Kidung Diatas Tanah Jawi episode 19

gatra 19

Ketika kemudian matahari mulai menyingsing, tiga orang yang menyamar sebagai orang-orang kebanyakan, telah memasuki hutan kecil yang berbatasan dengan pedukuhan Canggah yang merupakan pedukuhan pertama sebelum masuk ke induk kademangan Pucang Kembar. Mereka membawa uang secukupnya untuk berbelanja ke pasar dan warung-warung yang ada di sekitar padukuhan-padukuhan yang tersebar di Pucang Kembar, terutama bagian terdekat dengan pedukuhan induk. Ketiga orang berkuda itu melambatkan laju kudanya karena di depan mereka terlihat beberapa orang blandong kayu yang sedang duduk di pinggir jalan dengan kapak di tangan mereka.

Ki Sanak,” bertanya orang-orang yang baru lewat itu, “apakah kalian akan menebang beberapa pohon hutan?”

Salah seorang blandong itu berdiri sambil menjawab, “Tentu tidak banyak. Tetapi kami memang akan menebang satu dua batang pohon yang kami perlukan.”

“Agaknya kalian sedang memilih kayu tertentu?”

“Ya. Kami memang sedang bersiap-siap untuk menebang dua tiga batang pohon mahoni.”
“mahoni?” bertanya salah seorang dari orang-orang yang lewat itu.

“Untuk apa?”

“Kami sedang memperbaiki rumah salah satu tetangga kami di Pucang Kembar.”

“Jadi kalian ini orang –orang Pucang Kembar.”

Orang itu mengangguk sambil tersenyum.

Orang-orang yang lewat itu pun mengangguk-angguk pula. Lalu salah seorang berkata, “Baiklah. Kami akan meneruskan perjalanan kami. Kami akan berbelanja di pasar untuk keperluan peralatan di rumah saudara kami.”

Salah seorang yang mengaku orang Pucang Kembar yang sedang bercakap-cakap itu mengangguk hormat, sambil menyahut, “Silahkan, Ki Sanak. Jika Ki Sanak lewat lagi di jalan ini, Ki Sanak tentu akan memberikan oleh-oleh.”

Ketiga orang yang lewat itu tertawa pendek. Sambil mengangguk-angguk salah seorang dari mereka menyahut, “Apakah kira-kira kalian masih ada di sini?”

“Kami akan berada di sini sampai kira-kira tiga hari. Hari ini kami baru akan dapat menebang dan memotong-motong sebatang pohon mahoni itu. Dan besok kami akan menebang satu lagi. Bahkan mungkin masih kurang,” jawab blandong itu.

“Baiklah. Oleh-oleh apakah yang harus aku bawa bagi kalian?”

Blandong itu tertawa. Katanya, “Terima kasih. Kami tidak memerlukan apa-apa.”

Sambil tertawa pula ketiga orang itu pun kemudian meninggalkan tempat itu. Sekali-sekali mereka masih berpaling dan memperhatikan salah seorang warga Pucang Kembar yang kemudian duduk kembali di antara kawan-kawannya.

Setelah berkuda beberapa saat. Tiba-tiba salah satu dari penunggang kuda itu menarik tali kekang kudanya. Kedua temannya tampak terkejut dan buru –buru menghentikan laju kuda tunggangannya.

“ Ada apa, Munggur? Mengapa kita berhenti di sini? “

“Sekarang,” berkata seorang yang bernama Munggur yang agaknya adalah pemimpinnya.

“Salah seorang dari kalian harus pergi ke pasar terdekat. Aku dan Probo akan coba mendekati induk kademangan. Akan terlihat mencolok kalau kita berkuda bertiga seperti ini. Nanti, saat matahari sudah berada tepat di atas kepala kita bertemu lagi di tepi hutan tadi. Kau masih ingat Baning? “

Orang dengan pakaian serba hitam dan berikat kepala warna merah itu mengangguk mendengar perintah dari Munggur sang pimpinan.

“ Baiklah, kita berpisah disini. Berhati –hatilah. Cobalah membaur dan menyaru dengan penduduk desa. Cari hal yang sangat penting, sekecil apapun itu “

Lantas ketiganya menggebrak kuda masing –masing dan berpisah di ujung pedukuhan.


SEMENTARA itu, beberapa orang yang mengaku sedang mencari pohon mahoni di tepi hutan itu masih saja memandang ketiga orang yang lewat itu sampai mereka hilang di tikungan.

“Aku menaruh kecurigaan yang sangat besar terhadap ketiga orang itu bahwa mereka bukan sekedar petani yang akan pergi berbelanja ke pasar,” desis salah satu dari mereka yang berbicara dengan ketiga orang tadi.

“Jadi benar, bahwa ada beberapa orang yang telah turun dari gerombolan Kelabang Ijo seperti yang diduga oleh pemuda dari Pajang itu.”

“ Aku yakin mereka ingin melihat keadaan yang sesungguhnya di Pucang Kembar”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka bertanya, “Tetapi, apakah ketiga orang itu benar-benar akan pergi ke pasar?”

“Ya. Mereka tentu benar-benar akan pergi ke pasar untuk mendengar beberapa hal tentang peristiwa terakhir yang terjadi di sekitar kademangan Pucang Kembar”
Kalian harus menghubungi kakang Kertopati dan para jagabaya yang ada di pasar itu untuk mengawasi ketiga orang yang baru saja lewat. Bukankah kalian tidak akan melupakan tampang mereka? ”

“ Tidak…”, keduanya menjawab berbarengan. Lantas tanpa menunggu lama lagi ke dua pemuda yang sedang menyaru menjadi blandong itu bergegas setengah berlari meninggalkan tepi hutan itu menuju ke arah induk kademangan.


Ketika matahari mulai naik dan menggusur embun yang masih bertengger di pucuk –pucuk daun. Beberapa orang jalan berbondong –bondong menuju ke pasar Canggah. Meskipun bukan hari pasaran tetapi nampaknya pasar itu tetap ramai. Satu dua orang terlihat membawa gerabah, ada yang membawa hasil ladang seperti jagung dan singkong. Seorang lelaki tua tengah membawa gula kelapa dengan terseok –seok. Di belakangnya diikuti perempuan tua. Sepertinya perempuan itu adalah istrinya.

“ Mungkin, dalam dua atau tiga hari pasar ini akan benar –benar sepi Nyi, “ berkata lelaki tua yang tengah memikul gula kelapa.

“ Sia- sia saja kita hampir satu pekan ini kerja keras membuat gula kelapa melebihi hari –hari sebelumnya Ki “, sahut perempuan tua itu sambil berjalan tertatih menyusul suaminya.

Demikianlah, kedua orang itu pun akhirnya sampai ke pasar tanpa terjadi sesuatu di perjalanan. Di antara orang-orang yang sedang berjual beli, mereka berjalan perlahan-lahan sambil mengawasi hampir setiap orang yang ada dipasar itu untuk mencari ketiga orang yang telah mendahuluinya.

Namun akhirnya, mereka berhasil menemukannya. Hanya satu orang saja. Orang itu sedang duduk di dalam sebuah warung di pinggir pasar sambil menghadapi semangkuk minuman panas.

“Kau mengawasi di sini,” berkata salah seorang dari kedua orang yang mengikuti mereka, “aku akan menemui petugas dari kademangan induk.”

“Di manakah mereka itu?”

“Menurut keterangan yang kita terima, mereka berada di sisi gerbang pasar yang menghadap ke Utara.”

“Baiklah. Tetapi jangan terlampau lama.”

Seorang dari keduanya pun kemudian meninggalkan tempat itu. Yang lain pun segera berjongkok dan menawarkan sebulat mata cangkul agar tidak seorang pun yang memperhatikannya berdiri termangu-mangu di tempat itu.

Ternyata beberapa petugas yang dikirim dari kademangan Pucang Kembar untuk mengawasi tempat-tempat yang ramai memang berada di sisi pintu gerbang. Dengan singkat, petugas yang mengikuti ketiga orang itu pun kemudian menyerahkan persoalannya kepada petugas yang langsung datang dari Pucang Kembar.

“Kenapa tidak kau saja yang menemani mereka duduk di warung itu? Kau dapat memesan makanan apa saja yang kau sukai.”

“Tetapi ada kemungkinan mereka mengenal aku. Karena aku berada di pinggir jalan ketika mereka lewat, meskipun aku sudah siap untuk menebang pohon Mahoni.”

“Tetapi dengan pakaianmu itu, mereka tidak akan dapat segera mengenalimu.”

“Sebaiknya kau sajalah”

“Cepatlah,” berkata orang itu kemudian, “sebelum mereka pergi.”

Petugas yang datang dari Pucang Kembar itu pun kemudian menunjuk salah seorang di antara mereka untuk pergi ke warung itu pula dan mendengarkan setiap percakapan di antara mereka yang sedang diawasi itu.

Tetapi di warung yang pertama, mereka tidak menemukan keterangan apa pun. Satu orang itu agaknya memang mencoba menangkap berita tentang perkelahian yang telah terjadi. Dan apa saja yang telah dilakukan oleh orang –orang dari Pucang Kembar. Tetapi meskipun mereka memancing pembicaraan, namun agaknya orang-orang yang ada di warung itu tidak ada yang mengetahuinya.

Dengan demikian maka orang itu pun berpindah pula ke warung yang lain atau di tempat orang-orang lain berkerumun. Setiap kali petugas-petugas dari Pucang Kembar selalu mengikutinya meskipun setiap kali pula mereka harus berganti orang agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Dengan wajah yang suram, para telik sandi baik yang langsung dikirim dari Pucang Kembar maupun kedua orang yang mengikuti orang yang dicurigai itu, belum dapat mengambil kesimpulan apa pun juga sampai saatnya pasar itu mulai menjadi semakin sepi.

“Namun setidak-tidaknya kita mengetahui bahwa ketiganya tentu berkepentingan dengan pertempuran itu,” berkata petugas yang langsung datang dari Pucang Kembar. “Ternyata mereka selalu mencoba mengarahkan setiap pembicaraan pada kemungkinan terjadi benturan antara gerombolan-gerombolan rampok dan sepuluh pemuda pilihan dari Pucang Kembar. Untunglah bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang berada di warung-warung itu menanggapinya, karena agaknya mereka juga tidak mengetahui

Yang lain mengangguk-angguk. Salah seorang berkata, “Kita tunggu seorang kawan kita yang masih mengikutinya. Mungkin ia mendapat keterangan baru. Mudah-mudahan kita menemukan sedikit keterangan mengenai kemungkinan yang dapat terjadi.”


Dalam pada itu, selagi para telik sandi itu mengawasi tiga orang yang mereka curigai di antara orang banyak, maka Sukmo Aji, Kertopati dan beberapa jagabaya duduk di pendapa rumah demang di Pucang Kembar. Namun dalam pada itu, selagi mereka berbincang, terdengar derap beberapa ekor kuda memasuki halaman. Terlihat tiga orang pemuda dalam pakaian yang lusuh mirip seorang yang tengah bepergian jauh.

“Petugas telik sandi itu,” gumam Sukmo Aji.

Demikianlah sejenak kemudian mereka telah duduk di pendapa bersama Sukmo Aji, Kertopati dan Demang Pucang Kembar.

“Katakanlah,” berkata Sukmo Aji dengan wajah yang tegang. Demang Pucang Kembar, Kertopati, dan para jagabaya melihat, bahwa ada semacam kegelisahan di hati Sukmo Aji.

“Ki Sukmo Aji,” berkata salah seorang petugas sandi itu, “kami berhasil mengikuti tiga orang yang kami curigai di dalam pasar atas petunjuk kawan-kawan kami yang menebang pohon Sanakeling di hutan rindang di pinggir jalan yang menuju ke Canggah.”

“Ya.”

“Hasil pengamatan kami menunjukkan, bahwa mereka agaknya dengan sungguh-sungguh sedang menyelidiki mengenai akibat pertempuran tadi malam dan apa saja yang telah dipersiapkan oleh Demang Pucang Kembar.”

“Tidak banyak yang mereka dapatkan di dalam pasar itu, karena hampir setiap orang tidak tahu tentang peristiwa yang baru saja terjadi.”

“Maaf, Ki Demang. Aku menjadi gelisah sehingga aku harus bertindak cepat.”

“Itu adalah tugas para pemuda Pucang Kembar dan aku sebagai pimpinannya. Dan agaknya Angger telah melakukan dengan penuh tanggung jawab,” sahut Demang Pucang Kembar.
Sukmo Aji tersenyum. Katanya, “Aku adalah sekedar pengemban tugas Ki.”

Ki Demang dan orang-orang yang berada di tempat itu mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa keadaan yang gawat sedang dihadapi oleh Kademangan Pucang Kembar, sehingga sebagai demang yang bertanggung jawab penuh pada warganya harus segera bertindak untuk mencegah sejauh dapat dilakukan, benturan-benturan bersenjata yang akan dapat mengganggu ketenangan rakyat yang selama ini selalu hidup tenang.

“ Kalian cobalah kembali ke pasar dan bantu kawan –kawan untuk mengikuti ketiga orang itu. Aku yakin mereka akan bertemu di suatu tempat yang sudah disepakati. Sebisa mungkin jangan terlibat dalam bentrokan. Aku khawatir mereka memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni”

“Aku akan menyusul kalian setelah aku bersiap-siap “

Sejenak kemudian beberapa telik sandi itu sudah berderap di atas punggung kuda meninggalkan pendopo Demang Pucang Kembar.

“ Biarlah Kertopati menyertai mu Ngger”, Demang Pucang Kembar lantas menoleh ke arah Kertopati. Pemuda itu menggangguk.

“ Terimakasih Ki Demang, kami berdua berangkat dahulu “


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset