Kidung Diatas Tanah Jawi episode 24

gatra 24

Dada para pemuda dari Pucang Kembar berdesir melihat orang itu. Tatapan matanya terasa terlalu dalam menghunjam ke dalam dada mereka. Dia lah Kertopati.

“ Apa yang telah kalian lakukan?! Lihat perbuatan kalian dua ornag penyusup itu tidak dapat kita korek keterangannya “

Benar saja di sisi lain tubuh Probo terbujur kaku dengan badan penuh luka arang keranjang. Di sisi yang lain tubuh Baning terduduk dengan bertelekan pedangnya yang berukuran besar. Salah satu anak buah Kelabang Ijo itu pun sudah nampak kepayahan. Nafasnya memburu, tubuhnya juga dihiasi luka –luka yang hampir merata di sekujur tubuhnya. Meski Baning mencoba untuk berdiri tegak namun nampaknya ketahanan tubuh orang itu sudah mencapai ambang batas. Perlahan tubuh itu goyah. Lantas ambruk tidak mampu bergerak lagi. Nyawanya putus seketika.

Orang –orang Pucang Kembar yang menyaksikan hal itu hanya terdiam. Pikirannya berkecamuk. Mereka menyasali atas apa yang telah dilakukannya sehingga nyawa kedua kawanan Kelabang Ijo itu nyawanya melayang.

“ Maaf Kakang Kertopati, kami terlalu dibakar amarah. Karena akibat perbuatannya dua orang ini dua pemuda dari Canggah terbunuh. Sehingga itu membuat kami kehilangan pengamatan diri”

“ Sudah lah, semua telah terlanjur. Tidak bisa untuk dibalikkan lagi. Dua orang itu juga tidak mungkin dihidupkan lagi. Sekarang tugas kalian rawat kawan –kawan yang terluka. Dan untuk yang masih kuat mari kita susul Sukmo Aji. Aku harap pemuda itu dapat menangkap salah satu penyusup yang lari. Sehingga apa yang akan dilakukan oleh Kelabang Ijo dan Pangestu dapat kita ketahui rencananya “

“ Dan sisanya segera pulang ke Pucang Kembar. Ceritakan semuanya pada ki Demang. Agar para pemuda Pucang Kembar bersiap –siap jika terjadi sesuatu. Tidak mustahil gerombolan Kelabang Ijo bisa saja berbuat nekat dan menggempur Pucang Kembar “

“ Baik Kakang Kertopati “

Lantas lima pemuda yang masih kuat serentak mengikuti arah Kertopati pergi. Sementara sisanya merawat kawan –kawannya yang terluka dan pulang ke Pucang Kembar untuk memberikan laporan kepada ki demang.


Bayangan hitam yang berkelebat di malam yang mulai pekat gelap dan dingin itu tiba-tiba lenyap laksana ditelan bumi. Beberapa saat kemudian satu bayangan lagi muncul di tempat itu. Sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya orang ini memandang berkeliling. Ternyata dia seorang lelaki yang masih muda. Sehelai kain hitam menutupi kepalanya sampai ke kening.

“Heran, apa dia punya ilmu ambles bumi? Barusan saja aku masih melihat dia berada di depanku. Bagaimana tahu-tahu lenyap tanpa bekas?”

Orang yang tidak lain Sukmo Aji itu berkata dalam hatinya itu memandang berkeliling. “Malam gelap sekali. Tapi mataku tak bisa ditipu. Tak ada pohon besar untuk bersembunyi. Tak ada semak belukar untuk mendekam. Aneh….”

Sukmo Aji lalu melangkah ke kiri. Dari sini dia membuat gerakan memutar. Tetap saja orang yang tadi diikutinya tidak kelihatan.

“Apa aku harus kembali ke Pucang Kembar? Tapi itu sangat berbahaya. Orang itu dapat menyebarkan segala situasi di kademangan itu. Kalau itu sampai terjadi bakalan sangat berbahaya!”

Sambil bicara dalam hati, sepasang mata Sukmo Aji terus memandang kian kemari. Apa yang dicarinya tidak kelihatan. Sesaat dia merasa bingung. Apa akan terus mencari orang yang tadi dikejarnya atau kembali pulang saja. Selagi dia menimbang-nimbang begitu tiba-tiba dari sebuah lobang sedalam pinggang yang nyaris tak kelihatan karena tenggelam dalam kegelapan malam yang sangat pekat berhamburan pisau –pisau kecil yang jumlahnya belasan.

Menghantam ke arah Sukmo Aji yang berdiri tegak di tempat terbuka itu. Meski terkejut mendapat serangan tak terduga itu namun karena sebelumnya dia telah berlaku waspada maka begitu belasan pisau melesat dengan cepat itu menderu ke arahnya, Sukmo AJi dengan tangkas melompat ke udara. Dengan sudut matanya dia telah melihat dari mana datangnya serangan gelap itu. Karenanya begitu melayang turun pemuda ini balas melepas pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi, diarahkan ke lobang di kegelapan.

Wusss!

Byarrr!

Lobang terbongkar. Tanah laksana berubah jadi air dan muncrat berhamburan ke udara. Dalam gelap terdengar suara orang memaki lalu samar-samar tampak bayangan hitam melayang ke udara. Sukmo Aji lantas mengikuti gerakan tubuh yang melayang. Ketika dia hendak menghantam kembali tiba-tiba dia melihat ada belasan pisau melesat di udara berhamburan ke arahnya. Sukmo Aji dengan gesit melompat untuk menghindar. Masih melayang di udara tumenggung anom dari Pajang itu membuat gerakan jungkir balik. Ke dua tangannya serentak lepaskan pukulan tangan kosong yang menghamburkan angin deras.

Empat empat pisau kecil bukan saja berhasil dihindar tapi malah dibuat mental. Tetapi Sukmo Aji jadi tersentak kaget ketika melihat apa yang terjadi. Empat pisau kecil lolos dari hantaman pukulan tangan kosongnya. Melesat mematuk ke arahnya. Sembari menggeram Sukmo Aji mengibaskan tombak pendek yang ada d genggaman tangan kanannya. Percikan bunga api tercipta manakala pisau –pisau kecil itu berbenturan dengan mata tombak Kyai Sangga Langit. Pisau –pisau kecil itu mental tiga diantaranya patah menjadi dua bagian.


Tiba-tiba Sukmo Aji melihat bayangan yang bergerak-gerak muncul dari balik pepohonan. di ujung sana. Cepat ia melangkah surut. Orang yang muncul dari kegelapan itu berjalan perlahan-lahan mendekatinya. Terdengarlah ia tertawa lirih, namun suaranya menghentak-hentak dada.

“ Ternyata kabar seorang pemuda yang telah diangkat menjadi seorang tumenggung anom di Pajang bukanlah omong kosong belaka. Kau sangat hebat anak muda, seorang ksatria yang pinunjung. Sulit untuk mencari tandingannya”

” Tidak banyak yang bisa menghindari lemparan pisau -pisauku. Apalagi dalam situasi gelap seperti ini. aku kagum padamu anak muda ”

Sukmo Aji mencoba mengawasi wajahnya. Lamat-lamat ia melihat garis-garis yang keras. Tubuhnya tidak begitu tinggi, namun ketat dan kekar. Orang itu masih beberapa langkah maju.

“Ha” katanya kemudian, setelah ia berhenti kira-kira tiga empat langkah dari Sukmo Aji “tumenggung anom dari Pajang”. Apa kerjamu sehingga tersesat di daerah ini dan terus mengejarku? Apakah di Pajang sudah tidak ada lagi pekerjaan yang kau lakukan ?”

“Hem” Sukmo Aji menarik nafas.

“ Aku harus meringkusmu dan membawamu pulang ke Pucang Kembar “

“Huh” sahut orang itu “kau kira mudah untuk meringkusku? Kalahkan aku dulu baru kau bisa membawaku ke Pucang Kembar ”

Sukmo Aji tersenyum. Katanya “Kalau belum dicoba mana ada yang tahu kisanak?”

“Persetan. “tiba-tiba orang itu bersuit nyaring, dan sesaat kemudian muncullah tiga orang dari dalam belukar.

Terdengar Sukmo Aji menggeram “empat orang” desisnya. “ Ternyata Kelabang Ijo menyiapkan rencana ini sematang mungkin”, membatin Sukmo Aji.

Tiga orang yang datang kemudian itupun kini telah berada disamping Munggur. Yang seorang bertubuh tinggi kekurus-kurusan, yang seorang lagi tinggi gagah sedang yang seorang lagi masih sangat muda dengan pandangan mata tajam laksana alap –alap.

“Sukmo Aji” berkata Munggur “sayang kami tidak biasa enyerah pada seseorang. Karena itu sama sekali tidak bermaksud untuk dengan suka rela tangan –tangan kami kau ikat menggunakan tali lawe.”

Sukmo Aji menyadari arti kata-kata itu. Tiba-tiba Sukmo Aji berkata lantang “ Marilah kita mulai permainan ini. Kalau terlalu banyak berbincang kapan kita tahu apakah ucapanku akan jadi nyata atau tidak “

Munggur menggeram “ Jangan terlalu sombong.”

Munggur bersama ketiga kawannya itu tiba-tiba memencar. Ditangan mereka masing-masing
tergenggam senjata. Munggur memegang sebuah keris berukuran besar, si jangkung kurus memegang golok pendek,yang gagah bersenjata belati di kedua tangannya, sedang si anak muda memegang pedang.

“Anak ini bernama Sukmo Aji” teriak Munggur “karena itu berhati-hatilah. Ia seorang tumenggung anom di Pajang”

Sukmo Aji sadar bahwa lawan-lawannya benar-benar akan membunuhnya. Karena itu, ia harus melawan mereka. Apabila terpaksa, maka bukan salahnyalah kalau ada diantara mereka yang terpaksa mati. Namun tidak mustahil pula, bahwa kemungkinan yang tidak menyenangkan itu ada padanya.

Karena itu segera Sukmo Aji bersiap. Maka dengan gerak yang cepat,secepat tatit menyambar
dilangit,Sukmo Aji meloncat menyerbu diantara mereka. Dengan berputar diatas sebuah kakinya, ia menyerang dua orang sekaligus. Serangannya tidak begitu berbahaya, namun benar-benar mengejutkan. Karena itu maka si jangkung dengan sangat terkejut meloncat mundur,dan si tinggi gagah, terpaksa meloncat kesamping. Meskipun mereka tidak dapat dikenai oleh serangan Sukmo Aji, namun serangan itu benar-benar tidak mereka duga.

Belum lagi debar jantung mereka berhenti, mereka melihat Sukmo Aji melayang dengan garangnya. Kali ini Sukmo Aji tidak hanya mengejutkan mereka. Tangannya yang memegang tombak pendek Kyai Sangga Langit dengan cepatnya menyerang ke arah Munggur. Karena terkejut dan tidak ada kesempatan untuk menghindar maka dua senjata itu beradu dengan keras. Dan dengan kecepat keris berukuran besar itu telah terpental. Dan jatuh ke tanah.

“Setan,demit,tetekan” Munggur mengumpat tidak habis-habisnya. Sedang kawannya melihat
serangan itu seperti melihat seekor elang menyambar anak ayam yang sama sekali tak berdaya. Tetapi Munggur segera sadar. Segera ia meloncat pada si tinggi besar.

“berikan aku sebuah pisaumu” teriaknya.

Munggur tidak menunggu jawaban. Segera direbutnya sebuah pisau kawannya itu. Sementara itu,kawan-kawannya yang lain telah menyadari kedudukan mereka. Segera mereka menyerang bersama-sama dari arah yang berbeda-beda. Karena itu Sukmo Aji tidak menyia -nyiakan waktu. Ia harus segera menyelesaikan pertempuran itu, supaya ia dapat membawa orang –orang itu ke Pucang Kembar.

Pertempuran itupun segera menjadi semakin sengit, Munggur itupun ternyata memiliki kekuatan tenaga yang luar biasa. Gerakannya pasti akan menimbulkan getaran yang mengerikan. Orang yang tinggi kurus itu memiliki keistimewaan pula. Tangannya yang panjang setiap kali terjulur mengulurkan angin maut. Sedang diujung tangannya itu tampak sebuah golok berkilat-kilat. Orang yang tinggi besar itupun mempercayakan dirinya pada kekuatan tangannya. Pisau belatinya menyambar-nyambar dari segala arah.

Bahkan sekali-sekali sengaja dibenturkannya dengan tombak pendek di tangan Sukmo Aji. Namun Sukmo Aji bukan anak-anak yang sedang berlatih anggar. Setiap benturan dengan senjatanya, telah memaksa lawannya untuk berpikir kembali. Bahkan orang yang tinggi besar itupun kemudian tidak berani lagi mencoba-coba membenturkan senjatanya yang sebenarnya terlampau pendek. Sedang si anak muda ternyata tangkas dan cekatan sekali. Sekali-sekali ia meloncat menyerang, namun apabila keadaannya sulit, cepat-cepat ia menarik dirinya, meloncat surut.

Namun seandainya ia bertempur seorang diri, maka umurnya tidak akan lebih panjang dari seekor sulung yang terjun ke dalam api. Demikianlah Sukmo Aji bekerja mati-matian. Malam yang kelam telah menolongnya. Ia tidak perlu takut- takut senjatanya akan mengenai kawan-kawannya. Ia dapat menyerang setiap bayangan yang ada di setiap garis serangannya. Tetapi lawannya tidak dapat berbuat demikian. Mereka harus lebih berhati-hati. Sebab Sukmo Aji itu benar-benar lincah seperti anak kijang.

Sekali-sekali ia melontar diantara mereka berempat, namun tiba-tiba ia telah berada di luar lingkaran. Bahkan sekali-sekali lawannya menjadi bingung, seolah-olah Sukmo Aji dapat melenyapkan diri diantara percikan-percikan bunga api akibat benturan senjata. Sukmo Aji masih bertempur dengan garangnya. Bahkan lawan-lawannya semakin lama semakin menyadari keperkasaannya.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset