Kidung Diatas Tanah Jawi episode 31

gatra 31

Pertempuran itu pun segera berkobar dengan sengitnya. Tetapi pertempuran ini tidak berlangsung di tengah-tengah desa yang rimbun dalam gelap pepat. Di udara terbuka, maka mereka masih mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk mengamati kawan dan lawan.

Meskipun demikian pertempuran itu tidak berlangsung terlalu cepat. Masing-masing masih juga ragu-ragu untuk mengayunkan pedang-pedang mereka dengan lepas. Karena itu, baik pasukan Kelabang Ijo maupun pasukan Pucang Kembar dibawah pimpinan Sukmo Aji itu pun menganggap perlu bahwa beberapa orang di antara mereka menyalakan obor-obor.

Ternyata pasukan yang dihadapi oleh Kelabang Ijo itu cukup berat, sehingga terdengar suara Kelabang Ijo itu lantang, “Sayap-sayap kanan dan kiri, ikutlah menghancurkan lawan di sini. Baru kemudian kami bersama-sama memasuki Pucang Kembar”

Sukmo Aji mendengar pula aba-aba itu. Tetapi ia tidak memberi aba-aba imbangan. Dibiarkannya sayap-sayapnya menyergap kemudian setelah pertempuran menjadi riuh.
Sayap-sayap kanan dan kiri dari pasukan Kelabang Ijo itu pun kemudian segera menyergap lawannya dari arah lambung. Sehingga dengan demikian pertempuran itu menjadi bertambah sengit. Ketika sekali lagi Sukmo Aji mengawasi pertempuran itu, maka hatinya menjadi tenang. Jumlah pasukannya kini telah seimbang dengan pasukan Kelabang Ijo.

Namun meskipun demikian, kemudian disadarinya, bahwa anak-anak muda Pucang Kembar yang ikut serta dengan mereka, masih belum memiliki kekuatan yang diandalkan dalam pertempuran yang sebenarnya. Karena itu maka Sukmo Aji kemudian memerintahkan kepada dua orang penghubung untuk segera menggerakkan sayap-sayap pasukan mereka.

Kelabang Ijo itu tersenyum melihat keseimbangan pertempuran. Menurut perhitungannya, maka ia akan dapat mengatasi lawannya itu. Namun ia tidak tahu, bagaimanakah keadaan pasukan Cangkil. Tetapi semakin lama Kelabang Ijo itu menjadi semakin yakin, bahwa pasukannya akan dapat menjebolkan pertahanan pasukan Pucang Kembar dan akan dapat langsung memasuki induk desa Pucang Kembar.

Namun tiba-tiba ia terkejut. Dilihatnya sekumpulan pasukan muncul di arah selatan, langsung menyerbu kedalam perkelahian itu.

Sesaat ia berdiri tegak seperti patung, kemudian terdengar suaranya lantang, “Sayap kiri, siap melawan sayap lawan”

Yang berdiri disayap kiri terkejut mendengar teriakan itu. Gagak Kluyur menengadahkan wajahnya. Dilihatnya sekelompok pasukan langsung menyerbu ke arah mereka yang sedang menghantam lawan dari arah lambung iu. Dengan tergesa-gesa Gagak Kluyur menarik beberapa orangnya, yang dengan tergesa-gesa pula melepaskan lawan-lawan mereka. Dengan marahnya Gagak Kluyur yang memimpin sayap kanan pasukan Kelabang Ijo itu menggeram. Kemudian dengan senjata di tangan ia mendahului anak buahnya meloncat menyongsong pasukan yang datang itu.

Yang berdiri dipaling depan dari pasukan Pucang Kembar adalah Tundun. Ketika ia melihat lawan menyongsongnya, segera ditundukkannya pedangnya. Dan tanpa berkata sepatah kata pun maka kedua orang itu telah terlibat dalam satu perkelahian, sedang anak buah mereka pun segera menghambur, dan dengan sengitnya kemudian campuh beradu senjata.

“ Aku merindukan mu Kluyur. Marilah kita melepas rindu dengan beradu senjata. Tentu kau masih ingat saat kita masih berlatih tanding bersama”

“ Tutup mulut mu Tundun. Sejak dahulu masih juga kau bermulut besar. Dan mulut mu itu akan semakin besar jika aku sobek menggunakan pedangku ini “

Lantas kedua belah pihak telah tenggelam dalam suatu pertempuran. Lamat-lamat terlihat wajah – wajah orang dalam cahaya obor dikejauhan menyeringai pedih. Tetapi sementara itu pertempuran berjalan terus. Tundun dengan gigihnya bertempur melawan Gagak Kluyur. Orang bertubuh pendek namun kekar dan gempal itu bertempur dengan tangkasnya. Pedangnya menyambar-nyambar seperti beratus-ratus pedang.

Tetapi Tundun pun cukup tangkas mengimbangi permainan Gagak Kluyur. Pedangnya pun berputar seperti baling-baling. Dengan sepenuh tenaga dicobanya untuk melawan Gagak Kluyur. Namun Gagak Kluyur itu mempunyai beberapa kelebihan daripadanya. Kelincahan dan kecepatannya. Sekali ia menyambar dari samping, namun dengan cepatnya pedangnya telah terjulur ke arah lambung. Tundun agak geragapan menerima serangan seperti itu. Ia menjatuhkan diri untuk menghindari tusukan itu.


Sukmo Aji yang bertempur beberapa langkah dari pertempuran itu kadang-kadang dapat menyaksikannya dengan cermat. Ia melihat, bahwa Gagak Kluyur benar-benar tangkas. Tetapi meskipun demikian, kini Sukmo Aji menjadi khawatir dengan keadaan Tundun yang perlahan –lahan mulai terdesak. Bahkan, dari bahunya terlihat merembes darah. Karena itu Sukmo Aji pun meloncat mendekati Tundun.

Gagak Kluyur yang sedang bertempur melawan Tundun itu melihat seseorang mendekati perkelahian itu. Karena itu segera ia berteriak, “Ha, siapa lagi yang ingin bertempur melawan Gagak Kluyur?”

Dalam pada itu seorang anggota Kelabang Ijo tiba-tiba menyerang Sukmo Aji. Namun dengan tangkasnya Sukmo Aji menghindari serangan itu, bahkan dengan kerasnya ia memukul pedang lawannya, ke arah yang sama, sehingga justru Karena itu, maka pedang itu pun meloncat dan terlepas dari tangannya.

Gagak Kluyur sempat menyaksikan ketangkasan itu. Karena itu maka segera perhatiannya tertarik kepada lawan yang mendekatinya.

Sambil bertempur melawan Tundun ia berkata, “He, alangkah tangkasnya. Siapakah kau? Apakah kau ingin melawan Gagak Kluyur?”

Sukmo Aji tidak segera menjawab. namun diamatinya perkelahian antara Gagak Kluyur itu melawan Tundun. Baru sesaat kemudian ia berkata, “Aku Sukmo Aji, kita pernah adu kesaktian beberapa hari yang lalu. Ternyata kau sama dengan kakak mu. Sangat pikun!”

“He, kaukah itu? Orang Pajang yang selama ini selalu mengganggu pikiran ku. Dendam ku sebesar gunung anakan”

“Kita bertemu di sini. Kau dapat melampiaskan segalanya disini”

Pada saat itu seorang penghubung dari pasukan Kelabang Ijo menyeruak diantara kerumunan orang –orang yang saling beradu nyawa. Lantas orang ini menghampiri Gagak Kluyur. Dan Gagak Kluyur melompat menghampiri penghubung ini.

“ Ada apa kau kesini Poleng?”

Orang yang bernama Poleng itu lantas berbisik di telinga Gagak Kluyur.

“ Aku dari perbatasan kademangan. Di batas selatan pasukan sedang bertempur. Ada hal lain yang ingin aku sampaikan. Cangkil terbunuh! “

Gagak Kluyur bagai tersambar geledek di telinganya. Matanya melotot wajahnya memerah saga.

“ Katakan Poleng, siapa yang membunuhnya? “

“ Akan aku seret orang itu sampai ke Jipang Panolan”

“ Aku tidak tahu pasti. Hanya saja menurut orang –orang kita yang membunuhnya adalah senopati dari Pajang “

Mendengar hal itu, Gagak Kluyur menoleh kearah Sukmo Aji. Amarahnya menggelegak. Bibirnya bergetar manakala ia berbicara, “ He, orang Pajang. Apa benar kau telah membunuh kakang Cangkil?”

Sukmo Aji menarik nafas panjang, “ Didalam peperangan hanya ada dua kemungkinan. Membunuh atau dibunuh. Jika kakak mu itu binasa di tanganku tentu itu bukan salahku Kluyur?”

Gagak Kluyur merupakan adik dari Cangkil. Begitu mendengar Cangkil terbunuh. Lelaki itu seperti ditimpa besi panas tepat di dadanya. Senjatanya berputar melampaui kecepatan baling-baling. Namun perhitungannya tidak wajar lagi, sehingga betapa cepatnya ia menyerang, tetapi senjatanya sama sekali tidak dapat menyentuh kulit Sukmo Aji.

Sekali lagi ia menyerang dengan dahsyatnya. Namun sekali lagi Sukmo Aji berhasil menghindarkan dirinya, bahkan dengan gerakan yang cepat Sukmo Aji berhasil memukul senjata Gagak Kluyur hampir pada tangkainya. Gagak Kluyur terkejut. Terasa tangannya dipatuk oleh getaran yang dahsyat. Betapapun ia mencoba bertahan, namun senjatanya terlempar beberapa langkah daripadanya. Terdengar Sukmo Aji berteriak nyaring. Sekali ia meloncat maju dengan tombak terjulur. Demikian cepatnya, Meskipun ia mencoba meloncat sejauh- jauh ia dapat, tetapi kecepatan gerak Sukmo Aji melampaui kecepatan gerakannya. Gagak Kluyur masih mencoba untuk memiringkan tubuhnya.

Namun gerakannya itu hampir tak berarti. Ia masih melihat ujung tombak Sukmo Aji yang beringsut seperti geseran tubuhnya sendiri. Karena itu, segera ia mencoba melindungi dadanya dengan tangannya yang bersilang. Tetapi ia sadar, bahwa tangannya itu sama sekali tidak akan berarti melawan tajam ujung tombak Sukmo Aji. Dalam pada itu terdengar Gagak Kluyur mengaduh pendek.

Beberapa langkah ia terdorong ke samping. Terasa lengannya menjadi pedih. Ia sempat melihatnya, maka tampak darahnya memerahi lengan bajunya. Tetapi ia telah terhindar dari maut, ternyata ujung tombak Sukmo Aji tidak merobek dadanya, meskipun ia terluka.

“Setan,” terdengar Gagak Kluyur mengumpat.

“ Menyerahlah Kluyur. Mungkin ki demang akan mengampuni kesalahan mu “

“ Tutup mulutmu orang Pajang !”


Mata Gagak Kluyur menjadi merah dan liar. Gagak Kluyur yang telah kehilangan segala pertimbangannya itu tiba-tiba telah menyerang Sukmo Aji kembali. Kali ini dengan segenap kemampuan dan ketangkasannya, ditumpahkannya segenap sisa tenaganya. Namun sekali lagi Gagak Kluyur menyeringai kesakitan. Kini tangannya terbentur tendangan Sukmo Aji.

Untunglah tidak terlalu keras, karena Sukmo Aji tidak sempat mengerahkan tenaganya. Meskipun demikian, sekali lagi senjata yang telah dipungutnya terlempar dari tangannya. Sukmo Aji tidak melewatkan kesempatan itu. Kembali lagi tendangan kerasnya menggedor dengan telak dada Gagak Kluyur. Tubuh lelaki itu seperti terbetot ke belakang dengan keras. Lalu terhempas ke tanah tidak sanggup berdiri lagi. Sukmo Aji lantas memerintahkan beberapa orang untuk mengikat tubuh Gagak Kluyur yang pingsan di sebuah pohon besar.

Malam menjadi semakin dalam. Bintang-bintang yang gemerlapan di langit bergeser setapak-setapak kebarat dalam hembusan angin malam yang dingin. Selembar-selembar awan yang putiih mengalir keutara seperti gumpalan-gumpalan kapuk raksasa yang sedang hanyut.
Pertempuran diperbatasan kademangan Pucang Kembar masih berlangsung dengan sengitnya. Disayap kanan, pasukan Kelabang Ijo seakan-akan telah kehilangan semangat untuk bertempur, setelah mereka menyaksikan pemimpin mereka jatuh dan tertawan.

Demikianlah maka pasukan Kelabang Ijo disayap itu menjadi semakin lemah. Kini orang yang tinggi kurus itulah yang mengambil alih kebijaksanaan, mendekati induk pasukannya.
Di dalam induk pasukan itu Pangestu bertempur dengan dahsyatnya melawan beberapa pemuda Pucang Kembar. Dan Kelabang Ijo masih berada di belakang garis pertempuran. Duduk di atas kudanya. Matanya tajam mengawasi jalannya pertempuran sambil sesekali berteriak nyaring untuk mengatur pasukannya yang perlahan –lahan mulai kepayahan.

Dalam pada itu sesosok tubuh melenting dan berdiri tepat di depan Kelabang Ijo. Beberapa orang segera mengacungkan senjatanya ke arah sosok yang baru datang itu.

“ Sungguh suatu kehormatan aku bisa bertemu dengan Kelabang Ijo. Seorang gegedug rampok yang kawentar sampai ke pantai utara Jawa “

Kelabang Ijo yang berada di atas punggung kudanya tertawa tergelak –gelak. Lantas ujarnya, “ Kau siapa anak muda? Aku perhatikan dari belakang ini tandang grayang mu sungguh nggegirisi. Beberapa anak buahku kocar –kacir menghadapi mu? “

“ Aku Sukmo Aji seorang senopati dari Pajang. Mungkin aku harus menagkapmu dan membawamu pulang ke Pajang. Menghadapkan mu pada Kanjeng Sultan Hadiwijoyo “
Kelabang Ijo kembali tertawa, “ Igauanmu sungguh sundul langit anak muda. Aku jadi ingin menjajal seberapa liatnya kulit mu. Seorang kawan ku juga mengatakan kau orang yang sangat berbahaya”

Kelabang Ijo lantas dengan ringan melompat dari punggung kudanya dan menyerang kearah Sukmo Aji. Senjatanya yang berupa sabit kembar itu mencecar kian kemari. Sukmo Aji berkelit kesamping, sesekali membuang diri ke belakang. Tombak pendeknya berusaha membendung sambaran sabit kembar itu dengan trengginas. Kelabang Ijo itu menggeram tidak habis-habisnya. Sukmo Aji ternyata mampu menandingi dalam segala hal. Ketrampilannya, kecepatannya, bahkan kekuatannya. Karena itu, maka Kelabang Ijo itu semakin lama menjadi semakin marah. Namun Sukmo Aji tetap tak dapat di atasinya.

Sedang Sukmo Aji pun terpaksa mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Tetapi bekal yang didapatnya dari gurunya Ki Ageng Danapati, ternyata cukup banyak untuk menghadapi gempuran Kelabang Ijo. Selama pertempuran itu ada yang janggal dalam benak Sukmo Aji. Mengapa keris Kelabang Ijo tidak di pergunakan? Kelabang Ijo malah mempergunakan senjata sepasang sabit kembar? Sukmo Aji lantas melenting ke belakang untuk menjaga jarak.

“ Tahan sebentar Kelabang Ijo. Aku sedikit ingin tahu kenapa keris Kelabang Ijo mu tidak kau keluarkan? “

Kelabang Ijo tertawa gelak –gelak, “ Kau tahu rupanya mengenai keris itu? Tidak perlu keris itu keluar dari warangkanya. Karena dengan sabit kembar ini sudah cukup menghantarkan mu pergi ke neraka”


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset