Kepingan Rindu yang Tak Pernah Utuh episode 1


Aku menghela napas perlahan kemudian memandang lekat-lekat sosok lelaki yang ada di depanku. Tak ada yang berubah darinya, masih tetap mengagumkan dengan sorot mata yang begitu mengesankan.

“Ki, gimana kabarmu?” tanyanya setelah hampir lima menit kami saling terdiam.

“Sama seperti yang kakak lihat. Aku baik-baik saja,” jawabku sambil tersenyum.

“Ayahmu gimana, Ki? Sudah bisa kerjakah?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng lemah, lalu tersenyum getir, “Masih sama seperti tahun lalu, Kak, tak bisa menggerakkan tangan kirinya. Jadi tak mungkin bisa bekerja.”

“Lalu apa keseharianmu selama ini, Ki? Cuma ngajar aja?”

“Aku? Ya Banyak lah, Kak. Pagi mengajar, siang kasih les di sekolah. Sore ekstrakurikuler di lapangan sama anak-anak. Malamnya kasih les privat.”

“Hmm sibuknya. Cukup, Ki?”

“Apanya, Kak?”

“Honornya?” jawabnya hati-hati.

“Seperti yang kakak lihat. Aku masih bisa main sampai sini, kan? Bahkan hari ini aku nepatin janjiku buat traktir kakak makan disini. Adekku masih sekolah. Bapak ibuku juga makannya 3 kali sehari dan sejauh ini aku tak pernah mengeluh tak punya uang buat beli beras, kan?” jelasku penuh penekanan.

“Oh. Jadi sekarang Kiki benar-benar jadi tulang punggung keluarga, ya? Ibu gak kerja? Atau bagaimana?”

“Kakak mau introgasi kehidupanku? Atau kehabisan kata buat basa basi?” Entah kenapa aku kesal sekali dengan pertanyaan Kak Arif.

“Maaf, Ki, maksudku bukan begitu. Aku hanya…”

“Hanya mau memastikan, kan, betapa beratnya kehidupanku?” aku memotong kata-katanya sebelum dia menyelesaikan semua kalimatnya.

“Ki, aku hanya ingin tau keadaanmu sekarang. Gak kurang dan gak lebih.” Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Salting mungkin, “Hmm gak ada maksud untuk merendahkan, Ki.” Dia menggeser duduknya agar bisa melihat wajahku dengan jelas.

Aku kesal. Dadaku rasanya sesak. Kupalingkan mukaku darinya sambil menepis air yang sedari tadi sudah kutahan di pelupuk mata. Aku mencubit pahaku dengan keras, menahan pedih yang hampir tumpah. Cukup kak basa basinya, cukup. Sungguh kali ini aku sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.

“Maafkan aku.” Dia menghela napas. “Aku tak pernah bermaksud untuk menyakitimu.”

“Kau tak perlu minta maaf, Kak. Tak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya memang sudah digariskan seperti ini.” Aku berusaha menahan suaraku agar tak terdengar bergetar.

“Aku salah, Ki, aku minta maaf. Mungkin benar kata adikku aku terlampau egois dalam hubungan kita.” Ada jeda untuk memilah kata. “Jika waktu bisa diputar ulang, kira-kira apa yang ingin kamu perbaiki dari hubungan kita ini?”

Aku mengatur napas kemudian memberanikan diri untuk menatap lekat kedua bola matanya. “Tak ada yang salah dari hubungan kita, Kak. Sungguh tak ada yang perlu diperbaiki. Semua sudah berjalan seperti dengan yang semestinya. Kau tak perlu minta maaf kepadaku meskipun aku pernah kehilangan arah setelah kau memutuskan untuk pergi.”

Dia menunduk. Sengaja mengalihkan pandangannya dariku.

“Kau tau, Kak? Sehari setelah kepergianmu, aku mengurung diri di kamar. Menumpahkan semua tangis di atas sajadah. Meneriakkan namamu dalam keheningan doa, dan berharap semua hanyalah mimpi buruk atau omong kosong yang kau balut dengan kata kejutan di hari ulang tahunku.”

Aku terdiam sesaat. Mengatur emosi yang sudah hampir meledak karenanya.

“Tapi ternyata aku keliru, Kak. Seminggu setelah kepergianmu, kau tak pernah kembali. Bahkan menanyakan keadaanku pun tidak.”

“Maaf…” dia masih tertunduk

“Kak, mungkin apa yang aku lakukan terkesan sangat konyol. Aku membunuh sebagian besar waktuku hanya untuk meratapi kesedihan yang kau akibatkan. Bekerja siang malam untuk melupakanmu. Dan membujuk hatiku agar tetap tabah setelah kau tinggalkan.  Tapi aku lelah, Kak. Tak mudah memang dilalui. Semua terasa begitu menyesakkan. Hanya air mata kesedihan yang muncul ketika bayangmu datang secara tak permisi.”

Aku melanjutkan kata-kataku setelah emosi sudah mulai stabil.

“Sebenernya kau tak perlu minta maaf kepadaku. Aku yang salah, Kak.” Suaraku parau. Tertelan desau angin yang menyibak lembut anak rambutmu.

Kak Arif mengangkat kepalanya. Menatapku dengan keraguan kemudian bertanya dengan suara lirih. “Dek, apakah namaku masih kau sematkan di dalam semua doamu?”

“Ya,” aku mengangguk mantap.

“Jadi apakah aku masih berkesempatan untuk menjadi tulang punggung bagimu dan keluargamu?” tanyanya gamang.

********

9 bulan yang lalu. Di kota yang sama, kita pernah duduk berdua membicarakan masa depan.

Aku dengan semangatku menceritakan apa-apa saja yang menjadi impianku bersamamu, dan kamu dengan mata nanar serta senyum hambar mendengar ceritaku.

“Jadi gimana, Kak? Mau jadi di bulan Januari atau Juni?” tanyaku padanya.

Dia terdiam. Kedua tangannya menggenggam jemariku dengan sangat erat.

“Ki,” suaranya terdengar begitu berat, “aku minta maaf,”

Aku menoleh ke arahnya dengan muka kebingungan.

“Seperti nya kita gak bisa melanjutkan hubungan ini.”

“HAHAHA… Males ah. Lagi gak mood bercanda aku, Kak,” aku tertawa sambil meremas erat tangannya.

“Ki, dengerin kakak!” dia memegang kedua pipiku kemudian menghadapkan mukaku berhadapan dengan wajah manisnya.

Dadaku bergetar. Desiran ini selalu nyata setiap kali kutatap kedua mata indah miliknya.

“Kakak serius, Ki” Dia memalingkan wajahnya, “Kakak gak bisa…”

Hening. Aku diam, masih menunggu kalimat selanjutnya. Ini pasti prank pikirku. Gak mungkin dia membatalkan semuanya, toh hubungan kami baik-baik saja. Sejauh ini juga gak ada orang ketiga di antara kami.

“Sepertinya aku gak sanggup, Ki, menanggung semuanya. Terlalu berat bagi kakak,” dia membuang napas dengan kasar. “Kamu tau kan kalau aku anak pertama? Bebanku sudah terlalu berat. Ibuku, adik-adikku, semua besok pasti akan bersandar padaku. Aku tak akan sanggup jika harus menanggung kehidupanmu beserta dengan keluargamu.”

“Kakak serius?” itu adalah kalimat pertama yang aku ucapkan setelah 10 menit aku terdiam.

Dia mengangguk lemah.

“Aku kan kerja, Kak!” suaraku tercekat di kerongkongan.

Sakit ternyata memaksa pita suara merespon perkataan yang tak ingin didengar.

“Aku tau, Ki. Tapi percuma, semuanya gak akan cukup. Ayahmu sakit, gak mungkin kerja. Ibumu bisa apa? Dan lagi, adikmu masih butuh biaya banyak. Sedangkan kamu kerja hanya sebagai guru honorer yang gajinya tak seberapa.”

Mataku mulai mengembun. Aku gak menyangka dia tega berkata seperti itu padaku. Kulepaskan genggaman itu dan kuseka air mata yang sudah membanjiri kedua pipiku.

“Iya, Kak, tak apa. Semoga kelak kakak dapatkan wanita yang punya penghasilan di atas rata-rata,” detak itu runtuh. Digantikan dengan kata-kata parau dan bibir yang mulai bergetar.

Aku menyambar tasku kemudian meninggalkan dia yang masih duduk terdiam mengamati punggungku yang sudah mulai menjauh.

*******

Dingin mulai membungkus malam. Aku berdiri kemudian membuang pandangan ke arah langit penuh gemintang.

Tak mudah rasanya. Setelah sekian lama aku mengubur  perasaan itu, tiba-tiba dia datang menawarkan hatinya untukku. Aku menggigit bibir bawah untuk mengurangi rasa cemas yang sudah mulai nampak.

“Jadi gimana, Ki? Masih kah ada kesempatan untukku?” dia mengulang pertanyaannya.

Aku mengusap wajah perlahan, mengusir angin yang sedaritadi merayu wajah agar segera mengulas senyum.

“Kita pernah berjanji kan, Ki, untuk bertukar posisi?” dia melembutkan suaranya. “Kamu jadi tulang rusuk untukku, dan aku jadi tulang punggungmu. Jadi bisakah kita menjadi partner hidup untuk selamanya?” untuk ketiga kalinya dia mengucapkan kalimat itu.

Aku berdehem pelan. Mengisyaratkan padanya bahwa aku butuh waktu untuk menyusun kata.

“Baiklah. Aku tak memaksamu untuk menjawab semuanya sesegera mungkin,” katanya.

Aku mencengkeram ujung jaket yang kukenakan malam itu. Udara dingin tak mampu membuat tubuhku menggigil, justru debaran di dadaku mengakibatkan aliran keringat di wajahku menetes dengan cepat.

Mungkin aku tak akan sebimbang ini jika Kak Arif mengatakan hal ini 8 bulan yang lalu. Aku sadar bahwa orang yang sekarang menatap punggungku adalah orang yang dulunya sangat aku harapkan kehadirannya. Dalam setiap doaku, dalam setiap harap yang kusemogakan aku selalu ingin dia kembali ke dalam dekapanku. Mungkin Tuhan bosan mendengar permintaanku. Aku selalu meminta dia datang lagi.

Kali ini Tuhan mengabulkan semua doaku. Dia datang dan meminta hatiku untuk kembali. Seharusnya aku bahagia, kan? Aku senang, kan? Aku lega, kan?

Tapi nyatanya tidak. Hatiku bimbang, pikiranku justru kalut.

Ku balikkan badanku kemudian duduk persis di depan Kak Arif.

“Tuhan begitu baik, Kak, padaku. Ketika aku berdoa untuk kepulanganmu, Dia kabulkan meskipun harus melalui proses yang begitu panjang.”

Mata nanarnya membuat jantungku semakin tercabik. Ada secercah harapan di sana agar aku kembali.

“Tapi kau tau, Kak? Proses itu memberiku sebuah pelajaran, bahwa cinta itu bukan hanya tentang kita bersama ketika bahagia dan saling melepaskan ketika satu di antara kita sedang terluka,” aku berhenti sejenak . Manik itu meredup. Bahkan agak merabun karena embun itu tiba-tiba merangsek masuk ke dalamnya.

“Kak, aku pernah bilang bahwa dalam hidup kita tak selamanya akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Harta dan jabatan itu tak kekal, sifatnya fana, Kak.”

Aku mengatur emosiku agar tak menangis ketika mengeluarkan semuanya.

“Tak ada manusia yang sempurna, Kak. Tak ada kehidupan yang benar-benar bahagia atau benar-benar menyedihkan. Kita pernah saling menghidupkan meski tak selalu berpelukan. Kita juga pernah saling melengkapi meski tak selalu berpegang tangan. Kita juga pernah…”

Aku menggigit bibir. Semua terasa sangat menyesakkan. Dadaku bergetar hebat. Pikiranku penuh, rasanya ingin meledak. Aku meraih tangannya yang sudah mulai bergetar.

“Kita masih bisa berteman, Kak, meski tak harus saling memiliki,” dia menggenggam tanganku erat. Bahkan sangat erat.

“Maafkan aku, Ki, aku tak pernah bermaksud untuk melukaimu. Kita bisa memulai semuanya dari awal,” lirihnya di sela isak yang mungkin dia tahan.

Bibirku bergetar dan pipiku mulai memanas. Tak terasa air mata ini meleleh begitu saja melewati kedua pipiku.

“Aku juga minta maaf, Kak. Aku tak bisa memenuhi permintaanmu. Aku bukan orang yang tepat untukmu.”

Dia menggeleng cepat kemudian memeluk tubuhku, “Aku minta maaf,” dia mulai tergugu.

Aku diam. Mungkin sudah kehabisan kata untuk menjelaskan apa yang ada di dalam hati juga pikiranku.

“Makasih, Ki, untuk semuanya. Aku sadar bahwa aku terlalu pengecut untuk wanita sebaik kamu.”

Aku tersenyum getir. Hatiku perih mendengar perkataannya. Dia masih menangis meski tak terisak. Aku menepuk pelan bahunya.

“Kau tak perlu menangis, Kak. Akan ada wanita baik yang akan memahami kamu beserta dengan keegoisanmu,” hanya itu yang bisa kulakukan.

Aku tertawa bodoh mengingat kejadian di masa lalu. Biasanya aku adalah orang pertama yang akan mengulurkan tangan ketika dia bersedih, tapi sekarang rasanya aku tak perlu melakukan itu semua.

“Boleh jika aku berharap wanita itu adalah kamu?” tanyanya dengan hidung memerah dan mata berkaca-kaca.

Aku menggeleng lemah.

“Dulu setiap malam aku selalu berdoa untukmu dan untuk kita kak. Berharap agar kau kembali dan mengajakku untuk menyulam masa depan bersama. Tapi ternyata Tuhan memberiku jawaban lain. Hatiku lebih tenang jika tanpa kamu. Jadi sekali lagi aku minta maaf. Kita masih bisa berteman kok, seperti dlu sebelum kita bersama.”

Dia mengangguk meski matanya masih tergenang

“Terima kasih, Ki. Aku sayang kamu.”

*********

Sebelum pulang aku menyempatkan diri untuk berkeliling kota ini sendirian. Menahan sesak dan haru ketika melewati tempat yang pernah kukunjungi bersama dengan Kak Arif. Jembatan antara stasiun dan juga terminal. Warung makan favorit kami berdua, embung kampus tempat favorit kita ketika sedang bertukar cerita, dan jalan-jalan yang kita lewati menggunakan motor merah kesayanganmu.

Terima kasih, Kak, untuk pelajaran hidupnya. Ternyata jatuh cinta itu biasa saja.

Kak dulu aku pernah berjanji, bahwa aku akan kembali menemuimu. Sebagai orang yang lukanya sudah sembuh dan orang yang kepingan hatinya sudah utuh
Dan kemarin aku sudah menepati janji itu untukmu

With Love,

Kiki


cerbung.net

Kepingan Rindu yang Tak Pernah Utuh

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Aku menghela napas perlahan kemudian memandang lekat-lekat sosok lelaki yang ada di depanku. Tak ada yang berubah darinya, masih tetap mengagumkan dengan sorot mata yang begitu mengesankan."Ki, gimana kabarmu?" tanyanya setelah hampir lima menit kami saling terdiam."Sama seperti yang kakak lihat. Aku baik-baik saja," jawabku sambil tersenyum."Ayahmu gimana, Ki? Sudah bisa kerjakah?" tanyanya lagi.Aku menggeleng lemah, lalu tersenyum getir, "Masih sama seperti tahun lalu, Kak, tak bisa menggerakkan tangan kirinya. Jadi tak mungkin bisa bekerja.""Lalu apa keseharianmu selama ini, Ki? Cuma ngajar aja?""Aku? Ya Banyak lah, Kak. Pagi mengajar, siang kasih les di sekolah. Sore ekstrakurikuler di lapangan sama anak-anak. Malamnya kasih les privat.""Hmm sibuknya. Cukup, Ki?""Apanya, Kak?""Honornya?" jawabnya hati-hati."Seperti yang kakak lihat. Aku masih bisa main sampai sini, kan? Bahkan hari ini aku nepatin janjiku buat traktir kakak makan disini. Adekku masih sekolah. Bapak ibuku juga makannya 3 kali sehari dan sejauh ini aku tak pernah mengeluh tak punya uang buat beli beras, kan?" jelasku penuh penekanan."Oh. Jadi sekarang Kiki benar-benar jadi tulang punggung keluarga, ya? Ibu gak kerja? Atau bagaimana?"

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset