Kidung Diatas Tanah Jawi episode 10

Gatra 10

“Gagak Kluyur…!” tiba-tiba terdengar Cangkil berteriak keras-keras.

Dan orang yang dipanggilnya Gagak Kluyur itu dengan gerak yang cekatan meloncat ke hadapan Cangkil. Gagak Kluyur yang nama sebenarnya adalah Pranaya adalah adik kandung Cangkil sekaligus tangan kanannya. Kedua-duanya mempunyai sifat yang hampir sama. Tubuhnya agak pendek bulat, sedang otot-ototnya menjorok keluar membuat garis-garis yang sama jeleknya dengan garis-garis wajahnya.

“ Kalahkan pemuda itu. Dan paksa orang itu bicara dengan jujur siapa dia sebernarnya. Dan mau apa datang ke Pucang Kembar,” perintah Cangkil.

Gagak Kluyur mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan Gagak Kluyur memutar tubuhnya, menghadap Sukmo Aji. Sebentar ia mengatur jalan nafasnya, dan dengan perlahan-lahan pula ia mendekati korbannya. Suasana menjadi bertambah tegang. Peristiwa semacam ini telah berulang kali terjadi, biasanya dilakukan terhadap para penjahat atau terhadap mereka yang melanggar adat. Tetapi sekali ini, orang-orang kademangan itu merasakan adanya suatu perbedaan dengan kejadian-kejadian yang pernah terjadi.

“ Sebelum aku melumatmu. Jawab setiap pertanyaanku dengan betul,” perintah Gagak Kluyur dengan garangnya.

Matanya menjadi berapi-api dan mulutnya komat-kamit.

“Siapa namamu?”

Maka untuk pertanyaan yang pertama ini Sukmo Aji menjawab dengan tenangnya.

“Namaku Sukmo Aji.”

Rupa-rupanya ketenangannya ini sangat mengagumkan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Tidak pernah ada seorang pun yang dapat bertindak setenang itu menghadapi Gagak Kluyur, apalagi Cangkil.

“Bagus…” dengus Gagak Kluyur. “Nama yang bagus. Mengenal namamu adalah perlu sekali bagiku. Kalau terpaksa tanganku membunuhmu. Orang-orang sudah tahu bahwa kau bernama Sukmo Aji.”

Gagak Kluyur lalu mengangguk-angguk dengan sikap yang sombong sekali. Sukmo Aji kemudian menjadi jemu melihat sikap Gagak Kluyur yang sombong itu. Maka ia mengambil keputusan untuk cepat-cepat menyelesaikan pertunjukan yang membosankan itu, dengan membuat Gagak Kluyur marah.

“Baiklah aku katakana sekali lagi, bahwa aku tidak ada sangkut paut dengan penculikan seorang gadis di kademangan ini. Aku datang kemari karena aku ingin menculik kau untuk menakuti gadis-gadis.”

Mereka yang mendengar jawaban itu terkejut bukan main. Alangkah beraninya pemuda itu. Malahan akhirnya beberapa orang menjadi hampir-hampir tertawa, tetapi ditahannya kuat-kuat, kecuali demang tua itu yang tampak tersenyum-senyum. Sebaliknya Gagak Kluyur menjadi marah bukan kepalang. Mukanya menjadi merah menyala dan giginya gemeretak. Selama hidup ia belum pernah dihinakan orang sampai sedemikian, apalagi di hadapan Demang dan Cangkil.

Maka ia tidak mau lagi berbicara, tetapi ia ingin menyobek mulut Sukmo Aji yang sudah menghinanya itu. Dengan gerak yang cepat ia meloncat dan kedua tangannya menerkam wajah Sukmo Aji. Orang-orang yang menyaksikan gerak Gagak Kluyur itu menjadi tergoncang hatinya. Mereka telah berpuluh kali melihat ketangkasan Gagak Kluyur, tetapi kali ini gerakannya adalah diluar dugaan. Hal ini terdorong oleh kemarahannya yang meluap-luap, sehingga semua orang yang menyaksikan menahan nafas sambil berdebar-debar.

Tetapi gerakan ini bagi Sukmo Aji adalah gerakan yang sangat sederhana. Bahkan mirip dengan gerak yang tanpa memperhitungkan kemungkinan yang ada pada lawannya. Untuk menghindari serangan ini Sukmo Aji tidak perlu banyak membuang tenaga. Hanya dengan sedikit mengisarkan tubuhnya dengan menarik sebelah kakinya, Sukmo Aji telah dapat menghindari terkaman Gagak Kluyur itu.

Dengan demikian, karena dorongan kekuatannya sendiri Gagak Kluyur menjadi kehilangan keseimbangan. Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya Sukmo Aji dengan mudahnya dapat membalas serangan itu dengan suatu pukulan yang dapat mematahkan tengkuk Gagak Kluyur. Tetapi Sukmo Aji tahu, kalau dengan demikian akibatnya akan hebat sekali. Karena itu, ia hanya menyerang Gagak Kluyurdengan sentuhan telapak kaki kanannya, untuk mendorong punggung Gagak Kluyur dengan arah yang sama. Gagak Kluyur yang memang sudah kehilangan keseimbangan, segera jatuh tertelungkup mencium tanah.

Mereka yang berdiri mengitari arena pertarungan itu, mula-mula mengira bahwa akan hancurlah muka orang asing itu diremas oleh Gagak Kluyur. Tetapi ketika mereka menyaksikan kenyataan itu, menjadi sangat terkejut dan heran. Gagak Kluyuritu sendiri malahan yang mencium tanah. Banyak diantara mereka tidak dapat melihat apa yang sudah terjadi.

Tetapi dengan demikian Sukmo Ajitambah berhati-hati, sebab ia tahu bahwa apa yang dilakukan Gagak Kluyuradalah diluar kesadarannya, karena terdorong oleh kemarahannya yang memuncak. Sehingga dalam tindakan selanjutnya, pastilah Gagak Kluyur akan memperbaiki kesalahannya. Gagak Kluyursendiri kemudian merasa bahwa tindakannya kurang diperhitungkan lebih dahulu. Ia baru sadar ketika hidungnya sudah menyentuh tanah, dan sebentar kemudian seluruh mukanya. Peristiwa ini adalah memalukan sekali.

Terdengarlah gigi Gagak Kluyur itu gemeretak. Gagak Kluyur telah benar-benar menjadi marah. Kemudian katanya, “Tidak peduli apa yang akan menimpa dirimu. Kau akan ku habisi di depan banjar desa ini.”

Bersamaan dengan kata-katanya itu, tiba-tiba Sukmo Aji melihat benda yang berkilat-kilat di tangan Gagak Kluyur itu, yang ditariknya dari pinggangnya.

“Pisau?” desis hatinya.

Otak Sukmo Aji adalah otak yang cerah. Karena itu segera ia tanggap. Demikian ia melihat Gagak Kluyur itu mengayunkan pisaunya, segera ia meloncat menyerang secepat tatit.
Gagak Kluyur itu terkejut melihat serangan Sukmo Aji yang demikian cepat dan dahsyat. Beberapa langkah ia meloncat mundur. Dengan merendahkan diri, Gagak Kluyur itu berhasil membebaskan diri dari serangan Sukmo Aji. Bahkan segera Gagak Kluyur itu pun telah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang.

Sukmo Aji tidak mau membuang waktu lagi. Demikian serangannya yang pertama gagal, segera ia mempersiapkan diri untuk mengulangi serangannya pula. Namun, sebelum ia meloncat maju, Gagak Kluyur itu telah menyerangnya pula. Serangannya cepat dan berbahaya. Bahkan terasa betapa kuat tenaganya. Satu kakinya terjulur ke depan sedangkan kedua tangannya seperti akan menerkamnya.

Untunglah bahwa Sukmo Aji adalah seorang pemuda bilih tanding. Dan merupakan salah satu tumenggung Pajang yang tangguh. Ilmu kanuragan yang telah dipelajari dan didalaminya sampai kini, benar-benar merupakan bekal yang cukup baginya. Karena itu, ketika serangan Gagak Kluyur itu tiba, Sukmo Aji segera menghindar dengan cepatnya. Menarik satu kakinya ke belakang dan mencondongkan tubuhnya.

Gagak Kluyur itu seperti terbang beberapa cengkang di hadapannya. Dengan cepatnya Sukmo Aji mempergunakan kesempatan itu. Tangan kirinya segera terayun deras sekali ke arah tengkuk lawannya. Terasa pukulannya mengena. Sukmo Aji mempergunakan sebagian besar tenaganya. Maka lawannya segera terdorong ke depan dan jatuh tersungkur di tanah. Dan tidak mampu untuk berdiri lagi. Pingsan.

cerbung.net

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih.Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset