Kidung Diatas Tanah Jawi episode 38

gatra 37

JAGABAYA itu tidak lagi mau membuang waktu. Maka segera diperintahkan seorang untuk menyiapkan kuda-kuda mereka. Berbareng dengan itu Kiai Sosro Bahupun telah memerintahkan orangnya untuk mempersiapkan kuda-kuda mereka pula. Pada saat orang-orang itu menyiapkan kuda di halaman, muncullah diantara mereka Miranti dengan dua ekor kuda di tangannya. Seekor berwarna hitam mengkilat dan yang seekor lagi berwarna abu-abu.

“Naiklah kuda ini Kakang,” teriaknya kepada Sukmo Aji.

Sukmo Aji terkejut melihat Miranti hadir membawa dua ekor kuda.

“Kau mau kemana, Miranti?” tanya Sukmo Aji.

“Aku ikut Kakang ke tempat kebakaran itu,” jawabnya.

“Miranti…,” potong Ki Demang, “Kau jangan menambah kesibukanku dan kakangmu. Masuklah ke dalam. Kalau kau mau pergi juga, siapa yang akan menjaga rumah ini? ”

Miranti memandang ayahnya dengan penuh kecewa. Tetapi ia sama sekali tidak berani membantah. Sebab dalam saat-saat yang demikian ayahnya memang dapat bertindak agak keras terhadapnya. Sementara itu keributan semakin menjadi-jadi. Karena itu di beberapa tempat yang juga timbul pertempuran-pertempuran, para pemuda Pucang Kembar denagn bersusah payah segera dapat menguasai keadaan. Tetapi di bagian barat dan utara, ternyata kekuatan mereka tak dapat dianggap ringan. Di pendapa, Demang Pucang Kembar beberapa kali menerima penghubung-penghubung dari daerah pertempuran, dan dengan cermatnya ia memberikan perintah dan petunjuk-petunjuk.

Tetapi, tiba-tiba orang-orang yang berada di pendapa itu bersama-sama digetarkan oleh bunyi kentongan titir dari arah utara, sedangkan api tampak semakin menjalar ke beberapa arah. Mendengar bunyi kentongan itu, kemarahan Ki Demang tak dapat dikendalikan lagi. Bunyi kentong dua-tiga-dua-tiga mempunyai arti yang sama sekali tidak menyenangkan. Tanda itu mengatakan bahwa pasukan Pucang Kembar terdesak hebat.

Dengan gigi yang terkatub rapat, Ki Demang terloncat dari duduknya. Geramnya, “ Sisa –sisa pasukan Kelabang Ijo memang harus diberantas sampai ke cindil –cindilnya. Agar tidak lagi mengganggu ketenteraman Pucang Kembar?”

“Para jagabaya ..”. kata Ki Demang kepada jagabaya, “Aku akan pergi ke tempat itu. Rupanya kekuatan lawan dipusatkan di sana. Berilah tanda supaya sebagian dari pasukan cadangan dikerahkan ke utara.”

Segera jagabaya memerintahkan memukul kentongan titir berturut-turut. Bersama dengan itu Ki Demang meloncat ke atas kudanya.

“Adi Sosro Bahu dan Ngger Sukmo Aji, marilah kita lihat daerah itu,” katanya.

Sukmo Aji nampak ragu sebentar. Kalau mereka seluruhnya meninggalkan tempat itu, lalu bagaimanakah kalau keributan itu hanya pengalihan. Dan tiba –tiba segerombolan orang masuk induk kademangan dan membuat kekacauan?

Rupanya keragu-raguan itu diketahui oleh Ki Demang, katanya, “Tak seorang pun yang akan dapat menerobos masuk ke induk kademangan. Kalau bukan seorang yang luar biasa hebatnya. Jadi menurut perhitunganku, pimpinan dari gerombolan itu berada di sana. Biarlah rumah ini aku serahkan kepada para jagabaya, Tundun dan Miranti. Aku percaya kepada para jagabaya dan kemampuan Miranti. Meski anak itu sedikit nakal akan tetapi. Disaat seperti ini kanuragannya akan cukup bisa diandalkan. Berilah aku tanda kalau keadaan memaksa. Ingat, tak seorangpun boleh menginjakkan kakinya di halaman rumah ini.”

“Baik ki demang, aku akan menjaganya,” jawab jagabaya.

“Siapa yang di halaman belakang?” tanya Ki Demang.

“ Tundun dengan lbeberapa orang pemuda terlatih,” jawab jagabaya.

“Bagus, aku percaya pula pada anak muda itu. Kelak ia pasti menjadi seorang prajurit pilihan. Nah, aku akan berangkat.”

Sekejap kemudian Ki Demang mendera kudanya dan lari dengan kencangnya. Kiai Sosro Bahu dengan beberapa pengiringnya segera menyusul dan yang paling belakang adalah Sukmo Aji dengan kuda abu-abu yang dibawa oleh Miranti tadi. Maka segera iring-iringan itu meluncur seperti angin ke arah tempat kebakaran di sebelah utara Pucang Kembar. Dari tempat yang agak tinggi di luar halaman, mereka dapat melihat dengan jelas api yang berkobar-kobar di beberapa tempat.

Melihat nyala api itu, hati Ki Demang menjadi semakin panas. Ia memacu kudanya lebih laju lagi. Kuda yang telah berlari sekuat tenaga itu menurut perasaan Ki Demang seperti ular yang merambat di dedaunan. Lambat sekali.

Tetapi akhirnya dengan menahan kekesalan hati, mereka sampai juga di tempat pertempuran. Dari jarak yang cukup, Ki Demang dengan rombongannya dapat melihat arena pertempuran yang terjadi di pinggir sebuah perkampungan. Rupanya pertempuran itu telah berlangsung dengan serunya. Di kedua belah pihak telah jatuh beberapa orang korban.

Ternyata, pasukan-pasukan cadangan Pucang Kembar yang dipimpin oleh bekel Suro Kerti telah tiba di tempat itu dan telah pula melibatkan diri dalam pertempuran. Dalam pengamatan yang sebentar itu Ki Demang melihat betapa kuatnya pihak lawan. Dilihat dari bekas-bekasnya, ternyata bahwa arena pertempuran itu telah bergeser agak jauh mendekati perkampungan. Bahkan beberapa orang dari mereka telah membakar rumah-rumah penduduk yang tak bersalah.

Kemarahan hati Ki Demang semakin menggelora. Karena itu setelah ia menemukan pertimbangan mengenai keseluruhan pertempuran itu, segera ia memberikan perintah. “Adi Sosro Bahu…” katanya, “bawalah anak buahmu ke sebelah kiri. Lingkari arena ini, dan kau harus dapat menguasai jalan kecil di ujung sawah itu. Kalau aku berhasil mendesak mereka, usahakan jangan dibiarkan mereka lolos. Aku ingin tahu siapa mereka. Bawalah beberapa orang bersamamu.”

“Baik Kakang,” jawab kiai Sosro Bahu.

Setelah itu iapun segera pergi ke tempat yang telah ditentukan. Ia melingkar menyusup perkampungan untuk kemudian muncul kembali menuju ke jalan kecil di ujung sawah. Dalam keremangan cahaya api yang menjilat ke udara, arena pertempuran itu seolah-olah sengaja dijadikan daerah yang diterangi oleh ribuan obor di sekitarnya.


SEPENINGGAL Kiai Sosro Bahu, Ki Demang dan Sukmo Aji berdiri mengawasi medan. Sukmo Aji adalah seorang senopati perang Pajang. Karena itu ia mempunyai pandangan yang cukup masak mengenai keadaan medan. Maka segera ia melihat kelemahan Laskar Pucang Kembar.

Katanya, “Ki Demang, menurut pengamatanku, letak kesalahan Laskar Pucang Kembar adalah, beberapa orang yang cukup masak berkumpul di dalam satu titik. Sehingga di bagian-bagian lain banyak terdapat kelemahan.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Kau benar Ngger. Aku melihat pula kelemahan itu. Tetapi pastilah mereka menghadapi keadaan darurat. Bahkan Bekel Suro Kerti pun telah terlibat dalam perkelahian di titik itu pula.”

Nyala api yang berkobar-kobar di sekitar daerah pertempuran itu membuat ratusan bayangan dari orang-orang yang bertempur itu, beraneka ragam. Ada yang panjang, ada yang besar seperti raksasa yang meloncat-loncat menerkam mangsanya. Karena itu keadaan medan menjadi agak kabur.

Mata Sukmo Aji dengan tajam mengawasi jalannya pertempuran. Matanya menangkap bayangan orang yang nampak tidak asing olehnya.

“ Alap –Alap Abang ,” sambung Sukmo Aji hampir berteriak.

Hampir saja Sukmo Aji meloncat menyerbu. Tetapi tiba-tiba dilihatnya Kiai Sosro Bahu telah menghadangnya. Sukmo Aji terkejut. Kiai Sosro Bahu menyeringai. Lantas tanpa berkata apa –apa ladi lelaki adik dari Demang Pucang Kembar itu menyambar dari atas kudanya seperti seekor elang yang sedang marah. Geraknya tangkas dan tangguh. Rupanya ia adalah seorang yang ahli bertempur di atas kuda. Ia bersenjatakan sebuah pedang yang panjang dan besar. Pedang itu di tangannya yang kokoh kuat, hanya seperti setangkai lidi yang berputar-putar dan berkilauan kena cahaya api.

Dari jarak yang agak jauh itu, terdengar tidak jelas Kiai Sosro Bahu memberikan aba-aba, dan sebentar kemudian keadaan segera berubah dengan cepatnya. Kertopati dengan kawan-kawannya segera terdesak hebat. Para pengawal Kiai Sosro Bahu serentak berbalik dan menyerang laskar Pucang Kembar

“Apa maksud semua ini,” gumam Ki Demang dengan geram.

“ Mengapa Sosro Bahu membelot dan membantu para pengacau? “

Ki Demang tidak punya waktu untuk memikirkan itu karena tiba –tiba dua orang telah menyerangnya. Orang tua ini sedikit terkejut. Namun, dengan pengalamannya sebagai bekas seorang prajutir di Demak semasa pemerintahan Sultan Trenggono ia dapat mengatasi serangan mendadak itu.

Sukmo Aji sekilas melihat lingkaran pertempuran demang Pucang Kembar yang dikeroyok oleh dua orang dengan senjata pedang dan bindi. Tetapi kemudian ia menjadi agak bingung melihat ketidak-wajaran dalam pertempuran itu. Sementara Kiai Sosro Bahu dengan ganas mencecar Sukmo Aji dengan gencar. Sukmo Aji lantas meloncat ke belakang untuk menjaga jarak.

“ Tahan Kiai! “

“ Apa artinya semua ini? Siapa kah kau sebenarnya? “

Kiai Sosro Bahu tertawa. Lantas lelaki itu mencampakkan pedangnya yang berukuran besar ke tanah. Perlahan-lahan ia melolos sebuah keris yang terselip di pinggangnya. Sukmo Aji terkejut bukan kepalang melihat bilah keris yang telah keluar dari warangkanya. Sebuah keris berluk dua puluh lima. Lebih mengerikan lagi pamor keris itu mengeluarkan pendar –pendar berwarna hijau terang. Pendar – pendar pamor itu berbentuk menyerupai seekor kelabang yang sedang menempel di bilah keris.

“ Keris Kelabang Ijo “, kata Sukmo Aji dengan tercekat.

“ Jadi kau….”

“ Aku lah yang berjuluk Kelabang Ijo anak muda. Dan yang kau bunuh tempo hari di pertempuran malam itu bukan Kelabang Ijo yang asli. Orang itu bernama Damar Cemara adik seperguruanku. Sayang sekali ia terbunuh di tangan mu. Hari ini akan kita tuntaskan. Dan aku juga ingin membalas dendam atas kematian adik seperguruanku itu”

“ Ayo..cabut tombak Kyai Sangga Langit. Aku ingin menunjukkan pada mendiang Danapati bahwa tombak kebanggaannya itu tidak ada artinya apa –apa di hadapan Kelabang Ijo ! “

“ Jangan sombong. Marilah kita buktikan disini”

Sukmo Aji lantas menarik tombak pendek dari pinggangnya. Cahaya biru keluar dari pamor tombak itu. Secepat kilat Kiai Sosro Bahu atau yang bergelar Kelabang Ijo maju menggempur lawannya. Kerisnya berputaran cepat bukan main, seolah-olah berubah menjadi segulung cahaya hijau yang menakutkan. Pertempuran itu segera berubah menjadi semakin cepat dan dahsyat. Keris Kelabang Ijo itu melayang menyambar-nyambar tak henti-hentinya.


SEMENTARA itu pertempuran berlangsung terus dengan hebatnya. Laskar Pucang Kembar telah berjuang mati-matian untuk mencoba mempertahankan tanah mereka serta seluruh isinya. Di bagian lain, di tengah pertempuran itu tiba-tiba terdengar sorak sorai yang riuh rendah. Rupanya Laskar Pucang Kembar ketika melihat Demang Pucang Kembar terjun ke arena, mereka menjadi gembira sekali. Tiba-tiba, seolah-olah tubuh mereka masing-masing mendapat tambahan kekuatan yang hebat. Karena itu mereka bersorak-sorak gemuruh. Dan bersamaan dengan itu gerak mereka menjadi lebih dahsyat. Sorak sorai itu segera disambut oleh hampir seluruh Laskar Pucang Kembar yang berada di arena itu.

Di lingkaran pertempuran yang lain terlihat belasan orang mendesak dan segera masuk ke dalam pertempuran. Baru kemudian disadarinya bahwa telah terjadi malapetaka di sayap itu. Ternyata orang –orang yang tiba –tiba menghamburkan diri dalam kancah pertempuran itu dipimpin seorang lelaki yang masih tergolong muda. Beberapa orang Pucang Kembar yang melihat orang ini segera bersorak –sorai.

“ Pangestu..Pangestu..pengkhianat Pucang Kembar cincang. Ayo cincang!”

Melihat kehadiran Pangestu yang memimpin orang-orang itu, kemarahan mereka seakan-akan meledak. Pangestu menyambut kemarahan orang –orang itu dengan sabetan pedangnya. Dua orang tumbang dengan tubuh terluka menganga mengucurkan darah. Melihat hal ini seorang pemuda lantas mendekati arena dimana Pangestu mengamuk laksana banteng ketaton. Tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu ikut menceburkan diri dalam pertempuran yang berkecamuk semakin ganas.

Pangestu mengumpat, manakala sebuah pedang nyaris mengoyak lambungnya.

“ Kurang ajar! Rupanya kau Sembada “

“ Jadi ini kelakuan orang –orang Pucang Kembar? Beraninya main keroyokan? “

“ Tutup mulutmu kakang Pangestu. Ini sebuah pertempuran dan bukan perang tanding. Di dalam perang semua dapat dilakukan untuk memenangkan pertempuran. Di bunuh atau membunuh. Bukankah kau dan para komplotanmu itu yang bertindak secara pengecut?”

“ Aku ingat di malam itu bagaimana sepuluh orang kawan –kawan ku di ranjap di bawah lubang yang telah terisi dengan tonggak –tonggak bambu. Dan aku pun hampir mati terkeca racun yang dilumurkan di ujung bambu –bambu itu“

Pangestu menyeringai. “ Ternyata kau ikut juga di malam itu Sembada. Baiklah, akan kuantar kau menyusul kawan –kawanmu itu! Garis nasib telah ditulisakan. Kau akan mati malam ini di tangan ku “

Sebentar kemudian perkelahian itu segera mulai kembali dengan sengitnya. Cara berkelahi Pangestu itu benar-benar seperti ular. Melingkar, melilit lawannya dan mematuk dengan jari-jarinya demikian dahsyatnya. Geraknya cepat dan licin tak terduga-duga. Sedangkan Sembada bersikap lebih tenang. Ia bertempur seperti seekor banteng yang teguh, kokoh dan tangguh. Akan tetapi, kemampuan Sembada masih jauh di bawah Pangestu. Beberapa kali pemuda itu tampak kerepotan dan terdesak hebat.

Meskipun Sembada tidak melawannya seorang diri, namun tiba-tiba ia kehilangan kesempatan untuk menghindari serangan yang datang seperti air bah. Ketika ia melompat ke belakang menghindari tendangan Pangestu itu, tiba-tiba terasa sebuah sengatan di pundak kirinya. Begitu kerasnya sehingga tubuhnya terguncang, dan seolah-olah ia telah dilemparkan ke samping. Ternyata senjata Pangestu yang berupa pedang berukuran lumayan besar itu telah mematuk pundaknya.

Sesaat Sembada menyeringai, ia masih sempat melihat ujung pedang itu kembali mengarah ke dadanya. Dengan sisa tenaganya yang terakhir ia mencoba menghindari serangan itu. Tetapi ia sudah tidak memiliki keseimbangan yang mantap, sehingga meskipun ujung pedang itu tidak menghajar ke dadanya, namun Iambungnya tersobek oleh tajam senjata lawannya. Sembada mengeluh pendek. Matanya menjadi gelap dan ia tidak melihat apa yang terjadi kemudian. Ia tidak melihat ketika Pangestu meloncat sambil berteriak melengking tinggi, untuk sekali lagi menusukkan pedangnya di tubuh Sembada.

Tetapi untunglah bahwa Kertopati melihat semuanya itu. Seperti orang gila ia menyerbu Pangestu yang sedang gila pula. Senjata Kertopati itu terayun deras sekali mengarah ke tubuh Pangestu. Tetapi Kertopati benar-benar tidak menyangka bahwa Pangestu dapat melenting secepat belalang, sehingga dengan demikian, serangannya itu dapat dihindarkan.

Kertopati sendiri bahkan terseret oleh kederasan senjatanya, sehingga terhuyung-huyung beberapa langkah ke samping. Meskipun demikian, apa yang dilakukan itu ternyata berguna pula. Dalam pada itu, beberapa orang telah menyadari keadaan. Dengan serta merta beberapa orang bersama-sama menyerbu, seperti apa yang dilakukan oleh Kertopati itu. Dengan demikian, maka Pangestu sekali lagi berteriak tinggi melontarkan dendam dan kemarahan yang meluap-luap.

“Gila!” teriak Pangestu membelah hiruk pikuknya dentang senjata.

“Ayo siapa menyusul?”

Teriakan Pangestu itu bagi anak buahnya seakan-akan merupakan perintah untuk bertempur lebih dahsyat Iagi. Seolah-olah merekapun ikut serta meneriakkan kata-kata itu. Dan bahkan beberapa orangpun ikut serta menantang dengan kata-kata yang garang.

“Ayo, orang –orang Pucang Kembar. Majulah bersama -sama. Bawalah pimpinan beserta kalian.”

Setiap pemuda Pucang Kembar yang melihat peristiwa itu, seakan-akan darahnya meluap ke kepala. Kemarahan, kebencian dan dendam membakar dada mereka. Sembada adalah salah seorang pemuda yang baik. Seorang yang telah cukup mengendap di dalam pertempuran dan di dalam pergaulan. Karena itu, banyak orang yang senang kepadanya. Sehingga jatuhnya Sembada telah membuat pemuda –pemuda Pucang Kembar terbakar.

Betapapun orang-orang Kelabang Ijo meneriakkan kemenangan, namun orang – orang Pucang Kembar sama sekali tidak menjadi gentar. Apalagi di antara mereka telah hadir orang-orang baru itu, demikian mereka hadir, demikian mereka melihat Sembada jatuh tersungkur di tanah. Maka kemarahan dan kebencian merekapun segera tertumpah pula.

Teriakan orang-orang Kelabang Ijo, mengatakan bahwa pemimpin sayap kanan itu telah jatuh. Bahkan sebelum mereka tahu pasti apa yang terjadi, maka mereka telah berteriak,
“Pemimpin sayap kanan telah binasa.”

Sukmo Aji pun akhirnya mendengar pula bahwa Sembada mengalami cedera. Ia belum menerima berita resmi apakah Sembada terbunuh atau tidak. Namun berita itu telah menggoncangkan hatinya. Demikian ia mendengar berita itu, demikian giginya gemeretak karena marah.

Apalagi ketika kemudian ia mendengar Kelabang Ijo tertawa sambil berkata, “Sayapmu patah, Sukmo Aji.”

Sukmo Aji mencoba melihat sayapnya. Sesaat itu terdesak beberapa langkah. Namun untunglah Kertopati bertindak cepat. Segera ia mengambil alih pimpinan sambil berteriak,
“Sayap ini tidak akan terpengaruh karena hilangnya Sembada. Aku akan mampu menebus setiap kekalahan ini.”

Sukmo Aji menjadi agak tenang melihat kesigapan Kertopati. Serangan Kelabang Ijo justru semakin dahsyat, sehingga Sukmo Aji menjadi terdesak beberapa langkah. Sukmo Aji kehilangan sebagian dari perhatiannya. Agaknya Kelabang Ijo sedang mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak lawannya.

Dengan sepenuh tenaga dan kemampuannya ia menyerang Sukmo Aji seperti badai menghantam gunung. Betapa deras dan cepatnya. keris terayun dengan dahsyat ke arah kepala Sukmo Aji yang sedang disibukkan oleh hilangnya Sembada. Sukmo Aji terkejut melihat seleret cahaya hijau yang keluar dari keris Kelabang Ijo seperti seekor burung elang menyambarnya. Untunglah. Bahwa pada saat terakhir, ia berhasil mengerutkan tubuhnya dan merendahkan kepalanya, sehingga ia dapat menyelamatkan dirinya dari bahaya yang dahsyat.

Meskipun demikian, ujung keris Kelabang Ijo telah menyambar ikat kepalanya, sehingga ikat kepala itu terlempar jatuh. Bukan main dahsyatnya gelora hati Sukmo Aji. Seolah-olah dadanya akan meledak karenanya. Tumenggung Anom dari Pajang itu merasa bahwa nyawanya hampir-hampir terlepas dari tubuhnya. Tetapi meskipun ternyata ia berhasil menghindarkan diri dari maut, namun betapa ia merasa dihina. Ikat kepalanya terlempar dari kepalanya.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset