Kibarashi episode 1

Chapter 1

“Apa kamu merasa sendiri sekarang?” terdengar jelas suara perempuan yang bersemangat.

“Ti…dak….,” jawaban dari seorang laki-laki sangat pelan, kaca matanya bersinar memantulkan cahaya dari depan layar komputernya.

Laki-laki ini mulai menggeser bangku yang memiliki roda ke arah saklar lampu, dengan gerakan yang elegan menggunakan telunjuknya dia menyalakan lampu kamarnya. Lalu melepaskan kaca matanya dan meletakannya sembarang di atas kasur.

“Sudah cukup hari ini,” dirinya tertawa sambil memandangi layar komputernya. Tidak lama kemudian dia mematikan komputer dan tertidur.

Keitaki Shinji merupakan seorang remaja laki-laki biasa, rambutnya acak-acakan seperti seragam sekolahnya yang tampak sangat lusuh. Dia senang berjalan menuju sekolah, karena kebetulan jarak dari rumah kesekolahnya tidak jauh. Terdengar suara sepeda dari kejauhan, ada dua orang yang menghampirinya. Dari seragamnya yang sama kedua orang ini satu sekolah dengan Shinji.

“Oi Shinji! Mau ikut ga?” tanya seorang yang menaiki sepeda.

“Huh? Kalian…tidak, aku sedang ingin berjalan,” jawabnya agak ketus.

“Ayo…Taro baru aja ganti ban tipe sport nih,” masih mengendarai disamping Shinji. “buruan naik, pegel nih kaki kalau harus jalanin sepeda pelan kayak gini,” temannya memaksa.

Tiba-tiba Shinji melompat dan menaiki bangku belakang sepeda Taro, “Ok nih aku udah naik,” kedua tangannya memegang besi penyangga bangku di belakang.

Kedua temannya ini saling menatap satu sama lain dengan pandangan mata yang aneh, lalu dengan segera memutar pedal sepedanya dengan sangat cepat. Shinji hampir terjungkal ke belakang, untung saja pegangan dia kuat.

“Oi Taro, jangan nangis nanti kalau kalah.”

“Kalah? Lihat nih kekuatan ban sport ini Naoki! Pegangan yang kuat Shinji!” Taro semakin bersemangat, dia mengalirkan semua tenaganya pada kedua kakinya agar bisa mengayuh sepeda lebih kuat dari Naoki.

Jalan ke sekolah berkelok-kelok, ini menjadi tantangan tersendiri bagi Taro yang sedang membawa Shinji. Balapan mereka berdua sunggu sengit, tidak jarang bunyi-bunyi klakson mobil terdengar keras. Di luar dugaan sepeda Taro sudah mendekati pintu gerbang sekolah, namun jalurnya menjadi sulit karena banyak siswa lain yang berjalan masuk.

“MINGGGIIIIIIIRRRRRR,” teriaknya dari jauh, siswa-siswa lain tersebut hanya bisa mengindar untuk keselamatan dirinya.

Shinji turun dari sepeda, rambutnya berdiri ke atas semua. “Terima kasih atas tumpangannya,” sambil membungkuk.

“Eh? Apa-apaan kamu Shinji! Kita sudah lama kenal, jangan membuatku marah pagi ini! membetulkan postur temannya itu lalu mengepal tangan kanannya. “ini baru ucapan terima kasih yang benar,” wajahnya bersinar. Rambutnya juga ke atas semua sama seperti Shinji.

Tidak lama kemudian Naoki baru datang, mulutnya menganga. Dia turun dengan tergesa-gesa lalu membiarkan sepedanya terjatuh.

“Kamu….menang,” mengacungkan jempol ke arah dua temannya. “apa kamu punya botol air?” meminta dengan muka yang memelas.

Mereka bertiga berada dalam satu kelas yang sama, 11-A. Mereka juga memilih meja yang berdekatan, hanya saja Shinji berada di belakang kedua temannya itu. Ponsel Shinji bergetar, ada sebuah pesan masuk dari aplikasi chatnya.

“Semangat untuk hari ini!” dengan sebuah emoji lucu berkarakter seorang perempuan. Shinji yang melihatnya langsung tersenyum lebar.

“Shinji?” tanya Taro dengan mata yang membesar.

“Sial!” Shinji langsung merubah ekspresinya menjadi datar, “ada apa?” Taro menggelengkan kepalanya.

Pelajaran dimulai, semua berjalan lancar sebelum ponsel Shinji bergetar lagi, ketika dia melihatnya matanya melongo seperti ingin keluar dari sarangnya. Tangannya bergetar hebat, keringat dingin mulai mengucur deras dari keningnya. Ternyata ada sebuah pemberitahuan mendadak yang muncul di layar ponselnya.

Shinji mengacungkan tangannya, satu tangannya lagi memegang perut. “Pak guru…bolehkah saya izin ke uks sebentar?” teman-temannya memandanginya termasuk Taro dan Naoki.

“Hei, lihat akibat ulahmu membawa sepeda seperti mobil balap,” bisik Naoki.

“Ah masa sih,” tidak terlalu percaya terhadap apa yang dikatakan oleh Naoki.

Keringat semakin deras saja jatuh, wajah Shinji mendadak menjadi pucat. Melihat keadaan seperti itu pak guru membolehkan Shinji untuk pergi ke ruangan uks. Namun dia menolak diantar dan mengaku masih kuat untuk berjalan sendirian ke ruangan uks. Lorong sekolah sangat sepi di waktu seperti ini, jelas saja karena semua siswa sedang belajar di dalam kelas. Tidak banyak membuang waktu Shinji berlari sekuat tenaga ke ruangan uks. Di sana ada seorang guru uks yang merupakan bagian dari salah satu staff guru.

“Hmm…pagi sekali,” melihat kondisi Shinji yang pucat dan berkeringat. “duduklah biar saya periksa,” kata guru uks yang ternyata seorang perempuan.

“Tidak usah, berikan saja saya obat penghilang rasa mual,” ucap Shinji. Ketika sang guru sedang mencari obatnya, Shinji melihat layar ponselnya. Waktunya sudah terlewat 8 menit. “bisa tolong cepat Bu, perut saya semakin sakit.”

Akhirnya sang guru memberikan obat penghilang rasa mual berupa tablet, Shinji menelannya dengan cepat lalu meminta izin untuk diam dahulu di salah satu kasur pasien sampai rasa mual diperutnya hilang. Guru membolehkannya, Shinji juga meminta izin untuk menutup tirainya karena dia tidak nyaman jika harus dilihat saat sedang sakit. lagi-lagi guru perempuan ini membolehkannya.

“Pahit sekali,” mengeluarkan obat yang ternyata dia simpan di bawah lidahnya, lalu membuangnya dengan sangat hati-hati ke bawah kasur pasien. Siluet gurunya masih terlihat jelas dibalik tirai, “cepatlah keluar! Guru tidak mungkin menungguku di sini kan?! Pasti ada tugas lainnya kan?!” berbicara dalam hati sambil gelisah karena waktu yang terbuang semakin banyak.

“Hmm…baiklah, kamu bisa istirahat sementara di sini. Jika sudah agak baikan kamu bisa langsung mengikuti kelas kembali, dan jangan lupa untuk menutup pintunya yah,” ucap guru yang diikuti jawaban Shinji.

Setelah sang guru telah pergi dan situasi di ruangan ini aman, dia membuka ponselnya. Lalu membuka layanan streaming yang dia unduh sudah lama.

“Tidak apa-apa, waktuku masih banyak,” dia membuka tayangan live salah satu pengguna aplikasi ini. seorang perempuan dengan rambut berwarna merah muda menawan dengan pipi merah merona. Perempuan ini memakai seragam sekolah, lengkap dengan jas almamaternya. Kaos kaki hitam panjang hingga menyentuh lutut.

Seketika keringat yang mengucur deras hilang tanpa bekas, muka Shinji yang tadinya pucat sekarang bersinar cerah. Dia menekan tombol volume di samping ponselnya, menaikannya satu tingkatan. Dia bahkan bersorak-sorai di dalam ruangan ini, hanya saja mulutnya yang bergerak tetapi tidak bersuara.

“HIME! HIME! HIME!” tangan kanannya bergerak ke depan dan kebelakang. Dia sangat menikmati waktunya diruangan uks.

Sementara itu kedua temannya yang khawatir berniat untuk melihat kondisi temannya itu, mereka beralasan kepada guru bahwa mereka yang menyebabkan temannya jatuh sakit akibat melakukan balapan sepeda saat pergi ke sekolah. Pak guru tidak bisa berkata apa-apa lalu mengizinkan Taro dan Naoki pergi ke ruangan uks.

“Apa mungkin gegara kita balapan tadi?” ucap Naoki yang masih ragu.

“Sudah jelas, kamu ga liat tadi aku jalanin sepeda kaya pro begitu?” Naoki akhirnya setuju.

Lorong masih tetap sama, masih sangat sepi. Mungkin hanya mereka berdua yang bisa berjalan santai seperti ini di jam sekolah. Papan bertuliskan ‘UKS’ dengan latar hijau sudah terlihat dari jauh, itu artinya mereka sudah dekat. Pintu ruangan tertutup rapat, saat Taro ingin membukanya tiba-tiba Naoki menahannya.

“Sebentar, coba dengar deh,” menempelkan kupingnya ke dekat pintu. “coba sini,” menyuruh Naoki untuk melakukan apa yang dia lakukan.
Naoki hanya menggelengkan kepalanya, “Iya….,” gerakannya sangat malas.

Setelah beberapa saat memang terdengar sesuatu dari dalam.

“Suara apa yah? Kayaknya dia lagi setel lagu…”

“Ah ini!” Taro melepaskan telinganya. “ini sih lagu…..,” mulut Naoki menganga seakan-akan tidak percaya.

Mereka mulai merencanakan hal lain, untuk memastikannya mereka akan memergoki Shinji secara diam-diam. Rencana dimulai dengan menggeser pintu uks ini dengan sangat pelan supaya suaranya tidak terdengar. Rencana pertama berhasil, baik Taro dan Naoki berhasil membuka pintunya tanpa mengeluarkan suara. Tirai masih tertutup rapat, dan suara lagunya mulai terdengar jelas.

“Kita…nunduk…lalu merangkak,” Taro menjelaskan dengan jemarinya juga.

“OK!” Naoki memberikan sinyal.

Mereka berdua masuk, berjalan merangkak dengan posisi Taro ada didepan sementara Naoki dibelakangnya. Mereka merangkak lebih lambat dari seorang bayi, benar-benar melakukannya tanpa suara. mereka tiba di kasur pasien tempat Shinji berada. Rencana selanjutnya adalah masuk ke dalam diam-diam lewat tirai bawah. Mereka masuk melalui sisi kiri dan kanan.

Shinji tidak menyadari bahwa temannya sudah berada di bawah kasurnya sekarang. Tayangan yang dia sedang tonton mampu menghipnotis dirinya sampai ke titik kesadaran terdalam. Saat sedang asik melakukan sorakan, kedua temannya muncul secara perlahan mengikuti sorakan Shinji.

“Oi…oi…oi..oi”

“Oi…oi…oi…oi”

“Oi….oi…oi,” Shinji melirik ke sisi kiri dan kanannya. “WOAH!!!” dia terjungkal sampai menjatuhkan ponselnya ke bawah. Teriakannya juga membuat guru dokter uks lari menghampirinya, membuka tirai dengan sangat cepat.

“Kamu ti…dak kenapa..kenapa?” melihat dua murid lainnya.

“Halo Bu guru…..,” Taro dan Naoki membungkuk sopan.

Shinji menjadi bulan-bulanan becandaan kedua temannya itu dari lorong ruang uks sampai ke depan kelas. Sampai pulang sekolah mood Shinji menjadi sangat hancur, dirinya sangat malu ketika temannya mengetahui apa yang dia tonton barusan. Bahkan dia tidak bisa menolak saat Taro mengajaknya pulang bersama lagi. Perjalanan pulang menjadi lebih banyak tawa, setidaknya itu yang dirasakan Taro dan Naoki. Sementara Shinji hanya bisa diam, ketika sampai di rumah pun dia masih tetap diam. Padahal rambutnya sudah berdiri tegak lagi.

“Eh…ada apa?” tanya ibunya melihat raut wajah anaknya yang murung.

“Tidak, hanya hari yang buruk,” melangkah masuk kamar, melempar tas, dan menjatuhkan dirinya ke atas kasur hingga tidak terasa dirinya tertidur hingga esok harinya.

Saat Shinji sedang terlelap dalam tidurnya, dia merasakan seperti badannya digoyang-goyangkan oleh seseorang. Dia berpikir itu mungkin ibunya yang membangunkannya untuk segera bersiap tuk berangkat sekolah. Namun ada hal yang aneh, suara yang dia dengar begitu lembut, sangat tidak asing bagi dirinya.

“Hei….ayo bangun…hei….,” Shinji yang mendengarnya mencoba membuka matanya perlahan.

“WOAH!!!” menutupi dirinya dengan bantal, padahal dia memakai seragam yang kemarin. Suasana menjadi sunyi, perlahan dia menurunkan bantalnya dari wajahnya. Sosok itu masih berada di sana, Shinji semakin panik. Dia melompat dari kasur lalu mengambil kaca mata yang biasa dia gunakan saat menggunakan komputer di kamar. Saat dia pakai sosok perempuan didepannya malah semakin nyata.

“Selamat pagi,” sapa perempuan itu dengan halus, senyumannya mampu membuat Shinji tidak bisa berkata-kata.


cerbung.net

Kibarashi

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Shinji, anak SMA yang kecanduan dengan Virtual Idol Hime. Mencoba menutupinya di depan teman-temannya dengan bersikap tenang dan dingin.Suatu hari seorang perempuan bernama Hikari datang secara tiba-tiba, dengan wajah yang sangat mirip dengan Hime. Shinji pun bertanya-tanya apakah Hikari dan Hime adalah orang yang sama?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset