Kidung Diatas Tanah Jawi episode 33

gatra 33

Malampun menjadi semakin malam. Di kejauhan terdengar anjing-anjing liar berteriak-teriak berebut makan. Terasa betapa angin membawa bau darah menyentuh hidung mereka yang tajam. Sekali-sekali terdengar suara burung hantu dan burung kedasih seakan-akan sahut-menyahut, meneriakkan kepedihan yang ngelangut. Sementara orang –orang Pucang Kembar yang bertugas mengumpulkan mayat –mayat yang bergeletakan masih saja sibuk hampir semalam suntuk.

Disisi bagian lain belasan orang merawat luka –luka kawan –kawannya. Beberapa lainnya menggiring tawanan ke banjar desa. Belasan anak buah Kelabang Ijo diikat menggunakan tali lawe. Salah satunya Gagak Kluyur.

Ketika fajar pecah, maka cerahlah kademangan Pucang Kembar. Para pengungsi telah merayap kembali ke rumah masing-masing. Beberapa anak-anak muda Pucang Kembar dengan bangga mengatakan bahwa Pucang Kembar untuk seterusnya telah menjadi jauh lebih aman. Kelabang Ijo telah terbunuh. Riuhlah berita itu mengumandang di segenap sudut kademangan Pucang Kembar. Riuh pulalah orang menyebutnyebut nama Sukmo Aji. Ternyata pula kemudian bahwa yang dapat membunuh Kelabang Ijo adalah Sukmo Aji. Bukan orang lain.

Ketika matahari mulai naik, maka keadaan Kademangan Pucang Kembar itu benar-benar menjadi tenang. Namun masih terdengar satu dua orang yang menangisi rumahnya terbakar bersama segala isinya. Bahkan kemudian, bukan saja menangisi rumahnya dan harta bendanya yang terbakar. Perempuan yang kehilangan anak-anaknya dan bahkan suaminya serta gadis-gadis yang kehilangan kekasih.

“ Akibat dari peperangan selalu pahit”, desis Sukmo Aji sambil mengangkat sesosok tubuh yang membeku.

Seorang anak muda yang menurut pendapatnya masih terlalu muda untuk mati. Jantung Sukmo Aji berdesir lembut ketika ia melihat wajah anak muda yang sudah memutih itu. Ia melihat bibirnya tersenyum meskipun luka di dadanya menganga sampai ke jantung.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka Demang Pucang Kembar diikuti oleh Kertopati dan beberapa orang jagabaya serta bebahu telah duduk di pendopo kademangan. Demang Pucang Kembar terkejut ketika ia mendengar Sukmo Aji berdesis lemah.

“ Aku mohon beribu maaf Ki Demang “

“ Kenapa Ngger? “ , bertanya Demang Pucang Kembar sambil mengerutkan dahinya sukmo Aji hanya dapat menarik nafas dalam-dalam dan berkata , “ Aku gagal menangkap Pangestu. Aku khawatir orang itu dilain hari akan membuat kericuhan di kademangan ini “

“ Sudahlah…”, berkata Demang Pucang Kembar .

“ Itu akan menjadi tugas orang –orang Pucang Kembar Ngger. Angger Sukmo telah banyak membantu kademangan ini. Bahkan, kalau diingat masa yang lampau. Aku sebagai demang disini malu. Telah berbuat tidak sopan pada angger “

“ Hal terpenting yang harus segera kita lakukan sekarang. Merawat mereka yang terluka dan mengubur mereka yang telah gugur di pertempuran ini”

Masing-masing mencoba menempatkan dirinya pada sikap yang sebaik-baiknya tanpa meninggalkan tugas yang harus diselesaikan. Sehingga dengan demikian, maka pembicaraan itupun segera berakhir. Sejenak ruangan itu menjadi sunyi. Masing-masing sibuk dengan angan-angan sendiri. Beberapa bebahu dan jagabaya duduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah ia sedang menikmati suatu cerita yang mengasyikkan.

Sukmo Aji sibuk meraba-raba janggutnya yang belum sempat dipotongnya. Janggut yang terlampau jarang untuk dipelihara, sehingga lebih baik baginya untuk dipotongnya licin-licin. Sedang Kertopati duduk sambil terpekur, seolah-olah lagi menghitung jari-jari di tangannya.

Namun ternyata Demang Pucang Kembar tidak terlalu lama berada di pendopo itu. Iapun segera minta diri untuk melihat keadaan kademangan Pucang Kembar itu dalam keseluruhan.

“ Nanti kita akan berkumpul lagi disini”, berkata Demang Pucang Kembar.

“ Aku ingin melihat rumah-rumah yang terbakar dan barangkali ada peristiwa yang masih luput dari pengamatan kita sekarang”


Dalam pada itu, maka sehari penuh kademangan Pucang Kembar menjadi sibuk. Selain memakamkan anak-anak muda dan para pengawal yang gugur, maka orang-orang yang terlukapun memerlukan perawatan secepatnya. Apalagi mereka yang terluka parah. Sementara itu, Sukmo Aji telah sibuk menyiapkan obat untuk membantu para tabib yang ada di kademangan Pucang Kembar telah dikerahkan untuk merawat mereka yang terluka. Bahkan juga para tawanan, pengikut Kelabang Ijo dan para pembelot.

Demikianlah, kademangan Pucang Kembar terutama Padukuhan Induknya telah mengalami satu bencana yang menggetarkan setiap jantung. Bukan saja penghuninya, tetapi juga orang-orang Pucang Kembar yang tinggal di padukuhan-padukuhan lain. Sejak matahari naik, maka terutama anak-anak mudanya telah berduyun-duyun pergi ke Induk kademangan itu. Bahkan orang-orang tua, terutama yang mempunyai sanak kadang tinggal di Induk kademangan, telah dengan tergesa-gesa pula menengok, apakah sanak kadang mereka itu tidak mengalami sesuatu.

Namun banyak diantara mereka yang harus melihat kenyataan, bahwa sanak kadang mereka telah mengalami bencana. Jika bukan rumahnya terbakar, maka ada diantara keluarganya yang terluka, bahkan ada pula yang gugur di pertempuran. Mendung yang kelabu telah menyelubungi Tanah Pucang Kembar, terutama di Padukuhan Induknya.

Ketika langit menjadi kelabu, maka kesibukan di Pucang Kembar itupun telah mereda. Orang-orang yang sedang mengungsi di banjar dan di kademangan sudah mulai mapan. Sementara orang-orang yang gugur di pertempuran sudah dimakamkan sedang yang terluka sudah dirawat. Namun para pengawal , jagabaya dan para anak muda Pucang Kembar masih saja bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan. Bahkan Kertopati pun telah memerintahkan semua padukuhan bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang masih mungkin dapat terjadi. Apalagi mereka menyadari bahwa pimpinan dari orang-orang yang menyerang Pucang Kembar itu sempat meloloskan diri.

Sementara itu seperti yang dikatakan oleh Demang Pucang Kembar pagi tadi. Di banjar desa telah berkumpul para jagabaya, bebahu, bekel, Kertopati, para pemuda terlihat juga Tundun disana. Sementara Demang Pucang Kembar duduk paling depan sendiri. Sukmo Aji duduk bersebelahan dengan Kertopati. Dalam pembicaraan itu dikatakan bahwa, mulai besok pagi akan kembali lagi diadakan pembenahan dari rumah –rumah yang rusak, kebun ataupun sawah yang acak –acakan akibat diinjak –injak kuda ataupun kaki manusia pada saat pertempuran di Pucang Kembar. Saat pembicaraan mulai usai. Tiba –tiba Sukmo Aji mengangkat tangannya. Semua mata tertuju ke arahnya.

“ Maaf para sedulur dan Ki Demang. Mungkin dengan adanya pertemua ini saya juga ingin sekedar berpamitan. Lusa aku harus pergi dari Pucang Kembar dan melanjutkan perjalanan ke Kedungtuban ”

Suasana menjadi hening. Demang Pucang Kmebar lantas berkata, “ mengapa begitu tergesa Ngger? Kita disini masih sangat berharap angger disini barang sepekan atau dua pekan”

“ Maaf ki demang dan para sedulur semua, masih banyak sekali tugas –tugas yang harus saya emban sebagai seorang abdi dalem di Pajang “

Semua orang yang disitu tidak dapat berbuat lebih banyak daripada berharap. Tetapi Sukmo Aji tidak dapat memenuhinya. Tekadnya sudah bulat. Lusa ia akan meninggalkan Pucang Kembar. Waktu yang diberikan oleh Ki Juru Martani semakin menipis.

Di luar ruangan itu, di pendapa banjar desa, masih terdengar rintih kesakitan. Beberapa orang di antara mereka terdengar mengeluh tak habis-habisnya karena pedih-pedih lukanya. Tiba-tiba Sukmo Aji tersadar.

Serta-merta ia beringsut sambil berkata, “Ah. Aku mohon diri sejenak. Barangkali lebih baik bagiku mengobati orang-orang yang terluka itu daripada duduk di sini.”

Demang Pucang Kembar mengangguk sambil menjawab, “Baik Ngger..istirrahatlah setelah ini. Angger sudah banyak memeras tenaga untuk kademangan ini “

“Baiklah Ki….,” sahut Sukmo Aji sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok bersahutan. Lamat-lamat menggema di malam yang gelap suara kentongan dara muluk di gardu peronda, yang kemudian sahut-menyahut dari ujung ke ujung kademangan.


Langit yang merah menjadi semakin merah. Ketika para penjaga di gerbang kademangan menengadahkan wajahnya, ternyata fajar telah hampir pecah.

Tetapi tiba-tiba salah seorang di dalam kelompok penjaga itu dengan serta merta menggamitnya sambil berkata, “Kakang Wisang. Lihatlah, di kejauhan itu ada obor berjalan menuju ke arah kita.”

Wisang pun segera berpaling. Dan seperti yang dikatakan oleh orangnya itu, di belakang mereka tampak beberapa buah obor yang berjalan menuju ke gerbang kademangan. Kini obor-obor itu mulai bergerak lagi maju mendekati Pucang Kembar. Tetapi sejenak kemudian, maka obor-obor itupun dipadamkan. Tetapi derap kuda yang mendatang ternyata terlampau cepat. Dari dalam gelap yang semakin menipis mereka melihat serombongan orang-orang berkuda, meskipun tidak berpacu, tetapi cukup cepat mendekati Pucang Kembar.

Wisang segera bertindak cepat diperintahkannya dua orang untuk segera ke kademangan induk.

“ Segera laporkan ke pada Ki Demang bahwa ada orang –orang berkuda menuju ke sini. Kemungkinan sekitar lima belasan orang. Dan ingat jangan memancing kegaduhan para warga kademangan sampaikan dengan hati –hati. Aku dan beberapa orang akan mencoba menahannya di gerbang ini “

Tanpa menunggu lama dua kuda melesat ke arah kademangan induk. Sementara Wisang segera bersiap untuk menyambut rombongan orang –orang berkuda itu dengan dada yang berdentangan. Namun dalam pada itu, dua orang pengawas telah membedal kudanya serasa kesetanan menemui Ki Demang di kediamannya. Dengan nafas yang terengah-engah pengawas itu memberikan laporan apa yang dilihatnya.

“Katakan dengan jelas “ kata Ki Demang dengan sareh.

“ Ada orang –orang berkuda menuju ke Pucang Kembar”

“ Apakah kalian tidak salah lihat ?”

“ Tidak mungkin Ki. Kakang Wisang yang memerintahkan kami berdua untuk melaporkan kedatangan orang –orang itu pada ki demang ”

“ Baiklah kalau begitu kumpulkan orang –orang dengan hati –hati jangan sampai para warga menjadi ketakutan. Kita pastikan dulu siapa sebenarnya orang –orang itu. Hubungi Kertopati dan para bebahu “

“ Bagaimana dengan Kakang Sukmo Aji Ki demang? “

Ki demang menarik nafsa panjang, “ Biarkan anak muda itu beristirahat sebentar. Tadi malam anak itu telah memeras keringat menolong penduduk Pucang Kembar yang terluka. Aku tidak sampai hati membebankan tanggung jawab yang penuh pada anak muda itu “

Lantas dua petugas jaga itu segera menyebar, mereka dengan hati –hati menyampaikan secara gethok tular bahwa ada orang –orang berkuda tengah mendekati Pucang Kembar. Penuh kewaspadaan para pemuda itu secara perlahan –lahan berjalan terpisah –pisah menuju ke arah gerbang kademangan. Jantung mereka serasa berpacu, belum lagi hilang ketegangan peperangan kemarin. Hari ini tiba -tiba sekumpulan orang -orang berkuda mendekati Pucang Kembar. Kertopati dan Tundun pun tidak sempat untuk mencuci muka. Segera saja tergesa -gesa menuju ke gerbang kademangan. Tidak lupa senjata – senjata sengaja dimasukkan ke dalam lipatan baju. Agar tidak membuat suasana pagi itu menjadi tegang dan panas.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset