Kidung Diatas Tanah Jawi episode 27

gatra 27

Pucang Kembar yang diam itu, kemudian seakan-akan terbangun dari tidurnya. Hilir mudiklah laki-laki bersenjata di jalan-jalan desa. Tak ada sebuah tengarapun yang terdengar. Dari jauh desa itu masih nampak dipeluk mimpi. Namun sebenarnya desa Pucang Kembar itu telah dicengkam oleh kegelisahan.

Sesaat kemudian beberapa orang laki-laki yang tegap – tegap, para pemimpin kelompok telah berkumpul dipringgitan itu. Seorang laki-laki berkumis panjang, seorang yang lain, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai di bawah ikat kepalanya.

Namun beberapa orang yang lain tampak tenang-tenang dan berpakaian rapi. Demang Pucang Kembar lantas menghampiri Sukmo Aji sambil berbisik “Terima kasih ngger, kami penduduk Pucang Kembar tak akan pernah melupakan jasa angger kali ini. Mudah-mudahan kami dapat membebaskan diri dari cengkraman Kelabang Ijo dan para begundalnya itu itu. Kami tidak akan mengganggu ketentraman istrirahatmu anakmas”

Sukmo Aji tersenyum, “ Terimakasih Ki Demang”

Agaknya jawaban itu telah cukup membesarkan hati Demang Pucang Kembar itu. Dengan tersenyum ia mengangguk dalam-dalam. Katanya “Terima kasih anakmas”

Maka pergilah demang itu dengan hati yang lapang. Dilampauinya halaman rumahnya dan ditemuinya Jagabaya Pucang Kembar. Diberinya orang itu beberapa keterangan dan besiaplah kemudian anak-anak muda Pucang Kembar. Mereka siap dengan keteguhan hati, menyelamatkan desa mereka dari serbuan Kelabang Ijo.


Pada saat ayam jantan berkokok untuk yang terakhir. Dan cahaya temaram berwarna merah jingga mulai memayungi kademangan Pucang Kembar. Matahari telah menyembulan diri beberapa saat di ufuk timur. Suara burung sesekali terdengar menyambut datangnya pagi yang mulai merambat. Pucang Kembar diselimuti oleh ketegangan karena kapan saja dapat pecah pertempuran.

“ Kakang Sukmo, Wisang sudah pulang dari tugas sandi nya. Anak itu sekarang berada di mulut kademangan “

Sukmo Aji lantas beranjak dari duduknya.
“ Bawalah pemuda itu masuk. Aku sudah tidak sabar mendengar laporannya ”

Sesaat kemudian pemuda yang bernama Wisang diantarkan di gerbang penjagaan utama Pucang Kembar.

“Duduklah” Sukmo Aji mempersilahkan.

Pemuda itupun kemudian duduk diatas sehelai tikar pandan. Dipunggungnya terselip sebilah keris.

“Nah, sekarang, apakah yang akan kau sampaikan?”

“Gerombolan Kelabang Ijo hari ini berada dihutan-hutan sebelah barat padukuhan Benda.”

Sukmo Aji mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “apakah persiapannya sudah selesai?”

“Aku kira seperti itu karena mereka sudah membagi pasukannya menjadi beberapa kelompok “

Kembali Sukmo Aji mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimanakah dengan obor dan panah api?”

Wisang berpikir sejenak, kemudian jawabnya “Mungkin akan benar-benar mereka pergunakan. Mereka tidak mau gagal. Karena itu mereka akan mempergunakan alat- alat untuk mengacaukan pertahanan kita disini.”

Sesaat mereka kini berdiam diri. Masing-masing mencoba membayangkan apakah kira-kira yang akan terjadi seandainya laskar Kelabang Ijo itu benar-benar akan datang.

Yang mula-mula berbicara adalah seorang Jagabaya, katanya “Aku harus menyiapkan orang-orangku.”

“Ya” berkata Sukmo Aji “Tetapi tidak sekarang. Nanti sore setelah matahari hampir tenggelam, supaya Kelabang Ijo tidak sempat mengetahui, bahwa rencananya telah kita mengerti sebelumnya.”
“Kau benar” berkata Jagabaya itu.

Sukmo Aji menggangguk. Kemudian kepada Wisang Sukmo Aji itu berkata “Apakah menurut dugaanmu malam nanti Kelabang Ijo akan bergerak.”

“Demikianlah” sahut Wisang.

“Baik” berkata Sukmo Aji “usahakan melihat gerakan mereka meskipun dari jarak yang jauh. Berilah tanda dengan panah sanderan. Tetapi ingat, kau tidak usah membunuh diri. Demikian kau melepaskan anak panah sanderan, kau harus segera melarikan dirimu. Terserahlah kepadamu, siapakah yang berani bertaruh nyawa berdiri diujung, yang lain akan menerima tanda itu dan meneruskan ke Pucang Kembar.”

“Ah pekerjaan itu tidak terlalu berbahaya. Apalagi membela tumpah darah tanah kelahiran” , sahut Wisang.

“ Di malam hari, kami akan dapat melakukannya dengan aman. Sebab dapat kami lakukan dari jarak yang cukup jauh. Pekerjaan ini jauh lebih aman dari melakukan pertempuran itu sendiri.”

“Bagus, dimana kalian berada?”

“Di dukuh Tegal” jawab Wisang “di rumah seorang petani bernama Teja.”

“Kelak, apabila kau tidak datang sesudah serangan selesai, kami akan mencari kalian.”

“Terima kasih” sahut Wisang.

Sukmo Aji kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kepada Wisang “Aku terima beritamu. Kembalilah di dukuh Tegal. Persiapkan semuanya dan ingat semua pesan ku Wisang. Jangan ikuti gelora jiwa muda mu. Aku akan segera menghubungi Kertopati dan para jagabaya di kademangan induk. Aku akan memberitahukan perkembangan keadaan yang semakin memanas ini.”

Pemuda itupun kemudian mengangguk, minta diri kepada semua yang hadir ditempat itu, dan menghilang di tikungan kademangan.


Tidak berapa lama kemudian, Sukmo Aji telah berpacu di atas kudanya menuju induk kademangan. Sesampainya di pendopan kediaman Pucang Kembar tumenggung anom dari Pajang itu segera menambatkan kudanya pada patok –patok yang berada di bawah sebuah pohon tanjung yang sangat besar.

Kedatangannya segera di sambut hangat orang demang Pucang Kembar, Kertopati dan beberapa bebahu padukuhan yang masih dalam wilayah Pucang Kembar.

“ Mari Ngger, silahkan duduk disini. Kebetulan kami semua disini sudah menunggu kabar penting yang mungkin angger bawa “

Sukmo Aji tersenyum. Pemuda itu lantas mengangguk hormat pada beberapa tetua yang hadir. Lantas duduk di atas sehelai tikar pandan. Tidak membuang waktu Sukmo Aji segera melaporkan semua situasi yang dibawa oleh Wisang selaku petugas sandi. Kembali kemudian mereka berdiam diri. Wajah –wajah yang berada di pendopo itu tampak tegang. Begitu pun wajah Kertopati tampak tegang. Ada sesuatu yang bergolak di dalam dadanya.

“ Kertopati… “, kesunyian yang tegang pecah manakala demang Pucang Kembar memanggil nama Kertopati.

“ Iya Ki Demang”

“ Segera siapkan para pemuda dan orang –orang tua yang masih mampu menggenggam pedang untuk membela tumpah darah tanah kelahiran dari para begal itu. Para perempuan dan anak –anak untuk segera berkumpul di tempat yang kemarin telah disediakan untuk perlindungan. Tambah penjagaan di tempat itu “

Pembicaraan penting itu terputus manakala dua abdi demang Pucang Kembar masuk membawa makanan dibantu oleh anak gadis satu –satunya demang Pucang Kembar. Miranti. Gadis itu tampak terlihat lebih segar dan cantik. Memakai kebaya warna hijau pupus dan dipadu dengan jarik lurik berwarna coklat cerah. Sesekali ekor matanya milirik ke arah Sukmo Aji. Pipinya memerah saat tidak sengaja pandangan mata mereka bertemu. Lantas gadis itu menunduk malu dan sedikit bergegas meninggalkan pendopo itu.

Segera saja orang –orang yang berada di pendopo itu makan apa yang sudah tersedia di hadapannya. Tidak buuth waktu lama. Makanan yang telah disediakan habis tanpa tersisa. Kertopati kemudian meninggalkan pendopo. Diberinya pemuda –pemuda Pucang Kembar yang berkumpul di halaman balai kademangan beberapa petunjuk khusus. Meskipun belum diberitahukannya bahwa Kelabang Ijo mungkin sekali akan menyergap malam nanti, namun secara tidak langsung telah dipersiapkannya para pemuda kademangan untuk menghadapi kemungkinan itu.

Laki-laki yang telah berumur agak lanjut. Diberikannya petunjuk tempat-tempat yang harus mereka pertahankan dan diberitahukannya pula cara-cara untuk melawan api apabila timbul kebakaran. Meskipun Kertopati belum mengatakan, namun sudah terasa oleh anak buahnya, bahwa bahaya itu semakin dekat. Karena itu, maka merekapun telah mulai mengatur hati masing-masing. Siap menghadapi setiap kemungkinan.

Penduduk Pucang Kembar merasa pula, bahwa mereka harus ikut serta mempersiapkan diri. Perempuan-perempuan telah membuat persiapan secukupnya menghadapi masa-masa yang sulit. Kalau terjadi pertempuran, belum pasti sehari, dua hari akan selesai. Dan yang paling mengerikan bagi mereka, bagaimanakah kalau anak-anak muda Pucang Kembar tidak mampu menahan arus Kelabang Ijo?

“Apakah ada tanda-tanda Kelabang Ijo dan Pangestu menyergap malam hari?”

“Mungkin. Mereka menyiapkan obor dan panah-panah api ”

“ Begitu rupanya, tetapi bukan tujuan mereka menghancurkan Pucang Kembar ,sebab mereka akan merebut kademangan ini beserta kekayaan dan hasil bumi kademangan ini. Tetapi bahwa mereka menyerang pada malam hari adalah mungkin sekali.”

“Nah, aku akan pergi dulu kakang. Mungkin keadaan berkembang terlalu cepat.”
“Baiklah, berhati -hatilah.”

Pemuda itupun kemudian mengangguk, minta diri kepada semua yang hadir ditempat itu, dan menghilang diantara rimbunnya pepohonan. Beberapa jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi di wajah mereka tersirat ke tegangan. Sukmo Ajipun kemudian berdiam diri, memandang jauh kelangit, seakan-akan sedang menghitung bintang yang berhamburan diatas dataran yang biru pekat. Sesaat mereka saling berdiam diri.

Sukmo Aji sedang mencoba menghitung-hitung kekuatan di Pucang Kembar dan membandingkan dengan kekuatan gerombolan Kelabang Ijo. Dalam jumlah, maka Sukmo Aji dapat berbesar hati. Dengan anak-anak muda Pucang Kmebar, laskarnya pasti berjumlah lebih banyak dari jumlah laskar Kelabang Ijo. Namun dalam penilaian seorang -seorang, maka sebagai seorang senopati perang di Pajang Sukmo Aji masih harus berprihatin.

Tumenggung Anom itu sangat paham siapa dan bagaimana sepak terjang gerombolan rampok itu. Sudah pasti mereka aka bertarung seperti orang kesurupan, tidak ada paugeran peperangan. Hanya satu membunuh sebanyak – banyaknya. Sukmo Aji merinding membayangkan mayat bergelimpangan rebah di tanah seperti gedebog pisang.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset