Kidung Diatas Tanah Jawi episode 8

Gatra 8

DESA Pucang Kembar merupakan desa berhawa sejuk. Di depan regol desa terdapat dua buah pohon pucang yang tumbuh secara berdampingan laksana gapura. Itu sebabnya desa itu disebut Pucang Kembar. Kebanyakan penduduknya hidup dari bercocok tanam. Sebagian besar sawah ladang yang ada di desa itu adalah milik seorang demang yang sangat bijaksana. Demang itu diberi gelar demang Pucang Kembar. Meski nama sesungguhnya adalah Jalananta. Bekas seorang senopati semasa Demak masih berdiri. Usia Demang Pucang Kembar kini hampir enam puluh tahun.
Meskipun sudah lanjut usia begitu Demang Pucang Kembar masih kelihatan gagah dan kukuh.

Tubuhnya yang tinggi tidak kelihatan bungkuk walaupun kalau berjalan dia selalu dibantu
oleh sebuah tongkat berhulu gading putih kekuningan. Rambut dan kumisnya telah memutih seperti kapas. Di samping rumah joglo besar kediaman Demang Pucang Kembar, terdapat sebuah halaman luas di mana anak-anak tetangga sering bermain- main di tempat itu.

Akan tetapi, pagi itu suasana pringgitan nampaknya sedikit menghangat. Manakala bekel Pucang Kembar yang bernama Pangestu menghadap. Demang Pucang Kembar seperti dihenyakkan setan di atas kursinya. Wajahnya yang penuh kerut ditelan usia lanjut tampak kelam membesi. Dadanya turun naik sedang sepasang matanya menatap tak berkedip ke arah Pangestu yang duduk bersila di hadapannya.

Demang tua ini meraskan tenggorokannya seperti kering. Mulutnya terbuka tapi lidahnya seperti kelu. Setelah hening beberapa lamanya, dengan suara bergetar Ki Demang akhirnya bersuara juga.

“Jika bukan kau yang bicara sungguh sulit aku mempercayai cerita itu…!”

“Sebenarnya hal itu sudah lama saya ketahui Ki Demang. Hanya saja saya takut untuk menyampaikannya.”

“Kalau untuk kebenaran mengapa takut? Hanya saja, apakah kau punya bukti-bukti nyata? Saksi-saksi…?”

“Saya tidak berani melapor pada Ki Demang kalau tidak mempunyai bukti dan saksi hidup,” sahut Pangestu.

“Sekian puluh pasang mata melihat dan mengetahui kejadian itu. Termasuk Ki Jagabaya dan para bebahu kademangan ini. Beberapa kali Den Ayu dipergoki tengah malam keluar kamar dan bertemu secara diam –diam dengan seorang pemuda yang di ketahui orang Pajang. Ki Demang harus tahu bahwa sekarang hubungan Pajang dan Jipang mulai menghangat. Saya yakin dalam hitungan hari akan pecah perang”

“Pihak Karebet tentu akan melebarkan sayapnya sampai ke Jipang. Belum berapa lama ini Bang Wetan sudah di takhlukan. Dan sekarang giliran Jipang. Belum lagi Ratu Kalinyamat punya hubungan yang sangat erat dengan Karebet. Setelah peristiwa di cegatnya iring –iringan Ratu Kalinyamat oleh pasukan dari Gusti Haryo Penangsang. Di dalam pencegatan itu Sunan Prawoto suami Ratu Kalinyamat tewas. Tentu perempuan itu punya dendam segunung anakan dengan orang –orang Jipang “

“ Oleh sebab itu pihak Pajang mengirimkan telik sandi untuk menghancurkan Jipang mulai dari ranting –rantingnya. Kemudian baru menebang pohonnya Melalui Miranti putri satu –satunya Ki Demang tentu orang Pajang itu mencari jalan untuk merebut kademangan ini “

Lama Demang Pucang Kembar terdiam. Sebagai bekas seorang senopati Demak semua yang diceritakan oleh Pangestu bisa saja terjadi. Berdasarkan desas – desus yang beredar yang didengarnya, dan membandingkan dengan keterangan Pangestu, segala sesuatunya memang cocok.

“Pangestu, tahukah engkau apa artinya jika kemudian keterangan yang kau sampaikan saat ini ternyata tidak benar…?” Ki Demang bertanya seolah-olah ingin menolak hal yang sebenarnya dia sendiri sudah mempercayainya.

“Saya tahu dan mengerti sekali Ki Demang,” jawab Pangestu.

“Untuk itu saya bersedia mempertaruhkan kepala saya…”

Kembali Ki Demang terdiam. Kali ini lebih lama dari tadi sehingga karena tidak sabar Pangestu membuka mulut berkata, “Ki Demang, saya mohon petunjuk lebih lanjut.”

“Aku juga mulai curiga saat Miranti minta untuk membangun pondok terpisah dari rumah ini. Aku dulu sempat berpikir anak itu ingin menenangkan dirinya setelah ibunya meninggal. Baiklah, aku perintahkan kau terus mengawasi anak itu dan tangkap saat ia melakukan pertemuan rahasianya! ” Tiba-tiba saja Ki Demang menjawab tegas.

“Itukah keputusan Ki Demang?” bertanya Pangestu.

“Itu keputusan pemimpin di kademangan ini! Sekalipun anak sendiri, jika membuat kesalahan perlu di hukum. Nanti jika anak itu tertangkap basah kita bawa ke para bebahu dan bekel untuk di adili sesuai dengan kesalahannya. itu…”

“Jika begitu bunyi perintah, begitu pula yang akan saya lakukan. Saya kawatir sekali akhir-akhir ini Ki Demang…”

“Hem… Apa maksudmu Pangestu?”

“Saya kawatir kalau-kalau Miranti secara diam-diam bersekutu dengan orang –orang Pajang untuk merampas kademangan ini. Bukankah kita ketahui Pucang Kembar kademangan yang kaya akan hasil pertanian. Lumbung –lumbung padi tersebar di mana –mana. Kalau sewaktu –waktu orang –orang Pajang menyerbu ke Jipang. Tentu Pucang Kembar akan jadi landasan yang sangat menguntungkan….”

“Semua akan tersingkap di persidangan kelak. Jika Miranti benar –benar sudah tertangkap basah …”

“Saya harapkan begitu,” kata Pangestu pula. Lalu bekel Pucang Kembar ini ini menghaturkan sikap hormat dan mohon diri.

GEROBAK sapi itu bergerak perlahan. Kusirnya seorang lelaki tua berjanggut dan berambut putih duduk tenang-tenang saja karena dia memang tidak terburu-buru. Di sampingnya duduk seorang gadis. Usia sekitar dua puluh tahunan. Rambutnya yang hitam disanggul ke atas hingga wajahnya yang jelita tampak semakin ayu. Gadis ini adalah Miranti anak tunggal demang Pucang Kembar. Gadis ini memang bersifat rendah hati dan berkemauan keras. Sehingga tidak jarang rela bersusah payah untuk menolong dan membantu warga kademangan Pucang Kembar jika ada yang membutuhkan pertolongan.

Dan pagi ini Miranti membantu Ki Pemeling untuk membantu berjualan hasil bumi di pasar. Dikarenakan istri Ki Pameling sedang sakit.

” Den Ayu Miranti ,” berkata lelaki tua di atas gerobak pada gadis di sampingnya.

” Apakah Ki demang tidak marah kalau sampai tahu Den Ayu berjualan di pasar membantu saya?”

Gadis bernama Miranti itu sesaat terdiam mendengar kata-kata Ki Pameling. Tak lama kemudian kembali dia membuka mulutnya.

“Apakah membantu orang lain, sebuah kesalahan?” bertanya sang gadis

“Tentu tidak Den Ayu. Namun, Den Ayu anak ki demang. Pemimpin tertinggi di kademangan ini. Semestinya Den Ayu tinggal di rumah. Duduk, merawat diri dan semua beres dilakukan oleh para pembantu”

Miranti tersenyum tukasnya, “ Ki Pameling saya tidak sampai hati banyak warga yang kesusahan membutuhkan pertolongan. Dan saya bisa sekedar meringankan beban mereka. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk bermalas –malasan di rumah. Itu juga salah satu alasan saya kepada Bapa untuk dibuatkan sebuah pondok terpisah dari rumah. Agar saya bisa lebih dekat dengan para warga desa di Pucang Kembar ini “

Ucapan anak gadis itu membuat hati si orang tua tersentuh. Memang sejak kecil anak demang satu –satunya ini sudah memiliki sifat yang welas asih terhadap sesama. Dan pada saat Nyi Demang meninggal dunia enam tahun yang lalu, anak gadis ini semakin dekat dengan rakyat Pucang Kembar. Bahkan, tandang grayangnya melebihi cekatannya seorang laki –laki.

” Den Ayu memang seorang gadis yang baik..beruntung Ki demang punya anak seperti Den Ayu Miranti…”

Baru saja Ki Pameling berkata begitu tiba-tiba dari balik pepohonan bermunculan lima orang yang memakai cadar hitam.

“Berhenti…!”

Dua ekor sapi penarik gerobak melenguh nyaring karena terkejut. Ki Pameling dan Miranti kagetnya bukan main. Buru –buru Ki Pameling menarik tali kekang gerobaknya. Dan melihat gelagat yang tidak baik, Miranti bersikap waspada.

“ Hai…kakek kuharap segera angkat kaki tinggalkan tempat ini. Berlalu dengan cepat!”

Begitu salah seorang bercadar hitam itu memerintah. Ki Pameling masih duduk di atas gerobaknya. “ Maaf kisanak ada tujuan apa sebenarnya kalian semua menghadang jalan ku?!”

“ Orang tua, jangan banyak cakap lekas tinggalkan tempat ini. Kami ada keperluan dengan gadis itu. Kalau tidak salah bukankah dia anak gadis demang Pucang Kembar?”

Diam –diam Miranti berdetak jantungnya. Gadis itu sudah memiliki firasat bahwa keselamatannya akan terancam. Perlahan –lahan tangannya meraba sebuah tongkat besi sepanjang setengah depa yang berada di pinggangnya. Sebagai anak demang Miranti pernah belajar olah kanuragan meski tidak sampai tuntas. Hanya sekedar untuk menjaga diri.

“ Ki Pemeling tenanglah, aku akan mengusir mereka “, Miranti berbisik perlahan.

Ki Pameling tampak gemetar dan pucat pasi. Namun, lelaki tua ini tidak mampu berbuat apa –apa manakala Miranti meloncat turun dari atas gerobak. Gadis itu berdiri berkacak pinggang. Tangan kanannya memegang erat sebuah tongkat besi.

“ Cah Ayu, sebaiknya kau menyerah saja. Dan ikuti kemauan kami. Itu lebih baik daripada wajahmu yang cantik itu akan terluka bahkan bisa menjadi cacat seumur hidup”

“ Tidak akan ada satu lelaki pun yang mau menikahi kalau wajah mu itu rusak. Ayo cah ayu, ikut dengan kami “

Orang bercadar hitam yang berdiri paling depan itu berkata sembari tertawa gelak –gelak. Namun, orang itu kaget bukan kepalang manakala Miranti menerkam dengan pukulan tongkat besinya.

Wuuuutttt!

Tongkat besi yang keras terdengar menderu mengeluarkan angin tanda dikibaskan penuh amarah disertai kekuatan tenaga luar yang dahsyat. Empat orang bercadar serba hitam yang masih berdiri di tempat masing-masing tampak heran dan kaget ketika melihat kawan mereka melintir ke kiri lalu sempoyongan hampir terbanting ke tanah!

“Keparat! Kau berani mempermainkanku!”

Orang yang hendak dipukul tadi membentak marah sekali. Empat kawannya melompat,
langsung mengurung Miranti. Apa sebenarnya yang terjadi? Ketika cadar hitam menghindari hantaman besi itu. Orang bercadar menghindar dengan cepat karena keterkejutannya. Karena membuang badan ke samping dengan tergesa –gesa si cadar hitam kehilangan keseimbangan oleh dorongan kekuatannya sendiri. Akibatnya tubuhnya terhuyung deras hampir terpelanting jatuh!

Pecahlah perkelahian yang tidak seimbang seorang gadis dikeroyok lima orang lelaki. Baru beberapa saat saja tampak Miranti keteteran menghadapi gempuran yang datang bertubi –tubi. Kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, dengan mempergunakan telapak tangan kanannya laki-laki bercadar itu memukul tengkuk Miranti dengan keras. Gadis itu menjerit tertahan. Tubuhnya segera melosoh ke bawah. Tongkat besi di tangan kanannya jatuh berderai di tanah.

Ki Pameling yang melihat kejadian itu tanpa berpikir panjang menghambur ke arah orang –orang bercadar hitam itu dengan golok terhunus.

Orang yang diserang sambil putar badan berkata, “ Ajalmu memang sudah di depan mata, diberi kesempatn untuk hidup malah menjemput ajal! Baiknya bunuh diri saja!”

“Terima golok ku lebih dulu, manusia durjana! ”

“Akh…sudahlah! Biar mulutmu ku bungkam saja saat ini!” kata salah satu orang bercadar.

Pedang berukuran besar itu membabat ke perut Ki Pameling, dielakkan dengan melompat oleh lelaki tua itu namun begitu melompat, senjata lawan kembali memburu lebih cepat, kini menderu ke muka Ki Pameling, tak sanggup lagi dikelit oleh laki-laki ini! Usaha terakhir yang dilakukan Ki Pameling untuk menyelamatkan dirinya ialah melintangkan golok dimukanya. Pedang besar itu terus membabat, senjata masing-masing beradu keras, bunga api memercik dan golok Ki Pameling terpental jatuh sedang senjata lawan terus membabat mukanya!

Lelaki tua itu terhuyung ke belakang. Mukanya banjir oleh darah dan mengerikan sekali. Perlahan-lahan lututnya tertekuk dan pinggangnya meliuk. Ki Pameling terduduk di tanah, lalu ambruk. Nyawanya melayang sudah.

AWAN yang hitam pekat bergulung-gulung di langit seperti lumpur yang diaduk dan kemudian dihanyutkan oleh banjir, sehingga siang yang belum begitu terik tiba –tiba menjadi redup.. Hujan perlahan mulai menitik jatuh ke bumi sesekali di langit bagian timur kilat berkelebat seperti hendak merobek langit. Sukmo Aji menarik tali kekang kudanya. Sejenak dia tegak berdiam diri lalu memandang ke bawah bukit. Lapat-lapat dia mendengar suara lenguhan sapi berkali –kali jauh dibawah sana.

“ Apakah ada sapi yang diterkam harimau? “, Sukmo Aji bertanya dalam hati.

Tumenggung Anom dari Pajang ini dapat membedakan mana lenguhan sapi biasa dan mana yang tidak biasa. Segera dia membedal kudanya menuruni bukit ke arah terdengarnya suara lenguhan sapi itu. Dia sengaja mengambil jalan memintas walau harus menempuh bagian bukit yang dirapati pepohonan serta semak belukar.

Ketika akhirnya Sukmo Aji sampai di kaki bukit, dia menemui sebuah jalan dan me¬lihatada bekas -bekas jejak roda di tanah. Sukmo Aji ikuti jejak-jejak roda itu. Belum lama berjalan langkahnya mendadak terhenti. Di kejauhan, dekat jalan yang menikung tampak sebuah gerobak sapi. Dia melihat sosok tubuh telungkup di tanah dekat sebatang pohon yang tumbang. Darah masih tampak menggenang basah di bawah wajah mayat itu. Saat itulah dia mendengar suara sayup –sayup suara seorang perempuan berteriak minta tolong. Hanya sebentar lalu suara itu lenyap.


cerbung.net

Kidung Diatas Tanah Jawi

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Setelah kerajaan Demak semakin suram dan tinggal menunggu tenggelam dalam timbunan sejarah. Munculah kerajaan baru di atas tanah Jawa, kerajaan itu bernama Pajang rajanya adalah menantu Sultan Trenggono sendiri. Raja Demak yang terakhir. Pada masa mudanya dia terkenal dengan nama Joko Tingkir dan setelah menjadi raja beliau bergelar Sultan Hadiwijoyo. Seluruh pusaka kerajaan Demak akhirnya diboyong ke Pajang. Wahyu keraton sudah berpindah tangan. Sebagai pembuktian dirinya sebagai raja yang besar dan kuat Sultan Hadiwijoyo mengerahkan bala pasukannya dengan kekuatan empat puluh ribu prajurit yang terlatih.Pajang mulai menyerbu kerajaan –kerajaan di Jawa Timur. Sultan Hadiwijoyo sendirilah yang memimpin pasukan. Beliau duduk di atas punggung gajah perang yang diberi nama Kyai Liman sambil tangan kanannya mencengkeram tombak pusaka Kyai Pleret. Beliau didampingi oleh para panglima perang yang tangguh seperti Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Ki Juru Mertani, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilomerto, Tumenggung Cokroyudo, Tumenggung Gagak Seta dan para wiratamtama prajurit Pajang yang bilih tanding.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset