Kidung Diatas Tanah Jawi episode 28

gatra 28

Hari itu setiap penjagaan menjadi lebih diperkuat. Gardu-gardu peronda dan peronda-peronda yang selalu berkeliling. Pasukan Pangestu yang dibantu oleh pasukan rampok Kelabang Ijo yang berada disekitar tempat mereka, setiap saat dapat menyergap. Hari itupun ternyata Kelabang Ijo belum menyergap Pucang Kembar. Sehingga pada malam harinya Sukmo AJi dibantu oleh Kertopati, para jagabaya dan bebahu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka telah membuat beberapa persiapan untuk bertempur dimalam hari. Obor-obor dan panah-panah api untuk mengimbangi pasukan Kelabang Ijo yang dengan api akan mencoba mengacaukan pertahanan pasukan Pucang Kembar.

Sesaat kademangan Pucang Kembar itu menjadi sepi. Ketenangan malam yang sangat mencekam. Mereka masing-masing hanyut dalam arus angan-angannya. Dan malam itu juga berlalu tanpa sesuatu yang terjadi. Hanya menyisakan ketegangan –ketegangan yang seperti memeras tenaga para penduduk Pucang Kembar.

Esok menjelang setelah sarapan pagi dan bersiap –siap. Sukmo Aji, Kertopati, para bebahu dan jagabaya mengawasi dan menangani sendiri latihan-latihan bagi anak-anak muda Pucang Kembar. Langsung diberikannya beberapa petunjuk penting apa dan bagaimana mereka harus berbuat di dalam pertempuran-pertempuran. Ki Demang pun nampak sibuk mempersipakan para penduduk yang lain untuk mempersiapkan segala sesuatunya jika terjadi pecah pertempuran.

“Jangan memeras tenaga kalian” Sukmo Aji menasehati anak-anak muda Pucang Kembar.

“Nanti apabila setiap saat diperlukan, kalian telah menjadi kelelahan.”

Anak-anak muda itu pun menurut pula. Mereka kini tinggal mendengarkan beberapa petunjuk-petunjuk yang harus mereka lakukan dalam pertempuran yang setiap saat mungkin akan datang.

Ketika matahari telah condong kebarat, beberapa orang penjaga di ujung induk desa Pucang Kembar terkejut mendengar panah sanderan yang meraung-raung di langit, kemudian jatuh di dekat mereka. Seseorang segera memungut anak panah itu. Namun mereka tidak melihat sesuatu pada anak panah itu. Karena itu, maka seorang dari mereka segera meloncat ke atas punggung kuda dan langsung berpacu ke Kademangan. Sukmo Aji dan beberapa orang terkejut karenanya, ketika seorang dengan tergesa-gesa lari naik ke pringgitan.

“Ki Sukmo” berkata orang itu kepada Sukmo Aji, “sebuah anak panah sanderan telah jatuh didekat gardu penjagaan kami. Tetapi kami tidak menemukan sesuatu apa pun pada anak panah itu”

Sukmo Aji mengerutkan keningnya. “Bawalah kemari” berkata Sukmo Aji. Lantas ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada peronda yang menemukan anak panah itu ia berkata, “Perkuat penjagaan digardumu”

“Baik Ki Sukmo” jawab orang itu.

“Kembalilah. Setiap perkembangan akan kami beritahukan, tetapi kau pun harus melaporkan setiap perkembangan yang kau ketahui” berkata Sukmo Aji pula.

Orang itu pun kemudian pergi meninggalkan pringgitan. Sukmo Aji pun kemudian memanggil semua orang-orang penting di Pucang Kembar. Dengan singkat Sukmo Aji menjelaskan kepada mereka, apakah yang sedang mereka hadapi sekarang.

“Mungkin orang-orang Kelabang Ijo itu telah tahu gambaran pasukan kita disini. Terlebih lagi ada beberapa orang Pucang Kembar yang berkhianat dan membelot ke gerombolan itu” berkata Sukmo Aji kemudian. “Karena itu berhati -hatilah”

“ Wisang telah mendapat laporan yang pasti melalui isyarat dengan panah sendaren bahwa malam nanti penyerbuan itu akan dilakukan oleh Kelabang Ijo “

Ki Demang Pucang Kembar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun ikut bertanggung jawab atas apa saja yang terjadi diwilayahnya.

Karena itu, maka katanya, “Semua anak-anak, akan dikerahkan dan semua laki-laki yang masih mungkin mengangkat senjata. Ada beberapa orang bekas prajurit yang meskipun sudah ubanan, tetapi menyatakan kesediaan mereka untuk ikut serta dalam pertempuran ini. Enam atau tujuh orang. Bahkan mungkin lebih dari itu”

“Itu kabar yang menbggembirakan” sambut Sukmo Aji. “Aku akan berada dalam barisan anak-anak muda Pucang Kembar”

Ki Demang Pucang Kembar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus” katanya, “Anak-anak Pucang Kembar akan menjadi bergembira karenanya”

Tetapi hampir semuanya kemudian tak bersuara ketika Sukmo Aji berkata, “Tetapi perhatian terbesar harus kita berikan kepada pemimpin pasukan itu, Kelabang Ijo. Di sini kita akan menentukan, siapakah yang pantas untuk melawannya tanpa menimbulkan kemungkinan yang terlalu buruk bagi kita. Terus terang aku pun belum pernah melihat sosoknya seperti apa. Wisangpun yang bertugas sebagai telik sandi juga belum pernah melihat orang itu”

Sesaat pringgitan itu menjadi sepi. Tak seorang pun yang menyahut. Mereka saling berpandangan dan sebagian dari mereka memandangi Sukmo Aji dan Kertopati berganti-ganti. Tetapi ada pula di antara mereka yang berpikir, “Ternyata yang pantas melawan Kelabang Ijo itu adalah Sukmo Aji”

Kesepian itu kemudian dipecahkan oleh suara Kertopati perlahan-lahan, “Aku tidak berkeberatan untuk melawan Kelabang Ijo Ki Demang. Tapi sebelum itu biarlah Pangestu dan para begundalnya akan aku ringkus terlebih dahulu. Biarkan mereka menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya “

Sukmo Aji terdiam sejenak. Ia menunggu Demang Pucang Kembar menanggapi pernyataan itu. Dan kemudian ki demang berkata, “Biarlah kita melihat keseluruhan dari musuh kita. Di antaranya mereka akan datang juga Pangestu, Gagak Kluyur, Cangkil dan beberapa orang yang lain. Karena itu, maka tugas kita akan menjadi berat”

“ Bertempurlah secara berpasang –pasangan jika nanti kalian ketemu orang –orang ini”

Akhirnya setelah Sukmo Aji dan Kertopati memberikan beberapa pesan kepada pemimpin-pemimpin kelompok itu, maka pertemuan itu segera dibubarkan. Mereka masing-masing kembali kepada kelompoknya, memberikan kepada mereka beberapa petunjuk dan sesaat kemudian mereka itu telah mempersiapkan diri masing-masing untuk menghadapi suatu pertempuran yang berat. Anak-anak muda Pucang Kembar pun kemudian berlari-larian hilir mudik. Mereka segera memanggil kelompok masing-masing dan mereka pun segera mempersiapkan diri.


Ketika kemudian matahari tenggelam di balik punggung bukit, pasukan Pucang Kembar itu pun telah siap di lapangan. Beberapa orang bekas prajurit Demak ada di antara mereka. Meskipun orang-orang itu telah menjelang setengah abad, namun tubuh-tubuh mereka masih tegap, dan senjata-senjata mereka, yang selama ini disimpannya. Namun kini senjata-senjata itu diambilnya kembali. Terkenanglah mereka pada masa muda mereka. Bertempur untuk suatu keyakinan yang digenggamnya. Kini mereka pun akan bertempur kembali untuk suatu pengabdian atas kampung halaman mereka.

Kertopati berdiri dengan gagahnya. Keris pusaka yang merupakan sipat kandel terselip di pinggangnya. Sekali-sekali ia menatap langit yang biru bersih, yang dibayangi oleh warna-warna merah. Matahari itu seakan-akan betapa malasnya. Gelap yang turun perlahan-lahan terasa sangat menjemukan. Mereka itu, anak-anak muda Pucang Kembar sedang menunggu datangnya tengah malam.

Orang-orang yang sudah setengah tua, mendapat tugas mereka sendiri. meskipun mereka membawa senjata pula, namun mereka harus berada di dalam desa mereka. Kalau orang-orang Kelabang Ijo itu berhasil menembus pertahanan anak-anak muda Pucang Kembar, maka mereka pun akan ikut serta bertempur. Di samping itu, kalau Kelabang Ijo kemudian mempergunakan panah-panah api untuk menimbulkan kebakaran, maka adalah pekerjaan mereka untuk mengatasinya.

Sedang perempuan-perempuan muda tidak kalah sibuknya. Mereka mendapat pekerjaan yang pantas untuk mereka. Mempersiapkan makanan bagi mereka yang akan berangkat berperang. Meskipun demikian, di antara anak-anak gadis itu pun ada pula yang menyelipkan keris dan patrem di antara ikat pinggang mereka seakan-akan mereka pun siap pula, apabila perlu, untuk ikut serta bertempur bersama anak-anak mudanya.

Tetapi di samping semuanya itu, perempuan- perempuan yang bersembunyi di balik-balik pintu rumahnya mendekap anak-anak mereka yang masih terlalu kecil dengan eratnya. Mereka mencoba untuk menghibur anak-anak mereka.

Ketika malam turun, maka Pucang Kembar benar-benar dikuasai oleh kegelapan. Hampir tak ada rumah yang menyalakan lampunya, dan bahkan hampir tiada rumah yang berpenghuni. Hampir setiap laki-laki telah keluar dengan senjata di tangan, dan hampir setiap perempuan pergi mengungsikan diri ke kademangan, berkumpul bersama mereka untuk menanggungkan segala macam keadaan bersama-sama. Apa pun yang mereka alami, apabila dipikulnya bersama-sama, maka terasa akan menjadi bertambah ringan.

Meskipun hampir semua kekuatan anak-anak muda Pucang Kembar ditarik ke arah barat, namun Sukmo Aji tidak mengosongkan setiap gardu di sudut-sudut lain. Namun isi dari gardu-gardu itulah yang kemudian sebagian diserahkan kepada laki-laki Pucang Kembar yang tidak ikut serta dalam pertempuran langsung dengan gerombolan Kelabang Ijo, meskipun satu dua di antara mereka telah diperlengkapi dengan alat-alat tanda bahaya yang sebaik-baiknya, untuk setiap kali apabila bahaya mengancam mereka,segera mereka dapat memberitahukannya kepada pasukan cadangan yang ditinggalkan di kademangan, bersama dengan beberapa orang Pucang Kembar sendiri, di sekitar lumbung-lumbung dan di banjar desa.

Kini para peronda telah tahu benar, apa arti panah sanderan yang setiap saat akan meluncur di sekitar tempat-tempat mereka. Sukmo Aji telah berpesan kepada anak buahnya, bahwa apabila ada tanda-tanda Kelabang Ijo menggerakkan pasukannya, supaya mereka segera mengirimkan anak panah sanderan dua kali ganda berturut-turut. Dan apabila keadaan amat mendesak karena suatu perubahan, sedang mereka para petugas yang telah dikirim oleh Sukmo Aji, tidak sempat memberitahukan langsung, supaya dikirimnya panah sanderan tiga kali berturut-turut.

Beberapa saat kemudian anak-anak muda Pucang Kembar telah siap seluruhnya di lapangan di muka banjar desa, segera untuk berangkat. Beberapa orang laki-laki telah siap menempati tempat-tempat yang ditentukan, dan tanda-tanda telah mereka kenal dengan baiknya.


Namun tiba-tiba mereka menjadi tegang ketika mereka mendengar derap kuda yang berlari kencang memecah kesepian. Kertopati dan Sukmo Aji segera melangkah maju menyongsong orang berkuda itu. Sesaat kemudian tampaklah seekor kuda berlari dengan kencangnya. Demikian kuda itu berhenti, maka meloncatlah seorang pemuda di hadapan Sukmo AJi dan Kertopati.

Kertopati dengan tergesa-gesa bertanya kepadanya, “Ada yang penting di penjagaanmu?”

Orang itu mengangguk, katanya, “kami menerima panah sanderan tiga kali berturut-turut.”

Kertopati mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kepada Sukmo Aji maka tampaklah Sukmo Aji sedang berpikir. “Ada sesuatu yang menyimpang dari rencana semula.” desisnya.
Kertopati mengangguk.

Setelah Sukmo Aji itu diam sejenak, maka katanya, “siapkan seluruh pasukan yang ada. Kita siap berangkat kemana saja. Beberapa orang berkuda supaya bersiap pula. Apabila ada perubahan arah, orang-orang itu dapat memberitahukannya ke segenap sudut penjagaan.”

Sebelum Kertopati memberikan perintah-perintah berikutnya, kembali mereka mendengar suara kaki kuda berderap. Sekali lagi Kertopati, Sukmo Aji dan orang-orang di sekitarnya menjadi tegang.

Seperti orang yang pertama orang itu pun tergesa-gesa berkata kepada Kertopati, “kami telah menerima panah sanderan dua kali berturut-turut.”

“He” Kertopati mengerutkan keningnya, “mereka mempercepat gerakan mereka.”

“Itulah kecerdikan Kelabang Ijo” sahut Sukmo Aji, “setiap rencana dirahasiakan di dalam otaknya. Baru pada saat terakhir dilakukannya rencana itu, sehingga orang-orang mereka sendiri tidak dapat mengetahui sebelumnya. Karena itulah maka Wisang pun sebagai telik sandi tidak dapat mengetahuinya dengan tepat apa yang akan dilakukan oleh komplotan itu”

Sekali lagi Kertopati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kita juga sudah siap untuk berangkat. Bukankah kita segera berangkat pula.”

“Marilah” sahut Sukmo Aji. Sementara tetap ke barat.”

“Satu di antara kalian pergi ke Kademangan. Yang lain ke setiap gardu peronda. Kelabang Ijo telah mulai bergerak. Ingat jangan menimbulkan kegelisahan di antara mereka. Kemudian kalian kembali ke tempat ini dan separo dari kalian harus berada di gardu pertama sebelah barat.”

Kedua penjaga yang datang berkuda berturut-turut telah kembali ke tempat mereka pula mendahului Kertopati. Sedang para penghubung telah menghubungi gardu-gardu yang lain. Mereka sengaja tidak mempergunakan tanda-tanda, seperti dahulu, supaya Kelabang Ijo tidak menyadari bahwa kehadirannya telah dinantikan.

Para pemuda dari Pucang Kembar yang merupakan kekuatan cadangan segera bersiap pula. Dengan senjata di tangan mereka, mereka mengawasi setiap tempat yang mereka anggap penting. Beberapa orang berjalan hilir-mudik, dari sudut yang satu ke sudut yang lain dengan pedang terhunus. Setiap jalan yang masuk ke induk desa Pucang Kembar telah tertutup rapat olah penjagaan yang ketat. Gardu-gardu peronda telah dilengkapi dengan senjata-senjata jarak jauh, panah, bandil dan alat-alat tanda bahaya.

Sementara itu pasukan Kertopati telah mulai merayap kepintu sebelah barat, lewat tiga jalan. Yang separi menyusur jalan besar, sednag yang separo lagi dibagi menjadi dua pula. Sebagian lewat sebelah utara dan sebagian lewat sebelah selatan. Demikian pula anak-anak muda Pucang Kembar itu pun dibagi menjadi tiga. Sepertiga lewat jalan besar, sepertiga lewat utara dan sepertiga lewat selatan.

Pasukan itu kini telah keluar dari induk desa Pucang Kembar. Setelah melewati sebuah bulak kecil mereka akan sampai ke sebuah desa kecil yang hampir-hampir telah dikosongkan. Semua orang-orangnya telah pergi mengungsi ke induk desa Pucang Kembar. Ketika Kertopati yang berjalan di samping Sukmo Aji menengadahkan wajahnya, tampaklah langit yang bersih ditaburi oleh bintang-binang yang gemerlapan. Selembar-selembar awan mengalir dihanyutkan oleh angin yang lambut.

Sejenak kemudian pasukan itu pun telah sampai di desa kecil itu. Induk pasukan tepat berada di tengah, sedang kedua sayapnya masing-masing berada di ujung desa-desa itu sebelah utara dan selatan. Para penjaga masih tetap berada di tempat mereka. Namun mereka tidak lagi berada di dalam gardu. Mereka lebih senang berada di balik pepohonan. Ketika mereka melihat induk pasukan itu datang, maka seakan-akan mereka bersorak di dalam hati mereka. Sebab dengan demikian, apabila pasukan Kelabang Ijo datang setiap saat, mereka tidak harus melakukan perlawanan darurat.

Pasukan anak-anak muda Pucang Kembar yang di pimpin oleh Kertopati itu tidak maju terus. Mereka tinggal di dalam desa itu, supaya lawan mereka tidak segera melihat kehadiran mereka.

Ketika Kertopati telah mengenal keadaan sejenak di tempat itu, maka segera diperintahkannya kepada para penjaga, “Nyalakan pelita di dalam gardumu. Dan nyalakan beberapa lampu di rumah-rumah yang terdekat.”

“Kenapa justru dinyalakan, kakang?” bertanya penjaga itu.

Biarlah orang –orang Kelabang Ijo menyangka, bahwa keadaan di dalam desa ini seperti dalam keadaan biasa. Kalau kau padamkan lampunya dan semua lampu-lampu, maka itu pasti akan mencurigakan.”

Penjaga itu mengangguk-angguk. “Alangkah bodohnya aku” katanya dalam hati.

Karena itu maka segera ia bergegas-gegas pergi ke rumah-rumah yang telah kosong, untuk menyalakan lampu-lampunya. Sedangkan pelita dari minyak jarak di gardunya pun segera dinyalakan pula.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset