Kidung Diatas Tanah Jawi episode 25

gatra 25

Tetapi tiba-tiba Munggur itu tertawa. Suaranya benar- benar nyaring. Ia sudah mendapatkan suatu kepastian, bahwa pertempuran ini tidak akan mungkin dimenangkan pihaknya. Kerana itu ia segera menemukan cara untuk memecah perhatian Sukmo Aji. Dan selanjutnya pergi meloloskan diri.

Maka terdengarlah ia berkata diantara derail tawanya “He Sukmo Aji yang perkasa. Sudah berapa lama kita bertempur. Kenapa tidak kau keluarkan semua kedigdayaan mu.” Mungguritu tertawa terus. Nadanya semakin tinggi dan memuakkan, sehingga Sukmo Aji benar-benar menjadi muak. Cepat ia meloncat dan mengayunkan tombak pendeknya menyerang. Suara tertawa Munggur itu terputus.

Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi tegang. Hampir saja kepalanya retak oleh sambaran senjata lawannya. Namun untunglah ia sempat merendahkan tubuhnya sementara dengan lincahnya si anak muda menyerang lambung Sukmo Aji dengan pedangnya. Sukmo Aji terpaksa menggeliat untuk menghindari ujung pedang lawannya.

Dengan sebuah putaran ia meloncat tiba-tiba Tombak Kyai Sangga Langit telah terayun ke dada si tinggi besar. Serangan ini terlalu tiba-tiba. Hampir saja orang yang tinggi besar itu terpaksa mengakhiri perkelahian. Untunglah bahwa kedua kawannya yang lain sempat menolongnya. Orang yang tunggu kurus sempat memukul tongkat Sukmo Aji dengan goloknya. Namun kekuatannya sama sekali tak memadai, sehingga ketika goloknya tersentuh tombak Sukmo Aji, terasa senjatanya terpental. Tangannya terasa nyeri dan tiba-tiba ia melihat goloknya seperti terbang terlempar beberapa langkah daripadanya.

Munggur, yang mengepalai gerombolan itu segera melihat bahaya yang bakal datang. Mereka berempat dengan senjata ditangan masing-masing tidak mampu menghadapi Sukmo Aji seorang diri. Apalagi kini salah seorang dari mereka tidak bersenjata lagi. Karena itu, maka segera ia mengambil keputusan untuk melakukan rencana liciknya. Dengan tiba-tiba ia meloncat surut, dan dengan berteriak nyaring ia berkata “Kejarlah aku Sukmo Aji tapi rasakan dulu pisau –pisau ku ini “

Belasan pisau kembali meluncur dengan deras. Sukmo Aji terkejut mendapat serangan yang sangat mendadak itu. Maka perhatiannya benar-benar menjadi terpecah. Ia melihat sebuah serangan pedang mendatar ke arah perutnya, sementara itu orang yang tinggi besar menusuknya dari punggung. Namun Sukmo Aji adalah seornag prajurut Pajang yang terpercaya. Karena itu dengan cekatan ia menggeser tubuhnya sambil merendahkann dirinya, pedang si anak muda hanya lewat secengkal dari tubuhnya, sedang pisau orang yang tinggi besar itu mematuk agak jauh. Namun karena itu, Sukmo Aji memerlukan beberapa saat untuk membebaskan diri dari serangan-serangan berikutnya.

Sementara Munggur telah berlari keluar arena pertempuran. Munggur yang licik itu tertawa nyaring. Suaranya kini benar-benar menjadi buas seperti hantu yang haus darah. Sesaat Sukmo Aji menjadi bingung. Ia sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk mengejar Munggur. Ia telah tertinggal beberapa langkah.

Tiba-tiba Sukmo Aji membungkukkan badannya. Diraihnya sebuah batu sebesar telur. Dengan sekuat tenaganya ia melempar ke arah Munggur. Suara berdesing tertangkap oleh kedua telinga Munggur yang memiliki pendengaran yang tajam. Munggur terpaksa menjatuhkan diri ke tanah. Sebab dengan itu Munggurterpaksa tertahan beberapa saat. Dan sesaat itu telah cukup bagi Sukmo Aji.


Sukmo Aji tidak menghiraukan lagi ketiga lawannya yang lain. Dengan serta merta, seperti Munggur, Sukmo Aji meloncat berlari kencang-kencang. Dengan penuh kemarahan yang mengguncang-guncang dadanya, langsung ia menyerang dengan tombaknya. Tombak itu terayun deras sekali. Sukmo Aji telah menggunakannya dengan penuh tenaga.

Munggur tidak menyangka bahwa Sukmo Aji dapat secepat itu menyusulnya. Segera ia memutar tubuhnya, namun ia sudah tidak mungkin untuk menghindar. Sukmo Aji meloncat dengan garangnya, dan yang dilihatnya tombak pendek itu telah terayun diatas kepalanya. Karena itu Munggur hampir saja dapat menangkisnya dengan pisau yang direbutnya dari salah satu kawannya.

Tetapi pisau itu terlalu pendek untuk menahan ayunan Tombak Kyai Sangga Langit . Namun tongkat itu kini diayunkan oleh tangan yang jauh lebih kuat tenaganya. Tangan seorang tumenggung anom yang sedang dibakar oleh kemarahan. Karena itu meskipun Munggur mancoba untuk menghindar benturan langsung dengan memukul tombak pendek Sukmo Aji kesamping, namun usahanya itu tidak banyak menolongnya. Tombak Sukmo Aji masih mengenai pelipisnya. Maka terdengarlah Munggur yang malang itu berteriak tinggi. Kemudian ia terlempar dan jatuh berguling. Sesaat kemudian nafasnyapun terputuslah.

Sukmo Aji menarik nafas. Menggelengkan kepala. Sebenarnya ia menyesal telah membunuh Munggur. Namun untuk sesaat Sukmo Aji kehilangan kewaspadaan anak muda yang bersenjata pedang itu benar-benar lincah. Tiba-tiba saja serangannya mengarah kepunggung. Karena itu segera Sukmo Aji berkisar selangkah kesamping. Namun saat yang mengejutkan itu dapat dipergunakan oleh orang yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata pisau.dengan penuh nafsu dendam orang itu menusuk leher Sukmo Aji. Tusukan itupun sedemikian tiba-tiba pada saat Sukmo Aji sedang menghindari sambaran pedang si anak muda. Karena itu Sukmo Aji tidak dapat berbuat banyak.

Pada saat Sukmo Aji mencoba merendahkan tubuhnya dan berputar setengah lingkar, pisau itupun berubah arah. Sukmo Aji masih dapat melihat pisau itu melingkar, namun tak ada waktu lagi baginya. Yang dapat dilakukan hanyalah mencondongkan tubuhnya sedikit ke belakang, tetapi pada saat itu terasa ujung pisau itu mencegat pundak kirinya. Terdengar Sukmo Aji menggeram. Kemarahannya kini telah benar-benar membakar seluruh darahnya. Dengan gigi gemeretak Sukmo Aji memandang orang yang bertubuh tinggi besar itu untuk sesaat. Kemudian seperti gelombang yang menghantam tebing Sukmo Aji meloncat maju. Tombak pendek ditangannya berputar seperti baling-baling, yang kemudian dengan dasyatnya menyerang lawannya.

Apalagi ketika terasa betapa pedih luka dipundaknya itu. Darah yang merah segar mengalir semakin lama semakin deras. Orang yang tinggi besar itu terkejut melihat serangan Sukmo Aji yang membadai. Cepat ia meloncat surut. Ia sudah tidak akan dapat mempertahankan dirinya dengan pisaunya itu. Dalam keadaan yang sulit itu, kawannya yang tinggi kekurus-kurusan tampil kedepan. Goloknya yang besar bergerak-gerak dengan cepatnya. Sebuah tusukan yang dahsyat mengarah kelambung lawannya. Namun Sukmo Aji yang marah sempat mengelak. Bahkan kini Sukmo Aji sudah tidak lagi mengekang diri. Ia sempat berjongkok menghindari golok lawannya. Dan sekaligus tombaknya bergerak mendatar. Terdengarlah sekali lagi jerit kesakitan, ketika terdengar sebuah benturan.

Benturan antara landean tombak ditangan Sukmo Aji dengan tulang-tulang kaki orang yang kurus itu. Sesaat kemudian terdengar tubuhnya terbanting. Pada saat itu orang yang bertubuh tinggi besar melihat suatu kemungkinan untuk membunuh Sukmo Aji. Ia tidak akan dapat menyerangnya pada jarak jangkau tangannya karena kecepatan bergerak lawannya. Karena itu, selagi Sukmo Aji masih belum dapat berdiri tegak orang itu dengan sepenuh tenaga melemparkan pisaunya ke arah tubuh lawannya.

Untunglah Sukmo Aji melihat pisau itu. Karana itu ia mengurungkan geraknya. Bahkan sekali lagi merendahkan tubuhnya sambil berputar, sehingga pisau itu tidak menghunjam ke dalam tubuhnya. Pisau yang berlari seperti panah itu meluncur dengan cepatnya melampaui Sukmo Aji. Namun tanpa disangka-sangka terdengarlah sebuah jerit tertahan. Orang yang terbaring karena tulang kakinya retak itu tiba-tiba terguling sekali, kemudian ia mencoba mengangkat wajahnya dengan pandangan aneh. Tetapi sesaat kemudian kepalanya jatuh terkulai. Mati. Sebuah pisau telah menggapai jantungnya.


Semua yang melihat peristiwa itu untuk sesaat terpaku diam. Sukmo Aji dan kedua lawannya. Dada mereka masing-masing terguncang oleh peristiwa yang tak mereka sangka-sangka. Apalagi orang yang bertubuh tinggi besar itu. Tanpa disengajanya, ia telah membunuh kawannya sendiri. Kini Sukmo Aji untuk seterusnya tinggal menghadapi dua lawan. Luka perih di pundaknya semakin menggigit. Luka itu tidak begitu dalam tapi karena gerakan Sukmo Aji dalam pertempuran sehingga membuat luka itu mengucurkan darah.

Karena itu segera ia bersiap untuk melanjutkan pertempuran itu. Kedua lawannyapun telah bersiap pula. Anak muda yang bersenjata pedang itu setapak demi setapak maju mendekat, sedang orang yang bertubuh tinggi besar yang kini tidak bersenjata lagi itu masih mencoba untuk mencobanya dengan tangannya.

Kedua lawan Sukmo Aji itupun agaknya melihat kemungkinan yang dihadapinya. Mereka lamat-lamat melihat darah meleleh dar luka di pundak Sukmo Aji. Karena itu mereka asal saja dapat memperpanjang perlawanan mereka Sukmo Aji pasti akan dapat mereka binasakan. Alangkah mereka dapat berbangga kepada kawan-kawan mereka bahwa mereka telah berhasil membunuh salah satu tumenggung anom Pajang yang bernama Sukmo Aji. Nama yang disegani oleh lawan dan dikagumi oleh kawan.

Sesaat kemudian kembali anak muda itu menyerang dengan tangkasnya. Kemampuannya memainkan pedang cukup menarik perhatian Sukmo Aji. Tetapi Sukmo Aji tidak banyak mempunyai waktu. Kalau ia terlambat maka ia akan ditelan oleh maut. Karena itu selagi masih cukup mempunyai tenaga, maka ia harus berjuang untuk menyelamatkan nyawanya.

Tetapi anak muda lawannya itu benar-benar lincah. Dengan sengaja ia memancing Sukmo Aji untuk bergerak terlalu banyak, sehingga dengan demikian darah yang mengalir dari luka menjadi semakin banyak pula. Namun Sukmo Aji bukan anak-anak lagi, karena itu meskipun ia memuji didalam hatinya atas kecerdasan lawannya, namun ia mengumpat – umpat pula.

Namun Sukmo Aji selalu menahan dirinya untuk tidak hanyut dalam arus kemarahannya. Ia menyerang dengan dasyat, namun ia tidak membiarkan tenaganya diperas sia-sia. Meskipun tenaga Sukmo Aji telah banyak berkurang, namun kekuatan lawannyapun tinggal separo dari semula. Dengan demikian maka segera tampak, bahwa Sukmo Aji akan segera dapat mengatasi kedua lawannya. Kedua orang itu semakin lama semakin terdesak, dan akhirnya sampailah mereka pada batas kemampuan mereka. Selagi Sukmo Aji masih kuat mengayunkan senjatanya, maka sekali lagi terdengar sebuah pekik kesakitan. Orang yang tinggi besar itupun rebah ditanah untuk tidak bangun lagi.

Tinggal kini adalah anak muda yang lincah itu. Meskipun anak muda itu melihat kelemahan lawannya, namun ia masih mampu untuk menilai diri sendiri. Karena itu, tiba-tiba ia meloncat surut dan dengan lantang ia berteriak “kali in kau menang Sukmo Aji, tetapi lain kali kau akan menyesal. Kelabang Ijo akan terus memburumu. Bahkan, sampai ke liang semut pun kau bersembunyi. Kami akan menemukan mu ”

Sukmo Aji tidak mau mendengar kata-kata itu. Cepat ia meloncat menyerang. Tetapi ia sudah tidak setangkas semula. Tulang-tulangnya seperti menjadi lemas dan tak berdaya. Karena itu ia menjadi cemas, jangan-jangan anak muda itu akan berlari-larian dan menunggunya sampai ia terkulai jatuh. Dengan demikian, maka ia tak akan berdaya lagi menghadapi kemungkinan apapun. Tetapi tidaklah demikian. Anak muda itu bahkan tiba-tiba meloncat menjauh, dan berlari meninggalkan tempat itu.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset