Kibarashi episode 4

Chapter 4

Seminggu sebelum tahun ajaran baru dimulai, Shinji sedang asik melihat tayangan ulang live streaming Hime. Ditayangan itu Hime menyanyikan lagu andalannya, “Aku dan Kamu! Selamanya!”. Tidak lupa dengan lightstick andalan Shinji yang bertuliskan nama Hime, dia ikut bernyanyi dan menyorakan nama Hime berulang-ulang. Suaranya yang keras hingga terdengar sampai luar kamarnya.

“Hmm…Shinji…, padahal Taro dan Naoki mengajaknya berkeliling barusan. Tapi dia menolak hanya untuk melihat anime yang bernyanyi?” menggelengkan kepalanya. “apa dia juga seperti itu juga disekolahnya?” kembali melanjutkan aktivitasnya yang sedang membersihkan rumah.

Ruangan yang ditempati Hikari dan Shinji tidak sepenuhnya kosong, ruangan ini berisi sisa-sisa kursi yang tidak terpakai. Shinji bersandar di tembok selagi Hikari berjalan mengelilingi ruangan sambil menjelaskan misi yang sedang dia jalankan sekarang.

“Kamu tahu kan aplikasiku sedang off?” Shinji hanya mengangguk, sikapnya sangat canggung. “ya…, itu memang disengaja sih.”

“Mak…sudnya?”

“Hmm..kalau dihitung aku sudah bekerja di Virtual Idol Hime selama sepuluh bulan, selama itu popularitasku sudah cukup menanjak. Terima kasih kepada fans tentunya,” mendekatkan diri ke Shinji. “konten yang aku berikan tidak jauh-jauh dari tayangan live dan cover lagu anime terkenal, untuk itu….,” sekarang membelakangi Shinji. “untuk itu dalam memperingati satu tahun Virtual Idol Hime, staff produksi berencana akan membuat konten baru. Konten ini diberi nama ‘Hime Daily Life with Fans’.”

“Dia tampak berbeda dengan yang diaplikasi, di sana dia lebih manis,” bergelut dengan pikirannya sendiri.

Hikari menjelaskan lebih lanjut bahwa nantinya konten tersebut akan memiliki alur cerita yang berbeda-beda, fans tinggal memilih mau cerita yang seperti apa. Hanya saja konsep cerita awalnya akan mengambil dari kebersamaan dia dengan Shinji selama beberapa hari di sekolah maupun luar sekolah. Muka Shinji menjadi sangat merah ketika Hikari menjelaskan tentang kebersamaan yang harus dia lakukan dengannya. Namun ada satu pertanyaan dasar yang ditanyakan Shinji.

“Kenapa aku? Bukannya fansmu itu tersebar ke seluruh negeri?”

“Hm…pertanyaan yang bagus,” Hikari kembali mendekat. “kamu sudah paham dengan sistem poinkan? Menurut data yang aku terima, poinmu adalah yang terbesar dari semua fans. Belum lagi poin tambahan karena membeli merchandise Hime. Aku sudah melihatnya sendiri dikamarmu tadi pagi,” tertawa kecil sedangkan Shinji mencoba menahan malu. “aku sangat senang, karena dukunganmu aplikasiku terus menanjak naik,” tiba-tiba Hikari teringat sesuatu. “jam istirahat sudah usai! Ayo kembali ke kelas,” Hikari buru-buru membuka pintunya, mereka berdua berjalan bersama ke kelas.

Mereka masuk ketika pelajaran sudah kembali dimulai, masuknya mereka menjadi perhatian seisi kelas. Bahkan Taro dan Naoki tidak percaya melihat Shinji yang datang bersama Hikari, mereka kira Shinji yang tertinggal barusan tidak menemui Hikari lagi. Raut keduanya menjadi sangat sinis, senyuman mereka mengerikan.

“Shinji…diam-diam ternyata,” Taro meledeknya.

Shinji tidak terlalu memperdulikannya, kedua temannya itu memang seperti itu. Mereka berdua orang baik walaupun sering membuat Shinji malu berada di dekat mereka. Masih ada satu hal yang mengganjal bagi Shinji, ketika Hikari memberitahu tentang momen kebersamaan. Dia tidak ingin Hikari melakukannya lebih banyak di sekolah. Dia khawatir jika nantinya hal ini membuat gaduh seisi sekolah.

Jadwal sekolah berakhir seperti biasa, kedua temannya sudah menunggu dipelataran sekolah dengan sepeda masing-masing. Mereka berniat mengajaknya pulang bersama, namun Hikari juga sudah menunggu di depan sekolah. Ketika melihat Shinji yang keluar paling akhir dia langsung menghampirinya dengan senyuman yang lebar terpancar dari wajahnya.

“Shinji!” melewati Taro dan Naoki sambil mengabaikan mereka berdua.

“Ya?…ada apa?” tanya Shinji, gesturnya seperti tidak nyaman.

“Kita pulang bersama yah?”

“Eh?! Apa?” Shinji kaget mendengarnya. “apa dia sudah memulainya sekarang?”

Tanpa menunggu jawaban Shinji, Hikari sudah menarik lengannya. Lalu merangkulnya dengan segera, mata kedua temannya seperti ingin keluar dari kepala melihat Hikari yang bertingkah agresif. Dia pun menariknya lagi tuk keluar sekolah, lagi-lagi kedua teman Shinji diabaikan seperti tidak terlihat.

“Hei Naoki, apa sepeda kita kurang besar yah?”

“Entahlah Taro…,” kedua melongo melihat Shinji dan Hikari.

Di luar sekolah, suasana sudah sangat sepi karena memang Shinji selalu seperti ini. Pulang ke rumah di saat tidak banyak siswa berkeliaran. Bahkan Taro dan Naoki kadang pulang terlebih dahulu karena lama menunggu Shinji keluar.

“Baiklah, menggunakan bis atau jalan kaki?” pertanyaan yang begitu saja terlontar, bahkan Shinji tidak mampu mencernanya dengan cepat.
“Sebentar, apa rumah kita satu arah?”

“Iya, makanya aku bisa mampir sebentar sebelum berangkat tadi.” Shinji tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia menjawab biasanya pulang ke rumah dengan berjalan kaki. “ok…lain kali kita akan menggunakan bis.”

“Eh? Lain kali,” Shinji tidak mampu berbuat banyak saat Hikari mulai berjalan.

Perjalan dari rumah Shinji ke sekolah tidak terlalu jauh, dia bisa melampauinya kurang dari setengah jam perjalanan. Waktu tempuhnya tidak berbeda jauh ketika Shinji ikut bersama temannya menaiki sepeda. Karena saat pulang temannya menjalankan sepeda dengan santai, bahkan tidak jarang mereka malah mendorong sepedanya. Lingkungan sekitar sekolah dan rumah Shinji berada di lingkungan yang tidak terlalu ramai dengan kendaraan atau gedung-gedung bertingkat. Pemandangan alam juga masih bisa terlihat.

Keduanya tidak banyak terlibat percakapan selama di jalan, Shinji hanya menunjukan beberapa spot tempat menarik atau tempat makan, itu juga ketika Hikari bertanya kepadanya. Sampai di rumah Shinji, ibunya tidak terlihat di teras, mungkin sedang di dalam rumah sedang menyiapkan makanan.

“Ini rumahku, ya kamu sudah tahu sih sebelumnya,” kata Shinji.

“Ya..rumahmu sangat nyaman,” belum melepaskan rangkulan tangannya. “bisakah kamu antar aku ke rumah? Jaraknya tidak jauh kok dari sini,” Shinji tidak mampu menolak, akhirnya mereka kembali berjalan. Tujuannya kali ini adalah rumahnya Hikari.

Tidak memakan waktu lama untuk sampai ke rumah Hikari, dari luar sudah terlihat rumah yang ukurannya paling besar diantara rumah lainnya. Pagarnya saja melebihi tinggi atlet basket amerika, berwarna hitam terbuat dari besi yang kokoh.

“Wow…apa ini rumahmu?” tanya Shinji takjub.

“Bagaimana kalau kita coba tekan belnya,” Hikari menekan bel rumah.

Ada suara keluar dari speaker yang tertanam di samping tembok. “Iya, bisa saya bantu?” suaranya seperti suara orang tua.

“Ini aku, Hime,” pagar pun terbuka secara otomatis. Mereka berdua lalu masuk.

Halaman rumah ini sungguh luas, mungkin bisa dipakai untuk berkumpul teman satu kelas. Banyak tanaman hias di sisi kiri dan kanan. Mereka sudah di depan pintu, pintu yang terbuat dari kayu itu pun terbuka. Seorang berpakaian sangat rapih serba datang menyambut mereka, satu kaca mata bulat menghiasi wajahnya yang sudah dipenuhi oleh keriput.

“Ah…Hime,” membungkuk memberikan sambutan. “silahkan masuk,” mempersilahkan Hikari dan Shinji tuk masuk.

“Terima kasih paman Penny!” menarik Shinji masuk.

Saat Shinji dan Hikari telah masuk ke dalam, kedua teman Shinji yaitu Taro dan Naoki ternyata membuntuti Shinji sedari tadi. Mereka menjaga jarak agar keberadaan mereka berdua tidak diketahui. Bahkan sepeda yang mereka bawa tidak dinaiki, mereka malah mendorongnya. Saat ini keduanya mengintip dari jauh, di belakang sebuah tembok rumah.

“Lihat rumah itu Taro, andaikan aku punya rumah sebesar itu,” ucap Naoki.

“Padahal mereka baru saja kenal, tapi Shinji sudah diajak main kerumahnya,” masih mengintip dari kejauhan.

Mereka berniat untuk berjalan melewati rumah itu untuk melihatnya dari dekat, ketika mereka akan bersiap-siap menaiki sepeda masing-masing. Seorang perempuan memanggil mereka berdua.

“Taro!….Naoki!….,” terdengar suara anak perempuan dari arah belakang mereka.

Taro dan Naoki membalikan badan, yang memanggilnya ternyata masih satu kelas dengan mereka yaitu Wakatabe Haru. Bando berpita biru yang dia pakai sangat selaras dengan rambutnya yang sebahu.

“Wakatabe? Kenapa kamu ada di sini?” ucap Taro yang tidak percaya melihat temannya di sini.

“Eh…panggil saja Haru,” ucapnya malu-malu. “rumahku kan di sekitar sini,” jawabnya. Pertemuan yang tidak disangka-sangka oleh Taro dan Naoki.


cerbung.net

Kibarashi

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Shinji, anak SMA yang kecanduan dengan Virtual Idol Hime. Mencoba menutupinya di depan teman-temannya dengan bersikap tenang dan dingin.Suatu hari seorang perempuan bernama Hikari datang secara tiba-tiba, dengan wajah yang sangat mirip dengan Hime. Shinji pun bertanya-tanya apakah Hikari dan Hime adalah orang yang sama?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset