Kidung Diatas Tanah Jawi episode 32

gatra 32

Kelabang Ijo yang marah itu pun kini benar-benar memeras tenaganya. Sukmo Aji harus segera dibinasakan. Namun membinasakan Sukmo Aji adalah pekerjaan yang sulit. Kelabang Ijo itu terpakasa melihat kenyataan yang dihadapinya, bahwa Sukmo Aji adalah seorang anak muda yang perkasa.

Karena itu, maka perkelahian antara gegedug rampok Gunung Wilis dan Sukmo Aji itu pun menjadi semakin sengit. Masing-masing telah sampai kepuncak kemampuan mereka. Namun kini Sukmo Aji dapat memusatkan segenap perhatiannya pada lawannya yang menakutkan ini.
Sukmo Aji yang bertempur dengan dahsyatnya itu pun menyadari, bahwa ia harus memeras segenap kemampuannya. Dan kini hal itu telah dilakukannya. Sehingga betapapun Kelabang Ijo berusaha untuk menguasainya, namun usaha itu akan sia-sia saja.

Bahkan ketika Sukmo Aji telah hampir sampai kepuncak segala macam ilmu yang tersimpan di dalam dirinya, terasa bahwa Kelabang Ijo bukanlah seorang yang tak dapat dikalahkan. Dalam remang-remang cahaya obor, Sukmo Aji yang menerima turunan ilmu dari gurunya itu, ternyata sempat membingungkan Kelabang Ijo. Sepasang sabit kembar yang menakutkan itu, sama sekali tidak lebih mengerikan dari gerak tombak pendek Sukmo Aji. Tombak itu mampu berputar dan mematuk dari segenap arah, menembus gumpalan cahaya putih dan garis-garis kuning yang membentengi Kelabang Ijo. Sekali-sekali terdengar kedua macam senjata itu beradu, dan meloncatlah bunga-bunga api ke udara.

Senjata Kelabang Ijo itu memang sebenarnya merupakan senjata yang luar biasa. Hampir dalam setiap benturan dengan tombak Sukmo Aji, pasti menimbulkan getaran yang membuat tangan seperti kesemutan. Tetapi kelincahan, ketangkasan dan ketrampilan Sukmo Aji yang telah memeras segala macam ilmu yang dimilikinya itu, ternyata benar-benar membingungkan Kelabang Ijo. Kelabang Ijo yang ditakuti disetiap pertempuran dan bahkan setiap prajurit musuhnya tidak berani menyebut namanya, namun ternyata kini ia menemukan lawan yang tanggon. Dan ternyata Sukmo Aji pun mempunyai beberapa kelebihan dari Kelabang Ijo.

Keadaan Kelabang Ijo semakin lama menjadi semakin sulit. Apalagi ketika disadarinya, bahwa pasukannya disayap kiri benar-benar hampir pecah bercerai berai. Karena itu, maka Kelabang Ijo yang garang itu menjadi cemas. Cemas akan nasib pasukannya yang sudah tidak begitu besar lagi jumlahnya, yang dengan susah payah dikumpulkan dari segala medan khusus untuk merebut Pucang Kembar. Namun sekali lagi Kelabang Ijo itu terpaksa mengumpat tak habis-habisnya. Ia merasa kini, bahwa gerakannya pasti sudah tercium oleh hidung Sukmo Aji itu sebelumnya, sehingga Pucang Kembar benar-benar sudah siap menghadapi kedatangannya.

Tetapi Sukmo Aji itu seakan-akan menjadi semakin lama menjadi semakin lincah. Tombak Kyai Sangga Langit berputaran mengitari segenap tubuhnya dari segala arah. Bahkan kemudian, sekali-sekali terasa ujung tombak itu menyentuhnya.

“Setan” geramnya.

Dan diputarnya sabit kembar itu semakin cepat. Tetapi Sukmo Aji pun bergerak semakin cepat pula.Dan ia benar-benar dapat menanggulangi kedahsyatan Kelabang Ijo.

Alangkah terkejutnya Kelabang Ijo itu, ketika dalam sebuah benturan yang dahsyat, senjatanya tergetar ke samping. Hanya sesaat yang sangat pendek, ia melihat tombak Sukmo Aji terjulur lurus ke dadanya. Kelabang Ijo berusaha untuk memukul tombak itu kembali dengan tebasan sabitnya, namun tombak itu berputar, dan dengan cepatnya pedang itu menyentuh lengannya. Ketika Sukmo Aji menarik tombak itu, maka tajamnya meninggalkan bekas luka di tangan Kelabang Ijo. Luka yang menganga.


Terdengar Kelabang Ijo menggeram pendek. Dengan cepatnya ia meloncat ke samping, dan sesaat ia berusaha menjauhi Sukmo Aji. Ketika ia memandang lengannya, dilihatnya darah mengalir dari lukanya yang menganga, seolah-olah dagingnya telah disayat dengan sebuah pisau yang tajam. Perih, pedih dan panas mulai menjalari pembuluh darahnya.

“Gila kau Sukmo Aji” desis Kelabang Ijo.

Matanya yang meyala menjadi semakin merah karena kemarahannya yang memuncak. Mulutnya itu meskipun terkatub rapat, namun terdengar giginya gemeretak. Dengan sebuah teriakan tinggi Kelabang Ijo itu meloncat dengan garangnya, langsung menyerang Sukmo Aji dengan sabit kembarnya. Sebuah ayunan yang deras sekali menyambar kepala Sukmo Aji. Namun Sukmo Aji tidak tertidur karena kemenangan kecil itu. Dengan demikian segera ia merendahkan dirinya dan senjata Kelabang Ijo itu terbang lewat di atas kepalanya.

Pertempuran yang sangat seru segera berkobar kembali. Kelabang Ijo yang membara karena kemarahannya, melawan Sukmo Aji yang dengan sekuat tenaga ingin segera menyelesaikan pekerjaannya yang sudah mulai tampak akan berhasil. Sehingga dengan demikian kembali mereka bertempur dalam puncak ilmu masing-masing. Namun kali ini pun segera terasam bahwa Sukmo Aji memang luar biasa. Meskipun ia masih lebih muda dari Kelabang Ijo, namun Kelabang Ijo itu tidak dapat menutup kenyataan, bahwa Sukmo Aji mampu menandinginya dari segala segi.

Kini Kelabang Ijo terpaksa membuat pertimbangan-pertimbangan baru. Ia tidak boleh tenggelam dalam arus perasaannya. Ia harus mampu meninjau pertempuran itu dalam segala segi, segala kemungkinan dan segala akibat yang dapat timbul karenanya. Keringkihan disayap kiri benar-benar sangat mengganggunya. Sedang Pangestu yang diharap akan dapat menimbulkan pengaruh yang baru bagi perimbangan kedua pihak, ternyata masih belum mampu berbuat apa-apa. Karena itu maka Kelabang Ijo terpaksa sampai pada suatu keputusan untuk menghindarkan pasukannya dari kehancuran.

Dalam kekalutan itu, sekali lagi Kelabang Ijo mencoba melihat pertempuran itu. Namun malam sangat pekatnya. Ia hanya melihat titik pertempuran disayap kirinya telah bergeser jauh ke belakang, dan sayap kanannya masih saja belum mencapai kemajuan. Sedang diinduk pasukannya, meskipun pasukannya mendapat beberapa kesempatan yang baik, namun ia sendiri telah terluka.


Sukmo Aji yang telah masak itu melihat setiap kemungkinan yang akan dilakukan oleh Kelabang Ijo. Ketika ia melihat sikapnya, serta usahanya untuk melihat seluruh pasukannya, maka Sukmo Aji dapat meraba maksudnya. Karena itu, maka tekanannya diperketat, sehingga hampir-hampir Kelabang Ijo itu tidak sempat berbuat lain daripada mempertahankan dri dari ujung tombak Sukmo Aji yang seakan-akan terbang memgelilingi kepalanya.

Sementara itu, pasukan Kelabang Ijo disayap kiri telah benar-benar hampir lumpuh, sehingga mereka tidak mampu lagi untuk bertahan sendiri. mereka itu kemudian segera menggabungkan diri dengan induk pasukan mereka. Keadaan kedua pasukan diinduk pasukan itu kini menjadi semakin ribut. Pertempuran di antara mereka menjadi seakan-akan tidak teratur lagi. Tetapi meskipun demikian, kedua pasukan itu masih tetap bertempur dengan gigihnya. Hanya anak-anak muda Pucang Kembarkini benar-benar telah menjadi letih. Korban –korabn banyak berjatuhan.

Kelabang Ijo adalah seorang pemimpin yang bertanggung-jawab. Ia tidak mau membiarkan korban berjatuhan tanpa arti. Setelah memperhitungkan keadaan masak-masak, maka yakinlah ia, bahwa ia tidak akan dapat menembus benteng yang dipertahankan oleh Sukmo Aji itu. Bahkan tangannya yang telah terluka itu, semakin lama menjadi semakin lemah. Dan darah yang mengalir menjadi semakin banyak pula.

Betapa gegedug rampok itu menjadi marah, dan betapa ia menjadi sangat buas, namun ia tidak dapat menuruti perasaannya tanpa menghiraukan kenyataan. Sesaat kemudian terdengarlah Kelabang Ijo itu bersuit panjang. Suitannya itu segera disambut oleh beberapa pemimpin kelompok di dalam pasukannya. Dan sesaat kemudian menyalalah berpuluh-puluh anak panah berapi.

Sukmo Aji terkejut melihat hal itu. Tetapi sebelum ia sepat berbuat apa-apa, maka panah-panah api itu seperti hujan berjatuhan di daerah pasukannya.

“Gila” Sukmo Aji mengumpat.

Ia tidak menyangka bahwa hal itu akan dilakukan oleh pasukan Kelabang Ijo. Meskipun ia tahu betul bahwa Kelabang Ijo membuat anak panah api, tetapi disangkanya anak panah itu hanya untuk dipergunakan untuk membakar rumah atau apa pun di Pucang Kembar sehingga menimbulkan kekacauan dan mempengaruhi ketahanan orang-orang Pucang Kembar. Usaha Kelabang Ijo itu sebagian berhasil. Beberapa anak-anak muda Pucang Kembarmenjadi kacau dan hampir kehilangan akal.

Namun tiba-tiba terdengar Sukmo Aji berteriak, “Berlindung di daerah lawan”

Anak-anak muda Pucang Kembar mula-mula tak mengerti maksud aba-aba itu. Namun orang-orang tua bekas prajurit di Demak mendahului mereka, menyerang dan langsung menyusup ke daerah perlawanan musuh. Tetapi suitan itu ternyata mempunyai arti yang lain pula. demikian pasukan Pucang Kembar berusaha masuk dalam garis pertahanan itu, maka pasukan Kelabang Ijo pun surut ke belakang. Bahkan semakin lama menjadi semakin cepat. Dan kemudian ternyatalah bahwa pasukan Kelabang Ijo sedang menarik diri.

Sukmo Aji melihat kenyataan itu. Ia berusaha untuk tidak melepaskan lawannya. Mereka harus dapat melumpuhkan pasukan Kelabang Ijo, sehingga untuk seterusnya tidak mendapat kesempatan berbuat serupa. Menyerang Pucang Kembar dengan kekuatan yang berbahaya.
Pasukan Kelabang Ijo itu pun kemudian mengundurkan dirinya dengan cepat sambil melawan terus, sehingga dengan demikian maka pemuda – pemuda Pucang Kembar pun tidak dapat berbuat banyak. Mereka hanya dapat mendesak pasukan musuhnya itu.

Dalam keadaan yang demikian, maka pasukan dikedua belah pihak hampir bercampur baur dalam satu lingkaran pertempuran. Namun kemudian pasukan Kelabang Ijo itu menyebar dan dengan cepat berusaha menyusup ke dalam sebuah desa yang pertama-tama mereka temui.
Kelabang Ijo akhirnya mendapatkan kesempatan itu. Manakala Sukmo Aji sedikit lengah dengan cepat Kelabang Ijo melompat mundur lantas berusaha membaur di tengah –tengah pasukannya. Pada saat yang mendebarkan itulah, ternyata Sukmo Aji tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Tetapi jarak Kelabang Ijo tidak terlampau dekat dari Sukmo Aji. Jika ia meloncat maju, ia pasti akan terlambat.

Karena itu, Sukmo Aji tidak berpikir lebih panjang lagi. Ia hanya memikirkan kemungkinan untuk melumpuhkan Kelabang Ijo. Karena itu, maka dengan serta merta Sukmo Aji telah melontarkan tombaknya ke arah Kelabang Ijo yang sudah mulai bergerak menyusup diantara pasukannya itu. Dengan derasnya tombak Kyai Sangga Langit telah menyambar punggung Kelabang Ijo. Tombak pendek itu terbenam hampir menjebol dada.

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Kelabang Ijo terhuyung-huyung sejenak. Kemudian ia pun jatuh terjerembab. Dan tidak dapat bangun untuk selamanya. Para pasukannya melihat kejadian itu tidak mampu berbuat apa –apa. Mereka berbondong –bondong lari menyelamatkan diri. Sukmo Aji lantas menghampiri tubuh Kelabang Ijo yang sudah tdak bernyawa. Lantas di cabutnya tombak Kyai Sangga Langit dari punggung Kelabang Ijo dengan pelan –pelan.


Di ujung selatan induk desa Pucang Kembar, Alap –Alap Abang melihat di arah barat, panah api menari-nari di udara. Karena itu, maka ia menjadi terkejut. Ia tidak menyangka bahwa pasukan induknya terpaksa mengundurkan diri.

“Kalau demikian” katanya dalam hati, “Maka pasukan yang aku hadapi dan dipimpin oleh Kertopati sendiri ini bukan pasukan induk. Jadi siapakah yang memimpin pasukan induk lawan ini?”

Tetapi Alap – Alap Abang tidak mendapat jawabannya. Dan ia tidak sempat untuk menanyakannya. Kini ia harus mematuhi perintah itu meskipun sebenarnya keadaan pasukannya sendiri sama sekali tidak mengkhawatirkan. Tetapi kalau pasukan induk lawannya yang telah ditinggalkan oleh pasukan Jipang itu mengepungnya, maka pasukannya pasti akan tumpas. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain daripada mengundurkan diri pula.

Demikianlah maka seluruh pasukan Kelabang Ijo itu kini telah ditarik mundur. Kertopati pun tidak berusaha mengejar lawannya terlampau jauh. Alap – Alap Abang berhasil juga mengundurkan dirinya dengan teratur, sehingga dari pihaknya tidak terlalu banyak korban yang jatuh.

Induk pasukan yang dipimpin oleh Sukmo Aji itu mengejar lawannya sampai kedesa pertama yang dapat dicapai oleh pasukan lawannya. Demikian mereka memasuki desa itu, maka seakan-akan mereka telah lenyap ditelan kegelapan. Obor-obor mereka segera menjadi padam, dan orang-orang mereka pun segera menyelinap dan hilang di balik daun-daunan yang rimbun serta rumpun-rumpun bambu yang lebat.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset