Kidung Diatas Tanah Jawi episode 29

gatra 29

Malam yang masih belum terlalu larut itu telah menjadi semakin gelap. Dan di dalam gelap itulah berkeliaran pasukan dari kedua belah pihak dengan alat-alat penyebar maut di tangan mereka masing-masing. Dalam keheningan malam yang dingin itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sanderan yang meraung-raung di udara. Sekali, dua kali dan kemudian satu kali lagi.

Sukmo Aji mengangkat alisnya, “ada sesuatu yang terjadi dalam barisan pasukan Kelabang Ijo.” Desis Sukmo Aji.

Wajah Kertopati berubah menjadi tegang. Dengan gelisah ia menunggu orang-orangnya yang diperintahkannya untuk mengawasi setiap kemungkinan yang ada di hadapan mereka. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang pengawas dengan nafas terengah-engah. Tubuhnya dan seluruh pakaiannya kotor oleh lumpur.

Dengan tergesa-gesa ia berkata, “aku melihat laskar berjalan melingkar di arah selatan langsung menuju induk kademangan Pucang Kembar. Mereka pasti masuk dari arah selatan pula. Tetapi barisan itu tidak begitu besar.”

“Hem” geram Kertopati, “Kelabang Ijo benar –benar cerdik.”

“Mereka telah mencapai simpang empat di bulak sebelah” orang itu berkata seterusnya.

“He?” Kertopati terkejut, “begitu cepatnya?”

“Ya”

Tiba-tiba demang Pucang Kembar yang juga berada di tempat itu memotong, “serangan yang sangat berbahaya. Apakah aku boleh menarik laskar Pucang Kembar kembali menyongsong mereka?”

“Jangan” sahut Kertopati. “kita belum tahu, siapakah yang memimpin pasukan itu. Mungkin justru itu adalah induk pasukan mereka.”

Demang Pucang Kembar itu pun terdiam. Baru sesaat kemudian Kertopati berkata, “keadaan itu sangat gawat. Biarlah aku bawa laskar sayap kiri kembali ke kademangan. Seterusnya aku serahkan pimpinan ini kepadamu Sukmo Aji. Kalau keadaan tidak terlalu gawat aku akan kembali kemari.”

Sukmo Aji mengangguk, “baiklah” jawabnya.

Kertopati itu pun dengan cepat berlari kesayap kiri. Kemudian segera laskar kiri itu ditarik mundur, kembali ke kademangan Pucang Kembar. Dengan tergesa-gesa mereka berjalan memintas. Mereka tidak lagi lewat di atas jalan di antara daerah persawahan. Namun mereka langsung memotong arah. Melompati tanaman-tanaman yang menghijau. Bahkan sekali-sekali tanam-tanaman itu pun terpaksa terinjak-injak kaki mereka.

Tetapi kehancuran kademangan mereka akan memerlukan banyak sekali pengorbanan. Harta, benda, tenaga dan waktu. Itulah sebabnya maka mereka tidak lagi sempat berpikir tentang tanaman-tanaman itu.

Sesaat kemudian mereka dikejutkan oleh bunyi tanda bahaya dari gardu selatan. Ternyata para peronda sempat melihat kedatangan mereka, sehingga mereka terpaksa membunyikan tanda itu, sementara beberapa orang yang lain, telah mencoba menghambat gerakan itu dengan hujanan anak – anak panah.

Tetapi mereka terkejut ketika mereka mendengar suara tertawa dari barisan yang datang itu. “He” kenapa kalian berteriak-teriak minta tolong?”

Pimpinan gardu itu sama sekali tidak memperhatikannya. Dengan cekatan mereka terus-menerus menghujani anak-anak panah dari balik gardu mereka seberang menyeberang. Dua orang lagi telah meloncat kebalik semak-semak di belakang pagar. Anak panah mereka pun meluncur tak henti-hentinya.

Ternyata usaha itu menolong pula. gerakan pasukan itu terpaksa berhenti sebentar. Tetapi sesaat kemudian terdengar suara tertawa itu lagi, katanya, “ Apakah kalian berenam sudah jemu hidup?”

Yang mendengar suara itu benar-benar manjadi sangat cemas. Karena para pemuda Pucang Kembar tahu suara siapa itu. Dialah Cangkil. Salah satu penjaga kademangan yang ilmunya dapat dikatakan sangat tinggi. Mungkin kalau dikeroyok berenam dari mereka belum tentu mampu mengimbangi kanuragan Cangkil.

“He, dua atau tiga orang, pergilah mendahului kami. Ambillah orang-orang yang mencoba merintangi perjalanan kami”

Pemimpin gardu itu terkejut. Cangkil hanya memerintahkan dua atau tiga orang. Apakah menurut perhitungannya, orang-orang yang berada digardu itu benar-benar tidak akan mampu berkelahi melawan tiga orang saja? Beberapa pemuda Pucang Kembar itu menggeram. Mereka pun pemuda yang telah masak dalam kanuragan.

Karena itu maka jawabnya, “Kami berenam di sini seperti dugaanmu Cangkil. Jangan mengirimkan dua atau tiga orang. Marilah, datanglah bersama-sama, supaya kalian dapat menilai pertahanan Pucang Kembar”

Cangkil mengerutkan keningnya. Alangkah besarnya kata-kata penjaga gardu itu. Namun kemudian Cangkil itu menjawab, “Baiklah. Agaknya kau ingin bunuh diri” Cangkil itu diam sejenak. Namun tiba-tiba ia berteriak, “Menyebar. Masuki Pucang Kembar. Langsung ke kademangan dan kuasai lumbung -lumbung perbekalan”

Serentak pasukannya bergerak. Kini mereka sama sekali tak menghiraukan lagi anak panah yang menghujani mereka dari balik gardu dan semak-semak.

Ketika kemudian terdengar seorang anggota laskar Cangkil itu mengaduh lalu ambruk ke tanah, karena dadanya terkena anak panah, Cangkil menggeram, “Setan, bunuh mereka semua”


Para penjaga gardu mendengar pula perintah itu. Karena itu maka terasa dadanya berdesir. Betapapun juga, maka mereka benar-benar tidak sedang membunuh diri. Namun pasukan Cangkil, menjadi semakin dekat pula. bahkan beberapa orang telah berlari melingkar dan meloncati pagar-pagar batu yang melingkari desa itu. Orang-orang yang berada di dalam semak-semak itu merasa, bahwa mereka tidak akan dapat melawan mereka. Karena itu maka mereka pun semakin dalam membenamkan diri kedalam padesan sambil mencari perlindungan di dalam gelapnya malam.

Tiba-tiba, keenam orang itu menengadahkan wajah-wajah mereka. Dari kejauhan mereka mendengar derap orang berlari-lari. “Pasukan cadangan” pikir mereka. Karena itu maka pemimpin gardu itu pun segera memberikan tanda sandi kepada mereka. Sebenarnyalah mereka adalah pasukan cadangan yang berada di kademangan. Namun kekuatan mereka pun tidak seberapa. Meskipun demikian, keenam orang peronda itu menjadi berbesar hati. Sebab dengan demikian, maka perlawanan mereka akan menjadi lebih berarti. Dari kejauhan terdengar pemimpin pasukan cadangan itu menjawab dengan suara suitan dua kali.

Namun beberapa orang Cangkil itu pun telah sedemikian dekatnya. Sehingga tiba-tiba saja mereka telah terlibat dalam perkelahian. Dan dengan serta-merta mereka telah mencabut pedang-pedang mereka. Ketika beberapa orang melompat menerkamnya, maka segera terjadi perkelahian yang sengit. Keempat kawannya itu pun tidak membiarkan kedua orang itu bertempur sendiri.

Ketika mereka sudah tidak dapat membidikkan anak panah mereka, maka mereka pun segera melemparkan busur mereka, dan dengan golok di tangan mereka menyerbu pula dalam perkelahian iu. Namun mereka benar-benar belum banyak berpengalaman dalam pertempuran malam. Karena itu, maka mereka tidak dapat melakukan perlawanan dengan sebaik-baiknya. Setapak demi setapak mereka terdesak mundur. Apalagi lawan-lawan mereka kemudian datang berloncatan.

Tetapi dalam pada itu, pasukan cadangan itu pun telah datang pula. Dan segera mereka melibatkan diri dalam perkelahian itu. Meskipun jumlah mereka belum memadai dibandingkan jumlah pasukan Cangkil, namun di dalam malam yang gelap itu, amatlah sukar untuk membedakan, siapa kawan siapa lawan.

Cangkil melihat kesulitan itu. Maka teriaknya kemudian, “Nyalakan obor. Jumlah kita lebih banyak. Apalagi lawan-lawan kita adalah cucurut-cucurut dari Pucang Kembar”

Pemimpin pasukan cadangan itu pun tak mau anak buahnya berkecil hati karena teriakan-teriakan lawannya. Maka dengan lantang pula mereka menjawab, “He anak-anak muda Pucang Kembar yang ikut dalam pertempuran ini. Lihatlah apa yang kami lakukan. Anggaplah pertempuran ini sebagai latihan. Sebab ternyata yang dikirim oleh Kelabang Ijo kemari tidak lebih seorang pembelot dan mengkhianati tumpah darahnya sendiri !”

“Gila” sahut Cangkil. “Inilah Cangkil. Siapa yang berteriak-teriak itu”

Pemimpin pasukan cadangan itu tertawa bergelak. Maka katanya di dalam gelap, “Ha. Bukankah kita pernah bertemu dan bertarung beberapa waktu yang lalu di depan kademangan? Ternyata pikiran mu telah tumpul dan menjadi pikun ”

“Gila. Siapakah kau. Ayo tampakkan dirimu”

Namun pemimpin pasukan cadangan itu tidak mendekati Cangkil. Meskipun demikian ia menjawab, “Di sini. Datanglah kemari. Akan ku buat kau kalah untuk kedua kalinya”

Cangkil menjadi marah bukan buatan. Ia meloncat dengan garangnya ke arah suara itu. Namun perkelahian menjadi semakin ribut. Dan sekali lagi ia berteriak, “Tenaga kita berlebihan. Sebagian dari kalian nyalakan obor”

Sesaat kemudian beberapa obor telah menyala. Karena itu daerah pertempuran itu menjadi agak terang. Di beberapa bagian segera tampak wajah-wajah mereka samar-samar di dalam bayang-bayang yang selalu bergerak-gerak. Dan kali ini giliran Cangkil yang tergetar hatinya. Matanya melihat dalam cahaya temaram seorang pemuda gagah di atas kudanya. Tangan kanan mencengkeram sebuah tombak pendek yang masih belum dihunus dari warangkanya.

“ Orang Pajang itu…….”

Cangkil lantas mengurai cambuk besar yang selalu melilit dipingganya. Muka Cangkil mengelam merah. “Setan alas. Kau datang ke sini hanya untuk mencari mati. Tempo hari aku kalah karena aku masih menahan kekuatan ku. Tapi sekarang keadaan perang, aku tidak akan segan –segan membunuhmu orang Pajang!”

“Ini ambillah!”

Cambuk ditangan Cangkil berkelebat mengeluarkan suara desiran yang keras! Sukmo Aji yang melihat serangan itu lantas melompat dari atas kudanya. Cambuk di tangan Cangkil kembali berputar. Menyerang datang bergulung-gulung. Suaranya seperti petir susul menyusul Cumiakkan telinga. Sukmo Aji menjadi sibuk. Melompat kian kemari dengan cepat, jungkir balik di udara dan berguling di tanah. Semua itu untuk hindarkan diri dari serangan cambuk yang ganas!

Dua jurus dimuka Sukmo Aji benar-benar dibikin sibuk sekali malah terdesak hebat dan di paksa bertahan mati-matian. Di dalam ketegangan pertempuran yang menyesakkan dada itu. Sukmo Aji lantas menghunus tombak pendek dari warangkanya. Sinar kebiruan dari pamor tombak memancar seperti hendak menerangi perbatasan desa yang temaram itu. Dalam kejap itu pula sinar biru, kelihatan menabur angin yang memerihkan kulit menderu mengeluarkan suara seperti titiran!

Cangkil putar cambuknya lebih cepat. Ujung cambuknya yang diberi karah –karah besi nampak mematuk –matuk seperti ular bandotan macan. Dibarengi suara ledakan cambuk yang seperti hendak meruntuhkan langit. Namun kini gerakan gerakan yang dibuat cambuk itu tidak leluasa seperti tadi lagi. Cambuk itu tertahan dalam telikungan biru sinar pamor tombak Kyai Sangga Langit ditangan Sukmo Aji. Bagaimanapun Cangkil rubah jurus-jurusnya dan percepat permainan cambuknya tetap saja dia merasa semakin kepepet dan terdesak hebat.

Hingga pada akhirnya sebuah serangan yang cepat sama sekali tidak sanggup dilihatnya. Dan tahu-tahu…

“Craasss…!”

Lalu terdengar lolongan Cangkil. Cambuk terlepas dari tangan kanannya. Tangan kanan itu sendiri tercampak ke tanah, buntung dibabat tombak Kyai Sangga Langit sampai sebatas bahu. Darah menyembur kental dan merah. Cangkil mengumpat sambil rebah ke tanah.

“Bunuh saja aku! Bunuh!” teriak Cangkil karena tidak sanggup merasakan sakit yang menggerogoti dirinya!

Cangkil masih terus berteriak dan berguling-guling sampai beberapa saat di muka namun kemudian ketika nyawanya lepas, maka tubuh itupun menggeletak tak berkutik lagi. Cangkil mati dengan tubuh menelentang dan mata melotot ke langit. Sungguh menggidikkan memandang tampangnya!


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset