Kidung Diatas Tanah Jawi episode 21

gatra 21

Tetapi rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi melihat ketiga ekor kuda yang tidak berlari cukup cepat. Bahkan kadang-kadang kuda orang yang ada di paling depan dengan penunggang lelaki berbadan tegap berikat kepala merah justru berhenti dan meringkik. Baru kemudian kuda itu perlahan-lahan maju lagi beberapa langkah.

“Kuda itu malas sekali,” desis Dandun yang juga tidak sabar menunggu.

“Kita meloncat naik dan mengepungnya,” sahut kawannya sembari mencengkeram hulu pedang.

“Masih terlampau Jauh. Jika mereka terkejut, mereka dapat melarikan diri.”

“Kita harus bersabar sedikit ”

Tetapi ketiga orang itu tidak segera maju mendekat. Bahkan seakan-akan mereka sengaja berhenti dan mengamati keadaan dengan saksama.

“Bagaimana?” bertanya salah seorang kawannya itu.

“Kita tunggu sebentar,” jawab Dandun, “jika mereka masih saja menunggu, kitalah yang menyergap naik keatas tebing, kemudian kita dorong mereka turun, supaya tidak banyak orang yang dapat menyaksikan perkelahian ini dari jauh.”

“Aku sependapat,” kawannya mengangguk.

Dengan demikian, maka dengan gelisah dan menahan nafas kedua orang itu beserta dua orang lainnya yang telah bersembunyi di balik batu menunggu ketiga lelaki itu menjadi semakin dekat. Namun agaknya kesabaran merekapun sudah sampai pada batasnya.

“Kuda-kuda itu agaknya menjadi gila,” berkata Dandun.

Sebenarnyalah bahwa Munggur sendiri tidak berusaha lagi untuk maju lagi. Firasatnya sebagai seorang rampok yang telah malang melintang seakan-akan memberinya peringatan, bahwa dihadapannya sedang menunggu bahaya yang dapat merenggut nyawanya. Sehingga karena itu, maka Munggur itu pun justru mengekang kudanya dan berhenti sejenak.

“Apakah kau melihat sesuatu?” bertanya salah seorang kawannya.

“Jalan ini terlampau lengang dan aneh menurut firasat ku,” jawab Munggur.

“Jalan ini memang jarang sekali dilalui orang,” sahut yang seorang.

“Ya. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu.”

“Benar Munggur. Hatiku juga menjadi berdebar-debar.”

“Baiklah kita berhenti sejenak,” berkata Munggur, “mungkin kita sudah dibebani prasangka buruk. Mungkin juga ada yang sedang menguntit atau mengawasi kita balik batu –batuan di bawah sana itu. Mungkin orang –orang Pucang Kembar. Berhati –hatilah “

Kedua kawannya tidak menyahut. Tetapi rasa-rasanya memang ada sesuatu.

Bahkan salah seorang dari keduanya tiba-tiba berdesis, “Kakang Munggur, agaknya aku memang melihat sesuatu bergerak di kejauhan, dibalik sebuah batu yang besar.”

Munggur mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia pun telah melihat sesuatu bergerak seperti yang dilihat oleh kawannya. Namun ia masih mencoba meyakinkan, apakah yang telah dilihatnya itu.

Karena kawannya telah menyebutnya lebih dahulu, maka Munggur pun kemudian berkata, “Memang ada sesuatu yang bergerak di tepian. Tetapi banyak sekali kemungkinan yang dapat kita sebut. Mungkin seorang petani yang membersihkan alat-alatnya atau mungkin seorang yang lewat di jalan ini sedang beristirahat.”

“Memang Mungur,” sahut kedua kawannya, “ada bermacam-macam kemungkinan. Namun agaknya mencurigakan.”

Munggur mengangguk. Katanya, “Berhati-hatilah. Firasat seorang begal rampok seperti kita kadang-kadang tidak akan terlampau jauh dari kebenaran jika akan menjumpai bahaya.”


Kedua kawannya menjadi semakin berdebar-debar. Dengan demikian keduanya hampir tidak berkedip memandang ke tepian dihadapan mereka. Tetapi Munggur dan kedua kawannya tidak segera maju lagi. Didalam keadaan yang mendebarkan itu, barulah Munggur menyadari ketergesa-gesaannya. Ia sama sekali tidak mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang dapat membahayakan jiwanya saat memutuskan untuk menyanggupi tygas untuk menyusup ke Pucang Kembar.

Ketika kecurigaannya justru semakin tajam, ia berkata kepada kedua kawannya, “Kita tidak dapat berhenti disini sampai sore semakin menjadi malam. Apapun yang akan kita hadapi kita akan maju. Sehingga kita dapat segera pulang untuk melaporkan sesuatu yang telah kita temui di Pucang Kembar dan padukuhan sekitar”

“Munggur,” berkata seorang kawannya yang bernama Baning, “mungkin aku memang sudah menjadi seorang pengecut. Tetapi sebaiknya kau tetap berada disini. Biarlah aku berdua melihat, apakah yang ada dibalik bebatuan dan gerumbul-gerumbul ditepian. Jika yang kami jumpai ternyata berbahaya bagi tugas kita, sebaiknya kau menghindar. Bukan maksudku untuk memperkecil ilmu kanuragan mu didalam medan, justru kami ingin tugas ini dapat terselesaikan dengan baik.”

Munggur mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. Katanya, “ Kita binasakan orang –orang yang mencegat kita ini. Gerombolan Kelabang Ijo bukan tikus –tikus pengecut “

“Marilah kita maju,” desis Munggur.

Dua orang berloncatan dari balik gerumbul-gerumbul dan segera mencegat Munggur dan kedua kawannya yang masih berada di atas punggung kuda. Sementara dari belakang muncul lagi dua orang dengan pedang terhunus di tangan. Sejenak Munggur memandang orang-orang yang berdiri mengepungnya.

Sejenak Munggur memandang wajah Dandun yang keras sekeras batu-batu padas ditepian Kali Asat. Kemudian wajah seorangnya lagi berganti-ganti. Wajah mereka tegang. Meskipun wajah –wajah itu terlihat kotor berdebu tapi mata tajamnya masih mengenali bahwa orang –orang yang mencegatnya itu yang tadi pagi ditemuinya di tepi hutan sedang menebang pohon mahoni.

Dandun, yang tertua di antara mereka pun kemudian maju selangkah.

Dipandanginya Munggur, “ Sekarang menyerahlah, aku tahu kalian adalah rampok –rampok Kelabang Ijo. Tadi pagi kita baru saja bertemu kisanak di tepian hutan. Kau masih mengingat wajahku? Dan mana oleh –okeh jadah dan jenang alot yang kau janjikan?“

Munggur tersenyum, “ Aku masih sangat mengingatnya kisanak dan maaf pesanan oleh-oleh mu aku lupa membelikannya. Pasar sangat ramai. Aku enggan menunggu untuk dilayani “

Dandun tersenyum lantas ia berkata, “ Kalau kau masih mengingatku. Aku punya penawaran yang bagus. Aku masih berbaik hati tidak memaksa kalian untuk mengadu nyawa. Tetapi, jika kalian tidak mau menyerah. Silahkan maju lagi sampai ke tepian. Di tepian kita mempunyai tempat yang cukup luas untuk berkelahi. Siapa yang terbunuh didalam perkelahian itu, dengan mudahnya kita lemparkan saja ke dalam air. Apakah kalian tidak sependapat, sebaiknya kita bertempur di pinggir sungai saja ?”

Munggur memandang Dandun sejenak, lalu, “Siapakah kau sebenarnya Ki Sanak? Apakah kau telik sandi dari Jipang Panolan atau orang Pucang Kembar?”

Dandun tertawa. Jawabnya, “Apakah ada perlunya kau mengetahui? Tetapi, baiklah agar kau tidak penasaran. Kami adalah pemuda-pemuda dari pedukuhan Canggah yang masih berada di dalam kademangan Pucang Kembar. Ki Demang memerintahkan kepada ku untuk berjaga –jaga di perbatasan. Dan benar saja pagi tadi tikus –tikus dari luar kademangan dengan diam –diam menyaru masuk untuk mengacak-acak persediaan beras di lumbung”

“ Dan kau pun tentu sudah dapat menduga apakah keperluanku. Karena itu, sebaiknya kau turun saja dari kudamu dan menyerahkan diri. Aku akan mengikat kedua tangan mu dengan penuh hormat.”

“Tutup mulutmu,” Baning lah yang membentak. Dengan mata yang merah menyala Baning berkata lantang, “Kau jangan menghina. Kau harus sadar, dengan siapa kau berhadapan”

“Baiklah,” berkata Munggur, “jika kau yakin akan dapat meringkus aku, lakukanlah. Tetapi aku pun yakin akan dapat menebas kalian layaknya gedebog pisang di tegalan”

Dandun lalu melambaikan tangannya sebagai isyarat bagi ketiga kawannya untuk segera mulai. Orang-orang yang telah mengepung Munggur beserta kedua kawannya itu mulai bergerak.

Perlahan-lahan mereka maju selangkah demi selangkah dengan senjata telanjang di tangan. Melihat orang-orang yang mengepungnya mulai bergerak, maka Munggur pun bersiap. Demikian juga kedua kawannya.

Sementara itu, bukan saja orang-orang yang mencegatnya itu telah bergerak maju. Tetapi dua orang yang ada di belakang Munggur pun telah mendekat pula.

Munggurpun sadar, bahwa ia adalah arah utama dari orang-orang yang telah menunggunya di tepian Kali Asat itu. Karena itu, ia telah menyiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan. Sebagai seorang gegedug rampok di bawah pimpinan Kelabang Ijo, maka Munggurpun tidak merasa gentar sama sekali. Apapun yang akan terjadi, akan dihadapinya dengan berani.

Namun dua orang pemuda dari dusun Canggah itu terkejut. Bahkan bukan saja mereka, tetapi setiap orang yang ada ditempat itu, termasuk kedua kawan Munggur sendiri, ketika mereka, melihat tiba-tiba saja Munggur menghentakkan tali kekang kudanya sehingga kuda itu bagaikan meloncat dengan garangnya ke depan.

Dan ternyata bahwa Munggur lah yang telah memulainya lebih dahulu. Dengan dahsyatnya kudanya menerjang kedua orang dari Canggah itu dengan keris yang terhunus. Serangan yang tidak terduga itulah yang telah menggoncangkan setiap dada. Dandun dan kawannya pun bagaikan kehilangan pegangan, apakah yang akan dilakukan.
Ternyata perhitungan Munggur itu dapat dilakukan dengan tepat meskipun tidak berhasil seperti yang diharapkan.

Ternyata dua orang dari Canggah itu benar-benar bukan orang kebanyakan. Meskipun mereka terkejut bukan buatan, namun mereka masih sempat berbuat sesuatu. Mereka sempat berloncatan menghindari senjata Munggur.

Tetapi tidak semuanya dari kedua orang itu dapat membebaskan, dirinya. Ternyata keris Munggur masih berhasil menggores punggung salah seorang dari mereka. Ketika keris itu menyentuh kulitnya, terdengar ia mengaduh.

Kemudian sebuah dorongan yang kuat telah melemparkannya sehingga ia jatuh berguling di tanah. Meskipun dalam waktu sekejap ia berhasil meloncat berdiri namun kemudian, terasa punggungnya sangat pedih. Kekuatannya semakin lama bagaikan dihisap oleh luka di punggungnya itu. Tetapi ia tetap bertahan. Dengan wajah yang tegang dan gigi gemeretak ia siap menghadapi kemungkinan berikutnya.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset