Kidung Diatas Tanah Jawi episode 46

gatra 46

PADA SAAT itu lah. Sumpil dan Jaroto yang sedari tadi hanya diam saja melihat apa yang terjadi tidak jauh dari tempat itu secara berbarengan meloncat ke dalam arena pertempuran.

“ Kakang Puguhan. Jangan kau lupakan kami. Pertarungan pertama milik ku dan Jaroto”

Sumpil berdiri berkacak pinggang. Di tangan kanannya telah tergenggam pedang dengan pinggiran bergerigi laksana daun pandan. Sementara Jaroto yang berbadan gempal telah menggenggam potongan besi berwarna kehitaman. Sumpil dan Jaroto itu segera memencar mengurung Haryo Panumping dari depan dan belakang.

“Jaroto orang ini adalah Haryo Panumping tentu kau tahu seberapa tinggi kanuragannya” teriak Sumpil, “ Karena itu berhati-hatilah.”

“Panumping” desis Jaroto. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Namun di dalam dadanya terbersit suatu perasaan yang aneh. Ia pernah terlibat bersama-sama dengan kawan- kawannya dalam suatu pertempuran melawan rampok –rampok yang pernah mengacaukan pedukuhan kecil di sekitar kademangan Pucang Kembar. Waktu itu para pemuda pilihan dipimpin oleh Haryo Panumping. Betapa kagumnya ia melihat Haryo Panumping yang perkasa itu. Kini ia berhadapan langsung dengan orang itu. Tiba-tiba hatinya bergetar.

Meskipun demikian ia harus bertempur. Dengan bantuan Sumpil ia pasti dapat membunuh orang yang disegani itu. Haryo Panumping sadar bahwa lawan-lawannya benar-benar akan membunuhnya. Karena itu, ia harus melawan mereka. Apabila terpaksa, maka bukan salahnyalah kalau ada diantara mereka yang terpaksa mati. Namun tidak mustahil pula, bahwa kemungkinan yang tidak menyenangkan itu ada padanya.

Maka dengan gerak yang cepat,secepat alap –alap menyambar anak ayam, Haryo Panumping meloncat menyerbu diantara mereka. Dengan berputar diatas sebuah kakinya, ia menyerang dua orang sekaligus. Serangannya tidak begitu berbahaya, namun benar-benar mengejutkan. Karena itu maka Sumpil dengan sangat terkejut meloncat mundur,dan Jaroto, terpaksa meloncat kesamping. Meskipun mereka tidak dapat dikenai oleh serangan Haryo Panumping, namun serangan itu benar- benar tidak mereka duga. Belum lagi debar jantung mereka berhenti, mereka melihat Haryo Panumping melayang dengan garangnya.

Haryo Panumping mendengus, “ Tidak perlu berdua, kalian bertiga maju sekaliguspun aku tidak akan gentar atau bahkan mundur satu jengkal “

“ Jangan terlalu sombong Panumping. Kesombongan mu akan memperlebar lubang kuburmu sendiri “

Habis berkata secara berbarengan Sumpil dan Jaroto menyerang ke arah Haryo Panumping. Pertempuran sengit segera terjadi. Nampaknya Haryo Panumping tidak ingin bermain –main terlalu lama. Pemuda itu lantas meningkatkan ilmunya pada tataran yang tertinggi. Sumpil dan Jaroto beberapa kali hampir terkena tebasan keris atau pun tendangan yang membadai tiada henti –hentinya. Namun akhirnya hampir saja merupakan bencana. Sebelum mulut Sumpil terkatup rapat, maka Haryo Panumping itu telah menyambarnya. Kerisnya yang terayun mendatar menebas ke arah leher Sumpil.

Jaroto dan Puguhan yang melihat jalannya pertempuran tidak jauh dari tempat itu terkejut. Jika keris Blarak Sineret itu berhasil menyentuh lehernya, maka Sumpil tentu akan langsung mati sebelum sempat mengaduh. Lehernya tentu akan koyak dan langsung membelah kerongkongan. Untunglah bahwa Sumpil sempat melihat ayunan keris itu. Karena itu, maka ia pun telah meloncat surut. Namun, tidak urung ujung keris yang telah diberi warangan itu berhasil menggores leher Sumpil.

Lelaki bertubuh kurus itu mundur beberapa tindak. Tangannya mendekap leher yang Nampak mengeluarkan darah. Meski hanya tergore kecil. Rasa sakit dan panas mulai menjalari pembuluh –pembuluh darahnya.

“ Kurang ajar kau Panumping. Luka ini akan aku balas dengan luka yang lebih besar “

Ternyata Jaroto memiliki ketajaman penglihatan sebagai seorang yang berilmu. Haryo Panumping yang justru terkejut manakala lelaki pendek bertubuh gempal itu menyerang secara mendadadk menggunakan senjatanya berupa besi berwarna hitam. serangannya itu laksana terkaman macan untuk memburu mangsanya. Namun Haryo Panumping telah bergeser selangkah, bahkan lututnya yang dijulurkan berhasil mengenai ulu hati Jaroto. Lelaki itu mengeluh pendek. Ulu hatinya serasa nyeri.

Sementara itu, Sumpil telah sempat memperbaiki keadaannya meskipun jantungnya masih terasa berdebar-debar. Aliran darahnya mulai terasa tidak teratur. Racun warangan telah mulai menyebar lewat aliran darahnya.

“Ternyata kau memang seorang yang bilih tanding Panumping” geram Jaroto.

“Maaf” sahut Haryo Panumping, “aku masih belum ingin mati. Aku masih memberi kalian berdua kesempatan untuk hidup. Segera turun tinggalkan bukit ini ”

Belum lagi mulut Haryo Panumping terkatup, maka kaki Jarotolah yang berputar menyambar lambung. Namun Haryo Panumping telah memperhitungkan hal itu. Maka, demikian kaki Jaroto itu menyambar, maka Haryo Panumping pun telah meloncat pula menghindar. Namun dalam pada itu, Sumpil sudah meloncat menyerang Haryo Panumping meskipun dengan sangat berhati-hati.

Tetapi serangan Sumpil itu pun tidak menyentuh sasarannya Meskipun demikian, Sumpil telah mengurungkan niat Haryo Panumping untuk memburu Jaroto. Tetapi Haryo Panumping tidak lagi termangu-mangu. Namun ia telah menyerang Sumpil setelah bergeser menghindar. Sumpil lah yang harus menghindar. Tetapi Haryo Panumping pun tidak tinggal diam. Ia terus memburu Sumpil yang tengah terluka. Haryo Panumping sengaja ingin melumpuhkan salah satu lawannya terlebih dahulu. Haryo Panumping telah menyerangnya seperti banjir bandang, sehingga Sumping terdesak beberapa langkah surut.

Namun Sumpil tidak mampu berbuat lebih banyak lagi. Tendangan keras Haryo Panumping menggedor dadanya. Sumpil melenting jauh dan berusaha untuk tegak di atas kedua kakinya. Tetapi malang bagi Sumpil. Ternyata ia terlalu jauh meloncat, sehingga ketika ia tegak berdiri, ia telah berada tepat di tepi jurang. Dan celakanya, tanah tempat ia berpijak itu runtuh. Seperti terseret Sumpil dengan cepatnya meluncur ke dalam jurang.


JANTUNG Jaroto seperti hendak berhenti berdetak. Tanpa mengukur diri dan kemampuannya. Lelaki itu menyerang Haryo Panumping secara membabi buta. Tongkat besinya berputar – putar seperti titiran menyerang ke arah Haryo Panumping. Mendengar desing besi yang terayun deras sekali, Haryo Panumping barulah dapat mengukur kekuatan tenaga orang itu. Ketika besi itu sudah hampir menyinggung tubuhnya, segera Haryo Panumping berkisar sedikit, serta meloncat selangkah ke samping.

Dengan demikian besi yang tak mengenai sasarannya itu terayun deras sekali, sehingga oran orang memegangnya agak kehilangan keseimbangan. Dalam keadaan yang demikian Haryo Panumping segera meloncat maju dan menangkap pergelangan tangan orang itu, langsung diputarnya ke belakang. Dengan sekali dorong, orang itu telah jatuh tertelungkup dan tidak dapat bergerak lagi, kecuali berdesis menahan sakit.

“Jaroto hentikan ini. Aku sama sekali tidak ingin membunuhmu,” kata Haryo Panumping geram.

Tetapi orang itu tidak menjawab. Demikianlah sampai Haryo Panumping mengulangi pertanyaan itu dua kali. Akhirnya Haryo Panumping menjadi jengkel dan menekan punggung orang itu semakin kuat serta memutar tangan yang terpuntir itu semakin keras, sehingga orang itu mengaduh kesakitan.

“Kalau kau tidak menjawab,” desak Haryo Panumping, ”tanganmu benar -benar akan aku patahkan !”

“ Persetan dengan mu Panumping! Ayo lepaskan tangan ku.Kita bertempur lagi sampai salah satu dari kita terbujur kaku. Aku harus membunuhmu, sebagai balas dendam dari kematian Sumpil yang jatuh di dasar jurang “

“ Jangan bodoh Jaroto. Apakah kau percaya Puguhan akan memenuhi janjinya kepadamu? “

“ Tutup mulutmu Panumping. Ini bukan lagi soal kedudukan. Kau telah membunuh kawan baik ku. Kau harus menerima balasannya! “

“ Pikirkan lah lagi “ desak Haryo Panumping lebih lanjut.

Kembali Jaroto diam saja. Lalu pemuda pendek dan gempal itu malah meludah. Haryo Panumping menjadi semakin jengkel, dan ia menekan Jaroto lebih keras lagi, sehingga orang itu mengaduh lebih keras pula.

“Jawablah! Atau tanganmu betul-betul patah ”

Haryo Panumping makin geram.

“ Persetan kau Panumping!”

Haryo Panumping nampaknya tidak ingin banyak bicara lagi. Tekanan tangannya ke tangan Jaroto makin kuat. Hingga pada akhirnya.

“ Krakkkk…….!!! “

Terdengar suara tulang patah. Dan ditimpali suara Jaroto yang melolong kesakitan. Suaranya bergema hingga ke seantero bukit Pucang Kembar.

Dengan demikian maka pertempuran antara Haryo Panumping melawan Jaroto dan Sumpil itu pun telah usai. Haryo Panumping berdiri. Lelaki itu melihat ke arah Haryo Puguhan yang sudah mulai beranjak dari tempat berdirinya.

“ Lihat akibat keculasan mu Puguhan. Dua kawanmu menemui celaka. Ini kah yang kau sebut sebagai hubungan pertemanan?! “

“ Tutup mulutmu kakang. Sudah tidak ada waktu lagi untuk bersilat lidah. Lihat purnama semakin naik. Akan semakin terang untuk melihat siapa yang akan terkapar bersimbah darah di atas bukit ini “

Hulu keris dicengkeram semakin erat. Ujung keris itu kini menjadi semakin merendah. Setapak ia maju mendekati Puguhan. Matanya yang tajam menyambar keris yang berada di tangan Haryo Puguhan itu berganti-ganti, namun kemudian ditatapnya mata Puguhan yang semakin membara.

Haryo Panumping sadar bahwa ia tidak akan dapat mengikuti sepasang senjata itu dengan matanya. Keduanya pasti akan bergerak dengan arah dan irama yang berbeda. Tetapi Haryo Panumping tidak akan dapat ditipu lagi oleh arah pandangan mata Puguhan. Pengalamannya telah cukup luas menghadapi segala macam senjata. Juga jenis-jenis senjata berpasangan. Bulan yang bulat telah memanjat langit semakin tinggi. Cahayanya yang kekuning-kuningan memancar mewarnai dedaunan yang hijau gelap. Satu-satu kelelawar berterbangan di dalam kesenyapan langit yang cerah.

Haryo Panumping dan Puguhan telah berdiri berhadapan. Senjata-senjata mereka telah bergetar. Beberapa langkah mereka bergeser. Tetapi, tatapan mata mereka seolah-olah terpaku kepada lawan. Mereka tidak boleh lengah sekejap pun. Ketika di kejauhan terdengar anjing liar menyalak bersahut-sahutan, maka anak-anak muda itu sudah tidak dapat menahan diri lagi. Setapak mereka mendekat, dan tiba-tiba terdengar Puguhan berteriak nyaring.

Sebuah loncatan yang hampir tidak tertangkap oleh mata, telah membuka sebuah serangan yang langsung mengarah kepada lawannya. Tetapi Haryo Panumping telah bersiap sepenuhnya. Dengan lincahnya ia bergeser menghindar. Selangkah ia surut, namun kemudian kerisnya terjulur lurus mematuk lambung lawannya.

Terdengar sebuah dencingan yang keras. Kedua senjata anak-anak muda itu beradu. Terasa getaran yang tajam merambat dari ujung senjata masing-masing ke telapak tangan mereka. Dan getaran itu ternyata telah menggetarkan jantung mereka. Sehingga mereka masing-masing berdesah di dalam hati, “Alangkah dahsyat tenaganya.”

Dengan demikian kedua anak-anak muda yang sedang berkelahi itu dapat mengukur, betapa besar kekuatan lawan. Mereka menyadari bahwa mereka masing-masing tidak lebih kuat dari lawan mereka. Puguhan yang bersenjatakeris berpamor hijau berpendaran itu bertempur seperti seekor naga berkepala empat. Mematuk dan menyergap dari segenap penjuru. Keris yang memancarkan pamor kehijauan itu seakan-akan telah berkembang menjadi ratusan bahkan ribuan mata keris yang mengerikan.

Tetapi lawannya adalah seorang anak muda yang cukup matang mempergunakan kerisnya. Keris Blarak Sineret di tangan Haryo Panumping itu berputar bergulung-gulung seperti asap yang melindungi dirinya. Asap yang menyebarkan racun yang terlampau tajam. Sentuhan asap itu akan berakibat terlampau parah bagi lawannya.

Dengan demikian maka perkelahian itu menjadi kian lama kian sengit. Bukan saja karena keduanya adalah anak-anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi ternyata mereka telah dibakar pula oleh dendam dan kebencian, sakit hati dan harga diri yang berlebih-lebihan. Mereka sudah tidak dapat berpikir lain kecuali membinasakan lawan masing-masing atau mati terkapar sebagai laki-laki jantan di bawah Pucang Kembar itu.

Ketika angin yang kencang bertiup dari utara, maka sepasang pucang itupun terayun-ayun seakan-akan ikut serta menari, menarikan tarian maut, seperti yang sedang terjadi di atas bentangan berumput di bawahnya. Dalam kilauan cahaya bulan yang memantul dari ujung-ujung senjata yang bergerak-gerak itu, kadang-kadang terpercik bunga-bunga api yang meloncat karena benturan dua kekuatan yang tiada taranya.


Kidung Diatas Tanah Jawi

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 8
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih. Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding. Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset