada harta kami satu-satunya, kecintaan kami, surga kami.

“Mama nggak punya pilihan. Mama sudah menemukan sebuah rumah lain yang lebih kecil. Agak jauh memang. Tapi, itu adalah jalan yang terbaik.”

Aku dan kedua adikku saling berpandangan. Kami menahan air mata.

“Ma, Kakak akan kerja lebih keras, Kakak janji. Tapi, jangan jual rumah ini.”

“Aku juga ikut kerja,” tambah adik tengahku.

“Aku janji nggak akan minta jajan,” lanjut si bungsu.

Papa terbatuk-batuk. Kami langsung mengerumuninya. Wajah Papa basah oleh air mata. Batuknya semakin keras.

“Ambilkan Papa minum, Kak,” perintah Mama.

Aku segera ke dapur, sementara kedua adikku mengusap-usap punggung Papa.

“Semua salah Papa,” ujar Papa setelah batuknya reda.

“Nggak ada yang salah, Pa,” sanggah Mama.

“Kalau Papa nggak sakit…”

Aku tersadar, semakin kami menolak ide ini, semakin Papa merasa bersalah.

“Pa, kita kan nggak boleh menyalahkan takdir. Kalau memang pindah adalah cara terbaik, Kakak dan adik-adik setuju kok,” kataku sambil memandang adik-adikku dan mengirimkan semacam kode agar mereka paham.

Adik tengahku langsung tahu apa maksudku, “Iya, Pa. Pokoknya yang terbaik buat kita semua.

Adik bungsuku terlihat bingung, sepertinya ia hendak berkata sesuatu, tapi membatalkannya demi melihatku menggeleng perlahan.

Dan, ya, keputusan itu pun bulat.

Seminggu kemudian, kami duduk manis di teras, menunggu calon pembeli datang. Mama sedang mengantar Papa ke dokter, jadi hanya kami bertiga yang dapat menyambut orang yang akan mengambil alih surga kami itu.

“Silakan masuk, Bu.”

Adik-adikku memasang senyum terbaik mereka sementara aku mengajak calon pembeli berkeliling.

“Cantik rumahnya,” puji Ibu itu.

“Terima kasih,” jawab kami bersamaan.

“Harganya ndak kurang lagi?” tanya si Bapak yang menemani si Ibu.

“Soal harga, silakan Ibu dan Bapak bicarakan dengan orang tua kami. Ini nomor telepon yang bisa dihubungi. Sekarang mereka sedang ke dokter.”

Kuulurkan kertas berisi nomor telepon rumah ini.

“Silakan hubungi nanti malam, Pak,” tambah adik tengahku.

Mereka berlalu. Malamnya menelepon. Proses penjualan terjadi. Dan, hari ini, kami sudah mengangkut barang terakhir keluar dari rumah.

Aku dan adik-adik berusaha tampak riang, kami berfoto-foto di depan rumah. Untuk kenangan. Tapi, sesungguhnya kami merasa begitu sedih. Hanya saja, di hadapan Papa, kami harus terlihat tegar.

Papa dan Mama sudah terlebih dulu ke rumah baru, di antar oleh si peremas hatiku. Sementara kami bertiga memutuskan untuk tetap berada di rumah hingga sore berlalu. Si peremas hati akan kembali lagi nanti untuk menjemput kami.

“Kak, aku sedih banget,” kata adik bungsuku.

“Semua pasti sedih.”

“Kak, rumah ini akan dirombak atau malah dihancurkan terus mereka membangun yang baru?” tanya si tengah.

Aku mengangkat bahu.

Si bungsu mulai terisak.

“Kepedesan, Dek?” godaku karena memang kami merayakan perpisahan ini dengan ngerujak.

Ia tersenyum meski matanya terus mengeluarkan air mata. Mau tak mau kami bertiga pun menangis dalam seyum.

Hari hampir gelap saat si peremas hati menjemput kami. Hati kami belum siap meninggalkan rumah, namun hal itu harus dilakukan. Sebelum pergi, kami memasuki tiap ruangan sekali lagi, untuk yang terakhir kali. Meski ruangan dalam keadaan kosong, kami memandangnya seakan semua barang masih terletak di tempatnya.

Ruang terakhir yang kami kunjungi adalah kamarku. Kami menghabiskan waktu paling lama di sana. Ada bercak bekas bocor baru di sudut langit-langit.

“Lucu ya bentuknya,” seru si bungsu.

“Kayak tiga kepala,” sahut si tengah.

“Tiga kepala kita!” kata si bungsu lagi.

Kami tertawa bersama.

Tin…tin…terdengar suara klakson dari mobil si peremas hati.

“Yuk, udah mau gelap,” ajakku.

Kami meninggalkan kamarku, meninggalkan rumah, sekali lagi memandangnya dari luar, memandangnya dari dalam mobil, terus hingga tak lagi tampak. Meski kenangan indah itu akhirnya harus terlepas dari pandangan, namun takkan lekang dari ingatan, dari hati kami.

Selamat tinggal, rumahku surgaku. Semoga kami dapat menciptakan surga baru di rumah baru.


cerbung.net

Kenangan yang Terlepas dari Pandangan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2009 Native Language: Indonesia
Cerpen tentang sebuah rumah lama , dimana banyak kenangan serta warna warni kehidupan tercipta di rumah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset