Kidung Diatas Tanah Jawi episode 20

gatra 20

TIGA ORANG lelaki itu memacu kuda tunggangan mereka bagai kesetanan, menghambur menyeberangi sungai berair dangkal Ikan-ikan wader dalam sungai yang tengah berenang menikmati kesejukan alam senja terkejut berlompatan ke permukaan air.

Namun dalam pada itu, di luar pengetahuan ketiga orang itu beberapa pasang mata mengawasinya dari kejauhan. Demikian ketiga orang itu keluar dari perbatasan Canggal. Maka, mereka pun menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang dari mereka berkata, “Ayo lekas ikuti mereka, jangan sampai kehilangan jejak“

Tak lama kemudian sekitar lima ekor kuda telah berlari mengejar ketiga orang yang telah duluan berpacu.

Ketiga orang lelaki yang tidak lain anak buah Kelabang Ijo yang sedang berpacu kembali ke persembunyiannya, hampir tidak pernah berbicara sama sekali. Mereka seperti berlomba –lomba memacu kekuatan lari kuda tunggangan masing -masing. Ketiga ekor kuda yang meninggalkan Pucang Kembar itu berderap semakin cepat. Penunggangnya sama sekali tidak menghiraukan lagi keadaan di sekelilingnya.

Dalam pada itu, sekelompok lelaki telah menunggu dengan tegang. Mereka adalah empat pemuda yang ditugaskan untuk menjadi telik sandi dengan manyaru sebagai blandong di hutan. Mereka adalah pemuda dusun di sekitaran Pucang Kembar yang dinilai memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan pemuda desa kebanyakan.

“ Dandun..apakah tindakan kita ini tidak akan dipersalahkan kalau mungkin terjadi hal –hal buruk yang akan menimpa kita? “, berkata salah seorang pemuda yang memiliki tubuh tinggi namun kurus.

“Ya Kakang Dandun,” jawab seorang lainnya, “kita hanya ditugaskan untuk mengawasi bukan untuk menghadang kemudian beradu senjata “

“ Kau jangan jadi pengecut, penyusup dari gerombolan rampok itu hanya tiga ekor sementara kita berempat. Belum lagi nanti orang –orang dari kademangan induk Pucang Kembar yang dengan segera akan menyusul ke sini. Apa yang harus kau risaukan Nata?”

“Tapi kakang, meskipun mereka hanya bertiga aku yakin kanuragan yang mereka miliki tentu tinggi,” sahut yang lain, “ tapi betapapun tinggi ilmu mereka, tetapi mereka tidak akan dapat berbuat banyak. Tetapi ukurannya adalah paling banyak dua dari kita. Selebihnya adalah tenaga cadangan yang akan segera datang. Dan aku yakin orang dari Pajang yang bernama Sukmo Aji itu juga akan menyusul. Meski masih muda, orang itu seorang Tumenggung Anom di Pajang”

Dandun menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berbaring di atas rerumputan di bawah sebatang pohon yang rimbun. Matahari semakin tergelincir di tepi barat, rasa-rasanya mereka menjadi semakin gelisah. Kadang-kadang mereka tidak telaten lagi menunggu.

“Mungkin ketiga orang itu belum tentu lewat jalan ini,” berkata salah seorang dari keempat pemuda itu.

“Aku sangat yakin mereka akan melintasi jalan ini,” jawab Dandun.
Pemuda yang bertanya tadi tidak menyahut lagi. Seperti kawannya, ia pun kemudian berbaring dibawah pohon yang rindang pula.


Sementara itu, ketiga orang dari gerombolan rampok Kelabang Ijo tidak lagi berpacu dengan tergesa-gesa. Semakin lama dibiarkannya kudanya berlari semakin lambat. Namun dalam pada itu, ketiga orang itu sama sekali tidak menyangka bahwa penyusupan ke Pucang Kembar telah diketahui dan ada empat orang telah bersiap untuk mencegatnya di perjalanan.

Sekali-sekali perjalanan masih harus menusup hutan yang meskipun tidak lebat, tetapi cukup menghambat perjalanannya. Bahkan kadang-kadang kudanya sama sekali tidak dapat berlari. Ketiganya harus menyusup di bawah sulur pohon kayu yang rimbun atau meloncati batang pepohonan yang melintang dijalan. Namun pada dasarnya kudanya dapat maju terus meskipun perlahan-lahan.

Demikianlah maka Munggur menjadi semakin dekat dengan Kali Asat. Setelah dusun terakhir yang masih masuk di kademangan Pucang Kembar ditinggalkannya, maka untuk beberapa saat lamanya Munggur menyusuri hutan yang tidak begitu lebat.

Tetapi hutan itu adalah hutan yang sudah terlampau sering dilalui, sehingga seakan-akan hutan itu adalah hutan tamasya saja. Binatang-binatang yang masih ada justru menjauhi jalan yang membelah tengah-tengah hutan itu.

Tetapi hutan itu ternyata tidak begitu luas, sehingga beberapa saat kemudian ketiga orang itu telah berada dibulak persawahan lagi. Namun dengan demikian terasa angina sore yang sejuk seakan-akan mengelus kulit punggung meskipun dilambari oleh selembar baju yang tebal.

Namun tiba-tiba saja penunggang kuda yang berada di depan terkejut ketika kudanya tiba-tiba saja menjadi sendat. Bahkan kemudian seakan-akan tidak mau maju lagi. Beberapa kali kudanya melingkar-lingkar bahkan, kemudian meringkik. Kedua orang kawannya pun menjadi heran.

“Kenapa dengan kuda ini?” bertanya Munggur sambil menepuk leher kudanya supaya kuda itu menjadi tenang.

Kedua kawannya pun kemudian berhenti beberapa langkah daripadanya sambil memperhatikan kuda yang menjadi gelisah itu.

“Aneh,” desis yang seorang.

“Tentu firasatnya mengatakan sesuatu,” sahut yang lain.

Munggur sendiri masih menepuk beberapa kali leher kudanya sambil bedesis perlahan-lahan. Kemudian diusapnya dahi kuda itu dengan lembut sehingga akhirnya kudanya menjadi tenang. Tetapi rasa-rasanya kuda itu tidak mau lagi melangkah maju.

“Aku jadi heran,” berkata Munggur, “sebentar lagi kita akan menyeberang Kali Asat. Kenapa kuda ini tidak mau berjalan lagi? Apakah Kali Asat sedang banjir? Tapi, tidak mungkin. Ini masih musim kemarau”

“Aku kira tidak Munggur. Langit cerah. Demikian juga disebelah Utara. Agaknya dikaki pegunungan itu pun tidak mungkin turun hujan.”

Munggur mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Tetapi kenapa?”

“Mungkin sekedar sentuhan kecil. Karena itu biarlah kuda itu menjadi tenang sesaat.”

Munggur mengangguk. Ia pun kemudian turun dari kudanya dan membiarkan kudanya merenungi jalan yang akan dilaluinya. Sekali-sekali kuda itu menengadahkan kepalanya dan penciumannya seakan-akan menyentuh sesuatu yang membuatnya gelisah.

“Jika ada binatang buas, tentu kuda-kuda yang manapun menjadi gelisah pula,” berkata seorang kawannya yang bernama Baning.

“Memang mungkin seekor binatang buas yang sedang minum di Kali Asat,” jawab yang lain.

Munggur menganggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin sekali. Sebentar lagi binatang buas itu akan pergi.”


Kedua teman Munggur yang bernama Baning dan Probo sudah turun pula, mengikat kuda masing-masing pada sebarang pohon perdu. Keduanya pun kemudian ikut mengusap kuda Munggur yang gelisah. Seakan-akan keduanya ingin meyakinkan kepada kuda itu, bahwa tidak ada apa-apa di perjalanan. Seandainya ada binatang buaspun kuda itu tidak perlu cemas.

Agaknya kuda itu pun mengerti. Perlahan-lahan kuda itu menjadi tenang, sehingga dengan demikian maka ketiganya pun siap melanjutkan perjalanan.

“Kau dapat minum sampai kenyang nanti di Kali Asat,” berkata Probo sambil mengusap leher kuda yang gelisah itu.

Sejenak kemudian kuda itu melanjutkan perjalanannya meskipun nampaknya masih ada keragu-raguan. Apalagi ketika mereka muncul di sebuah bulak di sebelah Timur Kali Asat.
Tetapi rasa-rasanya kuda itu masih tetap gelisah meskipun perlahan-lahan ia maju terus. Sedang Munggur pun tidak mau memaksa kudanya lari lebih cepat.

Dalam pada itu kedua kawan Munggur pun rasa-rasanya menjadi gelisah pula. Seekor kuda adalah binatang yang memiliki firasat yang tajam. Karena itu, tanpa sesadarnya keduanya telah menggeser keris dipunggungnya, dan meraba hulu pedangnya. Sekilas mereka, memandang Munggur yang ada didepannya. Ternyata Munggur tidak membawa senjata lain kecuali keris berukuran besar yang menempel di punggungnya.

Namun demikian mereka berjalan terus. Hanya kadang-kadang mereka harus berhenti sejenak, jika kuda Munggur nampaknya menjadi semakin gelisah. Jika kuda itu menjadi agak tenang, maka mereka pun melanjutkan perjalanannya pula.

Tetapi ternyata bahwa kuda-kuda yang lainpun mulai menjadi gelisah pula, sehingga meskipun kedua kawan Munggur itu tidak mengatakan sesuatu, namun mereka hampir memastikan didalam hati, bahwa sesuatu akan terjadi.

Sebenarnyalah bahwa saat ketiga orang itu mendekati Kali Asat, maka orang-orang yang harus mengawasinya telah lebih dahulu melihat tiga orang berkuda mendekat. Karena itu maka mereka pun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya yang masih menunggu dengan penuh kegelisahan.

“Mereka sudah datang,” desis Dandun.
Ketiga orang pemuda pun segera bersiap. Mereka sadar sepenuhnya bahwa melawan tiga orang dari gerombolan rampok Kelabang Ijo, adalah suatu perjuangan yang berat.

Dandun pun kemudian memerintahkan ketiganya untuk bersiap pula. Katanya, “Kalian berdua berada dibelakang ketiga orang itu. Mereka harus dibiarkan melintas, tetapi aku dan Nata akan menutup jalan agar orang yang berkuda di depan itu dan pengawalnya tidak berbalik dan melarikan diri. Mereka harus masuk ke dalam jebakan dan kita akan menangkap mereka.”

Pesan Dandun cukup gamblang. Karena itu maka kawan-kawannya pun segera menebar.

“Kita berdua harus menyelesaikan lebih dahulu satu orang yang aku rasa memiliki ilmu yang lebih dibanding kedua kawannya,” berkata Dandun, “biarlah sisa dari kita yang berjumlah dua orang itu mengurusi kedua kawannya. Jika yang punya ilmu paling tinggi sudah kita ringkus, maka ke dua orang itu bagaikan tikus saja di sarang kucing liar.”

Ketiganya tersenyum lantas menganggukkan kepala. Namun wajah-wajah merekapun kemudian menjadi tegang, ketika dari kejauhan mereka melihat tiga orang berkuda datang mendekat.

“Itulah mereka,” desis Dandun.

Demikianlah mereka yang mencegat perjalanan ketiga orang lelaki yang menyusup ke Pucang Kembar pun segera bersembunyi dibalik batu-batu padas dan gerumbul-gerumbul liar ditepi Kali Asat. Mereka telah menyiapkan senjata mereka masing-masing. Setiap saat mereka dapat segera menyergap ketiga orang yang sesaat kemudian akan melintasi Kali Asat.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset