Kidung Diatas Tanah Jawi episode 22

gatra 22

AGAKNYA kedua kawan Munggur menyadari, bahwa pertempuran yang sebenarnya, sudah dimulai. Karena itu mereka pun tidak menunggu lebih lama lagi. Kuda mereka pun segera berderap menyerang orang-orang yang mengepungnya. Sesaat Dandun dan ketiga kawannya menjadi agak gugup. Mereka benar-benar tidak menyangka, bahwa justru Munggur lah yang telah mulai dengan garangnya dalam waktu yang sangat cepat.

Tetapi Dandun adalah pemuda yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Itulah sebabnya, maka dalam waktu dekat ia berhasil menguasai diri dan kawannya. Namun dalam waktu yang dekat itu, Munggur dan kedua kawannya, telah berhasil mendesak lawan -lawannya. Terlihat kedua kawan Dandun tampak kalang kabut menghadapi Baning dan Probo. Berkali –kali kedua pemuda dari padukuhan Canggah itu meloncat mundur sembari menjatuhkan diri manakala serangan Baning laksana ombak yang terus mendera.

Dengan demikian, maka Munggur yang sudah berada diluar kepungan itu justru sudah siap menyerbu kedua lawannya yang berdiri di hadapannya dengan pedang terhunus. Sejenak Munggur mempersiapkan diri dan memperhitungkan keadaan. Kemudian kudanya pun berderap dengan lajunya menerjang ke arah Dandun dan dengan garang telah menyerang mereka dengan kerisnya. Namun Dandun dan seorang masih berhasil menghindari serangan yang menyambar mereka. Mereka sempat meloncat kearah yang berlawanan sambil merendahkan diri.

Selagi kuda yang menyambar itu lewat, Dandun yang memiliki pengalaman terbanyak dibanding dengan kawan -kawannya segera mengatur diri.

Dengan lantang ia berkata kepada kawan yang berada disampingnya, “ Jangan takut menghadapi gegedug maling itu. Kita akan mampu meringkusnya bersama-sama. Kalau masih juga tidak mau menyerah. Habisi saja!”

Waktu yang singkat itu ternyata cukup bagi mereka untuk mempersiapkan diri. Demikianlah kemudian terjadi pertempuran yang sengit. Munggur yang masih berada diatas kudanya harus melawan dua orang lawan, sedang Baning dan Probo masing -masing melawan seorang pemuda dari Canggah. Namun sejenak kemudian mulai nampak, bahwa tiga orang kawanan Kelabang Ijo dari lereng Gunung Wilis itu benar-benar mampu mendesak lawan -lawannya. Sementara itu, Munggur sendiri harus menghadapi dua di antara mereka. Untunglah bahwa ia berhasil melukai yang seorang dari keduanya, yang ternyata semakin lama menjadi semakin lemah, dan hampir tidak berdaya sama sekali.

Dengan lincahnya Munggur masih selalu berhasil menghindarkan dirinya dari serangan Dandun, meskipun setiap kali ia harus selalu menjauhi mereka. Untunglah bahwa kuda Munggur itu rasa-rasanya mengerti setiap isyarat yang diberikan oleh tuannya, sehingga dalam pertempuran itu kudanya terasa sangat membantunya.

Sebenarnya kedua lawan Munggur itu cukup berbahaya baginya. Sedang yang seorang dari mereka, yang telah terluka, sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi, selalu bertahan untuk keselamatannya sendiri. Demikianlah, pertempuran itu pun semakin nampak, bahwa Munggur dan beserta dua orang kawannya akan mampu menyudahi perlawanan dari empat orang yang mencegatnya di tepian Kali Asat. Apalagi Baning dan Probo sendri semakin lama semakin mendesak lawannya.

Bahkan kemudian kedua pemuda dari Canggah itu benar-benar berada dalam kesulitan ketika secara berbarengan Probo dan Baning menyerang dengan tebasan pedangnya yang berukuran besar. Pemuda itu masih akan dapat menangkis serangan, itu. Tetapi tidak kedua-duanya dalam saat yang bersamaan dan dari arah yang berseberangan muncul lagi serangan yang sangat cepat. Meskipun kudanya berderap terus, namun kedua ujung senjata yang teracu dalam waktu yang bersamaan itu benar-benar sangat berbahaya baginya.


KEDUA pemuda dari Canggah itu terkejut. Lantas segera meloncat selangkah. Ketika salah satu sempat menangkis serangan yang seorang lagi, maka salah seorang dari kawanan rampok itu dengan sigapnya meloncat maju dan mengayunkan senjatanya mengarah ke lambung. Nasib sial menimpa salah seorang dari mereka. Ujung pedang dengan deras menggurat luka di lambung. Tubuh pemuda itu terhuyung lantas tertatih –tatih menepi dari arena pertempuran. Sesaat tubuh itu goyah dan jatuh tergeletak dengan darah merembes dari luka yang menganga di lambungnya.

Seorang kawannya sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mendekatinya. Karena serangan Probo kembali deras mendera. Karena itu, tidak ada jalan lain baginya kecuali mencoba mengelakkan serangan itu dengan menjatuhkan dirinya. Tepat ketika senjata itu mematuk lambungnya. Pemuda itu berhasil membebaskan diri dari ujung senjata itu. Beberapa kali ia berguling, dan dengan lincahnya ia meloncat berdiri. Tetapi pada saat itu, salah seorang dari dua lawannya itu telah siap menerkamnya sebelum ia sempat memperiapkan dirinya.

Ternyata lawannya itu adalah orang yang memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Pada saat terakhir agaknya pemuda itu memang sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Ujung senjata lawannya rasa-rasanya sudah siap menembus dadanya. Tidak ada cara apapun yang akan dapat dilakukan oleh pemuda untuk menyelamatkan dirinya. Ia hanya dapat mencoba menangkis serangan itu. Tetapi itu hanya merupakan perpanjangan sekejap bagi umurnya, karena pada serangan berikutnya ia yang belum siap sama sekali itu akan segera terdorong oleh sebuah tusukan didadanya.

Dengan derasnya pedang yang berukuran besar itu telah menyambar dada pemuda dari Canggah itu. Terdengar sebuah keluhan tertahan. Orang itu terhuyung-huyung sejenak. Kemudian ia pun jatuh terjerembab dihadapan Probo. Namun pada saat itu, Dandun lah yang berteriak nyaring. Ia melihat kedua kawannya terkapar meregang nyawa. Dandun menggeram. Pemuda itu memutar pedangnya laksana titiran. Sembari melompat dengan dibakar oleh dendam yang menyala dihatinya ia menyerang Munggur dengan ganas.


MUNGGUR menyadari keadaannya ketika senjata lawannya sudah hampir menyentuh kulitnya. Dengan sigapnya ia mencoba memiringkan tubuhnya. Tetapi senjata lawannya itu tetap berhasil melukainya dipundak. Munggur berdesis menahan pedih yang menyengat. Wajahnya yang semula tenang sontak berubah memerah. Lantas Munggur meloncat dari atas punggung kuda. Keris dicengkeram dengan erat.

“ Marilah kita akhiri pertempuran ini anak muda. Sebenarnya aku tidak ingin mengotori tangan dengan darah –darah keledai semacam kalian. Tapi apa boleh buat. Kalian memaksaku”

“ Jangan banyak cakap Munggur,kita buktikan siapa diantara kita yang akan terkapar di tanah bermandikan darah”

Munggur melihat Dandun dengan sigapnya meloncat maju sembari mengayunkan pedangnya. Sementara kawannya yang satu telah terduduk di tanah. Tenaganya terkuras seiiring dengan darah yang terus mengucur di beberapa bagian tubuhnya.

“Kau yang tajam mulut,” geram Munggur sambil menunjuk kepada Munggur, “kaulah yang pertama-tama akan aku sobek mulutmu.”

Tetapi agaknya Munggur sama sekali tidak takut. Dengan kerisnya ia bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Dandun tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia melompat menusuk Munggur. Tetapi Munggur benar-benar lincah selincah burung sikatan. Pedang itu meluncur beberapa cengkang di muka telinga kanannya.

Sambil menyerang Munggur sempat berteriak. “Ha. Ternyata kau adalah pemuda yang bilih tanding. Tentu itu yang kau andalkan untuk mencegat kami.”

Demikianlah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Namun, Dandun nyatanya bukan tandingan Munggur yang telah lama malang melintang menjadi rampok. Akrab dengan dentingan senjata dan selalu bercumbu dengan maut. Hitungan beberapa jurus saja Dandun terdesak hebat. Dandun yang merasa semakin terdesak akhirnya menjadi marah pula. Darahnya semakin lama benar-benar semakin panas. Apalagi ketika kemudian sebuah goresan melukai punggungnya. Goresan itu tidak terlalu dalam. Namun goresan itu telah menyobek baju dan menyentuh kulitnya.

Luka itu, meskipun tidak seberapa, namun karena darah yang menetes, maka hati Dandun telah benar-benar terbakar karenanya. Hilanglah kemudian segala pengamatan diri. Dan dengan demikian maka anak dari dusun Canggah itu menggeram dengan dahsyatnya. Sekali ia meloncat dengan lincahnya beberapa langkah surut, namun kemudian dengan cepatnya ia melingkar, menyerang menyambar-nyambar dengan sengitnya.

Maka Dandun itupun kemudian sampai pada puncak permainannya. Rasa nyeri di punggungnya telah memaksanya untuk mendendam. Karena itu, maka sesaat kemudian, terdengar sebuah keluhan tertahan. Dandun meloncat surut dari lingkaran pertempuran sambil meraba pundaknya. Tampak darah yang merah segar meleleh dari luka itu. Dandun yang terluka itu kemudian dengan kemarahan yang membakar ubun-ubunnya meloncat kembali ke arena. Tetapi demikian ia sampai, terdengar pula ia mengeluh.

Sekali lagi Dandun meloncat ke luar arena. Kali ini agaknya lebih parah dari luka yang diderita Dandun Ternyata darah mengucur dari tangannya. Dua buah jarinya terpenggal dan pedangnya terlempar jatuh. Wajah nya yang kehilangan jari-jarinya itu menjadi merah padam. Merah padam karena menahan marah dan sakit. Dandun tidak sempat lagi menghindar manakala sebuah tendangan keras menggedor dadanya dengan telak. Pemuda itu mengeluh saat tubuhnya terpelanting ke belakang seperti terdorong tenaga yang dahsyat. Darah segar kembali meleleh dari sela –sela bibirnya. Dengan susah payah Dandun mencoba untuk berdiri. Akan tetapi, tidak mampu. Tubuh itu gemetaran lantas terkapar lagi di tanah.


Dan sesaat kemudian, maka Munggur pun menengadahkan kepalanya. Sejenak ia berdiri mematung. Keris di tangan kanannya lantas disarungkan ke warangka. Namun kemudian ia pun meloncat menggapai sebuah ranting pohon cangkring yang tumbuh dipinggir Kali Asat. Ketika ranting yang besar itu berderak, maka Dandun yang terengah – engah menahan sakit di sekujur tubuh itu terkejut. Ia melihat ranting itu patah. Derak ranting yang patah itu bagaikan derak di rongga dada. Ternyata dalam kemarahan yang memuncak, Munggur telah menunjukkan kekuatannya yang tersimpan di dalam dirinya. Kekuatan yang melampaui kekuatan orang kebanyakan sehingga ia mampu mematahkan ranting pohon cangkring yang cukup besar.

Munggur kemudian memotong kayu itu dengan tangannya pula, melemparkan ranting-ranting yang lebih kecil beserta daun-daunnya. Yang tinggal ditangannya kemudian adalah sepotong kayu cangkring dengan duri-durinya yang tajam meskipun hanya jarang-jarang. Namun tanpa duri-duri yang jarang itu pun kayu cangkring itu dapat memecahkan tulang kepala jika Munggur mengayunkannya sekuat tenaga.

Sejenak kemudian selangkah demi selangkah Munggur maju mendekat ke arah Dandun yang sudah tidak berkutik lagi. Dandun memandang Munggur dengan tanpa berkedip. Dandun adalah orang yang pilih tanding. Namun melihat sikap dan tatapan mata Munggur, maka hatinya menjadi berdebar-debar juga.

Pada saat nyawa Dandun berada di ujung tanduk. Tiba-tib Probo dan Baning berteriak dari atas punggung kudanya.

“ Munggur tinggalkan pemuda itu. Marilah kita tinggalkan tempat ini. Aku melihat ada beberapa bayangan yang bergerak kesini. Aku yakin mereka orang –orang Pucang Kembar“

Memang benar adanya dalam puncak kesulitan itulah, Munggur melihat tiga orang muncul dari arah Kali Asat. Ternyata bukan saja Munggur yang telah melihat mereka. Tetapi Dandun yang tengah terkapar itu pun telah melihat tiga orang dalam pakaian petani Mereka semakin lama merayap semakin dekat. Dan bahkan akhirnya ketiga orang itu segera berlari-lari mendekat.

Dandun menarik nafas setelah melihat siapa yang datang. Nyawanya yang tadi serasa sudah hendak terbang kini perlahan mulai tenang.

Setelah ketiga orang itu menjadi semakin dekat, maka Munggur menjadi berdebar-debar karenanya. Apalagi ketika salah seorang dari pemuda yang terluka mereka segera berteriak, “Kakang Kertopati, Sukmo Aji ! ”

Salah seorang dari mereka adalah seorang anak muda yang meskipun memakai pakaian petani yang kumal, namun segera dikenal sebagai Sukmo Aji seorang tumenggung anom dari Pajang. Dan satunya Kertopati ornag kepercayaan Demang Pucang Kembar. Kertopati, Sukmo Aji dan seorang jagabaya, segera berlari-lari mendekati arena pertempuran. Dengan isyarat Kertopati memerintahkan jagabaya memanggil kawan-kawannya.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset