Kidung Diatas Tanah Jawi episode 1

Gatra 1

Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih.

Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding.

Prajurit Pajang melangkah dengan semangat yang tinggi. Mereka berjalan ke arah utara. Rombongan besar itu laksana ular naga yang meliuk –liukan tubuhnya. Sementara umbul –umbul dan rontek yang dipegang oleh prajurit Pajang sebagai tanda kebesaran berkibar dengan gagah tertiup angin. Sultan memerintahkan untuk beristirahat di daerah Sumber Lawang akhirnya diambil keputusan Sedayu akan jadi sasaran penyerbuan pertama, setelah melewati Purwodadi bala tentara Pajang menyerbu kadipaten Sedayu. Sedayu dikepung jadi empat jurusan, para panglima Pajang tidak kesulitan menundukkan musuh –musuhnya. Sedayu dengan mudah dapat ditakhlukan. Pajang kehilangan empat ratus prajurit. Dan nampaknya semangat tempur mereka semakin berkobar –kobar.

Malam itu juga Sultan memerintahkan bala tentaranya menuju Gresik. Pajurit -prajurit Pajang menyerbu Gresik. Prajurit – prajurit Pajang menyergap Gresik saat tidur lelap. Prajurit Gresik kocar – kacir, benteng pertahanannya dibakar. Dan setelah Gresik bertekuk lutut, menyusul Pasuruan kemudian Kadipaten Tuban. Tuban ternyata mengadakan perlawanan yang sengit, Pajang mendapatkan lawan yang berat. Tetapi, setelah adipati Tuban dapat dibunuh oleh tumenggung Cokroyudo akhirnya Tuban menyerah. Pajang terpaksa kehilangan tujuh ratus prajuritnya sebagai banten kemenangan melawan kota pesisir itu.

Pagi hari yang cerah tentara Pajang kembali berjalan menuju Wirosobo. Ternyata Wirosobo sudah berteriak menyerah sebelum pasukan Pajang menggempur. Rupanya mereka mendengar bala tentara Pajang yang gagah berani dan menyerbu bagaikan air bah. Setelah Wirosobo giliran Kediri. Kali ini pun Sultan tidak mengalami kesulitan. Kediri dapat ditakhlukan. Pada saat melawan Kediri bala tentara Pajang sudah berkurang dua ribu orang. Mereka yang gugur dikubur di perjalanan. Adapun para prajurit yang terluka diangkut menggunakan tandu. Giliran selanjutnya kabupaten Ponorogo.

Di Ponorogo Sultan kehilangan salah satu panglima perangnya. Tumenggung Gagak Seta gugur tubuhnya penuh luka arang kranjang. Panglima yang gagah berani itu tidak mampu bertahan dari keroyokan para pendekar Ponorogo. Sultan terpukul, sedih dan murka. Malam itu juga Sultan Hadiwijoyo memerintahkan pasukannya menggempur Madiun dari sebelah barat bengawan.

Sebelum matahari terbit telah terdengar suara bende yang melengking bersahutan dengan suara sangkakala, mengumandang di seluruh kota Madiun. Dengan demikian, maka semua prajurit yang ada di dalam kota pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Pasukan yang kuat telah bergerak menuju ke pintu gerbang utama. Sebagian dari mereka telah bersiap-siap di atas dinding benteng. Mereka telah menyediakan anak panah dan tombak yang tidak terhitung jumlahnya.

Sementara itu di setiap pintu gerbang yang lain pun telah bersiap pula prajurit Madiun yang akan mempertahankan setiap jengkal tanah yang mungkin akan direbut oleh orang-orang Pajang. Ketika langit menjadi terang, maka pasukan Pajang pun mulai bergerak pula. Sebagaimana dilakukan di hari sebelumnya, pasukan Pajang telah memasang semua tanda kebesarannya. Dengan pertanda dan kelengkapan semua pasukan yang ikut dalam persiapan perebutan kota itu, pasukan Pajang maju mendekati pintu gerbang.

Bukan saja pintu gerbang utama, tetapi semua pintu gerbang. Kepungan pasukan Pajang pun menyempit, dan pasukan itu telah berusaha untuk mengamati setiap jengkal, agar tidak seorang pun dari para prajurit Madiun yang akan dapat melarikan diri keluar dari kepungan.Demikianlah, ketika matahari kemudian terbit di ujung timur, maka isyarat untuk bertempur dari kedua belah pihak pun mulai terdengar. Pasukan di kedua belah pihak pada isyarat yang pertama telah menempatkan diri di tempat yang telah ditentukan.

Para pemimpin kelompok meneliti setiap orang di dalam pasukannya serta semua kelengkapan yang akan dipergunakan. Pada isyarat yang kedua, semua pasukan telah siap untuk bertempur. Senjata mereka telah teracu. Setiap busur telah menyandang anak panah pertama yang akan dilepaskan segera, jika pasukan kedua belah pihak sudah berbenturan.

Dan pada isyarat yang ketiga, maka pasukan Pajang yang telah mempersempit kepungannya itu pun mulai melancarkan serangannya. Beberapa orang di antara mereka membawa tangga yang akan mereka pergunakan untuk memanjat dinding. Sementara itu, beberapa puluh orang telah mengusung sebatang balok yang besar dan panjang. Sedangkan beberapa orang kawannya berusaha melindungi mereka dari hujan anak panah yang kemudian meluncur dari setiap busur prajurit Madiun yang ada di atas pintu gerbang.

Tombak pun kemudian dilontarkan pula dengan sepenuh tenaga. Namun beberapa puluh perisai menjadi payung yang rapat di atas kepala prajurit Pajang. Pertempuran di gerbang utama pun segera menjadi sengit. Anak panah meluncur dari dua arah. Dari bawah yang dilontarkan oleh selapis prajurit Pajang, dan dari atas dinding yang diluncurkan oleh para prajurit Madiun, disertai dengan tombak dan bahkan batu sebesar kepalan tangan yang dilontarkan dengan sekuat tenaga.

Di tempat-tempat lain pertempuran telah terjadi. Tetapi tidak seganas dan sesengit pertempuran yang terjadi di gerbang utama. Di satu sisi, pasukan Pajang telah menyerang sebuah pintu gerbang samping. Para prajurit Pajang telah mengerahkan segenap kemampuannya dipimpin oleh Ngabehi Wilomerto. Bala tentara Madiun mencoba melawan gempuran tentara Pajang. Ada seorang wiratamtama Pajang bernama Sukma Aji. Disamping berani ia juga merupakan pendekar yang bilih tanding. Ki Juru Mertani melambaikan tangan ke arah lelaki berbadan tegap dan kekar itu.

“ Sukmo Aji….! “

“ Iya Ki Juru… “

“ Aku yakin prajurit –prajurit Madiun tidak akan mampu bertahan sampai senja nanti. Tapi Kanjeng Sultan ingin mempercepat kemenangan ini supaya kita bisa cepat kembali ke Pajang. Nah, bawalah lima ratus prajurit pilihan pergilah ke belakang benteng. Bobol pintunya. Kau sanggup ? “

“ Sanggup Ki Juru “

“ Kerjakan ! “

Sukmo Aji melompat pergi, tak lama kemudian ia sudah menggiring lima ratus orang prajurit pilihan. Mereka mendorong gelondongan balok kayu yang sangat besar yang diletakkan di atas gerobak.

“ Hantam pintu gerbang itu dengan keras….Ayo hantam lebih kuat !”

Sembari menangkis tombak dan desingan anak panah Sukmo Aji dan prajurit –prajurit Pajang menghampiri pintu benteng bagian belakang. Dan sebentar kemudian mereka sudah mulai mendobrak. Tetapi rencana itu tidak terlalu mudah dilakukan. Pintu belakang benteng ternyata sangat kokoh dan kuat.

Belum lagi, pasukan Madiun yang ada di atas pintu gerbang dan di sebelah-menyebelah ternyata cukup cekatan untuk setiap kali menghalau usaha Sukma Aji untuk memecahkan pintu gerbang dengan sepotong kayu gelondong. Meskipun para prajurit dilindungj oleh berpuluh perisai, namun anak panah dan tombak yang jumlahnya tidak terhitung itu mampu menghambat gerak pasukan Pajang.

Ternyata prajurit Madiun telah berjuang mati-matian untuk mempertahankan setiap pintu gerbang. Mereka telah memuntahkan anak panah dan tombak tanpa hitungan. Para perwira dari Madiun mengawasi mereka dengan wajah-wajah yang keras. Setiap kali terdengar teriakan aba-aba dengan suara yang telah menjadi serak.

Para prajurit pilihan dari Pajang telah berusaha medobrak pintu gerbang belakang dengan segenap kemampuan yang ada di pimpin oleh Sukmo Aji. Di bawah hujan anak panah dan tombak, mereka berusaha terus memecahkan pintu gerbang. Satu dua orang yang terluka dan terjatuh di antara mereka, telah membuat ancang-ancang mereka terganggu dan terhenti sama sekali. Sementara itu, usaha lain untuk memanjat dinding pun telah dilakukan para prajurit telah menyandarkan tangga pada dinding benteng kedaton.

Tetapi para prajurit Madiun telah mendorong tangga itu sehingga roboh pada saat-saat beberapa orang prajurit sedang memanjat.Namun demikian, prajurit Pajang tidak tinggal diam dalam kegagalan itu. Mereka berusaha terus. Selain dilindungi oleh perisai, mereka pun dilindungi oleh selapis pasukan yang menyerang para prajurit Madiun juga dengan anak panah. Mereka melemparkan anak panah dalam jumlah yang tidak kalah derasnya dengan anak panah yang meluncur dari atas.

“ Aku tidak dapat menunggu terlalu lama, aku harus menerobos masuk melompati benteng itu lalu membuka selarak pintu gerbang dari dalam “

Sukmo Aji lantas memanggil dua orang prajuritnya, “ Pranata dan kau Simo, dampingi aku masuk ke dalam benteng. Aku tidak telaten, para prajurit Madiun itu sangat menghambat kita untuk menjebol pintu gerbang. Sementara korban sudah berjatuhan dari pasukan ini. Aku tidak ingin korban bertambah lagi. Sementara titah Sultan Hadiwijoyo selambat -lambatnya siang ini kita sudah harus mampu menundukkan Madiun dan pulang ke Pajang “

“Kalian siap?!”

“Siap kakang “, kedua prajurit pilihan itu menjawab secara berbarengan.

Tanpa membuang waktu setelah sebelumnya Sukmo Aji memberikan sedikit pengarahan kepada pasukannya yang masih berusaha untuk menjebol pintu gerbang dari luar. Ketiga orang itu lalu memisahkan diri dari kerumunan pasukan. Sejurus kemudian tubuh ketiga prajurit itu melenting tinggi laksana belalang. Kerumunan prajurit –prajurit Madiun yang berada di atas benteng tersentak kaget. Mereka baru sadar manakala ketiga sosok tubuh itu menghamburkan diri ke dalam benteng.

Laksana banteng ketaton ketiganya mengamuk. Tombak pendek prajurit pilihan yang bernama Pranata laksana ular bandotan macan mematuk kanan kiri. Sementara canggah atau tombak bermata dua milik Simo tidak kalah ganasnya. Bergulung – gulung bagai hempasan ombak yang menyapu karang di kiri kanan.

Dengan demikian, maka pasukan Madiun seperti terkesima. Karena itu, maka perhatian mereka seakan-akan telah terbagi. Antara menghadapi pasukan di luar benteng dan meladeni tiga orang prajurit Pajang yang tengah mengamuk di dalam benteng. Sementara itu, seorang tumenggung Madiun bernama Wiropanggah dengan dua orang pengawal telah sampai ke tempat itu. Dengan jantung yang hampir meledak ia melihat satu kenyataan, bahwa tiga orang prajurit lawan berhasil menerobos masuk dan mengamuk bagai banteng ketaton.

Karena perhatian prajurit Madiun mulai terpecah. Sekelompok kecil prajurit telah berhasil melompati tembok benteng dengan tangga yang disandarkan di tembok benteng.

“Kita harus cepat mencapai pintu gerbang itu dan membuka selaraknya jika kita dan pasukan yang berhasil masuk tidak ingin dihancurkan di sini,” berkata Sukmo Aji.

Pranata menggeram. Lalu katanya, “Kita terpaksa menghancurkan setiap orang yang berusaha menghalangi kita.”

Simo berkata sambil melenting ke kanan dan ke kiri menghindari sabetan pedang dan gebukan garan tombak yang seperti berlomba –lomba mencari setiap bagian tubuhnya.

Namun kemudian katanya, “Marilah. Tapi kau jangan ingkar janjimu Pranata. Kau bakal membelikan aku segelas air jahe dengan gula aren serta sebungkus nasi ranggi di kotaraja Pajang setelah urusan di Madiun ini selesai”

Bersama dengan sekelompok kecil pengawal terpilih, mereka telah menerobos menusuk ke dalam pertahanan lawannya. Ke arah selarak pintu gerbang. Sulit untuk menahan gerak Sukmo Aji dan kedua prajurit pilihannya. Sabetan pedang, dan cecaran tombak perlahan –lahan telah menyibakkan pertahanan lawan. Sukmo Aji dan Pranata yang berada di paling depan telah membuka jalan.

Meskipun keduanya harus menghentakkan ilmu yang mereka miliki, namun ilmu keduanya melampaui kemampuan setiap prajurit Madiun. Bahkan dengan ilmu meringankan tubuhnya, Sukmo Aji membuat lawan-lawannya menjadi bingung dan tidak percaya akan kenyataan yang mereka hadapi. Namun Sukmo Aji itu maju terus betapapun lambatnya.

Namun pada saat yang gawat itu, Sukmo Aji, Pranata dan Simo telah menghentakkan kemampuannya. Sekelompok prajurit terpilih yang telah berhasil masuk berusaha untuk mendesak maju. Sementara Sukmo Aji dan Pranata menahan tekanan dari sebelah-menyebelah bersama beberapa prajuritnya, maka tiga orang pengawalnya telah mulai menggapai selarak pintu yang besar.

“Cepat!” perintah Sukmo Aji.

Tumenggung Wiropanggah yang menyusup di antara pertempuran itupun sudah mendekati regol itu pula. Beberapa langkah lagi ia akan sampai untuk mencegah pintu itu terbuka. Namun iapun tertegun. Seorang berdiri tegak dihadapannya sembari tangan kanannya mencengkeram sebilah pedang.

“Setan! Siapa kau yang berani menghalangi langkah ku?,” geram Tumenggung Wiropanggah. Jantungnya yang bergejolak keras telah mendorongnya untuk segera meloncat menerkam orang yang menghalangi langkahnya.

Ketiga orang itupun kemudian dengan menggerakkan kekuatannya berusaha untuk mengangkat selarak pintu itu. Betapapun beratnya selarak pintu yang besar itu, namun perlahan-lahan selarak itu mulai terangkat. Di muka pintu gerbang itu telah terjadi keributan yang membingungkan. Kekuatan di luar pintu gerbang yang sangat besar telah menekan pintu gerbang yang sudah tidak berselarak lagi itu.

Betapapun orang-orang Madiun menghujani prajurit Pajang dengan anak panah dan tombak, namun ketika pintu mulai terbuka perlahan-lahan, maka kekuatan dari luar regol telah mengalir memasuki pintu gerbang, diiringi oleh sorak gemuruh yang bagaikan meruntuhkan langit.


cerbung.net

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih.Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset