Kidung Diatas Tanah Jawi episode 45

gatra 45

SEEKOR KUDA berderap dengan kencangnya di atas tanah berbatu-batu. Semakin lama semakin laju. Sekali-sekali penunggangnya nengadahkan wajahnya, melihat langit yang menjadi semakin suram. Dan setiap kali tangannya menggerakkan kendali, supaya kudanya terbang lebih cepat lagi. Sejenak kemudian, kaki-kaki kuda itu telah berderap menyusur lereng-lereng pebukitan.

Menyusup di antara semak-semak yang rimbun dan liur, sepanjang jalan sempit menuju ke Pucang Kembar. Di pinggangnya terselip sebuah keris pusaka. Orang itu adalah Haryo Panumping. Ia ingin sampai ke tempat yang telah dijanjikan, sebelum saat purnama naik. Ia tidak mau terlambat, meskipun hanya sepenginang. Karena itu, maka ia berpacu semakin cepat. Suara derak kaki kudanya menggelepar di lereng bukit-bukit yang terjal.

Matahari di langit menjadi semakin rendah. Kini telah menyentuh punggung bukit di sebelah Barat. Sebentar lagi matahari itu akan tenggelam, dan sebentar pula hari akan menjadi semakin gelap. Sejenak kemudian akan segera disusul oleh saat purnama yang akan naik di ujung Timur. Kuda Haryo Panumping berlari semakin kencang. Meluncur dari Selatan ke Utara.

Demikian ketegangan telah menyergap perasaannya, demang muda dari Pucang Kembar ini sama sekali tidak mengetahui, bahwa dua pasang mata sedang mengawasinya dari balik gerumbul beberapa langkah dari jalan yang dilaluinya. Ketika salah seorang dari mereka mencoba bergerak, maka yang seorang segera menggamitnya sambil menggoyangkan kepalanya.

Keduanya kemudaan terdiam. Hanya mata mereka sajalah yang bergerak mengikuti derap kuda yang laju meninggalkan debu yang putih, menghambur di atas jalan yang dilaluinya itu. Ketika kuda itu telah hilang di kejauhan, maka mereka berdua yang sedang mengintip di balik rimbunya dedaunan itupun segera keluar dari persembunyiannya.

“Haryo Panumping memang seorang ksatria sejati” berkata seseorang yang berbadan kekar namun memiliki ukuran tubuh yang pendek. Orang itu tidak lain Jaroto.

Yang lain menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya.Harus kita akui Haryo Panumping seorang ksatria yang pinunjung “

Dan orang itu adalah Sumpil. Jaroto mengangguk-anggukkan kepalanya.

Desisnya, “Ia menepati janjinya. Pada saat purnama naik, ia pasti sudah berada di bawah Pucang Kembar.”

“Tidak terpikir olehnya untuk ingkar atau justru berkhianat. Ia adalah seorang yang menjunjung tinggi nilai-nilai harga dirinya dan sifat-sifat kesatria ”

Jaroto masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Haryo Panumping benar-benar pergi ke Pucang Kembar seorang diri.”

“Aku sudah menduga. Ia akan pergi seorang diri.”

Yang lain mengangguk-angguk lagi, “Lalu, apakah kita akan pergi ke Pucang Kembar pula? Apakah kita akan berlaku curang sesuai yang diperintahkan oleh Puguhan? Mengeroyoknya berdua sebelum berperang tanding dengan Puguhan?”

“Ya, bukankah kita memang diperintahkan seperti itu oleh Puguhan. Sudahlah, kau jangan miur layaknya batang padi terkena angina. Ingat jabatan yang dijanjikan oleh Puguhan. Seorang bebahu pedusunan di sekitar Pucang Kembar “

“ Marilah. Kita jangan terlambat. Kita tidak naik kuda seperti Panumping. Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu sedikitpun”

“Marilah. Kita dapat memintas. Kita menyusup di antara gerumbul-gerumbul liar, sehingga kita tidak akan tertinggal terlampau jauh dari Haryo Panumping.”

Yang lain tidak menjawab. Tetapi mereka pun kemudian segera melangkahkan kaki mereka menyusup di antara gerumbul-gerumbul liar dan hilang di dalam kemuraman senja.

Bukit Pucang Kembar semakin lama menjadi semakin dekat. Matahari pun sudah semakin dalam membenam di balik bukit. Sisa-sisa cahayanya yang kemerah-merahan masih menyangkut di pinggir mega yang berarak di langit yang biru bersih. Haryo Panumping menengadahkan wajahnya. Dilihatnya kesuraman yang kelabu perlahan-lahan menurun menyelubungi puncak pebukitan. Sehingga dengan demikian, kudanya berpacu semakin laju.


WARNA-WARNA MERAH di langit pun menjadi semakin suram. Sedang angin senja yang lemah berhembus membelai daun sepasang pucang yang ikut terguncang guncang dengan gelisahnya. Haryo Panumping berdiri tegak seperti patung di antara kedua batang Pucang Kembar itu menghadap ke Barat. Ditengadahkan wajahnya memandang matahari yang hampir tenggelam, seolah-olah dihitungnya waktu yang diperlukan oleh matahari itu untuk menyembunyikan dirinya di balik bukit.

Cahaya kemerah-merahan yang semakin gelap hinggap di wajah Haryo Panumping. Perpaduan antara warna senja yang hampir kelam dan wajah Haryo Panumping sendiri yang tegang, memancarkan suasana yang mendebarkan jantung.

Dengan sorot mata yang tajam, Haryo Panumping seolah-olah ingin mendorong agar matahari menjadi semakin cepat tenggelam. Kesabarannya kian lama sudah menjadi kian menipis. Ketika matahari kemudian hilang di balik pegunungan, Haryo Panumping menarik nafas dalam-dalam. Alam di sekitarnya menjadi samar-samar. Pepohonan yang hijau tampak menjadi hitam seperti bayangan hantu yang berdiri memutari bentangan tanah berumput di bawah pohon Pucang Kembar itu.

Wajah Haryo Panumping yang gelap menjadi semakin gelap. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya, dan berdiri tegak menghadap ke Timur. Tatapan matanya yang tajam kini hinggap pada cakrawala di ujung langit. Di sanalah nanti pada saatnya purnama akan naik. Haryo Panumpingmenjadi hampir tidak bersabar lagi. Langit yang menjadi semakin kelam kini mulai diwarnai oleh cahaya yang ke kuning-kuningan. Cahaya purnama yang memancar seolah-olah dari bawah bumi. Purnama yang sebentar lagi akan naik dan mengapung di langit yang bersih.

“Tidak ada sepenginang lagi, purnama akan naik,” anak muda itu berdesis.

Dadanya kini menengadah, seakan-akan menantang cahaya purnama yang pertama kali akan mematuknya.

“Puguhan harus sudah berada di tempat ini,” katanya di dalam hati.

Belum lagi ia sempat mengedarkan pandangan matanya, terasa dadanya berdesir. Ia mendengar langkah halus di rerumputan di sampingnya. Tetapi Haryo Panumping tidak berpaling. Ia masih tetap berdiri tegak dengan kaki renggang, menanti bulan yang sudah mulai terbit. Seleret warna kuning menyembul dari balik kaki langit, di sebelah Timur.

Cahayanya yang kuning dengan serta-merta menguak kehitaman yang membentang menyelubungi bumi. Semakin lama menjadi semakin terang. Meskipun tidak secerah sinar matahari, namun cahaya bulan memiliki wataknya sendiri. Haryo Panumping masih memandang purnama yang tepat naik. Ia mendengar telapak kaki semakin dekat kepadanya.

Tanpa berpaling ia bergumam, “Kau datang tepat pada waktunya, Puguhan. Rupanya kau membawa serta dua orang kawan? Bagus kalau begitu”

“Ya,” terdengar jawaban dalam nada yang berat, “aku tidak mempunyai waktu sebanyak waktumu yang kau sia-siakan di bawah Pucang Kembar ini dalam kegelisahan. Aku datang tepat pada waktunya, dan segera akan pergi tepat pada waktu yang aku kehendaki pula.”

“ Namun, sebelumnya ternyata kedua kawan ku ini pun terlalu penasaran untuk menjajal. Sekuat apa tubuh dan seliat apa kulitmu. Apakah Lembu Sekilan yang kau miliki mampu menghindarkan mu dari tajamnya ujung pedang”

Dada Haryo Panumping berdesir mendengar perkataan itu. Tetapi ia masih menghadap ke arah bulan yang semakin terang. Dilihatnya sehelai awan yang putih mengalir ke utara, kemudian buyar ditiup angin yang kencang. Haryo Panumping menarik nafas dalam-dalam. Tidak terasa olehnya betapa sejuknya angin malam di daerah terbuka, karena hatinya yang membara.

Perlahan-lahan ia berpaling. Dilihatnya Puguhan berdiri tegak di sisi sebatang dari sepasang pucang itu. Sementara tidak jauh dari tempatnya berdiri. Telah berdiri pula dua orang. Mereka tidak lain adalah Sumpil dan Jaroto. Dalam cahaya bulan yang kekuning-kuningan tampaklah wajah – wajah yang berada di tempat itu seolah-olah memancarkan api dari dalam dadanya.

“Kau ternyata licik, Puguhan,” Haryo Panumping menggeram.

“Terserah menurut penilaianmu, kakang. Aku sebenarnya tidak ingin melakukan pembunuhan. Apalagi atas kakak ku sendiri dan sekaligus suami dari Galuh Warsih. Tetapi kau terlampau keras hati. Karena itu, apa boleh buat.”

“Apakah kau yakin bahwa kau akan dapat membunuhku?”

“Tidak ada seorang pun yang dapat lepas dari tanganku.”

“Hem, kau memang terlampau sombong.”

“Jangankan kau, kakang, bawalah serta Ki Wilamerta dan selusin pengawal mu. Aku akan membunuh mereka bersama-sama.”

Terdengar Haryo Panumping menggeram.

“Jangan sakit hati mendengar kata-kataku,” berkata Puguhan, “sebentar lagi kau harus melihat kenyataan itu.”

“Agaknya karena kau terlampau yakin akan dirimu sendiri, kau telah melakukan perbuatan terkutuk itu.”

“Hampir tidak ada hubungannya,” sahut Puguhan.

“Kau sendiri harus mengakui kesalahanmu. Mengapa tidak kau cegah orang tua pikun itu untuk melawanku. Hingga berakibat ia nyaris terbunuh di tangan ku. Itu sepenuhnya bukan kesalahanku. Tetapi salah mu juga “

“ Dan aku merasa diinjak –injak dan di ludahi kepalaku. Kau dengan seenaknya merenut semua yang seharusnya menjadi hak ku. Kademangan ini dan perempuan itu. Galuh Warsih. Dua hal itu harus aku rebut kembali dari tangan mu”

Terasa darah Haryo Panumping mendidih di dalam jantungnya. Kata-kata Puguhan benar-benar merupakan penghinaan yang tiada taranya. Justru karena itu, maka mulutnya menjadi seolah-olah terbungkam. Meskipun bibirnya tampak bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah kata pun yang melontar.

”Sekarang kau menepuk dada sebagai Laki-laki jantan,” Puguhan meneruskannya.

“Kakang, jangan kau sangka bahwa karena kau baru saja menerima anugerah menjadi seorang demang di Pucang Kembar ini dan menikahi Galuh Warsih. Dua tahun yang lalu mungkin ilmu kanuragan ku masih jauh di bawah mu. Tetapi aku sekarang masih selalu meningkatkan ilmuku. Sekarang, kita mendapat kesempatan untuk memperbandingkan, siapakah yang lebih baik di antara kita”

“Tetapi, sekali lagi kau harus melihat kenyataan, meskipun untuk saat terakhir dalam hidupmu. Sepeninggalmu, Galuh Warsih adalah isteriku. Dan bayi kecil itu akan menjadi anakku.”

Terdengar gigi Haryo Panumping gemeretak, seperti gemerak di dalam jantungnya. Semakin lama semakin keras. Wajahnya yang membara menjadi semakin merah seperti saga. Dengan susah payah, ia mencoba menyabarkan perasaannya, supaya ia tidak kehilangan pengamatan diri dalam perkelahian yang akan terjadi.

Sejenak kemudian terdengar suara Haryo Panumpingterbata-bata, “Apa pun menurut perasaan dan penilaianmu atas persoalan ini, Puguhan, tetapi kita telah menentukan, bagaimana kita akan menyelesaikannya. Nah, jangan banyak berbicara lagi. Marilah kita lihat, siapakah yang akan dapat turun dari bukit ini. Siapakah yang besok masih dapat menyebut bahwa malam ini kita telah berkelahi di bawah Pucang Kembar.”

“Huh,” ujung-ujung bibir Puguhan tergerak, “kau memang seorang pemimpi. Baiklah, semakin cepat memang semakin baik. Ayo, apakah kau telah bersiap? Besok orang-orang Pucang Kembar akan menemukan bangkaimu di sini. Mungkin tinggal kerangkamu saja yang akan diketemukan orang, karena dimangsa anjing-anjing liar itu”


Seadainya Haryo Panumping tidak berhasil menahan dirinya, ia akar benar-benar jatuh ke dalam pengaruh kemarahannya, sehingga ia akan kehilangan kejernihan berpikir. Apabila demikian, maka keadaannya pasti akan sangat berbahaya, sebab ia berhadapan dengan seorang yang sebenarnya memang pilih tanding dan sangat licik.

“Nah, apa katamu kakang Haryo Panumping? Kenapa kau berdiri saja seperti patung? Apakah kau menyesal bahwa kau telah mengambil keputusan untuk melakukan penyelesaian dengan cara ini?”

Hampir saja Haryo Panumping meloncat menyerang Puguhan. Tetapi ia masih sempat menahan diri sekuat-kuatnya. Justru kini ia sadar, bahwa Puguhan memang sedang memancing kemarahannya. Sebab kemarahan yang meluap-luap, akan membuatnya kehilangan perhitungan. Kesadaran itulah yang justru menahan Haryo Panumpinguntuk tetap berdiri di tempatnya, meskipun dadanya seakan-akan hampir meledak.

Bahkan ia masih dapat mengucapkan kata-kata, “Ayolah Puguhan. Apakah kau hanya pandai berbicara tanpa ujung pangkal tetapi tidak pandai menggenggam senjata? Kita sudah tidak perlu berbicara lagi. Apakah besok bangkaiku atau bangkaimu yang akan menjadi makanan anjing-anjing liar, marilah kita tentukan dengan perbuatan. Tidak dengan kata-kata.”

Dada Haryo Panumping berdesir ketika ia mendengar Puguhan justru tertawa.

“Kau agaknya menjadi ngeri membayangkan apa yang akan terjadi atasmu. Jangan takut. Bukankah kau seorang laki-laki jantan yang telah membawa nama kawentar di dalam pengabdianmu kepada tanah ini? Kau tidak perlu takut mati.”

“Apakah kau sedang mencoba membuat aku marah dan kehilangan akal?” sahut Haryo Panumping.

“Puguhan, aku sudah bukan bocah lagi yang mudah kau bakar dengan kata-kata penghinaan. Kau akan menjadi salah hitung. Sebaiknya kita berhadapan sebagai orang laki-laki, tanpa banyak usaha untuk mengalahkan lawan dengan licik seperti yang sedang kau lakukan ”

Dada Puguhan berdesir mendengar kata-kata Haryo Panumping. Hampir-hampir ia sendirilah yang jatuh ke dalam perangkapnya sendiri. Hampir-hampir ia kehilangan pengamatan diri. Tetapi sejenak kemudian ia pun menyadari keadaannya.

Sekali, lagi ia tertawa dan berkata, “Kau selalu berprasangka jelek. Baiklah, aku tidak akan berbicara lagi tentang kemungkinan yang akan terjadi, supaya kau tidak menjadi ketakutan. Marilah ita bersiap untuk menentukan siapakah di antara kita yang dapat turun dari bukit ini.”

Haryo Panumping sama sekali sudah tidak bernafsu lagi untuk berbicara. Namun kini ia telah menemukan kemantapan diri. Ia tidak boleh terpancing dengan cara apa pun juga, supaya ia dapat melakukan perlawanan dengan wajar. Perlahan-lahan ia melolos keris dari warangka dan perlahan- lahan ujung kerisnya merunduk setinggi dada.

Keris itu adalah senjata yang jarang sekali dipergunakannya. Namun kali ini ia akan berhadapan dengan seorang yang dianggapnya mempunyai beberapa kelebihan dari anak-anak muda yang lain, sehingga keris itulah yang dibawanya untuk menemaninya melawan Puguhan yang telah berkhianat terhadap persaudaraan mereka.

Puguhan yang menyadari bahwa ia tidak dapat lagi membakar hati Haryo Panumping, segera bersiap pula. Dari selongsong putihnya, ia mengambil sepasang senjata yang dahsyat sekali. Sebuah keris yang ukurannya lebih besar dan panjang seperti keris kebanyakan. Dan pamor kehijauan berpendar- pendar. Dada Haryo Panumping berdesir melihat senjata yana mengerikan itu. Senjata yang khusus dimiliki oleh Puguhan dari gurunya.

“Apakah kau heran melihat senjataku,” terdengar suara Puguhan datar.

Haryo Panumping menggeleng. “Tidak. Aku pernah melihat yang nggegirisi melebihi keris itu.”

“Oh,” Puguhan mengangguk-anggukkan kepalanya, “kau memang pernah mengembara. Tentu saja wawasan mengenai berbagai macam senjata juga lebih mapan. Tetapi kau belum pernah melihat bagaimana aku mempergunakannya. Akan aku perlihatkan keampuhan keris ini”

“Aku ingin segera melihatnya, karena itu jangan banyak berbicara.”

Sekali lagi dada Puguhan berdesir. Tetapi sekali lagi ia bertahan untuk tidak masuk ke dalam perangkapnya sendiri. Sejenak kemudian, kedua anak muda itu telah berdiri berhadapan dengan senjata di tangan masing-masing. Puguhan dengan sepasang senjata yang khusus, sedang Haryo Panumping menggenggam keris Blarak Sineret di tangannya.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset